NovelToon NovelToon
RAHASIA SURAT WASIAT

RAHASIA SURAT WASIAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:768
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Dewi Wijaya meninggalkan keluarganya yang kaya raya untuk menikahi pria yang dicintainya, Budi Santoso, dan mendirikan perusahaan bersama di Bandung. Namun, kebahagiaan mereka tidak bertahan lama—Budi berselingkuh dengan sekretarisnya, Ratna, dan setelah Dewi wafat dalam keadaan mencurigakan, mereka segera menikah dan mengambil alih kendali perusahaan. Mereka bahkan membuang Ridwan, anak satu-satunya Dewi dan Budi, ke hutan saat dia berusia 14 tahun, berharap dia tidak akan pernah kembali.

Delapan tahun kemudian, Ridwan yang telah diajarkan ilmu pengobatan tradisional dan beladiri oleh seorang kakek yang menyelamatkannya, muncul di Bandung dengan satu tujuan: mengambil haknya yang dirampas. Dia membawa satu-satunya bukti yang tersisa dari ibunya—suatu bungkusan yang berisi foto lama dan petunjuk tentang sebuah surat wasiat yang disembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warisan Yang Membentuk Jalan

Cahaya matahari pagi akhirnya menerobos melalui hujan yang telah turun semalaman, menyinari lantai rumah Kakek Sembilan dengan cahaya keemasan yang hangat. Udara hutan terasa sangat segar, diisi dengan aroma tanah basah dan daun segar. Ridwan sudah siap untuk berangkat—barang-barangnya telah dikemas rapi dalam tas kanvas tua yang pernah digunakan Kakek Sembilan ketika muda, dengan buku-buku pengobatan kuno milik ibunya disimpan dengan hati-hati di bagian paling atas.

Kakek Sembilan sudah bisa duduk bersandar pada bantal yang ditumpuk di atas ranjang, wajahnya masih pucat namun mata nya sudah lebih jelas dan penuh dengan tekad. Dia memegang sebuah kotak kayu kecil yang dihiasi dengan ukiran bunga melati—kotak yang sama yang pernah menyimpan cincin warisan keluarga Wijaya.

“Datanglah sini, nak,” ujar Kakek Sembilan dengan suara yang sudah sedikit lebih kuat dari kemarin malam. Dia membuka kotak kayu tersebut dengan hati-hati, menunjukkan isi yang telah disiapkan dengan rapi di dalamnya. “Sebelum kamu pergi, aku ingin memberikan semua warisan yang harus kamu terima dari ibumu dan dari aku sendiri.”

Ridwan mendekat dan duduk di sisi ranjang, matanya terpaku pada kotak kayu kecil tersebut. Di dalamnya, selain cincin warisan keluarga yang sudah dikenakannya, terdapat tumpukan uang kertas yang cukup banyak dan sebuah amplop putih bersih yang terlipat rapi.

“Buku-buku pengobatan kuno itu sudah menjadi milikmu sejak aku menemukanmu di pinggir sungai,” mulai Kakek Sembilan, mengambil cincin dari dalam kotak dan melihatnya dengan penuh penghargaan. “Cincin ini bukan hanya sebuah perhiasan—ia adalah simbol dari keluarga Wijaya dan dari tanggung jawab yang harus kamu pikul. Ia akan selalu melindungimu dan membimbingmu ke jalan yang benar.”

Dia kemudian mengambil tumpukan uang kertas dan memberikannya kepada Ridwan. “Uang ini adalah hasil dari penjualan ramuan obat yang aku buat selama bertahun-tahun,” katanya dengan suara yang penuh dengan makna. “Aku menyimpannya khusus untuk kamu—untuk membayar biaya perjalanan, makanan, dan tempat tinggalmu di Bandung sampai kamu menemukan keluarga Wijaya atau menemukan cara untuk mandiri.”

Ridwan menerima uang tersebut dengan tangan yang gemetar, merasa beratnya bukan hanya dari jumlahnya tetapi juga dari makna yang terkandung di dalamnya. “Aku tidak bisa menerima semua ini, Kakek,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan rasa syukur namun juga rasa tidak berhak. “Kamu sudah memberikan aku begitu banyak hal selama ini.”

Kakek Sembilan menggeleng-geleng kepala perlahan, menepuk tangan Ridwan dengan lembut. “Kamu pantas menerimanya, nak,” katanya dengan suara yang jelas dan tegas. “Ini adalah hakmu sebagai anak Dewi dan sebagai orang yang telah menjadi bagian dari hidupku. Selain itu, kamu akan membutuhkannya untuk apa yang akan kamu lakukan di Bandung.”

Dia kemudian mengambil amplop putih bersih tersebut dan memberikannya kepada Ridwan. “Di dalam amplop ini terdapat alamat dan informasi tentang seseorang yang bisa kamu percayai di Bandung,” katanya dengan ekspresi yang sangat serius. “Namanya Pak Joko Susilo—dia adalah teman dekat ibumu sejak masa sekolah dan juga merupakan salah satu karyawan awal di PT. Dewi Santoso. Dia adalah satu-satunya orang yang mengetahui rencana jahat Ratna dan Budi namun tidak berani berbicara karena takut akan keselamatan keluarganya.”

Ridwan segera membuka amplop tersebut, melihat kertas di dalamnya yang berisi tulisan tangan Kakek Sembilan yang rapi:

Alamat: Jalan Ciumbuleuit No. 123, Gang 5, Kota Bandung

Pekerjaan: Pemilik toko buku dan alat tulis “Wijaya Buku”

Catatan: Katakan padanya bahwa kamu adalah anak Dewi dan kamu membawa pesan dari “Tukang Ramuan Hutan” (itu adalah julukan yang aku gunakan ketika bertemu dengannya bersama Dewi). Dia akan tahu bahwa kamu adalah orang yang bisa dia percayai.

“Pak Joko adalah satu-satunya orang yang bisa memberikan informasi berharga tentang apa yang sebenarnya terjadi di perusahaan setelah ibumu tiada,” lanjut Kakek Sembilan dengan suara yang penuh dengan harapan. “Dia mungkin memiliki bukti tambahan yang bisa kamu gunakan untuk membawa Ratna dan Budi ke pengadilan. Selain itu, dia akan membantumu menemukan keluarga Wijaya jika kamu kesulitan menemukannya sendiri.”

Dia kemudian mengambil tangan Ridwan dengan erat, melihat mata muda tersebut dengan penuh cinta dan keyakinan. “Jangan pernah lupa apa yang telah kujarkan padamu tentang ilmu pengobatan, nak,” katanya dengan suara yang penuh dengan makna. “Buku-buku itu tidak hanya akan membantu kamu menyembuhkan orang lain tetapi juga akan membantu kamu menghadapi segala tantangan yang akan datang. Ilmu yang terkandung di dalamnya adalah warisan dari nenek ibumu, dan sekarang menjadi milikmu.”

Ridwan mengangguk dengan tegas, menatap mata Kakek Sembilan dengan tekad yang semakin kuat. “Aku akan selalu mengingat semua yang kamu ajarkan padaku, Kakek,” jawabnya dengan suara yang jelas dan penuh dengan komitmen. “Aku akan menggunakan ilmu tersebut dengan bijak dan akan selalu membantu orang lain yang membutuhkan. Dan aku akan menemukan Pak Joko, menemukan keluarga Wijaya, dan memberikan keadilan bagi ibumu seperti yang kamu dan ibumu harapkan.”

Kakek Sembilan tersenyum dengan puas, merasa lega karena tahu bahwa Ridwan siap untuk menghadapi dunia luar. Dia tahu bahwa anak muda ini akan menjadi orang yang sukses dan akan mampu menyelesaikan semua yang harus dia selesaikan.

“Sekarang saatnya kamu pergi, nak,” ujar Kakek Sembilan dengan suara yang penuh dengan kasih sayang. “Jangan terlalu lama berhenti di jalan—waktu tidak akan menunggu kita. Dan ingat—kamu selalu memiliki rumah di sini, di hutan ini, jika kamu merasa perlu kembali atau jika kamu menghadapi kesulitan yang tidak bisa kamu atasi sendiri.”

Ridwan berdiri dan mengambil tas kanvasnya yang sudah siap. Dia mencium dahi Kakek Sembilan dengan lembut, merasa bagaimana kulitnya yang sudah mulai hangat kembali. Dia ingin berkata banyak hal, tapi kata-kata tidak bisa keluar dari mulutnya akibat rasa kesedihan dan rasa syukur yang begitu mendalam.

“Aku akan kembali untukmu, Kakek,” ujarnya dengan suara yang sedikit gemetar namun penuh dengan keyakinan. “Sebentar lagi kita akan bisa bertemu kembali, dan aku akan memberitahumu semua yang telah kubuat dan semua yang telah kukapai.”

Kakek Sembilan hanya mengangguk perlahan, menutup matanya sejenak seolah sedang berdoa untuk keselamatan dan keberhasilan Ridwan. Ketika dia membukanya kembali, Ridwan sudah berada di pintu rumah, siap untuk memulai perjalanan baru yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Dengan langkah yang mantap dan tegas, Ridwan keluar dari rumah Kakek Sembilan dan menuju jalan kecil yang keluar dari hutan. Sinar matahari pagi menyinari jalan yang akan dia tempuh, membuat jalan tersebut tampak seperti jalan yang penuh dengan harapan dan kesempatan. Di pundaknya, dia membawa buku-buku pengobatan kuno milik ibumu. Di jari kirinya, cincin warisan keluarga Wijaya bersinar dengan indah di bawah sinar matahari. Dan di dalam tasnya, dia membawa uang, surat untuk Pak Joko, serta tekad yang kuat untuk menemukan kebenaran dan memberikan keadilan bagi ibumu yang telah dicurangi oleh orang-orang yang kejam.

Di baliknya, Kakek Sembilan masih berdiri di pintu rumah, menatap ke arah Ridwan yang semakin menjauh dengan mata yang penuh dengan harapan dan cinta. Dia tahu bahwa anak muda tersebut akan menghadapi banyak rintangan dan bahaya di jalan, tapi dia juga tahu bahwa Ridwan memiliki kekuatan, kebijaksanaan, dan cinta yang dibutuhkan untuk mengatasi segala sesuatu yang akan datang. Dan dia akan menunggu dengan sabar sampai hari Ridwan kembali dengan membawa kabar baik tentang keadilan yang telah diberikan dan tentang keluarga yang telah ditemukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!