"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34.Jahil
Sesaat sebelumnya...
Di tengah kesibukan para karyawan AVA Corp yang tengah menyelesaikan tugas mereka sebelum jam pulang, Liam duduk di dalam ruang pertemuan bersama beberapa relasi bisnis atasannya, baru saja selesai membahas tentang kerjasama yang sudah terjalin.
Liam berdiri, satu tangannya menunjuk pintu dengan posisi sedikit membungkuk. "Mari."
Mereka mengangguk, melangkah meninggalkan ruangan bersama Liam yang mengiringi lagkah mereka menuju pintu utama AVA Corp.
Perhatian Liam sedikit teralihkan saat netranya menangkap sosok Evan tengah berjalan dengan langkah ringan menuju lift khusus yang hanya digunakan untuk ke ruangan atasannya, memberikan isyarat pada resepsionis untuk tidak menghentikan langkah Evan demi tidak menarik perhatian para relasi bisnis, sampai ia melihat pintu lift itu menutup dengan Evan berada di dalamnya.
"Gawat." ratap Liam dalam hati.
Liam mempertahankan senyum hangat di bibirnya meski pikirannya terus tertuju pada Evan. Ia tahu, atasannya akan sangat tidak menyukai jika Evan datang ke ruangan sang atasan. Namun, ia juga tidak mungkin meninggalkan relasi bisnis sang atasan begitu saja. Ia menjabat tangan para relasi bisnis itu secara bergantian, lalu segera mengeluarkan ponsel saat mobil yang ditumpangi para relasi bisnis pergi.
"Tuan, Evan sedang menuju ruangan Anda. Saya melihatnya beberapa saat lalu masuk lift."
.
Di tempat berbeda pada waktu yang sama, dua insan yang nyaris mengikis jarak diantara mereka seketika menghentikan gerakan mereka saat dering ponsel Arlan terdengar.
Arlan mendengus, terpaksa menghentikan gerakannya dan segera meraih ponsel yang ada di meja. Kekesalannya bertambah saat ia menatap layar ponsel dan melihat nama 'Liam' tertera pada layar. Namun, segera menjawab panggilan setelah Rieta yang menyarankan untuk menerimanya.
"Tuan, Evan sedang menuju ruangan Anda. Saya melihatnya beberapa saat lalu masuk lift."
Laporan itu segera masuk ke dalam pendengaran Arlan begitu pria itu menempelkan ponsel ke telinga, yang membuat pria itu siap untuk memaki sang asisten, tetapi urung setelah mendengar kalimat selanjutnya yang asistennya katakan.
"Saya baru saja mengantar relasi bisnis Anda keluar."
Tepat setelah kalimat itu selesai diucapkan, Arlan mendengar suara gagang pintu dibuka, refleknya bergerak cepat menurunkan Rieta dari pengkuannya, mendorong wanitanya ke bawah meja dengan satu tangan melindungi kepala Rieta dari meja, tetapi gagal melindungi kepalanya sendiri saat ia mencoba untuk menegakkan punggungnya.
"Paman, apakah Paman tahu dimana istri-ku?"
Dugh!
"Argh...!"
Pertanyaan yang Evan lontarkan terjeda singkat pada kata terakhir saat netranya mendapati pamannya baru saja menegakkan punggung sambil memegangi kepala disertai suara erangan pelan.
"Paman... Kenapa?" tanya Evan mengerutkan kening, merasa heran atas sikap sang paman yang tidak biasa.
Bagaimana tidak? Arlan yang senantiasa ia lihat duduk dengan penuh wibawa di kursi kebesarannya, hari ini ia melihat pria itu membungkuk di bawah meja dan sempat mendengar suara benturan.
Arlan meringis sembari memegangi kepalanya, menatap kesal pada Evan yang sudah mengganggu waktu berduaannya bersama Rieta. Semantara wanita yang Evan cari kini bersembunyi di bawah meja, tepat di kakinya tengah menutup mulut menahan tawa.
"Dasar bocah sia*lan. Tidak bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk ruanganku?" gerutu Arlan masih mengusap kepalanya yang terasa berdenyut.
Nyatanya, ia kesal bukan karena kepalanya yang terbentur, tetapi karena ia gagal mengisi amunisinya bersama wanitanya. Hanya satu inci saja ia bisa menyesap bibir manis Rieta, dan itu gagal karena Evan yang tiba-tiba datang.
Meski ia juga tidak bisa menyangkal jika kali ini ia tertolong berkat Liam yang menghubungi dirinya beberapa saat lalu.
"Apakah Paman tahu di mana istriku?" Evan mengulang pertanyaannya tanpa menanggapi kekesalan pamannya.
"Kenapa bertanya padaku? Cari saja di ruangannya," kesal Arlan seraya menunrunkan tangan dari kepalanya.
"Ada urusan apa kau datang ke kantorku?"
"Bukankah itu sudah jelas?" sahut Evan tidak sabar. "Aku mau menjemput ISTRIKU," lanjutnya dengan memberi penekanan pada kata terakhir yang ia ucapkan.
"Menuju mantan," sindir Arlan tersenyum mengejek. "Kau lupa? Dia meminta cerai darimu."
"Itu bukan urusan, Paman. Urus saja diri Paman sendiri. Sekarang katakan di mana istriku?" tanya Evan tanpa peduli sedang berbicara dengan siapa saat ini.
"Cari di ruangannya," jawab Arlan datar.
"Tidak ada, aku sudah mencarinya di sana. Salah satu pegawai mengatakan Rieta datang ke ruangan Paman," sahut Evan.
"Lalu, apa kau melihat dia ada di sini?" tanya Arlan dingin, mulai kesal melihat tingkah keponakannya.
Evan terdiam sejenak. Ia memang tidak melihat istrinya di ruangan itu, tetapi ucapan pegawai yang berpapasan dengannya mengatakan Rieta ada di ruangan sang paman membuat ia enggan untuk segera beranjak, tetapi ia tidak melihat siapapun selain pamannya.
"Tidak, tapi-"
"Lalu, apa lagi yang kau cari?" potong Arlan cepat. "Keluar dari ruanganku," usirnya kemudian.
Rieta yang saat ini ada di bawah meja berusaha sekuat tenaga menahan tawa, wajahnya sedikit mendongak, lalu tersenyum jahil saat melihat wajah kesal Arlan dari bawah. Ide jahil seketika melintas di pikirannya, rasa ingin membalas apa yang pernah Arlan lakukan tumbuh begitu saja hingga ia mengulurkan satu tangannya, siap untuk mendaratkan tangannya di paha Arlan.
"Dan satu hal lagi," Arlan masih berbicara. "Sekali lagi kau datang ke kantorku dengan cara seperti ini, jangan salahkan aku jika aku mengusirmu menggunakan caraku- Ugh.."
Arlan menggeram tertahan, segera mengarahkan pandangan ke bawah dan melihat senyum jahil di wajah wanitanya. Rieta baru saja menyentuh pahanya sekaligus meremasnya, tidak sakit tetapi cukup untuk membuat ia tersentak.
"Paman kenapa?" Evan bertanya dengan alis berkerut.
"Kakiku kram. Keluarlah," jawab Arlan berbohong.
"Lalu, kenapa tadi Paman membungkuk ke bawah meja?" tanya Evan penuh selidik.
Arlan menghela napas, melirik ke arah Rieta dengan seringai tipis di bibirnya, lalu membungkukan badannya sekali lagi hingga ia berhasil mencuri satu ciuman singkat di bibir Rieta seraya meraih berkas yang sebelumnya Rieta jatuhkan.
"Mengambil ini." jawab Arlan menunjukan berkas di tangannya.
Rieta yang masih berada di bawah meja membeku di tempat. Bukan karena Arlan yang baru saja menciumnya, tetapi karena Arlan yang dengan mudah membalik keadaan. Niat hati ingin menjahili Arlan, justru ia sendiri yang dibuat tidak bisa berkata-atas sikap pria itu.
Tenang, tegas, dingin, dan berubah lembut, seolah berubah menjadi paradoks yang tidak bisa ia pahami. Kelembutan yang Arlan miliki tertutup sempurna dengan sisi dingin yang pria itu miliki.
"Sekarang keluarlah," usir Arlan lagi, cukup untuk menyadarkan Rieta dari ketertegunannya.
"Jika kau tidak menemukan istrimu di sini, tunggu saja di rumah. Jangan mengganggu pekerjaanku."
Evan kembali membuka mulutnya, tetapi tidak ada kata yang keluar. Pria itu kembali mengedarkan padangan selama beberapa saat, kemudian berbalik pergi tanpa mengatakan apapun.
"Kamu sangat ingin bermain-main rupanya," ucap Arlan lagi setelah pintu ruangannya menutup sempurna.
"Jangan harap kamu bisa lolos, Rie."
.
.
.
Di ruangan serta tempat berbeda, Tuan Marlan mengepalkan kedua tangannya saat wanita yang kini duduk di depannya menunjukkan beberapa foto yang membuat dirinya murka.
. . ..
. . . .
To be continued...