NovelToon NovelToon
Ketika Hati Salah Memilih

Ketika Hati Salah Memilih

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Dunia Masa Depan
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: Fauzi rema

Andrew selalu percaya bahwa hidup adalah tentang tanggung jawab.
Sebagai pewaris perusahaan keluarga, ia memilih diam, bersifat logis, dan selalu mengalah,bahkan pada perasaannya sendiri.
sedangkan adiknya, Ares adalah kebalikannya.
Ares hidup lebih Bebas, bersinar, dan hidup di bawah sorotan dunia hiburan. Ia bisa mencintai dengan mudah, tertawa tanpa beban, dan memiliki seorang kekasih yang sempurna.
Sempurna… sampai Andrew menyadari satu hal yang tak seharusnya ia rasakan:
ia jatuh cinta pada wanita yang dicintai adiknya sendiri.
Di antara ikatan darah, loyalitas, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, Andrew terjebak dalam pilihan paling kejam,
apa Andrew harus mengorbankan dirinya,
atau menghancurkan segalanya.
Ketika cinta datang di waktu yang salah,
siapa yang harus melepaskan lebih dulu?

Novel ini adalah lanjutan dari Novel berjudul "Istri simpananku, canduku" happy reading...semoga kalian menyukainya ✨️🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fauzi rema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Siang itu, udara di dalam galeri Alana terasa jauh lebih berat dari biasanya. Bunyi lonceng di atas pintu berdenting, menandakan kehadiran seseorang. Alana, yang sedang sibuk membersihkan kuas di wastafel belakang, mengira itu adalah pelanggan biasa. Namun, ketika ia berbalik, jantungnya seolah berhenti berdetak.

​Di sana, berdiri Revana Wijaksana.

​Wanita itu tampak begitu berkelas dalam balutan setelan blazer berwarna nude yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Tidak ada senyum ramah yang biasanya Alana terima. Revana berdiri tegak di tengah galeri, matanya yang tajam menyapu setiap sudut ruangan, menilai lukisan-lukisan yang terpajang di dinding seolah sedang memeriksa kualitas barang di pelelangan.

​"Tante..." sapa Alana dengan suara yang nyaris hilang. Ia segera mengelap tangannya yang masih basah ke apronnya dan berjalan mendekat. "Silakan duduk, Tante. Aku... aku buatkan teh ya?"

​"Tidak usah, Alana. Saya tidak lama," jawab Revana dingin. Ia berjalan menuju sebuah lukisan abstrak di sudut ruangan, lukisan yang dibuat Alana saat ia pertama kali merasakan ketertarikan pada Andrew.

​Revana mengamati goresan warna di kanvas itu selama beberapa saat sebelum akhirnya berbalik menatap Alana. "Galerimu cantik. Tenang, artistik, dan tampak jujur. Tapi saya datang ke sini bukan untuk memuji bakatmu. Saya datang untuk menilai pribadimu."

​Alana tertunduk, tangannya saling meremas di balik apron. "Apa yang ingin Tante nilai dari aku?"

​Revana melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga Alana bisa mencium aroma parfum mahal yang terasa begitu mendominasi. "Andrew sudah bercerita semuanya pada saya. Semuanya. Tentang melukis bersama Kiara, tentang perasaan terlarangnya, bahkan tentang apa yang terjadi di kantor tempo hari."

​Wajah Alana memucat. Ia merasa dunianya runtuh seketika. "Tante, aku... aku minta maaf. Aku tidak bermaksud—"

​"Maaf tidak akan memperbaiki pengkhianatan, Alana," potong Revana dengan nada yang tajam namun tetap tenang, yang justru terasa lebih menyakitkan daripada bentakan. "Saya mengenal anak-anak saya. Andrew adalah pria yang kaku, penuh logika, dan sangat menjaga kehormatan keluarga. Dia tidak akan pernah kehilangan kendali jika tidak ada celah yang diberikan kepadanya."

​Revana berjalan mengitari Alana, seperti pemangsa yang mengelilingi mangsanya. "Aku melihatmu sebagai wanita yang menarik. Kamu punya aura yang bisa menenangkan pria yang keras seperti Andrew. Tapi di situlah letak kesalahanmu. Kamu membiarkan dirimu menjadi tempat pelarian bagi Andrew, padahal kamu tahu persis bahwa kamu adalah milik adiknya."

​"Aku mencintai Ares, Tante," bisik Alana dengan air mata yang mulai menggenang.

​"Benarkah?" Revana berhenti tepat di depan Alana, menatap matanya dalam-dalam. "Jika kamu mencintai Ares, kamu tidak akan membiarkan Andrew menciummu. Kamu tidak akan memberikan ruang bagi Andrew untuk merasa bahwa dia punya kesempatan. Seorang wanita yang punya pendirian akan tahu kapan harus memasang tembok, bukan malah pasrah dan menyambut pria lain hanya karena kamu merasa nyaman atau didengar."

​Revana menghela napas panjang, tatapannya kini berubah menjadi penuh tuntutan. "Ares itu polos. Dia memberikan seluruh hatinya padamu karena dia percaya kamu adalah wanita yang berbeda dari semua model dan artis di sekelilingnya. Dia menganggapmu suci. Tapi sekarang, kamu telah menodai kepercayaan itu dengan bermain api bersama kakaknya sendiri di belakang punggungnya."

​Alana terisak, bahunya bergetar. "Aku tersesat, Tante. Aku tidak tahu kenapa perasaan ini muncul..."

​"Perasaan muncul karena kamu memberinya makanan, Alana," sahut Revana tanpa ampun. "Sekarang, saya memberikanmu satu kesempatan terakhir untuk membuktikan apakah kamu masih punya harga diri atau tidak. Kami sudah memutuskan untuk mempercepat pertunanganmu dengan Ares bulan depan."

​Alana mendongak, matanya yang sembab menatap Revana dengan ketakutan.

​"Jika kamu benar-benar merasa bersalah, maka terimalah pertunangan ini. Masuklah ke keluarga kami sebagai istri Ares, dan hapus setiap jejak Andrew dari ingatanmu. Jadilah tembok bagi Andrew agar dia bisa kembali ke jalannya yang benar. Tapi jika kamu merasa tidak sanggup, jika kamu merasa hatimu terlalu lemah untuk menolak Andrew, maka pergilah sekarang juga. Tinggalkan Ares, tinggalkan Andrew, dan jangan pernah muncul lagi di hadapan keluarga Wijaksana."

​Revana mengambil tas mewahnya, bersiap untuk pergi. "Jangan biarkan egomu menghancurkan hubungan darah dua bersaudara. Saya tidak akan membiarkan wanita manapun, sekalipun itu kamu menjadi alasan anak-anak saya saling membenci. Pilihlah, menjadi istri yang setia bagi Ares, atau menghilang selamanya."

​Tanpa menunggu jawaban, Revana melangkah keluar dari galeri. Ia meninggalkan Alana yang jatuh terduduk di lantai, menangis tersedu-sedu di tengah kanvas-kanvas bisunya. Revana telah memberikan vonis yang paling kejam, Alana harus memilih antara hidup dalam kebohongan yang sah, atau pergi dengan membawa luka yang abadi.

-----

Beberapa hari kemudian.

Pilihan Alana telah jatuh. Kata-kata Revana bekerja seperti racun sekaligus obat penawar yang pahit, ia memilih untuk bertahan, meskipun itu berarti ia harus membunuh sebagian dari jiwanya. Alana memutuskan untuk menerima pertunangan itu, sebuah keputusan yang ia ambil bukan atas dasar cinta yang murni pada Ares, melainkan Alana belum siap kehilangan Ares, terlebih pada Andrew.

​Hari-hari berikutnya, Alana berubah menjadi sosok yang berbeda. Ia menjadi wanita yang penurut, rajin berkunjung ke rumah besar Wijaksana, dan selalu berada di sisi Ares. Namun, ada satu perubahan yang paling mencolok, ia berusaha memperlakukan Andrew seolah pria itu adalah udara kosong.

​Setiap kali Andrew masuk ke ruangan yang sama, Alana akan segera mengalihkan pandangan atau terlibat dalam percakapan intens dengan Ares. Tidak ada lagi kerlingan mata yang ragu, tidak ada lagi kecanggungan yang manis. Yang tersisa hanyalah dinding es yang sangat tebal.

​Satu sore, saat keluarga berkumpul di ruang tengah untuk membahas katering pesta, Andrew duduk di sofa seberang.

​"Lan, kamu lebih suka menu western atau traditional untuk buffet nanti?" tanya Ares sambil merangkul bahu Alana dengan bangga.

​Alana tidak melirik ke arah Andrew sedikit pun, meski ia tahu Andrew sedang menatapnya dengan intens. "Apa pun yang menurut Tante dan kamu yang terbaik, aku setuju. Aku hanya ingin acara ini berjalan lancar tanpa gangguan," jawab Alana dengan suara datar dan formal.

​Andrew mengepalkan tangannya di balik majalah bisnisnya. Perubahan sikap Alana begitu drastis hingga terasa menyakitkan. Alana benar-benar menjalankan perintah ibunya dengan sempurna.

​Ketegangan itu memuncak ketika Alana hendak pulang. Saat ia berjalan menuju parkiran setelah berpamitan pada Mommy Revana, Andrew mencegatnya di lorong gelap dekat garasi.

​"Alana, tunggu," suara Andrew parau, penuh dengan kerinduan yang tertahan.

​Alana berhenti, namun ia tidak berbalik. Punggungnya kaku. "Ada yang bisa saya bantu, Kak Andrew?"

​Panggilan "Kak" itu menghantam Andrew seperti gada besi. "Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa tiba-tiba setuju dengan pertunangan secepat ini setelah apa yang terjadi pada kita?"

​Alana menarik napas panjang, menguatkan hatinya. Ia berbalik dan menatap Andrew dengan tatapan yang sangat asing, dingin dan kosong. "Karena aku sadar di mana tempat aku seharusnya berada. Aku adalah calon istri Ares. Dan kamu... hanyalah kakak dari calon suami aku."

​"Kamu bohong," desis Andrew, melangkah maju. "Aku bisa melihatnya di matamu. Kamu terpaksa, kan? Apa Mommy mengatakan sesuatu padamu?"

​Alana mundur selangkah, menjaga jarak dengan tegas. "Tidak ada yang memaksa aku, Andrew. Aku hanya baru tersadar bahwa perasaan sesaat yang sempat kita miliki itu hanyalah kesalahan yang menjijikkan. Aku malu pernah membiarkan kamu menyentuhku. Jadi tolong, hargai keputusan aku dan jangan pernah mencoba bicara secara pribadi lagi denganku."

​Andrew terpaku. Kata-kata "menjijikkan" itu keluar dari bibir yang beberapa hari lalu membalas ciumannya dengan penuh gairah. Ia bisa melihat Mommy Revana berdiri di lantai dua, mengawasi mereka dari balik jendela besar dengan tatapan waspada.

​"Jadi ini yang kamu mau?" tanya Andrew, suaranya hampir pecah. "Kamu mau kita hidup dalam kepura-puraan ini selamanya?"

​"Ini bukan kepura-puraan bagi aku lagi," dusta Alana, meski hatinya menjerit kesakitan. "Ini adalah kebenaran yang baru. Selamat malam, Calon Kakak Ipar."

​Alana berjalan melewati Andrew tanpa menoleh lagi. Begitu ia masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu, ia merosot di balik kemudi. Isak tangis yang ia tahan sejak tadi pecah seketika. Ia memukul kemudinya dengan lemah, meratapi betapa kejamnya ia harus menyakiti pria yang sebenarnya ia cintai demi menjaga kehormatan pria lain yang mencintainya.

​Di luar, Andrew berdiri mematung di tengah kegelapan malam. Ia menyadari bahwa Alana sedang mencoba "menyelamatkannya" dengan cara menghancurkan hati mereka berdua. Dan yang paling menyakitkan adalah, Andrew tahu bahwa ia harus membiarkan ini terjadi.

...🌼...

...🌼...

...🌼...

...Bersambung......

1
Herman Lim
aduh Thor kog kasian bgt sih buat 2 sodara berdarah2 Krn 1 cew
Herman Lim
kyk bakalan perang sodara ne moga aja setelah ini Ares yg mau ngalah buat KK nya
muna aprilia
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!