Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.
Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.
Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.
Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.
Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bu guru cantik
Malam itu, rumah Galih terasa sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding dari ruang belajar Rama dan suara ketikan keyboard yang terdengar cepat dari ruang kerja Galih. Karena aktivitas siang tadi, membuat bu Susi kelelahan dan tertidur pulas lebih awal.
Rama tahu, ia harus belajar dengan giat untuk mencapai cita-citanya. Duduk di meja belajar dengan dikelilingi oleh buku-buku pelajaran dan juga buku catatan menjadi kegiatan rutin tiap malamnya.
Galih keluar dari ruang kerjanya, menatap Rama yang begitu gigih dalam mengejar cita-citanya. Galih tersenyum lalu duduk di dekat anaknya. "Belum ngantuk, Rama? Ayah temani, ya?" Katanya.
Rama tersenyum, "boleh, ayah. Kebetulan aku mau cerita sama ayah."
Galih membenarkan kursinya, menjadi lebih dekat dengan anaknya. "Cerita apa? Ayah pasti akan mendengarkan."
"Tadi di sekolah aku, ada bu guru baru. Namanya bu Winda, masih muda dan cantik, aku terinspirasi dari beliau—"
"Cara ngajarnya mudah dimengerti?" potong Galih.
Rama melirik, "bukan itu."
"Lalu?" Tanya Galih dengan sedikit kerutan tipis di dahinya.
Rama menghela napas, "aku terinspirasi, kalau cari calon ibu baru harus seperti bu Winda." katanya.
"Hemm, mulai lagi." Ucap Galih sambil berdiri meninggalkan Rama.
Rama tertawa, "ayah, ayah!" Panggilan Rama tak mampu membuat Galih menoleh. "Ayah belum lihat, bagaimana cantiknya bu Winda," ucapnya sambil menahan tawa.
Rama menatap jam yang kini sudah menunjukkan pukul sembilan malam, ia bereskan meja belajarnya, lalu menyusul ayahnya ke kamar.
"Ayah." Panggilan Rama yang hanya dibalas lirikan oleh Galih lalu mengubur tumbuhnya ke dalam selimut.
Tanpa bertanya, Rama membuka selimut ayahnya, lalu ikut membenamkan tubuhnya di sana. "Ayah, pokoknya mulai sekarang juga, setiap hari aku akan tidur sama ayah, sampai ayah bawa ibu baru buat aku. Tidak masalah jika ayah tidak mau sama bu Winda, yang lain juga tidak masalah." Kata Rama yang masih belum juga mendapat tanggapan dari sang ayah.
* *
Suasana malam yang tenang di rumah Adit, hanya terdengar suara detak jam dinding, dan napas yang lembut. Setelah memberi pengertian pada anaknya, Adit dan Arumni baru akan mulai tidur.
Seperti biasa, sebelum tidur mereka selalu mengobrolkan tentang banyak hal.
"Mas, ini sudah malam, apa kamu masih belum mau tidur?" Tanya Arumni.
"Belum, aku masih berpikir." Jawabnya.
"Berpikir? tentang apa?"
"Aku lagi berpikir tentang kita, tentang hidup kita. Kamu tahu, kan? Kita sudah tiga puluh tahunan."
"Iya, aku tahu. Semua juga tahu."
"Waktu terasa begitu cepat berlalu, kita sudah mencapai banyak hal, tapi aku merasa ada yang kurang, aku masih ingin lebih." Ucapan Adit yang membuat Arumni menoleh cepat.
"Ingin lebih? Apa lagi yang kamu inginkan, mas?"
Sejenak Adit terdiam, lalu menatap Arumni. "Sebenarnya aku masih trauma, sih. Tapi, aku pikir nggak selamanya kamu melahirkan di tolong sama Galih kan, ya?"
Ucapan Adit membuat Arumni tertawa geli dibuatnya.
"Loh, kok malah tertawa?"
"Jadi, selama ini kamu ingin aku melahirkan, tapi takut yang menemani aku lahiran mas Galih? itu kah yang menjadi penyebab, kamu mengurungkan niat mu ingin punya anak enam atau tujuh?"
Adit tersenyum sambil menggaruk punggung lehernya.
Arumni menarik tangan Adit yang sedang menggaruk punggung leher itu dengan kuat. "Sudah jangan digaruk, aku tahu, punggung leher mu tidak gatal kan?" Ucapnya sambil terus tertawa.
Kamar itu dipenuhi dengan canda tawa dari mereka. Keduanya tertawa lepas, tidak peduli apa yang orang lain akan katakan jika melihatnya. Sesaat kemudian, mereka berdua pun akhirnya tidur dengan senyum di wajah, serta hati yang penuh kebahagiaan.
* *
Pagi yang cerah menyapa...
Sejak semalam, Rama terus memikirkan, bagaimana cara agar ayahnya bertemu dengan bu guru cantik di sekolahnya.
Rama berpikir, tidak masalah jika mereka tidak memiliki ketertarikan setelahnya, yang terpenting bagi Rama, mereka harus bertemu dulu, pikirnya.
"Ayah, hari ini tolong antar aku ke sekolah, ya?" ucap Rama saat mereka sedang bersarapan.
"Nggak bisa, Rama. Ayah punya kerjaan, ayah juga harus menyelesaikan pekerjaan ayah di kios." Tolak Galih.
"Diantar kenapa sih, Galih." Saut bu Susi, "paling cuma lima menit." Katanya.
Galih tahu maksud anaknya itu, dia merasa sedang dikerjai anaknya. "Naik angkot kan bisa, Rama. Seperti biasanya aja, kalau mau jadi guru nggak usah manja." Katanya.
Rama sudah memasukan buku paket yang tebal-tebal ke dalam tasnya sejak semalam, hingga terasa berat jika di bawa. "Hari ini tugasku sangat banyak, ayah. Aku rasa terlalu berat jika harus dibawa naik turun angkot." Alasan Rama.
Galih tahu Rama hanya sedang beralasan, dia lebih memilih diam melanjutkan sarapannya.
"Ayah, kenapa ayah tidak percaya sama anak sendiri?" Ucap Rama sambil mengangkat tas sekolahnya yang penuh dengan buku paket itu, "lihat ayah, ini sangat berat. Apa ayah tega, membiarkan aku berangkat sendiri dengan beban seberat ini?"
"Kamu harus tahu, Rama. Ayah dulu juga pernah sekolah, belum pernah ayah membawa buku sampai sebanyak itu."
"Tinggal antar saja kenapa, Galih? Kebanyakan protes." Kata bu Susi yang langsung mendapat wajah sumringah dari Rama.
"Ya sudah, ayo." Kata Galih, kurang bersemangat.
"Yes!" ucap Rama dalam hatinya.
Galih akhirnya mengantar Rama sampai ke sekolahnya. Saat mereka tiba di depan sekolahan, Galih melihat bu guru cantik yang Rama maksud, berdiri menyambut kedatangan murid-murid di gerbang sekolah.
Galih tidak menyangkal, bu guru itu memang cantik. Ia tersenyum, bu guru itu pun membalas dengan senyuman yang ramah.
"Ayah!" Panggil Rama, saat Galih hendak pergi begitu saja. Galih menoleh, lalu Rama memberi isyarat agar ayahnya menghampiri.
Merasa perlu, Galih pun mendekat. Sungguh diluar dugaan, ternyata Rama ingin memperkenalkan guru barunya itu.
"Bu Winda, ini ayah ku. Dan ayah, ini bu Winda." Kata Rama, yang membuat bu Winda dan Galih saling mengulurkan tangan.
"Saya Galih, ayahnya Rama. Senang bertemu dengan anda, bu." Kata Galih.
"Saya bu Winda, wali kelas Rama, senang bertemu dengan anda juga, pak!"
Mereka berdua berbicara sejenak, dan Galih tidak bisa memungkiri bahwa Winda memang cantik dan juga ramah sesuai dengan yang Rama ceritakan.
Setelah beberapa menit, Galih pamit dari sana. "Baik, bu. Saya titip Rama, ya?"
Bu Winda tersenyum mengangguk. "Tentu, pak. Saya akan menjaga Rama dengan baik."
...****************...
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/