Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Menjerat Leher Sendiri
Ayra kini berubah pikiran. Setelah semua bukti teror dan rekam medis ia kumpulkan, ia berniat untuk langsung mengajukan gugatan cerai. Ia tak perlu lagi menunggu Rayyan. Dengan langkah mantap, ia mendatangi kantor Melissa, kakak kelasnya yang kini telah menjadi pengacara sukses untuk berkonsultasi sekaligus meminta bantuan hukum.
Di dalam ruangan yang tenang itu, Ayra membeberkan semua yang terjadi. Ia menceritakan bagaimana ia melihat Rayyan bersama seorang wanita di supermarket. Kejadian yang begitu memukul batinnya hingga Zavian, orang yang baru ditemuinya di sana, harus mengantarnya pulang karena ia sangat syok. Meski sayangnya, Zavian tidak melihat wajah Rayyan dan selingkuhannya karena posisi mereka yang membelakangi.
"Masalahnya mbak, aku tidak memiliki satu pun foto atau bukti fisik perselingkuhan mereka. Aku tidak pernah memeriksa ponsel mas Rayyan," ucap Ayra dengan nada sesal.
Namun Melissa menatap Ayra dengan penuh keyakinan. Sebagai pengacara, ia tahu hukum tidak hanya bicara soal foto.
"Lalu bagaimana kamu bisa seyakin itu mereka menjalin hubungan?" tanya Melissa.
Ayra menarik napas panjang, mengingat luka itu kembali.
"Karena setelah kejadian di supermarket itu, mas Rayyan mengakuinya sendiri padaku. Dia terang terangan mengakui perselingkuhannya dan mengatakan lebih memilih Liztha ketimbang aku yang saat itu sedang hamil. Dari pertengkaran itulah batin dan fisikku tidak kuat, hingga akhirnya aku keguguran."
Melissa mencatat poin penting itu.
"Itu sudah lebih dari cukup, Ayra. Pengakuan langsung dari suami yang menyebabkan keguguran adalah bukti kekerasan psikis yang sangat kuat. Kita punya rekam medis sebagai bukti akibat dari perbuatannya."
Ayra kemudian menunjukkan pesan ancaman berisi foto dirinya dan Herman yang dikirim oleh nomor asing. Ia menjelaskan dugaannya bahwa ini bukan dendam pribadi biasa, melainkan upaya keluarga dekat untuk menjatuhkan mentalnya agar ia mundur dari tuntutan harta.
"Lihat ini mbak, mereka mengancam akan memviralkan fitnah menjijikkan ini jika aku menuntut harta gono gini. Padahal itu hakku," keluh Ayra.
Melissa tersenyum tipis, melihat celah hukum yang justru akan menguntungkan mereka. "Mereka sangat bodoh. Dengan mengirimkan ancaman ini, mereka justru memberimu senjata tambahan. Ini adalah intimidasi dan upaya pemerasan. Kita akan gunakan ini untuk menunjukkan kepada hakim bahwa ada niat jahat dari pihak lawan untuk menghambat proses hukummu."
Setelah berdiskusi panjang dan mematangkan semua poin gugatan, Melissa mulai menyusun berkasnya. Ayra merasa kekuatannya bertambah. Ia tidak lagi merasa sendirian dan menjadi korban yang lemah. Dengan bantuan Melissa, Ayra sendiri yang akhirnya mendaftarkan gugatan cerai tersebut ke pengadilan. Ia menuntut keadilan atas pengkhianatan Rayyan, penderitaan atas kehilangan bayinya, serta hak harta gono gini yang coba dirampas melalui fitnah kotor mereka. Ayra siap berperang, bukan dengan emosi yang meledak ledak, melainkan dengan logika hukum yang tajam.
***
Beberapa hari setelah pendaftaran gugatan yang dilayangkan Ayra, kehidupan Rayyan masih berjalan seperti biasa. Ia merasa masih berada di atas angin. Ia juga sudah diberi tahu ibunya tentang rahasia yang akan membuat Ayra menyerah. Awalnya Rayyan ragu karena fitnah itu melibatkan ayahnya. Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah jalan satu-satunya supaya Ayra menyerah. Dia hanya bisa berdoa, supaya Bapaknya nanti tidak murka.
Rayyan juga yakin bahwa teror foto yang dikirimkan orang suruhan ibunya telah berhasil melumpuhkan mental Ayra. Ia bahkan sedang bersantai di ruang kerjanya, membayangkan masa depan tanpa beban finansial jika Ayra benar-benar menyerah dan tidak lagi menuntut harta gono-gini.
Tiba-tiba, seorang office boy mengetuk pintu ruangannya.
"Pak Rayyan, ada surat resmi untuk Bapak. Sepertinya dari Pengadilan Agama."
Jantung Rayyan berdegup kencang secara tiba-tiba. Ia menerima amplop cokelat besar itu dengan dahi berkerut. Begitu si office boy tersebut keluar, Rayyan merobek amplopnya dengan terburu-buru.
Matanya membelalak saat membaca kop surat resmi di genggamannya. Itu adalah Relaas atau surat panggilan sidang. Namun yang membuatnya lemas bukan hanya statusnya sebagai Tergugat, melainkan isi dari salinan gugatan yang dilampirkan di baliknya.
"Gugat cerai... dan tuntutan harta bersama?" gumamnya tak percaya.
Rayyan mulai membaca poin demi poin dengan tangan yang mulai gemetar. Ayra tidak hanya menuntut cerai, tapi dia menuliskan secara detail kronologi malam di mana dirinya mengakui perselingkuhan itu dengan Liztha. Ayra juga melampirkan rekam medis kegugurannya sebagai bukti dampak nyata dari perbuatan Rayyan.
"Dia benar-benar menceritakan semuanya? Dari mana dia tahu cara menyusun gugatan setajam ini?" Rayyan meremas amplop dari pengadilan agama itu dengan napas yang memburu.
Poin terakhir di berkas itu hampir membuat Rayyan terjatuh dari kursinya. Ayra mencantumkan bukti ancaman dari nomor asing yang berisi foto dirinya dan Herman sebagai bentuk intimidasi terhadap Penggugat. Di sana tertulis jelas bahwa Ayra siap memperkarakan hal tersebut sebagai tindak pidana jika Rayyan mencoba menggunakan foto fitnah itu untuk memerasnya di pengadilan.
"Sial! Ayra punya pengacara!" umpat Rayyan saat melihat nama Melissa Simanjuntak tertera sebagai kuasa hukum di lembar terakhir.
***
Rayyan segera menyambar kunci mobil dan keluar dari kantor, tapi ia tidak tahu harus pergi ke mana. Kepalanya berdenyut nyeri. Ia pun segera masuk ke dalam mobil yang terparkir di bawah terik matahari, lalu dengan tangan gemetar ia mendial nomor ibunya.
"Bu! Ayra, Bu! Dia benar-benar menyerang kita balik!" teriak Rayyan begitu sambungan telepon diangkat, tanpa salam sedikit pun.
Di seberang telepon, Elly yang sedang berada di antara teman-temannya mengernyitkan kening.
"Ada apa sih, Rayyan? Bicara yang jelas. Jangan teriak-teriak seperti orang kehilangan akal."
"Ayra, Bu! Barusan aku menerima surat panggilan sidang dari pengadilan!" seru Rayyan, suaranya naik satu oktav karena stres. "Dia yang menggugatku! Dan dia tidak main-main, dia menuntut semua harta gono-gini!"
Terdengar helaan napas remeh dari Elly. "Hanya itu? Ibu kan sudah bilang, biarkan saja dia menggugat. Kita punya foto dia dan Bapakmu. Kalau dia berani macam-macam, kita viralkan foto itu dan buat dia malu seumur hidup. Dia pasti akan mencabut tuntutannya karena takut."
"Masalahnya tidak semudah itu, Bu!" sela Rayyan dengan nada frustrasi.
"Ayra menggunakan pengacara, namanya Melissa Simanjuntak. Di dalam berkas gugatan itu, Ayra menceritakan semuanya. Dia menuliskan pengakuanku soal Liztha, dia melampirkan rekam medis kegugurannya, dan yang paling parah... dia memasukkan foto ancaman yang Ibu suruh kirim itu ke dalam poin intimidasi!"
Keheningan melanda di seberang telepon. Elly yang tadinya merasa di atas angin, kini terdiam.
"Dia bilang di dalam surat itu, kalau aku berani menggunakan foto fitnah itu untuk memerasnya, dia akan melaporkanku ke polisi atas tindakan pidana pemerasan dan ITE," lanjut Rayyan dengan suara yang nyaris menangis.
"Bu, Ayra tahu hukum! Dia menjadikan gertakan kita sebagai bukti kejahatanku di pengadilan. Sekarang aku harus bagaimana? Kalau ini sampai ke kantor, karierku hancur, Bu!"
Elly mengepalkan tangannya kuat-kuat di telepon. Ia tidak menyangka menantu yang selama ini ia anggap bodoh,lemah dan bisa disetir ternyata memiliki taring yang begitu tajam. Ayra tidak bergerak dengan emosi, tapi bergerak dengan dokumen resmi yang sangat menyudutkan mereka.
"Siapa yang mengajarinya jadi selicik ini?" geram Elly dengan nada rendah yang penuh kebencian.
"Dia bukan licik, Bu, dia pintar! Dan ditambah sekarang dibantu pengacara profesional!" sahut Rayyan putus asa.
"Sekarang apa rencana Ibu? Foto itu sudah tidak bisa kita pakai untuk mengancamnya lagi!"
Elly memijat pelipisnya. Situasi yang awalnya ia rancang untuk memenangkan Rayyan, kini justru menjadi seperti menjerat leher putranya sendiri.
lanjut min ceritanya
Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?
Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.
Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?
Tentu saja tidak!
Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?
Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"