Melina Lamthana tak pernah merencanakan untuk jatuh cinta ditahun pertamanya kuliah. Ia hanya seorang mahasiswi biasa yang mencoba banyak hal baru dikampus. Mulai mengenali lingkungan kampus yang baru, beradaptasi kepada teman baru dan dosen. Gadis ini berasal dari SMA Chaya jurusan IPA dan Ia memilih jurusan biologi murni sebagai program studi perkuliahannya dikarenakan juga dirinya menyatu dengan alam.
Sosok Melina selalu diperhatikan oleh Erick Frag seorang dosen biologi muda yang dikenal dingin, cerdas, dan nyaris tak tersentuh gosip. Mahasiswi berbondong-bondong ingin mendapatkan hati sang dosen termasuk dosen perempuan muda. Namun, dihati Erick hanya terpikat oleh mahasiswi baru itu. Apakah mereka akan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Apartemen itu sudah tampak sepi. Melina berbaring di tempat tidurnya, dengan lampu kamar yang biasanya dimatikan sengaja, hanya menyisakan cahaya lampu dari dapur.
Sejak Bunga pulang kampung, dia belum sepenuhnya merasa nyaman di ruangan itu. Bukan perubahan ruangan yang mengganggu, melainkan kesunyian yang hanya terpecah oleh suaranya sendiri.
Dia menatap ke langit-langit kamarnya, berusaha untuk menutup matanya, namun pikirannya tak berhenti berpikir. Ponselnya bergetar di meja samping tempat tidur. Terdapat pesan baru. Itu berasal dari Erick. Ia tidak segera membukanya. Dia menarik napas dalam-dalam, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang sudah lama ada di pikirannya.
@Erick: "Melina, kalau kamu masih belum tidur, mau keluar sebentar? Untuk makan malam. Seperti biasa."
Ungkapan "seperti biasa" terasa asing saat ini. Melina duduk diranjangnya, bersandar pada sandaran kepala tempat tidurnya. Dia membaca pesan itu dua kali. Tak perlu terburu-buru. Tanpa emoji dan tidak ada kata-kata manis.
Dia melihat jam. Hampir pukul delapan malam. Normalnya, pada waktu ini, dia bersama Erick. Entah untuk makan, duduk di mobil, atau berbicara soal hal-hal random. Namun malam ini terasa berbeda. Terlalu banyak hal telah berubah dalam beberapa hari terakhir. Dia mengetik balasan, menghapus tulisan itu, lalu mengetik lagi.
@Melinaa_: "Aku bisa. Tapi hanya sebentar."
Balasan Erick datang dengan cepat.
@Erick: "Ya. Aku akan menjemputmu."
Melina berdiri, menuju kamar mandi, dan mencuci wajahnya. Dia tak memakai banyak make-up, hanya sedikit bedak dan lip balm.
Rambutnya dibiarkan terurai. Dia mengenakan jaket tipis dan sepatu yang nyaman. Dia tidak berusaha tampil menarik. Dia hanya ingin terlihat biasa.
Sepuluh menit kemudian, mobil Erick berhenti di depan apartemen. Melina keluar, mengetuk jendela samping, dan masuk tanpa bicara.
"Hai," ujarnya singkat.
"Hai," jawab Erick.
Mobil dihidupkan. Mereka belum bergerak. Erick sepertinya ingin berkata sesuatu, tetapi akhirnya hanya memegang setir dan mengemudi perlahan.
Suasana perjalanan malam itu terasa tidak asing. Tidak ada musik yang keras dan ada pembicaraan santai seperti biasanya. Kota masih ramai, lampu jalan tetap menyala, namun di dalam mobil, suasana sepi bukan sunyi yang canggung, tetapi sunyi yang penuh dengan kehati-hatian.
"Mau makan di mana? " tanya Erick.
"Terserah," jawab Melina tanpa basa-basi.
Mereka berhenti di restoran kesukaan mereka. Restoran itu tidak romantis. Harganya pun tidak terlalu mahal. Hanya sebuah restoran sederhana yang buka hingga larut malam, pilihan yang sering mereka kunjungi setelah bekerja. Pelayan memandu mereka menuju meja di sudut. Mereka duduk berhadapan.
Melina menyadari satu hal kecil biasa, Erick duduk di sampingnya. Namun malam ini, dia tidak melakukannya. Dia tidak yakin apakah hal itu dilakukan dengan sengaja atau tidak, tetapi jarak itu terasa penting.
...****************...
Mereka memesan makanan tanpa banyak bicara. Erick memilih hidangan yang sama seperti biasanya. Melina pun begitu.
"Apa kabarmu sekarang? " tanya Erick setelah pelayan pergi.
"Aku sudah sehat," jawab Melina.
Erick mengangguk. "Syukurlah."
Masalah yang sama pun kembali muncul. Melina menatap meja, Ia merasa seakan ada dua sisi dalam dirinya, berusaha mengingat cara berbicara tanpa membahas hal yang sebenarnya ingin mereka bicarakan.
"Apakah Bunga sudah tiba di rumahnya? " tanya Erick.
"Sudah, kemarin sore dia sampai," jawab Melina.
"Dia tidak khawatir meninggalkanmu? " tanya Erick lagi.
Melina memberikan senyum kecil.
"Awalnya iya. Tapi aku bilang padanya aku baik-baik saja."
Erick mengangguk pelan.
"Kamu terlihat lebih segar sekarang."
Melina menatapnya.
"Oh, iya" Erick terdiam sejenak.
Makanan pun tiba.
Mereka mulai makan, masing-masing merenung dalam pikiran sendiri. Suara sendok yang denting tidak terdengar berlebihan. Obrolan ringan yang biasanya ada juga hilang. Melina merasakan sesuatu yang aneh di dadanya bukan nyeri dan bukan sesak. Lebih seperti sebuah perasaan yang tidak terungkap.
"Kenapa kamu diam? " tanya Erick dengan lembut.
Melina sedang memikirkan Erick.
"Aku sedang merenung."
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Mengapa kita berada dalam keadaan ini? "
Pertanyaan itu datang tiba-tiba, tanpa rencana. Erick meletakkan sendoknya.
"Apakah kamu merasa ini salah?"
Melina menggelengkan kepala.
"Aku tidak bilang ini salah. Aku hanya merasa tidak terbiasa dengan jarak seperti ini" Melina menghela nafas
"Dengan kamu yang tidak mengharapkan apa pun." lanjutnya
Erick tersenyum kecil
"Aku berusaha berubah."
"Kenapa?"
"Karena aku menyadari aku terlalu posesif untukmu"
Kata-kata tersebut membuat Melina terdiam.
"Aku tidak ingin kamu bertahan hanya karena aku merasa buruk akan menolak," lanjut Erick.
"Aku ingin kamu di sini karena kamu memang mau." Melina menghela napas.
"Aku memang mau."
"Tapi..."
"Tapi aku juga merasa takut."
"Takut tentang apa?"
"Aku takut suatu saat nanti aku akan sadar bahwa aku telah berkorban terlalu banyak dan tidak bisa menarik kembali semuanya." Erick menatapnya lama tanpa berkata apa-apa.
"Aku tahu hubungan kita rumit," kata Melina.
"Dan aku tidak ingin berpura-pura mengabaikan segala risikonya."
"Jadi mengapa kamu masih memilih untuk datang malam ini?" Pertanyaan itu jelas dan tidak dipaksakan. Melina berpikir sejenak.
"Karena aku masih ingin mengenalmu tanpa kehilangan diriku sendiri."
Pernyataan itu terasa canggung di antara mereka. Erick akhirnya mengangguk.
"Aku bisa menerimanya."
Tidak ada janji atau pernyataan. Hanya sebuah kesepakatan diam-diam yang rapuh tetapi nyata. Mereka menyelesaikan makan malam dengan tenang, sesekali berbincang tentang hal-hal ringan mengenai semester yang akan datang, profesor lainnya, dan rencana yang masih samar.
"Cepat juga ya. Sebentar lagi kamu semester empat." ujar Erick
"Apakah jadwalnya akan padat?" tanya Melina
"Mungkin. Mulai dari semester empat biasanya akan lebih banyak praktikum." jawab Erick
"Tapi aku yakin kau bisa melewati itu." lanjutnya
Ditengah makan malam itu, tidak ada percakapan tentang Devano. Hanya tentang mereka berdua yang masih terasa canggung dari semua kejadian yang mereka lalui disemester tiga itu.
"Aku akan membayar sebentar." ujar Erick
Erick memanggil pelayan lalu membayar makan malam dengan Qris.
"Sudah. Ayo kita pulang."
Ketika mereka kembali ke mobil, udara malam terasa lebih dingin. Erick mengantar Melina hingga ke apartemen.
Perjalanan ke apartemen hanya dilalui dengan keheningan. Masih terasa canggung sekarang untuk berbincang lebih jauh.
...****************...
Di depan apartemen, dia mematikan mesin.
"Terima kasih sudah mau berkencan denganku," kata Erick.
Melina mengangguk.
"Terima kasih juga."
Dia membuka pintu dan berhenti sejenak.
"Erick?" Melina memanggil
"Ya?"
"Hati-hati, ya" ujar Melina
Erick menatapnya dan memberikan senyum tipis.
"Oke."
Melina keluar dan kemudian masuk ke dalam apartemen. Setelah pintu menutup di belakangnya, dia berhenti sejenak dan menghela napas dalam-dalam.
Malam itu tampak penuh dengan hal-hal yang tidak pasti. Namun untuk kesekian kali, Melina merasa hubungan ini semakin renggang. Hanya percakapan singkat, tidak ada kata-kata romantis. Semua dikalahkan oleh ego mereka masing-masing.
kemana bang Erick? lagi nangis di pojokan😭😭
Anak orang kamu bikin nangis🥲
nikahin dulu gih pak😇