NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

​Pagi itu, suasana perpustakaan sekolah terasa dingin oleh embusan AC, namun kepala Mori terasa panas. Ia sedang duduk berhadapan dengan Vano, dikelilingi oleh tumpukan buku tebal dan laptop yang menyala. Persiapan lomba debat tingkat provinsi sudah di depan mata, dan sebagai partner, Vano sangat menuntut kesempurnaan.

​"Argumen kamu di poin kedua masih bisa dipatahkan, Mor. Kita butuh data yang lebih empiris," ucap Vano sambil menunjuk layar laptop.

​Mori mengangguk, mencoba fokus. Namun, konsentrasinya buyar setiap kali ia melihat bayangan di balik rak buku sejarah. Di sana, Lian duduk dengan gaya malasnya, membolak-balik buku olahraga yang sebenarnya tidak ia baca. Berkali-kali Lian mencuri pandang ke arah Mori, memberikan kode-kode kecil atau sekadar menatap intens untuk mengganggu fokus gadis itu.

​Mori memilih tidak menghiraukan. Ia tahu, kalau ia membalas tatapan Lian sekali saja, cowok itu akan semakin melunjak.

​Bel istirahat berbunyi. Mori merapikan bukunya dengan terburu-buru. "Kak Vano, kita lanjut nanti ya. Aku mau ke kantin dulu, haus banget."

​"Mau aku temani?" tawar Vano sopan.

​"Nggak usah, Kak. Aku bareng Jessica aja," tolak Mori halus.

​Baru saja Mori keluar dari pintu perpustakaan, ia langsung berpapasan dengan Alina. Gadis itu berdiri bersandar di dinding koridor dengan tangan bersedekap. Tatapan matanya tajam, penuh kebencian yang belum padam sejak insiden ruang guru kemarin.

​Alina memandangi Mori dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan sinis. Namun, Mori bukan lagi Mori yang lemah. Ia membalas tatapan itu dengan wajah datar dan mata yang tak kalah tajam. Keheningan di antara mereka terasa seperti kabel yang siap putus.

​Tiba-tiba, sebuah suara berat muncul dari belakang Mori, memecah ketegangan.

​"Ayo ke kantin, Baby Girl. Gue udah laper nungguin lo debat kusir dari tadi," ucap Lian santai.

​Alina mendecak kesal, wajahnya memerah melihat kehadiran Lian yang selalu pas di waktu yang salah. Sebelum Mori sempat melayangkan protes atas panggilan memalukan itu, Lian sudah menyusupkan jari-jarinya ke sela-sela jari Mori.

​Lian menggenggam tangan Mori dengan sangat erat. Bukan genggaman lembut, tapi genggaman posesif yang seolah mengumumkan pada seluruh koridor—termasuk pada Alina—bahwa gadis ini miliknya.

​"Lian! Lepasin! Banyak orang!" Mori berusaha menarik tangannya, tapi Lian justru menariknya lebih dekat hingga bahu mereka bersentuhan.

​"Nggak mau. Tangan lo dingin, pasti gara-gara kelamaan sama si Vano yang kaku itu," balas Lian sambil terus melangkah, meninggalkan Alina yang menghentakkan kakinya ke lantai karena marah.

​Kantin sangat ramai, namun seperti biasa, sebuah meja di tengah seolah dikosongkan secara ajaib untuk Lian. Lian mendudukkan Mori di kursi, lalu ia pergi sebentar ke stan minuman.

​Tak lama, ia kembali membawa segelas besar jus jeruk dengan banyak es batu.

​"Minum," perintah Lian sambil meletakkan gelas itu di depan Mori.

​"Gue mau bakso, bukan jus jeruk," protes Mori.

​"Minum dulu jusnya buat mendinginkan kepala lo yang panas gara-gara latihan debat tadi. Habis itu baru makan," Lian memperhatikan Mori dengan teliti. Visual Gabriel Guevara-nya yang sedang mode perhatian ini sebenarnya sangat manis, jika saja sifatnya tidak menyebalkan.

​Mori yang memang merasa tenggorokannya kering akhirnya menyeruput jus jeruk itu. Rasa asam-manis yang dingin seketika membuat pikirannya sedikit lebih jernih. "Makasih," gumamnya pelan.

​Suasana tenang itu terusik saat seorang cowok dengan jaket tim basket sekolah tetangga—yang sedang berkunjung untuk urusan sparing—berhenti di depan meja mereka. Namanya Andre, rival abadi Lian di lapangan basket sekaligus cowok yang dikenal suka menggoda cewek-cewek pintar.

​Andre menatap Mori dengan senyum nakal. "Wah, jadi ini siswi teladan yang lagi viral itu? Hai, Mori. Kenalin, gue Andre. Kayaknya lo terlalu pinter buat duduk bareng cowok yang cuma tau cara masukin bola ke ring ini."

​Andre mencondongkan tubuhnya ke arah Mori. "Gimana kalau nanti sore pulang sekolah lo ikut gue jalan-jalan? Gue janji nggak bakal manggil lo pake sebutan alay kayak 'Baby Girl'."

​Lian yang tadinya sedang asyik memperhatikan Mori, mendadak berubah auranya. Rahangnya mengeras, matanya menatap Andre dengan sorot membunuh. Tangannya yang berada di bawah meja mengepal kuat.

​Namun, sebelum Lian sempat berdiri untuk melayangkan pukulan, Mori lebih dulu bereaksi.

​Mori menatap Andre dengan tatapan yang sangat datar, bahkan cenderung dingin. Ia meletakkan gelas jus jeruknya dengan tenang. "Maaf, gue nggak tertarik jalan-jalan sama orang asing. Dan gue lebih suka cowok yang tau cara masukin bola ke ring daripada cowok yang cuma tau cara ganggu privasi orang lain."

​Lian yang mendengar itu langsung terpaku. Ia tidak menyangka Mori akan membelanya secara tidak langsung. Senyum kemenangan yang sangat lebar perlahan muncul di wajah tampannya.

​"Lo denger kan, Dre? Dia nggak tertarik. Mending lo balik ke lapangan sebelum gue bikin lo nggak bisa main basket lagi selamanya," usir Lian dengan nada penuh kemenangan.

​Andre mendengus kesal, merasa harga dirinya jatuh karena ditolak secara mentah-mentah di depan rivalnya. Ia pergi dengan langkah seribu.

​Lian kembali menatap Mori, kali ini dengan tatapan yang sangat intens dan penuh binar kebahagiaan. "Tadi lo belain gue, Mor?"

​"Gue nggak belain lo. Gue cuma nggak suka sama dia," jawab Mori cepat, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya dengan kembali meminum jus jeruknya.

​"Halah, ngaku aja. Lo mulai suka kan sama 'si Red Flag' ini?" goda Lian sambil mencubit pelan pipi Mori.

​Mori hanya diam, tapi ia tidak menepis tangan Lian kali ini. Di tengah keriuhan kantin, ia menyadari satu hal: meskipun ia membenci sifat posesif Lian, ada rasa aman yang aneh setiap kali cowok itu berdiri di belakangnya dan menjaganya dari orang-orang seperti Andre.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!