Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.
Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.
Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.
Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.
Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Diinginkan
Devan menarik napas dalam-dalam, sebenarnya dia tidak ingin bicara panjang lebar dengan Putri. Namun, tampaknya Putri harus tahu masalah keluarganya juga.
"Aku bahkan tidak tahu, kenapa keluarga kamu sendiri tidak mengatakan kenyataan ini sama kamu."
"Ini soal ibu aku kan, Mas?" tanya Putri.
"Ya, siapa lagi kalau bukan ibu kamu. Ibu kamu itu dijadikan istri kedua karena permintaan papanya pak Brahma, kakek kamu sendiri. Itu sebabnya, mereka menikah. Ibu kamu adalah cucu dari sahabat kakek kamu, ayahnya pak Brahma. kalau tidak menikahi ibu kamu, maka, ayah kamu itu tidak akan mendapatkan warisan keluarga. Pak Brahma memilih menikah, meski dilarang oleh istri pertamanya, karena itulah kamu dibenci! Kamu paham sekarang kan?"
Devan berbalik arah setelah menceritakan kebenaran itu, dia tersenyum senang melihat Putri yang bengong dengan tatapan nanar.
Malam semakin dingin, Putri hanya bisa menyeka kedua sudut matanya yang mulai berair.
Devan pergi, meninggalkannya dalam keheningan dan kesedihan.
****
Setibanya di penthouse kediaman Devan, suasana semakin terasa tegang.
Putri mengikuti suaminya masuk ke kamar, Devan masih memasang muka masam. Ia tak pernah tenang atau pun senang dengan keberadaan Putri di sisinya.
"Hari ini benar-benar capek, terlalu banyak drama di hidupku setelah menikah dengan kamu. Kamu senang, kan?"
Putri tidak menjawab, tatapan Devan begitu tajam. Putri masih terdiam di depan sofa dengan posisi berdiri, ia tidak paham, kenapa dirinya selalu disalahkan.
"Diam berarti iya," desis Devan sinis. Ia memalingkan wajahnya, muak. "Dengar, Putri. Di mata hukum dan keluarga, kita mungkin suami istri. Tapi di balik pintu ini, kamu tidak lebih dari orang asing yang kebetulan tinggal satu atap denganku. Jangan pernah berharap aku akan memperlakukanmu selayaknya istri, apalagi menggantikan posisi Tamara."
Devan menarik selimutnya dengan kasar, memunggungi Putri sepenuhnya. "Matikan lampunya. Aku muak ngelihat wajah kamu!"
Putri menahan napas yang terasa semakin berat. Dengan tangan gemetar, ia mematikan lampu tidur di samping meja, membiarkan kegelapan menelan kamar luas itu.
Putri meringkuk di atas sofa beludru yang dingin, memeluk lututnya sendiri. Tidak ada bantal, tidak ada selimut tambahan, hanya gaun tidur tipis dan dinginnya AC sentral yang menusuk tulang.
Malam itu, air matanya menetes dalam diam, meresap ke dalam bantalan sofa. Dadanya kembali terasa nyeri, sebuah denyutan aneh yang belakangan ini sering muncul, namun ia abaikan.
Putri pikir itu hanya efek kelelahan fisik dan mental. Tanpa ia sadari, rasa sakit itu adalah sinyal dari tubuhnya yang mulai menyerah, perlahan tapi pasti.
**
Pagi datang terlalu cepat bagi Putri yang nyaris tidak memejamkan mata sedetik pun.
Ketika matahari belum sepenuhnya muncul, ia sudah bangun. Kebiasaan lama di rumah ayahnya, bangun sebelum majikan bangun masih melekat kuat.
Dengan langkah pelan agar tidak membangunkan Devan, ia keluar dari kamar, menuju dapur di penthouse mewah itu.
Kulkas Devan penuh dengan bahan makanan mahal, namun terasa kosong dari sentuhan rumah.
Putri mengambil beberapa butir telur dan roti, mencoba membuat sarapan sederhana. Aroma roti panggang dan kopi segera memenuhi ruangan, memberikan sedikit ilusi kehangatan di tempat yang beku itu.
Hari ini, sepenuhnya dia sendiri yang harus membuatkan sarapan untuk suaminya. Karena bi Rena tidak ada di sana, wanita tua itu sudah pamit untuk pulang ke kampungnya kemarin.
Pukul tujuh tepat, Devan keluar dari kamar. Ia sudah rapi dengan setelan kantornya, wajahnya segar namun ekspresinya keruh begitu melihat Putri yang sedang menata piring di meja makan.
"Pagi, Mas. Aku buatkan sarap—"
"Siapa yang suruh?" potong Devan tajam. Ia berjalan melewati meja makan tanpa melirik sedikit pun pada hidangan yang sudah disiapkan Putri. Ia menuju lemari pendingin, mengambil sebotol air mineral dan meneguknya.
Putri meremas ujung bajunya. "Aku... aku pikir kamu butuh sarapan sebelum kerja. Bi Rena kan sedang cuti, Mas."
Devan meletakkan botol itu dengan hentakan keras di meja makan. "Dengar baik-baik. Kamu nggak perlu bertingkah seolah-olah kamu istri yang berbakti. Nggak usah cari muka. Simpan sandiwaramu itu buat di depan papa dan mama saja."
"Aku nggak cari muka, Mas. Aku cuma..."
"Cuma apa?" Devan melangkah mendekat, mengikis jarak hingga Putri bisa mencium aroma parfum maskulin yang bercampur dengan aura intimidasi. "Berhenti mencoba masuk ke hidup aku. Kamu ada di sini cuma karena Tamara pergi. Ingat posisimu," tekan Devan sekali lagi, matanya menyiratkan peringatan keras. "Kamu cuma pengganti! Barang cadangan yang terpaksa dipakai karena yang asli hilang. Jadi, jangan pernah bermimpi aku akan menyentuh masakanmu, apalagi menyentuhmu."
Tanpa menunggu jawaban, Devan menyambar kunci mobil dan tas kerjanya. Ia melangkah keluar, meninggalkan Putri yang mematung.
Suara pintu yang dibanting keras terdengar menggema, menyisakan getaran yang merambat hingga ke ulu hati Putri.
Hening kembali meraja.
Putri menatap nanar dua piring roti panggang dan kopi yang uap panasnya mulai menipis, ia tersenyum miris.
Sudah biasa, batinnya menghibur diri. Dulu Anggun sering membuang bekal makan siang yang ia buatkan, sekarang Devan mengabaikan sarapannya. Polanya sama, hanya pelakunya yang berbeda.
Dengan gerakan lambat, Putri duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Devan. Ia mengambil setangkup roti dingin itu dan memakannya perlahan. Rasanya hambar, sulit ditelan karena kerongkongannya terasa tercekat menahan tangis. Namun, ia memaksakan diri.
Putri harus tetap kuat, dia tidak boleh sakit. Tidak akan ada yang merawatnya jika ia sampai jatuh sakit. Saat suapan terakhir masuk ke mulutnya, rasa mual yang hebat tiba-tiba menyerang.
"Ugh..." Putri membekap mulutnya, berlari menuju wastafel dapur.
Ia memuntahkan semua isi perutnya, keringat dingin membasahi pelipis. Napasnya tersengal-sengal, dadanya berdegup kencang seolah baru saja berlari maraton.
Saat ia membasuh wajahnya dengan air keran, ia melihat sesuatu yang menetes di wastafel porselen putih itu.
Merah...
Darah segar menetes dari hidungnya, bercampur dengan air yang mengalir.
Putri terbelalak menatap pantulan dirinya di cermin kecil di atas wastafel. Wajahnya pucat pasi, lebih pucat dari biasanya. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas. Ia buru-buru menyeka hidungnya dengan tisu, namun darah itu terus mengalir, cukup deras hingga membuatnya panik sesaat.
"Cuma kelelahan... ini pasti cuma karena stres," bisiknya pada diri sendiri, berusaha mensugesti pikirannya yang mulai kalut. Ia menekan hidungnya kuat-kuat dengan tisu hingga pendarahan itu berhenti.
Tapi jauh di lubuk hatinya, ada ketakutan yang mulai tumbuh. Rasa lelah yang ia rasakan belakangan ini bukan lelah biasa. Tulang-tulangnya terasa ngilu, dan seringkali ia mendapati lebam-lebam biru di lengan atau kakinya, padahal ia tak terbentur apa pun.