Marisa Sartika Asih sedang berada di titik terendah hidupnya. Dalan satu hari, ia kehilangan pekerjaan dan batal menikah karena tunangannya, Bara, berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Ditengah keputusasaan dan jeratan kebutuhan biaya rumah sakit ibunya di kampung, Marisa bertemu dengan Dalend, seorang Pria asing yang misterius.
Dalend menawarkan sebuah kesepakatan tak terduga. Marisa cukup berpura-pura menjadi pasangannya di depan keluarganya selama dua minggu hingga satu bulan. Imbalannya adalah uang tunai sebesar 50 juta rupiah. Terdesak oleh gengsi dan kebutuhan ekonomi, Marisa pun dihadapkan pada pilihan sulit antara harga diri atau jalan keluar instan dari keterpurukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 kontrak Baru, Perjalanan ke Jawa, dan Batas yang Kabur.
Kekacauan dirumah Angkasa Raya terasa seperti sudah terjadi berhari-hari, padahal baru beberapa jam. Dalend dan Marisa bergegas kembali ke apartemen mewah Dalend, berganti pakaian santai, mengemas kebutuhan mendasar, dan meninggalkan sangkar emas Jakarta sebelum Nyonya Elvira sempat mengubah pikirannya mengenai pesta pertunangan dua minggu.
"Kita tidak bisa naik taksi biasa, " ujar Dalend, saat mereka berada di lift. "Mama pasti sudah menyuruh Bima memasang mata di bandara. Kita harus menghilang dari pantauan mereka selama minimal dua hari."
"Jadi, bagaimana?" tanya Marisa, menggenggam tasnya yang kini terasa berat berisi uang tunai $50 juta (uang Dalend) dan notifikasi transfer $50 juta (fee pertamanya).
Dalend tersenyum licik. "Kita naik kereta eksekutif ke Surabaya. Jauh lebih lambat, tapi tidak terdeteksi. Dan kita akan menikmati honeymoon pura-pura pertama kita di atas rel. " Honeymoon. Kata itu meluncur begitu saja dari bibir Dalend, membuat Marisa merasakan getaran aneh, campuran antara kekesalan dan rasa penasaran. Ini adalah kontrak kedua, da Dalend sudah melanggar batasan lisan dan godaan verbalnya.
"Tidak ada honeymoon atau godaan, Dalend," Marisa mengingatkan, menatap matanya. "Hanya perjalanan bisnis untuk menyelesaikan pembayaran dan memastikan Lo tidak kehilangan tunangan Lo dalam dua minggu ke depan. "
"Baik, Bos," Dalend mengangkat tangan. "Tapi, bisakah kita menikmati makanan ringan di gerbong restorasi? Gue yakin itu lebih autentik daripada Le Mirage."
Mereka berhasil lolos dari pantauan Bima. Dalend, dengan uang tunai yang masih ia pegang, menyewa mobil dari jasa penyewaan kecil yang tidak terhubung dengan koneksi keluarganya, dan membawa Marisa ke Stasiun Gambir. Dalend, sang pewaris Angkasa Raya, kini tampak seperti petualang muda yang sedang terlibat dengan kekasihnya, sama sekali tidak mencurigakan.
...
Kereta eksekutif Argo Bromo Anggrek meluncur cepat membelah Jawa. Marisa duduk di kursi tepi jendela, membiarkan pemandangan sawah dan gunung yang mulai menghijau di Jawa Barat menjadi penghibur matanya.
Dalend duduk di sebelahnya, mengenakan hoodie yang sama kebesarannya dengan yang pernah Marisa pinjam, memasang earphone, dan tampak tenggelam dalam sebuah buku tentang manajemen risiko properti.
Marisa mengamatinya. Pria ini, yang hanya dua hari lalu ia anggap sebagai pengganggu yang sombong dan berantakan, kini adalah penyelamat ibunya, dan anehnya, seorang yang kini ia anggap sebagai rekan kerja yang dihormati. Dalend, sang pemberontak, kini serius belajar tentang bisnis keluarga, alasannya adalah dia ingin Marisa bangga.
Setelah beberapa jam, Dalend melepas earphone-nya. "Gue enggak bohong," katanya, tanpa melihat Marisa.
"Lo bener-bener anchor gue. Gue enggak pernah memegang buku tentang properti lebih dari lima menit. Sekarang gue baca ini, dan gue merasa... termotivasi."
"Motivasi yang mahal," cibir Marisa.
"Bukan uang makan Lo yang memotivasi gue, Marisa," Dalend menoleh, tatapannya tulus. "Gue lelah dianggap anak manja. Dan saat Lo membela gue di deoan Papa, that was it. Gue sadar, kalau gue enggak mengambil kesempatan ini, gue akan kehilangan Lo-bukan hanya tunangan palsu, tapi sense of purpose yang Lo kasih."
Marisa merasakan pipinya memanas. Ia berusaha mengabaikan godaan itu dengan berfokus pada tujuan awalnya.
"Tujuan gue adalah ibu gue. Beberapa lama lagi kita sampai di Surabaya?"
"Sekitar tengah malam. Kita akan menginap semalam, lalu naik bus ke kampung Lo besok pagi. Kenapa tidak naik pesawat saja? Lebih cepat. "
"Tidak," Marisa menolak. "Gue enggak mau mengambil resiko. Lo seorang pewaris bisa dicari-cari. Kita naik bus. Lo harus merasakan bagaimana rasanya. Perjalanan pulang yang sebenarnya bagi rakyat jelata."
Dalend tersenyum. "Baik. Petualangan. Kalau gitu, mari kita mulai dengan makan malam. Gerbong restorasi?"
....
Mereka berjalan menuju gerbong restorasi, berpegangan pada sandaran kursi saat kereta bergoyang. Di sana, suasananya ramai dan kasual. Dalend yang terbiasa dengan santapan fine dining di Le Mirage kini harus memesan nasi goreng dan teh manis hangat.
"Ini aneh," kata Dalend, mengangguk nasinya. "Makanan ini murah, ramai dan bising. Tapi entah kenapa, ini lebih menyenangkan dari pada makan malam formal di mana semua orang hanya sibuk menghakimi."
"Itu karena di sini Lo bisa jadi diri Lo sendiri, Dalend," jawab Marisa. "Di Le Mirage, Lo harus jadi pewaris yang sopan. Di sini, Lo cuma cowok yang kelaparan."
"Dan Lo cuma gadis yang lelah tapi tetap cantik," Dalend membalas, senyumnya tidak disembunyikan.
Marisa mengerutkan kening. "Stop, Dalend."
"Stop apa? Mengakui kejujuran? Bukannya itu yang kita sepakati? Saling jujur, di luar akting?" Dalend menantangnya.
"Jujur tentang kontrak, Dalend. Bukan tentang perasaan atau penampilan. Gue di sini untuk menyelesaikan urusan gue, bukan untuk memulai masalah baru, " tegas Marisa, suaranya sedikit meninggi.
Dalend menatapnya, lalu meletakkan sendoknya wajahnya kembali serius.
"Marisa, " katanya, suaranya pelan, mencoba menembus pertahanan Marisa. " Gue tahu Lo membangun dinding tinggi sejak Mantan Calon Suamimu itu. Gue enggak akan menghancurkan dinding itu. Tapi, Lo harus membiarkan gue menjadi rekan kerja yang baik. Dan rekan kerja yang baik harus bisa menghargai rekannya. Gue enggak menggoda Lo. Gue cuma menghargai ketangguhan Lo."
Dalend meraih botol air mineral dan menuangkannya ke gelas Marisa. Gestur kecil yang penuh perhatian itu membuat Marisa sulit membalas dengan kemarahan.
"Baik," Marisa menyerah. "Hanya rekan kerja. Tisak ada lagi air kiss dan tidak ada lagi kata honeymoon."
"Sepakat," Dalend mengangguk. "Sekarang, ceritakan tentang ibu Lo. Kenapa Lo harus segera pulang?"
Marisa akhirnya membuka diri, menceritakan tentang kondisi ibunya, biaya rumah sakit yang menumpuk, dan bagaimana ia harus berhenti dari kafe. Dalend mendengarkan dengan serius, tidak menyela.
“Gue akan transfer sisanya besok, setelah kita sampai di sana. Gue akan pastikan ibu Lo mendapatkan perawatan terbaik. Anggap itu sebagai bonus kontrak,” janji Dalend.
"Gue akan transfer sisanya besok, setelah kita sampai di sana. Gue akan pastikan ibu Lo mendapatkan perawatan terbaik. Anggap itu sebagai bonus kontrak," janji Dalend.
"Tidak perlu. Lima puluh juta dan fee sudah lebih dari cukup untuk rumah sakit. Sisanya untuk modal gue nanti," Marisa menolak.
"Ini bukan tentang uang, Marisa. Ini tentang janji. Gue berutang pada Lo, atas penyelamatan hidup gue dari perjodohan kaku itu," Dalend bersikeras.
...
Setelah makan malam, mereka kembali ke kursi mereka Lampu di gerbong di matikan, hanya menyisahkan Lampu baca kecil di atas kepala mereka. Pemandangan di luar kini hanya gelap pekat.
Marisa kembali mencoba membaca buku, namun pikirannya terganggu. Ia merasa lelah, dan goyangan kereta mulai membuatnya mengantuk.
Ia merasakan Dalend mengganti posisj disebelah, menarik tas punggungnya dan menaruhnya di antara kursi mereka sebagai pembatas.
"Tidurlah, Marisa. Lo butuh istirahat," bisik Dalend. "Gue akan berjaga. Siapa tahu ada penggemar Papa yang menyuruh Bima menyergap kita di sini."
Marisa tahu itu hanyalah candaan, tapi rasa lelahnya terlalu kuat untuk ditolak. Ia memejamkan mata.
Sekitar pukul 02.00 dini hari, Marisa terbangun karena kedinginan. AC kereta terasa menusuk tulang. Ia menggigil dan mencoba menarik selimut kecilnya. Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang berat dan hangat menyelimutinya. Marisa membuka mata. Dalend, yang tadi tidur meringkuk di kursinya, kini telah melepas hoodie yang ia kenakan dan menyampirkannya di tubuh Marisa dengan lembut.
Dalend tampak tidak sadar. Kepalanya bersandar di jendela, tampak kedinginan dalam balutan kaus tipis. Marisa menatap hoodie itu. Bau khas Dalend-aroma kopi, mint, dan sedikit parfum mahal-menyeruak. Hangat. Marisa tahu, secara fisik, ini bukan sentuhan tanpa izin, tapi secara emosional, ini adalah pelanggaran yang jauh lebih besar. Dalend memberikan kenyamanan dan kehangatan personalnya.
Marisa tidak bisa tidur lagi. Ia membalikkan badan, menghadap Dalend yang tertidur pulas. Wajahnya yang damai, tanpa topeng pewaris yang angkuh, terlihat polos dan rapuh. Ia tidak bisa tidur lagi. Marisa membalikan badan, menghadap Dalend yang tertidur pulas. Wajahnya uang damai,
Ia mengangkat tangannya, seolah ingin menyentuh rambut Dalend, tapi segera menahan diri. Hanya rekan kerja, hanya kontrak. Marisa teringat janji Dalend: Gue janji, enggak akan ada lagi pura-pura ciuman. Tapi, bagaimana jika ini bukan lagi tentang ciuman, melainkan tentang getaran yang tumbuh di tengah kontrak?
Ia perlahan menarik hoodie Dalend lebih erat di tubuhnya, dan memejamkan mata, membiarkan aroma hangat itu membawanya kembali ke tidur.
....
Mereka tiba di Stasiun Pasar Turi, Surabaya, saat fajar menyingsing. Marisa bangun, merasa segar setelah tidur yang nyenyak. Ia mengembalikan hoodie Dalend. "Terima kasih," bisiknya.
Dalend mengangguk, matanya masih setengah tertutup. "Sama-sama. Itu bayaran personal bodyguard gue."
Mereka segera mencari bus antarkota menuju kota kecil Marisa di Surabaya. Bus itu jauh lebih berisik dan penuh sesak daripada kereta eksekutif semalam.
Marisa, terbiasa dengan lingkungan ini, bergerak cepat. Dalend, sang pewaris, tampak kesulitan menyesuaikan diri. Ia harus berjuang untuk menaruh tas mereka di atas kepala dan duduk di kursi sempit.
"Ini... adalah pengalaman baru," kata Dalend, tersenyum kecut sambil menyeka keringat di dahinya.
"Ini kenyataan," balas Marisa. "Dan Lo akan bertahan."
Sepanjang perjalanan bus, Dalend tampak lebih santai. Ia tidak mencoba membaca buku, melainkan menanyakan anyak hal pada Marisa tentang kehidupan di kampung, mengapa ia memilih merantau, dan bagaimana ia bisa bertahan hidup di Jakarta.
Marisa menceritakan dengan jujur, tanpa drama atau rasa kasihan. Ia menceritakan tentang mimpinya, ambisinya, dan rasa bersalahnya pada ibunya.
"Lo sangat kuat, Marisa," puji Dalend, suaranya penuh kekaguman tulus. "Gue selalu punya uang, tapi gue enggak pernah punya kekuatan mental seperti Lo."
Saat mereka semakin dekat dengan tujuan Marisa, ia menjadi gugup.
"Dalend," Marisa berbisik. "Nanti kalau kita sampai, Lo tunggu di luar rumah sakit. Biar gue yang urus ibuku sendirian. Gue enggak mau ibu kaget atau curiga."
"Oke gue tunggu di sana. Tapi, gue transfer sisanya dulu sekarang," Dalend bersikeras.
Ia mengeluarkan ponselnya dan mentransfer $50 juta lagi. Ini bukan bonus, ini bayaran untuk dua minggu ke depan.
Marisa melihat notifikasi itu. Total $100 juta. Cukup. Lebih dari cukup Marisa menoleh ke Dalend. "Gue berterima kasih banget, Dalend. Lo sudah menepati janji Lo. "
"Selalu, Tunangan," Dalend tersenyum.
....
Mereka tiba di kota kecil itu. Dalend mengenakan topi untuk menutupi wajahnya, sementara Marisa bergerak cepat menuju rumah sakit umum setempat.
"Ingat, gue tunggu di kafe seberang," bisik Dalend sebelum Marisa turun.
Marisa mengangguk, bergegas keluar dari bus, berlari ke rumah sakit.
Dirumah sakit, Marisa langsung menuju administrasi, menunjukkan semua bukti transfer, dan membayar semua tunggakan ibunya. Rasa lega yang luar biasa membanjiri dadanya.
“Marisa, kamu pulang, Nak?”
Ia lalu masuk ke kamar ibunya. Ibunya, meski terbang lemah, tersenyum melihatnya.
"Ya, Bu. Marisa pulang. Dan ibu tidak perlu khawatir lagi. Semua sudah beres," kata Marisa, menggenggam tangan ibunya erat-erat, air mata bahagia menetes. Setelah beberapa saat bersama ibunya, Marisa harus pergi. Ia berjanji pada Ibu akan kembali setelah menyelesaikan urusan di kota Jakarta.
Marisa berjalan keluar, melewati gerbang rumah sakit, menuju kafe di seberang. Di sana, Dalend duduk di sudut, menyeruput kopi, tampak gelisah.
"Gimana?" tanya Dalend, berdiri saat Marisa mendekat.
"Selesai. Ibu gue aman. Semua sudah terbayar,"kata Marisa, suaranya tenang. "Terima kasih, Dalend."
" Syukurlah, " Dalend tersenyum lega. "Sekarang, kita harus segera kembali. Pesta pertunangan konyol itu hanya tinggal sepuluh hari lagi."
Marisa menatap sekeliling. Ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan: uang dan kebebasan. Ia bisa saja mengambil bus lain dan menghilang sekarang. Dalend tidak akan bisa mengejarnya. Kontrak $100 juta sudah selesai.
Namun, ia melihat Dalend. Pria yang kini harus menghadapi ayahnya dan ibunya yang keras sendirian. Pria yang sudah menanggalkan jubah pewarisnga demi membantunya.
"Ayo kita kembali," kata Marisa, mengangguk. "Gue adalah anchor Lo. Dan gue harus memastikan kapal Lo berlayar mulus."
Dalend tersenyum. Itu bukan senyum godaan, melainkan senyum kebersamaan. Mereka adalah tim, bukan hanya dalam kontrak, tetapi dalam perjuangan.
Saat mereka berjalan menuju terminal bus, Dalend meraih tangan Marisa, tidak di punggung atau pergelangan tangan seperti akting, melainkan menggenggam telapak tangan Marisa dengan hangat.
Marisa tidak menariknya. Getaran yang ia rasakan kali ini tidak lagi aneh, melainkan terasa seperti pulang. Ia tahu, dua minggu ke depan akan menjadi pertarungan terbesarnya: bukan melawan keluarga Dalend, melainkan
Melawan perasaannya sendiri.