Nafisha Retno Kinathi adalah seoarang ibu muda yang harus berjuang sendiri menghidupi rumah tangganya, meskipun sosok suaminya masih berdiri gagah.
Hidup berdampingan dengan suami yang begitu menjunjung tinggi rasa hormatnya kepada ibundanya membuat Nafis harus sering mengalah. suaminya selalu menyerahkan segala keputusan di tangan umminya. Termasuk dalam hal urusan rumah tangganya.
Dalam segala hal Nafis mencoba mengalah tapi, ketika ibu mertuanya mengingikan suaminya menikah lagi Nafis berontak.
Masih sangupkah Nafis mempertahankan rumah tangganya, atau dia memelih menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Nafis menghela Nafas kala melihat Farid membawanya ke salah satu rumah makan yang sedang viral di Magelang. Meskipun mobil sudah terparkir dengan rapi, Nafis belum juga turun. Dia merasa tidak nyaman. Menurutnya terlalu berisok jika ada yang melihatnya pergi berdua dengan Farid begini.
Farid yang menyadari ke tidak nyamanan Nafis hanya bisa menghela Nafas. Tapi kalau tidak begini dia tidak akan ada waktu berbicara berdua dengan Nafis.
" Apa mbak Nafis tidak berkenan turun ?"
" Kalau memang mbak Nafis tidak nyaman tidak apa-apa, kita pulang saja "
" Apa mas Farid sudah reservasi tempatnya ?" Melihat Farid mengangguk membuat Nafis menghela Nafas.
" Ya sudah kita masuk " Farid menatap Nafis tak percaya.
" Serius tidak apa-apa mbak Nafis ?" Nafis mengangguk.
Nafis mengambil masker dari dalam tasnya. Dia tetap berusaha agar tidak ada yang melihat dirinya berjalan bersama Farid. Malas saja jika harus berurusan dengan wartawan karena skandal begini.
Benar saja Farid memilih ruangan privat untuk keduanya. Selang tak lama pelayan datang dengan membawa makanan yang sudah di pesan Farid sebelumnya.
" Maaf sudah pesan dahulu tanpa berbicara dengan mbak Nafis. Apa ada yang mbak Nafis mau tambah ?" Nafis mengeleng.
Biarlah dia makan apa saja yang ada di meja, dari pada semakin lama karena harus menunggu pesanannya.
Farid memesan beberapa menu, Nafis hanya mengambil sate lilit saja. Dia memang jarang makan kalau malam tapi, demi menghormati undangan Farid dia tetap ikut makan meskipun sedikit.
" Maaf mas Farid porsi saya memang segini ?" Farid hanya menganguk.
Mereka berdua makan dengan tenang. Tak ada percakapan sampai makanan di piring mereka habis.
" Mbak Nafis maaf kalau saya menyita waktu istirahat mbak Nafis dan membuat mbak Nafis tidak nyaman " Farid mulai berbicara setelah mereka selesai makan.
" Boleh kan saya bertanya sesuatu sama mbak Nafis ?" Nafis menganguk.
" Apa apakah pria yang pernah gagal seperti saya ini, masih berhak bahagia dengan memiliki pendamping hidup ?"
" Tentu mas, siapapun mempunyai hak yang sama untuk meraih kebahagiannya. Begitu juga dengan njenengan asal, siapapun pasangan Mas Farid nanti adalah orang yang bisa menerima dengan baik anak-anak. Karena kan, memang sekarang mas Farid dan anak-anak adalah satu paket yang tidak bisa di pilih salah satu saja."
" Jika mau dengan mas Farid ya harus siap dengan sepenuh hati menerima anak-anak juga. Terutama si kecil Rania."
" Dan satu lagi, siapapun dia harus mendapat persetujuan anak-anak mas Farid. karena bagaimanapun mereka juga akan hidup bersama bukan ?"
" Kalau sedari awal sudah tidak suka, maka kemungkinan besar akan berkonflik kedepannya."
" Yang di ucap mbak Nafis benar. Lalu mbak Nafis sendiri bagaimana, apa ada niatan buat berumah tangga lagi ?" Nafis menghela nafas, sesuai dugaannya bukan.
" Untuk saat ini belum ada pemikiran kearah sana mas, fokus saya sedang ke anak-anak dan karier saya juga kebermanfaatan saya di masyarakat luas "
" Tapi, kalau kedepannya ada yang mau meminang mbak Nafis bagaimana ?"
" Jika pun Allah menakdirkan kembali saya memiliki pasangan tentu saya tidak bisa menolaknya bukan?"
" Dan dengan syarat siapapun pria yang mau membawa saya ke gerbang pernikahan tentu harus lebih dekat dengan anak-anak saya terlebih dahulu. Saya tidak mau kebahagian saya justru menjadi luka bagi anak-anak saya."
" Dan itu tidak akan mengurangi rasa hormat dan bakti saya kepada pasangan saya."
" Tapi, untuk saat-saat ini memang belum berfikir kearah sana. Saya sedang menikmati fase membahagiakan diri saya sendiri dan juga anak-anak."
" Berarti belum ingin berumah tangga lagi ?" Nafis menganguk.
" Mbak Nafis mohon maaf sebelumnya jika, nanti apa yang saya sampaikan membuat mbak Nafis tidak nyaman"
" Sejujurnya saya bingung mbak, mau memulai semua ini dari mana " Nafis memilih membiarkan pria di hadapannya ini mau berbicara apa.
" Saya sudah lama memendam ini dan saya merasa ini waktu yang tepat untuk mengutarakan ini semua kepada mbak Nafis."
" Mbak, entah sejak kapan dan bermula karena apa, Saya merasa ada desiran yang berbeda saat saya berada di dekat mbak Nafis seperti ini. Saya tahu tentu kalau di pandang dari segi apapun tentu saya tidak cukup layak menjadi pendamping mbak Nafis. Akan tetapi, saya memiliki perasaan yang tidak bisa saya abaikan."
" Mbak saya.." Nafis masih menunggu.
" Saya mempunyai keinginan sungguh-sunguh untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan mbak Nafis. Besar harapan saya untuk kita bisa hidup bersama, saling menjaga dan saling mengenggam. Apa mbak Nafis berkenan mempercayakan sisa perjalan hidup ini bersama saya ?"
Nafis diam terpaku, dia tau Farid tulus mengucapkan itu. Akan tetapi rasa gamang dan takut lebih mendominasi sanubarinya. Bukan sekedar takut gagal kembali, dia justru jauh lebih takut melukai hati anak-anaknya.
" Mbak Nafis ?" Jujur ada rasa was-was saat melihat reaksi Nafis.
" Maaf mas.."
" Mbak, saya harap ini tidak menjadi beban untuk mbak Nafis. Jika memang mbak Nafis belum berkenan menjawab, tidak apa-apa. Intinya saya cuma mau mengungkapkan apa yang saya rasakan saja."
" Terima kasih atas ketulusan mas Farid. Saya percaya mas Farid tentu tidak main-main dengan apa yang njenengan ucapkan. Akan tetapi sesuai yang saya ucap tadi, maaf untuk saat ini saya belum memikirkan hal itu. Mohon maaf sekali lagi. Saya bukan menolak akan tetapi, saya benar-benar belum bisa "
" Tidak apa-apa mbak Nafis. Saya sabar menunggu sampai mbak Nafis siap. Tapi, tolong jangan menjadi acuh dan asing terhadap saya." Nafis menghela Nafas. Lalu, mengangguk.
Malam semakin larut. Sepanjang perjalan pulang baik Nafis maupun Farid tidak ada yang bersuara. Keduanya sama-sama terdiam. Bahkan hingga sampai di rumah Nafis.
" Mobilnya tidak usah di masukan garasi mas, nanti biar kang Tejo yang memasukkan.
"Njenengan langsung istirahat saja " Farid menganguk mengangukan.
" Selamat malam mbak Nafis, terima kasih sudah mau menerima ajakan makan malam ini. Maaf susah menganggu waktu istirahat mbak Nafis mengangguk."
" Selamat malam juga mas Farid. Tidak menganggu kok. Saya justru ingin berterima kasih atas makan malamnya "
" Sama -sama, kalau begitu saya izin mau masuk dulu. Silahkan anda kerumah sebelah untuk istirahat " Farid mengangguk.
masih sj jd laki2 model robot setelan pabrik hanafi..😁
bu suuusiiiii ada orang tak berguna tenggelamkan bu...biar jd santapan iwak teri