Nafisha Retno Kinathi adalah seoarang ibu muda yang harus berjuang sendiri menghidupi rumah tangganya, meskipun sosok suaminya masih berdiri gagah.
Hidup berdampingan dengan suami yang begitu menjunjung tinggi rasa hormatnya kepada ibundanya membuat Nafis harus sering mengalah. suaminya selalu menyerahkan segala keputusan di tangan umminya. Termasuk dalam hal urusan rumah tangganya.
Dalam segala hal Nafis mencoba mengalah tapi, ketika ibu mertuanya mengingikan suaminya menikah lagi Nafis berontak.
Masih sangupkah Nafis mempertahankan rumah tangganya, atau dia memelih menyerah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Nafis dan Nadia terkejut begitu tiba di klinik tempat Nafis praktek ada banyak wartawan di sana. Nafis menghela Nafas, lalu meminta Nadia masuk ke dalam kliniknya melalui pintu samping. Nafis mau tak mau harus menemui para awak media itu. Entah apa lagi yang membuat mereka menyatroni kliniknya.
Begitu melihat sosok yang mereka tunggu, mereka Langsung mengerubungi Nafis. Nafis mencoba tetap tersenyum.
" Bunda boleh wawancara sebentar ?"
" Boleh tapi, tolong yang tertib ya, jangan membuat pasien saya tidak nyaman "
Santi selaku asisten Nafis dengan sigap mengarahkan para wartawan agar atasannya tetap nyaman saat meladeni mereka.
" Silahkan ajukan pertanyaan dengan syarat kalau bunda Nafis tidak berkenan menjawab anda semua tidak boleh memaksa. Dan setelah sesi wawancara hari ini, saya harap anda semua tidak lagi menganggu beliau." Ucap Santi tegas.
" Apakah anda semua bisa mematuhi ini ?" Para awak media saling pandang.
" Kalau tidak bisa maka, silahkan anda semua meninggalkan tempat ini " Pada akhirnya seluruh awak media setuju.
" Bun, apa vidio yang beredar luas itu benar. Anda dan bang Farid bertemu di sebuah rumah sakit di daerah Pati, dalam rangka apa bun ?" Nafis menghela nafas. Resiko dekat dengan seorang artis ya begini.
" Benar sekitar 2 hari lalu, saya bertemu beliau di Pati. Kebetulan anak pertama saya di rawat di sana. Hari itu asisten beliau mengantarkan keponakannya kembali ke pesantren. Kebetulan pesantrennya sama dengan putri saya. Dan kebetulan juga putri saya sedang dalam kondisi tidak sehat, bahkan sempat pingsan dan mas Ahmad juga bang Farid lah yang melarikan putri saya ke rumah sakit. Teman-teman bisa konfirmasi langsung ke beliau berdua "
" Lalu apa benar bun, kalau bunda sedang mengurus perceraian dengan suami bunda ?"
" Anda mendapat kabar itu dari mana ?" Wartawan itu terdiam.
" Kami menerima kiriman Vidio bunda sedang berada di pengadilan agama Pati di hari yang sama vidio di rumah sakit itu beredar " Nafis tersenyum, meski ada getir dalam dadanya.
" Untuk itu mohon maaf saya tidak berkewajiban menjawab. Saya bukan artis yang segala dalam hidup saya harus menjadi konsumsi publik "
" Bunda apa karena gosip bunda dan bang Farid lah yang membuat rumah tangga bunda retak ?"
" Saya dan Bang Farid itu tidak memiliki hubungan lebih selain beliau adalah pasien saya. Sebenarnya dalam dunia kami, pantang menyebut seseorang itu adalah pasien kami. Meskipun benar kenyataannya demikian. Boleh kalian cari tau kebenarannya. Selama ini memang hanya beliau yang selalu klarifikasi ke media sementara saya tidak. Akan tetapi, kali ini saya tegaskan tidak ada hubungan lebih selain antara psikiater dan pasiennya."
" Saya harap setelah ini kita hanya akan kembali bertemu karena karya dan dedikasi saya dalam dunia kemanusian. Bukan lagi karena skandal yang di buat seolah benar-benar ada."
" Saya rasa sudah cukup, saya harus segera menemui pasien saya. Tolong saya meminta dengan hormat dan ketulusan hati, silahkan teman-teman semua kembali saja. Pasien saya butuh privasi, jika anda semua masih disini khawatirnya pasien saya merasa tidak nyaman "
" Selamat siang semuanya, maaf tidak bisa memenuhi ekspektasi anda semua " Nafis berdiri dan langsung masuk ke dalam klinik sementara Santi mengurus para wartawan dan juga memastikan area klinik kembali steril dari awak media.
Begitu sampai dalam Nafis langsung menemui kakak iparnya.
" Nanya apa mereka dek?"
" Ada yang mengambil vidio waktu Zizah ada di rumah sakit Pati mbak. Terus ada juga yang melihat waktu aku dan rombongan di pengadilan agama Pati. Tidak menyangka mereka sekepo itu sama kehidupku mbak. Perasaan dulu tidak begini deh ?" Nadia terkekeh.
" Jadi artis dong adikku "
" Capek mbak, resiko punya pasien artis duda lagi. Ya Allah, kenapa bisa coba mereka mengait-gaitkan begini. Padahal Artis yang menemuiku juga bukan hanya mas Farid deh."
" Sabar, kan ada istilah semakin tinggi pohon maka, semakin kencang pula angin yang menggoyangkannya. Tinggal bagaimana kita menjaga agar tetap stabil saja."
" Iya mbak "
" Bu, maaf pasiennya sudah datang. Apa kita langsung memulai sesinya atau ?"
" Saya minta waktu sebentar ya San, tolong minta OB buatkan saya teh Hijau terlebih dahulu "
" Baik bu "
" Mbak mau minum apa ?"
" Air putih dingin aja dek "
" Akan saya siapkan bu "
" Makasih San, minta melati siapkan berkasnya ya ?" Santi mengangguk.
Nafis segera menemui pasiennya setelah menghabiskan satu cangkir teh hijau favoritnya. Sesi konsultasi berjalan selama hampir 2 jam. Nafis lega pasiennya kali ini sudah sangat membaik dari pada awal bertemu denganya.
Nafis kembali ke ruangan pribadinya, sudah ada Nadia dengan dua mangkuk bakso dengan kuah mengepul. Nafis tersenyum melihat kakak iparnya. Nadia dan Azizah sama, sangat hobi menyantap bakso.
" Sini dek, enak banget baksonya. Padahal cuma bakso keliling tapi, serius deh ini enak banget " Nafis mendekat. Sedikit ngeri dengan warna kuah bakso yang di santap kakak iparnya, begitu merah merona karena cabai.
" Mbak pakai sambel berapa banyak ?" Nadia malah nyengir.
" Jangan cerita ke masmu ya. Bisa kena omel tujuh tanjakan, tujuh turunan urusannya."
" Nanti kalau sakit perut gimana coba mbak ? "
" Nggak akan dek. Makan bakso tuh enaknya begini " Nafis hanya mengelenkan kepalanya.
Ponsel Nafis berdering. Ada nama Andini di layar ponselnya.
" Iya Din, ada apa ?" Ucap Nafis setelah saling mengucap salam.
" Fis, baru saja pengacara Hanafi menghubungiku. Awalnya melalaui email. Terus lewat telfon setelah aku kirimi nomer kantor."
" Ada apa Din ?"
" Hanafi akan melepas hak asuh anak dan mempermudah segala prosesnya asal hasil penjualan rumah itu dia mendapat bagian " Nafis menghela nafas untuk menengakan gemuruh di dadanya.
" Dia berdalih jika, walau sedikit dia juga ikut andil dalam pembangunan rumah itu. Karena dia selalu memberimu uang 2 juta perbulan saat kamu membangun rumah itu "
" Menurut kamu baiknya bagaimana Din ?"
" Kalau kamu yakin dan ada bukti kuat jika tidak ada sepeserpun uang Hanafi di sana, jangan ikuti kemauan Hanafi. Kita bisa berjuang untuk itu "
" Kalau bukti kongkret jika rumah itu seratus persen mengunakan uang ku, aku nggak yakin masih ada Din. Tapi kalau bukti kemana uang 2 juta itu berakhir aku ada, karena dulu aku harus laporan ke umminya Hanafi aku gunakan untuk apa uang yang Hanafi beri. Besok kalau aku sudah kembali dari Jakarta akan aku anter ke tempat kamu "
" Syukurlah Fis, semoga itu bisa menjadi satu hal yang membantu kita."
" Oya Din, sedari kemaren Agnes, Syifa sama Gita neror aku soal kabar yang beredar di media."
" Nanti aku akan cari waktu yang tepat buat ngobrol sama mereka Din. Maaf ya sudah membuat kamu jadi serba salah."
" Nggak papa Fis, aku sebenarnya santai aja. Aku ngomong begini cuma biar kamu siap-siap saja jika mereka nanya yang enggak-engak."
" Makasih banyak ga Din "
" Sama-sama, oya gimana kabar Zizah ?"
" Sudah tidak deman Din, cuma masih di infus pagi ini."
" Terus sama siapa disana ?"
" Sama ibu, soalnya aku ada pasien di Jakarta terus siang ini ada janji dengan penerbit. Novelku di lirik produser film Din, doain ya biar lancar "
" Pasti dong itu. Semoga memang ini rejeki kamu. Novelmu bisa di adaptasi menjadi film ya Fis "
" Aamiin, jangan putus doa buat aku ya Din "
" Iya Fis, kita sahabat udah kayak saudara. Aku akan suport kamu dan akan terus menjaga kamu kayak kamu dulu selalu jagain aku "
" Iya Din " Mata Nafis berkaca-kaca di buatnya."
" Ya sudah Fis, aku musti menghadiri sidang. Kamu hati-hati disana. Salam buat mbak Nadia ya " Andini pasti sudah menonton story Wa Nafis, jadi tanpa Nafis cerita pergi dengan siapa, Andini tentu sudah tau.
semoga kluarga istri ke 2 dan kluarga suami zalim dpt karma.
kl ortu istri ke 2 punya harga diri hrse cerai kan anak nya bukan mlh laki orang Mau di bawa pulang. alasan ae buat di didik. aslinya ya biar menang istri 2 dpt hanafi sepenuhnya tanpa berbagi. pasti alasan hamil di pake buat itu. istri ke 2 pling jg gk Mau ngalah merasa menang krn istri pertama mundur.. semoga dpt karma orang ngerti agama tp pada bejat.
nunggu karma nya, semoga anak Dr istri ke 2 gk lahir normal kasian anak Dr istri pertama dpt saudara tiri Dr Pelakor.
ya Pelakor Mau se sholehah apa pun wanita kl sdh merusak rumah tangga orang lain ttp Pelakor Dan ortu perempuan ttp mendukung 🤣🤣 Gila sih label kyai sekarang serem serem dng dalil agama.
hrse cerai semua, istri ke 2 tau diri nglepas hanafi bukan me lanjut kan pernikhan. mang dasarnya istri ke 2 doyan saja.
kl takut melukai ya hrse pisah.
hanafi me lanjut kan dakwah eh siapa yg Mau denger dakwah laki model bgitu. yg di omongin pasti poligami tok🤣. ustad cabul.