"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "
Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.
Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Konfontrasi dan Pengakuan
Suara kunci yang berat berbunyi, memecah keheningan galeri seni yang megah namun kini terasa seperti kuburan. Tuan Z, yang baru saja menuruni beberapa anak tangga batu, tersentak. Matanya membelalak kaget saat melihat pintu kayu tebal di atasnya tertutup rapat, terkunci dari luar. Ia berbalik, menatap Meylie yang berdiri di ambang pintu, senyum dingin terukir di bibirnya. Cahaya senter Meylie memantul di mata Tuan Z, memperlihatkan kepanikan yang mulai merayapi wajah angkuhnya.
"Apa-apaan ini, Nona Ling?!" Tuan Z berteriak, suaranya dipenuhi kemarahan dan kebingungan. Ia mencoba mendorong pintu, namun pintu itu kokoh, tidak bergerak sedikit pun. "Buka pintu ini sekarang juga! Pengawal saya akan datang!"
Meylie hanya tersenyum tipis, senyum predator yang telah berhasil menjebak mangsanya. "Pengawal Anda tidak akan datang, Tuan Z. Pintu ini kedap suara, dan semua jalur masuk ke lantai ini sudah saya blokir. Anda dan saya... kita sendirian di sini." Ia lalu melangkah masuk, mengunci pintu dari dalam dengan kunci ganda yang tersembunyi, memastikan tidak ada jalan keluar. Ruangan itu kini benar-benar terisolasi.
Tuan Z menatap Meylie, matanya berkilat marah, namun juga ada jejak ketakutan. "Apa maksud semua ini? Ini adalah penculikan! Kau akan menyesalinya! Aku akan memastikan kau membusuk di penjara!"
"Penjara?" Meylie tertawa getir, suaranya dingin dan tanpa emosi. "Saya rasa Anda yang akan lebih dulu membusuk di sana, Tuan Z. Atau mungkin... di tempat yang lebih gelap lagi." Ia berjalan perlahan mendekati Tuan Z, aura mengancam terpancar dari setiap langkahnya. "Permainan sudah berakhir. Dan Anda, Tuan Z, adalah bagian dari permainan itu."
Tuan Z mundur selangkah, mencoba mempertahankan ketenangannya, namun Meylie bisa melihat keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Permainan apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti."
Meylie mengeluarkan USB drive palsu dari tas tangannya dan meletakkannya di atas meja kaca kecil yang ada di sudut ruang penyimpanan. "Ini," katanya, menunjuk USB itu. "Ini adalah 'asuransi' Yu. Salinan terakhir dari 'daftar hitam' yang ia miliki. Dan kini, ada di tangan saya."
Mata Tuan Z terpaku pada USB drive itu. Keserakahan dan ketakutan terlihat jelas di sana, bersaing satu sama lain. Ia mengulurkan tangan, seolah ingin meraihnya.
"Jangan sentuh," Meylie memperingatkan, nadanya tajam. "Ini bukan untuk Anda hancurkan. Ini untuk saya gunakan."
Tuan Z menarik tangannya, wajahnya tegang. "Berapa yang kau inginkan, Nona Ling? Lima juta? Sepuluh juta? Aku bisa memberimu apa pun. Sebuah kehidupan mewah, aman, di mana pun kau mau. Cukup serahkan itu kepadaku, dan lupakan semua ini."
Meylie mendengus. "Anda pikir semua orang bisa dibeli dengan uang, Tuan Z? Anda pikir saya sama seperti mereka yang Anda eksploitasi? Anda pikir saya punya harga?"
"Semua orang punya harga, Nona Ling," Tuan Z membalas, mencoba terlihat percaya diri. "Hanya saja, kau belum menemukan hargamu. Kekuasaan? Reputasi? Atau mungkin... hidup yang tenang?"
"Hidup yang tenang?" Meylie tertawa, tawa yang hampa dan penuh kepahitan. "Hidup tenang saya sudah direnggut dari saya, Tuan Z. Oleh orang-orang seperti Anda. Oleh Anda."
Ia melangkah lebih dekat, tatapannya menusuk. "Yu tidak mati karena overdosis. Yu dibunuh. Disiksa. Dilecehkan. Dan organnya diambil untuk ritual gila Anda. Saya tahu itu."
Kata-kata itu menghantam Tuan Z seperti pukulan telak. Wajahnya yang tadinya angkuh kini memucat, matanya membelalak, ekspresi terkejut dan ketakutan terlihat jelas. Ia tidak mengira Meylie akan tahu detail itu. Ia tidak mengira Meylie akan tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Yu.
"Apa... apa yang kau bicarakan?" Tuan Z tergagap, mencoba menyangkal. "Itu semua omong kosong! Yu memang punya masalah. Dia berhalusinasi!"
"Berhalusinasi?" Meylie membalas, suaranya naik satu oktaf, dipenuhi amarah yang membara. "Saya punya buktinya, Tuan Z. Saya punya rekamannya. Saya tahu siapa yang ada di sana. Saya tahu siapa yang memberi perintah. Saya tahu suara siapa yang saya dengar."
Tuan Z terdiam, tubuhnya menegang. Ia melihat ke sekeliling, mencari jalan keluar, mencari bantuan. Tapi tidak ada. Ia terjebak.
"Kau... kau tidak punya apa-apa," Tuan Z berbisik, mencoba mengancam. "Kau tidak akan pernah bisa membuktikan apa pun. Aku terlalu kuat. Aku punya koneksi."
"Koneksi Anda tidak akan menyelamatkan Anda dari kebenaran, Tuan Z," Meylie membalas, melangkah mendekat, hingga jarak mereka hanya beberapa inci. "Saya tahu Anda adalah Operator Utama. Saya tahu Anda yang mengatur penangkapan Yu. Saya tahu Anda yang mengawasi penyiksaannya. Saya tahu Anda yang memberi perintah untuk mengambil organnya."
Tuan Z menatap Meylie, matanya dipenuhi kemarahan, namun juga ketakutan yang mendalam. Ia mencoba meraih Meylie, mencoba membungkamnya. "Kau gila! Aku tidak akan membiarkanmu bicara omong kosong!"
Meylie menghindar dari cengkeraman Tuan Z, lalu menatapnya tajam. "Mengaku saja, Tuan Z. Katakan yang sebenarnya. Untuk apa semua ini? Mengapa Yu? Mengapa ritual-ritual gila itu?"
Tuan Z terhuyung mundur, lalu bersandar pada dinding. Ia melihat ke sekeliling, seolah mencari celah. Ia tahu ia terpojok. Meylie tahu terlalu banyak.
"Aku... aku hanya mengikuti perintah!" Tuan Z akhirnya berkata, suaranya serak, sebuah pengakuan yang keluar dari kepanikan. "Aku hanya... hanya menjalankan tugas! Aku tidak ingin melakukannya! Tapi... tapi 'Dia' memerintahkannya!"
Meylie merasakan adrenalin memompa kencang. Ini dia. Pengakuan verbal yang ia butuhkan. Fernandez, yang bersembunyi di ruangan tersembunyi di atas, pasti sedang merekam setiap kata.
"Siapa 'Dia', Tuan Z?" Meylie menekan, nadanya tajam. "Siapa 'Dia' yang lebih berkuasa darimu?"
Tuan Z menggelengkan kepalanya panik. "Aku tidak bisa memberitahumu! Aku tidak bisa! Jika 'Dia' tahu aku bicara, 'Dia' akan membunuhku! 'Dia' akan membunuh keluargaku!"
"Dia sudah membunuh Yu, Tuan Z," Meylie membalas, suaranya keras. "Dan Anda terlibat di dalamnya. Anda bertanggung jawab. Anda adalah monster."
"Aku bukan monster!" Tuan Z berteriak, suaranya pecah. "Aku hanya... hanya melakukan apa yang harus kulakukan untuk bertahan hidup! Yu... dia terlalu banyak tahu! Dia mengancam untuk membongkar semuanya! 'Dia' tidak punya pilihan!"
"Tidak punya pilihan untuk menyiksa dan membunuh orang tak bersalah?" Meylie bertanya, tatapannya menghina. "Tidak punya pilihan untuk melakukan ritual keji?"
Tuan Z menatap Meylie, matanya penuh kebencian, namun juga ketakutan yang mendalam. Ia tahu ia telah mengakui terlalu banyak. Ia tahu ia dalam masalah besar.
Tiba-tiba, Tuan Z menerjang Meylie. Bukan untuk melawan, melainkan untuk melarikan diri. Ia mencoba mendorong Meylie, lalu berlari menuju pintu yang terkunci, memukul-mukulnya dengan panik.
"Pengawal! Buka pintu ini! Buka!" Tuan Z berteriak, suaranya pecah, berharap pengawalnya yang menunggu di luar ruang pameran bisa mendengarnya.
Namun, pintu itu kedap suara. Pengawalnya tidak akan mendengar.
Meylie tidak membiarkannya. Ia telah mengantisipasi gerakan ini. Ia melangkah maju, menghalangi Tuan Z. Pria itu mencoba mendorongnya lagi, dan Meylie merasakan kekuatan fisik yang besar dari Tuan Z. Namun, Meylie telah berlatih.
Dengan gerakan cepat yang ia pelajari dari bela diri, Meylie menangkis dorongan Tuan Z, lalu menggunakan momentum itu untuk memutar tubuhnya. Sikutnya menyambar ke arah perut Tuan Z, sebuah pukulan yang keras dan terarah.
Tuan Z terbatuk, membungkuk kesakitan. Ia mencoba meraih Meylie, namun Meylie lebih cepat. Ia mengeluarkan jarum bius dari tas tangannya—jarum suntik kecil yang berisi dosis penenang kuat, disiapkan untuk situasi seperti ini.
Tuan Z mengangkat kepalanya, matanya dipenuhi kemarahan dan keputusasaan. "Kau tidak akan lolos!"
Ia mencoba menyerang Meylie lagi, namun Meylie lebih lincah. Ia menghindari pukulan Tuan Z, lalu dengan gerakan cepat, ia menusukkan jarum bius itu ke leher Tuan Z.
Tuan Z tersentak. Matanya membelalak, tidak percaya. Ia mencoba mencengkeram lehernya, namun ia bisa merasakan cairan dingin itu menyebar di nadinya.
"Apa... apa yang kau lakukan?" Tuan Z tergagap, tubuhnya mulai lemas. Pandangannya mulai buram.
Meylie menatapnya dengan dingin. "Memastikan Anda tidak akan menyakiti siapa pun lagi."
Kekuatan Tuan Z mulai terkuras. Tubuhnya terhuyung, matanya mulai terpejam. Ia mencoba berbicara, namun kata-katanya menjadi gumaman yang tidak jelas. Ia jatuh ke lututnya, lalu merosot ke lantai, tubuhnya lemas tak berdaya.
Meylie berjongkok di hadapannya, menatap wajah pria tua itu yang kini dipenuhi ketakutan. Obat bius itu akan membuatnya pingsan, tetapi sebelum itu, ia mungkin bisa mendapatkan satu lagi informasi penting.
"Siapa 'Dia', Tuan Z?" Meylie bertanya lagi, suaranya rendah dan mendesak. "Siapa Dalang Utama?"
Tuan Z, yang kini berada di ambang kesadaran, menatap Meylie dengan mata yang setengah terpejam. Ketakutan murni terpancar dari sorot matanya. Bibirnya bergerak, mencoba mengucapkan sesuatu.
"Jika... jika kamu menyentuh 'Dia'..." Tuan Z berbisik, suaranya nyaris tak terdengar, penuh ketakutan yang mendalam. "Kamu akan menghancurkan segalanya... seluruh kotanya!"
Kata-kata itu, diucapkan dengan napas terakhir sebelum kesadarannya menghilang, terasa seperti pukulan. Seluruh kota. Ini bukan hanya tentang jaringan korupsi. Ini tentang kehancuran yang lebih besar.
Tuan Z akhirnya pingsan, kepalanya terkulai ke samping. Ia terbaring lemas di lantai, tidak bergerak.
Meylie bangkit, mengambil napas dalam-dalam. Tubuhnya gemetar, namun ia merasakan gelombang kepuasan yang dingin. Ia berhasil. Ia telah mengisolasi Tuan Z. Ia telah mendapatkan pengakuan verbal penting yang direkam secara diam-diam oleh Fernandez. Dan ia telah mendapatkan petunjuk baru tentang "The Senator."
Ia melihat ke arah USB drive palsu di atas meja. Itu hanyalah umpan. Bukti nyata, bukti suara, dan pengakuan Tuan Z, kini berada di tangan mereka.
"Seluruh kota..." Meylie mengulang bisikan Tuan Z, otaknya bekerja keras. Apa maksudnya? Seberapa besar kekuatan "The Senator" ini?
Ia tahu, permainannya belum berakhir. Ini hanyalah satu langkah maju. Tuan Z adalah Operator Utama, pion yang telah jatuh. Tapi Dalang Utamanya, "The Senator," masih bersembunyi dalam bayangan, mengendalikan benang-benang kekuasaan yang lebih besar.
Meylie berjalan ke sudut ruangan, ke arah sebuah perangkat kecil yang tersembunyi di balik sebuah patung. Itu adalah perekam suara yang ia aktifkan sebelum Tuan Z datang, terhubung secara nirkabel dengan Fernandez di atas. Ia mematikan perekam itu, mengamankan bukti.
Ia menatap Tuan Z yang tergeletak tak berdaya di lantai. Pria ini adalah monster, tetapi juga korban dari kekuasaan yang lebih besar. Ia adalah kunci untuk mengungkap Dalang Utama.
Meylie tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia harus memindahkan Tuan Z ke lokasi yang aman, menginterogasinya lebih lanjut di bawah pengaruh obat bius, dan memaksanya untuk mengungkap semua yang ia ketahui tentang "The Senator."
Perburuan ini semakin berbahaya, semakin kompleks. Tetapi Meylie, sang Ling, tidak akan mundur. Ia telah mendapatkan pengakuan, dan ia akan menggunakan ini untuk menjatuhkan seluruh piramida kekejaman ini, bahkan jika itu berarti menghancurkan "seluruh kota." Keadilan untuk Yu semakin dekat