NovelToon NovelToon
Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Queenora, Ibu Susu Bayi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / CEO / Hamil di luar nikah / Ibu susu / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

Queenora kehilangan bayinya sebelum sempat menimangnya, dia difitnah, dan dihancurkan oleh keluarga yang seharusnya melindungi.

Namun di ruang rumah sakit, tangisan bayi yang kehilangan ibunya menjadi panggilan hidup baru.

Saat bayi itu tenang di pelukannya, Queenora tahu, cinta tak selalu lahir dari darah yang sama, tapi dari luka yang memilih untuk mencinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suryo Wijoyo

Ancaman itu menggantung di udara, beracun dan dingin, bahkan setelah panggilan telepon terputus. Darian tidak langsung menurunkan ponselnya. Ia terus menggenggam benda pipih itu, cengkeramannya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, seolah ia sedang mencekik leher Suryo Wijoyo sendiri.

Kau yang akan terkubur bersamanya.

Kata-kata itu bukan gertakan kosong. Dalam dunia mereka, dunia yang dibangun di atas fondasi beton, baja, dan kesepakatan-kesepakatan di ruang tertutup, sebuah ancaman dari Suryo Wijoyo setara dengan vonis mati.

Darian akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja mahoni dengan gerakan yang terkendali, nyaris tanpa suara. Di luar jendela ruang kerjanya, malam begitu pekat.

Namun, di dalam kepalanya, api berkobar begitu terang. Ia tidak merasakan takut. Yang ia rasakan adalah amarah-amarah yang murni, jernih, dan sedingin es. Amarah seorang pria yang dunianya baru saja diinvasi oleh monster yang selama ini ia anggap sekutu.

Darian teringat wajah Queenora tadi, pucat pasi seperti kain kafan, matanya yang indah meredup menjadi lubang hitam penuh teror. Ia teringat bisikannya yang putus asa.

"Jangan lakukan apa-apa."

Dulu, mungkin ia akan setuju. Dulu, ia adalah Darian sang pengusaha, yang menimbang setiap keputusan berdasarkan untung dan rugi, yang memahami bahwa dalam permainan ini, terkadang pion harus dikorbankan demi raja.

Tapi malam ini, ia bukan lagi sekadar raja di papan caturnya sendiri. Ia adalah benteng bagi seorang ratu yang terluka. Dan benteng tidak pernah lari. Benteng akan hancur berkeping-keping sebelum membiarkan musuh melewatinya.

Ponselnya berdering lagi. Kali ini nama Suryo Wijoyo yang tertera di layar. Bukan panggilan, melainkan sebuah pesan singkat.

Restoran Kencana, ruang privat. Besok siang. Pukul 12. Bawa proposalmu. Selesaikan ini seperti laki-laki.

Darian tersenyum sinis. Proposal. Suryo masih berpikir ini adalah negosiasi bisnis. Ia masih berpikir segalanya memiliki harga.

***

Udara di ruang privat Restoran Kencana terasa beku, terperangkap di antara dinding berpanel kayu gelap dan jendela besar yang menghadap ke taman artifisial yang sempurna.

Suryo Wijoyo duduk dengan punggung tegap, setelan abu-abu mahalnya tidak menunjukkan satu kerutan pun. Di depannya, segelas wiski dengan satu bongkahan es besar perlahan mencair. Ia tampak tenang, personifikasi dari kekuasaan yang tak tergoyahkan.

“Kau terlambat dua menit, Darian,” kata Suryo tanpa menoleh saat Darian masuk. Suaranya datar, tanpa emosi.

“Aku harus memastikan semua aset likuidku aman,” balas Darian santai, menarik kursi di seberang Suryo dan duduk. Ia tidak memesan apa pun. Ia tidak datang untuk makan siang.

Suryo akhirnya menatapnya, matanya yang tajam menelisik setiap ekspresi Darian.

“Langkah yang cerdas. Tapi prematur. Kita belum sampai di sana.”

“Oh, aku rasa sudah,” sahut Darian.

“Kau mengancam wanitaku. Bagiku, itu sudah deklarasi perang.”

Suryo tertawa kecil, suara serak yang tidak mengandung kehangatan sedikit pun.

“Wanitamu? Ibu susu yang kau pungut itu? Jangan naif, Darian. Kau mengorbankan proyek triliunan rupiah untuk seorang gadis tanpa nama? Ayahmu pasti berputar di dalam kuburnya.”

“Jangan bawa-bawa ayahku,” desis Darian, ketenangannya mulai retak.

“Kita di sini untuk membicarakan putramu. Seorang pemerkosa.”

Kata itu terlontar seperti peluru. Suryo berhenti mengaduk minumannya. Keheningan di antara mereka menjadi begitu berat hingga terasa menyesakkan.

“Hati-hati dengan tuduhanmu,” kata Suryo pelan, setiap suku katanya dilapisi baja.

“Tidak ada bukti. Hanya cerita dari seorang gadis jalanan yang mungkin mencari keuntungan.”

“Aku punya bukti,” potong Darian cepat.

“Aku punya kesaksian saksi mata yang melihat putramu, Bima, pergi bersama kakaknya malam itu. Aku punya catatan transfer uang dari Bima ke kakak gadis itu. Dan yang paling penting,” Darian mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya mengunci mata Suryo.

“Aku punya kepercayaan penuh pada Queenora.”

Suryo menyandarkan punggungnya, mempelajari Darian sejenak. Ia sadar gertakan tidak akan berhasil. Ia mengubah taktiknya. Wajahnya melembut, menampilkan topeng penyesalan yang dipoles dengan baik.

“Anak muda sering kali berbuat bodoh, Darian. Bima… dia bukan anak yang jahat, hanya terlalu banyak uang dan terlalu sedikit akal sehat. Mungkin ia melakukan kesalahan. Sebuah kekhilafan.”

“Memperkosa seorang gadis hingga ia trauma seumur hidup bukan kekhilafan, Suryo. Itu kejahatan,” balas Darian dingin.

“Baiklah, baiklah,” Suryo mengangkat tangannya seolah menyerah.

“Anggap saja begitu. Lalu apa maumu? Uang? Sebutkan angkanya. Berapa harga diam gadis itu? Satu miliar? Dua? Lima? Aku akan menulis ceknya sekarang juga. Anggap saja sebagai kompensasi atas ‘ketidaknyamanan’ yang ia alami. Dia bisa memulai hidup baru di mana saja.”

Darian menatap pria di hadapannya dengan rasa muak yang meluap-luap. Suryo tidak melihat Queenora sebagai manusia. Ia melihatnya sebagai masalah yang bisa diselesaikan dengan uang, sebuah liabilitas yang harus dihapus dari neraca keuangan.

“Kau benar-benar tidak mengerti, ya?” Darian menggelengkan kepalanya pelan.

“Ini bukan tentang uang.”

“Semua hal pada akhirnya selalu tentang uang, Nak,” ujar Suryo dengan nada menggurui.

“Dengar, aku akan buat penawaran yang lebih baik. Lupakan semua ini. Kita lanjutkan proyek Nusa Sentosa. Aku akan berikan sahammu 10% lebih besar dari kesepakatan awal. Itu puluhan triliun, Darian. Cukup untuk membeli seratus gadis seperti dia. Pikirkan masa depanmu, warisanmu.”

Inilah puncaknya. Pengorbanan yang ditawarkan di atas piring perak. Di satu sisi, ada semua yang telah ia bangun, reputasi, kekayaan, masa depan perusahaannya.

Di sisi lain, ada keadilan untuk seorang gadis yang telah mencuri hatinya, gadis yang menyembuhkan putranya dan dirinya sendiri.

Pilihan itu tidak pernah terasa semudah ini.

“Proyek Nusa Sentosa batal,” kata Darian dengan suara tegas yang menggema di ruangan sunyi itu.

“Aku akan menarik semua investasiku pagi ini juga. Aku akan mengeluarkan pernyataan pers tentang ‘perbedaan prinsip etika’ dengan Wijoyo Corp.”

Wajah tenang Suryo akhirnya pecah. Urat di pelipisnya menonjol.

“Kau gila! Kau akan kehilangan segalanya! Pasar akan menghancurkanmu!”

“Mungkin,” Darian mengangkat bahu.

“Tapi aku lebih baik kehilangan uang daripada kehormatanku.” Ia bangkit dari kursinya, menjulang di atas Suryo.

“Dan soal putramu… ini bukan lagi tentang kompensasi. Ini tentang hukuman. Aku akan memastikan dia membusuk di penjara. Gunakan semua uangmu, Suryo. Aku akan melawannya dengan semua yang kumiliki.”

“Kau akan menyesali ini, Darian!” geram Suryo, suaranya bergetar karena amarah.

“Aku sudah menyesal,” balas Darian, tatapannya menusuk.

“Aku menyesal pernah menganggap orang sepertimu sebagai teman.”

Darian berbalik dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Suryo Wijoyo yang termangu di tengah reruntuhan aliansi mereka. Di luar restoran, ponsel Darian sudah dibanjiri notifikasi. Panggilan tak terjawab dari direktur keuangannya, pesan panik dari dewan direksi.

Berita tentang pembatalan sepihak proyek raksasa itu pasti sudah menyebar seperti api. Ia bisa merasakan getaran gempa yang baru saja ia ciptakan di dunia finansial. Tapi saat ia menyalakan mobilnya dan melaju pulang, hatinya terasa ringan.

Setibanya di rumah, suasana terasa damai, kontras dengan badai yang baru saja ia lewati. Ia melihat Queenora di taman belakang, sedang mendorong ayunan Elios dengan lembut.

Tawa renyah Elios terdengar, dan senyum tulus di wajah Queenora adalah pemandangan paling berharga di dunia. Semua kerugian itu, semua triliunan yang lenyap, terasa tidak ada artinya dibandingkan dengan senyuman itu.

Saat ia melangkah masuk melalui pintu belakang, Nyonya Adreine mencegatnya di dapur. Wajah ibunya tampak pucat dan tegang, matanya menyiratkan ketakutan yang belum pernah Darian lihat sebelumnya.

“Ibu…” Darian memulai, hendak menceritakan apa yang terjadi.

“Darian, ini lebih buruk dari yang kau kira,” bisik Adreine, suaranya bergetar. Ia memegang lengan putranya erat.

“Barusan Ibu dapat telepon dari salah satu teman lama Ibu di lingkar sosialita. Estrel tahu semuanya. Dia tahu tentang pertengkaranmu dengan Suryo.”

Darian mengerutkan kening.

“Bagaimana bisa secepat itu?”

Napas Adreine tercekat.

“Bukan itu yang terburuk, Nak. Dia… dia sudah menghubungi Suryo secara langsung.” Mata ibunya berkaca-kaca.

“Mereka akan bekerja sama untuk menghancurkanmu.”

1
Nar Sih
lanjutt kakk 💪💪
Nar Sih
ahir nya queen up lgi
Nar Sih
💪💪kak lanjutt
Nar Sih
ya ampun. kasihan luna waktu itu ya ,punya ibu yg jht banget
Nar Sih
semangatt queen 💪tunjukan klau kebenaran tentang diri mu yg jdi korban bisa menang melawan kejhtn mereka
Nar Sih
ahir nya rencana mu berhasil queenora kakakdan ibu mu tertangkap sdh
Nar Sih
lanjutt kakk ,cerita smakin seru👍
Realrf: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Nar Sih
💪💪darian dan queen
Nar Sih
ini pasti ulah si mantan ibu mertua jht mu darian
Jj^
semangat update Thor 🤗
Realrf: ma aciwww 😍😍😍😘
total 1 replies
Nar Sih
biarkan darian membatu mu queen ,kasih semagatt sja dan doa kan smoga mslh mu cpt selesai
Nar Sih
jujur sja queen ,biar semua terungkap
Nar Sih
darian mulai jatuh cinta dgn mu queen
Harmanto
miskin dialog terlalu banyak menceritakan suasana hayalan
Sumarni Ukkas
sangat bagus..
Realrf: makasih kak
total 1 replies
Harmanto
ceritanya terlalu banyak fariasi hayalan yg sangaaat pamjang jarang sekali dialog yg menghidupkam cerita. sering tidak kubaca fariasi2 itu
Realrf: baik kaka trimakasih masukannya
total 1 replies
Harmanto
Nora diberi makan apa untuk memproduksi asi tdk diceritakan, diberi sandang apa. dia dianggap mahluk bukan manusia yg punya rasa emosi
Harmanto
ceritanya membingungkan apa iya tadinya menawarkan berapa uang kau minta. dia tdk butuh uang .kok dia malah membelenggu dg seribu atran yg robot
Nar Sih
seperti nya darian udh mulai suka dng mu queen
Indah MB
di tunggu selalu bab selanjutnya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!