"Dulu aku berjanji di depan Tuhan untuk menjaganya, namun dunia seolah memaksaku untuk ingkar."
Tian hanyalah seorang pria sederhana yang dianggap 'tidak berguna' oleh keluarga besar istrinya, Mega. Pernikahan mereka yang didasari cinta suci harus berhadapan dengan tembok tinggi bernama kemiskinan dan penghinaan. Saat Mega divonis mengidap penyakit langka yang membutuhkan biaya miliaran, Tian tidak menyerah.
Ia menjadi kuli di siang hari, petarung jalanan di malam hari, hingga terseret ke dalam pusaran dunia gelap demi satu tujuan: Melihat Mega tersenyum kembali. Namun, saat harta mulai tergenggam, ujian sesungguhnya datang. Apakah kesetiaan Tian akan tetap utuh saat godaan wanita lain dan rahasia masa lalu Mega mulai terkuak?
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta, tapi tentang pembuktian bahwa bagi seorang suami, istri adalah surga yang layak diperjuangkan meski harus melewati neraka dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Detak Jantung di Ujung Pisau
Suara monitor jantung di ruang ICU 2 terdengar begitu cepat, namun kali ini bukan Mega pasiennya, melainkan Ibunda Tian. Kata-kata terakhir Adrian terngiang-ngiang seperti kutukan di kepala Tian: "Cari... di bawah kulit... ibumu..."
Tian berdiri di samping ranjang ibunya dengan wajah pucat pasi, sementara Jenderal Yudha dan Paman Hasan menatapnya dengan penuh tanda tanya. Ibu Tian, yang baru saja pulih dari syok dan hipotermia, kini kembali kritis akibat stres dan kecemasan.
"Apa maksud Adrian, Tian?" tanya Yudha.
"Adrian bilang... ada sesuatu di bawah kulit ibu. Bom... atau chip," jawab Tian, suaranya nyaris tidak terdengar. Ia mendekati ibunya, tangannya yang masih berdarah gemetar saat menyentuh kulit lengan ibunya yang keriput.
Ibunya yang lemah menatap Tian, ketakutan terpancar dari matanya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi, hanya tahu ada ancaman baru yang mengintai.
"Tidak mungkin," desis Yudha, meraih alat komunikasi. "Tim medis khusus, periksa seluruh tubuh pasien di ICU 2 sekarang! Pakai alat pendeteksi logam!"
Tian mengabaikan prosedur itu. Ia tahu Adrian dan Aristha tidak bermain dengan alat biasa yang bisa dideteksi. Mereka menggunakan teknologi gelap. Ia mencondongkan telinganya ke dada ibunya, bukan untuk mendengar detak jantung, tapi untuk mencari suara lain, suara mekanis yang mungkin tersembunyi.
Di tengah keheningan ruangan itu, Tian mendengarnya. Klik... klik... klik... Sebuah suara yang sangat kecil, berirama, seolah sebuah jam tangan kecil bersembunyi di suatu tempat.
"Di sini!" Tian merobek baju rumah sakit ibunya di area perut, dekat pinggang. "Di bawah sini! Cepat, Paman, kita butuh pisau bedah!"
Tim medis panik. "Pak, ini harus di ruang operasi! Tidak bisa di sini!"
"Kita tidak punya waktu!" raung Tian. "Alatnya berdetak! Itu bom waktu!"
Paman Hasan mengeluarkan pisau bedah dari tas medis darurat yang selalu dibawanya. Ia menatap Tian. "Kau yakin, Macan? Salah potong, dan kita selesai semua."
Tian mengangguk, matanya fokus. Ia dulu pernah belajar anatomi saat menjadi atlet bela diri. Ia tahu di mana arteri utama berada. Dengan tangan yang stabil secara mengejutkan di tengah kepanikan, Tian membuat sayatan kecil di area yang ia yakini.
Ibunya menjerit kesakitan, namun Tian membisikkan kata-kata penenang, janji-janji surga bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dari sayatan kecil itu, Tian melihat sebuah kapsul kecil berwarna perak, seukuran biji jagung, tersembunyi di dalam lapisan lemak. Dari kapsul itu, keluar empat kabel halus yang terhubung langsung ke pembuluh darah utama.
"Ini bukan bom, Tian," desis Hasan. "Ini racun dosis tinggi yang bisa disuntikkan otomatis jika ada goncangan hebat atau jika gagal menemukan sinyal kontrol."
Tiba-tiba, ponsel Yudha berdering. Wajahnya mengeras saat mendengar laporan dari tim medis yang memeriksa Mega. "Apa?! Alat pemacu jantungnya aktif kembali? Dan alat penyadapnya terhubung ke frekuensi yang sama dengan benda di tubuh ibu Tian?"
Permainan Aristha terungkap. Pria itu tidak hanya menyandera satu orang, tapi dua orang yang paling Tian cintai, saling terhubung dalam satu sistem kendali jarak jauh. Ia ingin Tian tetap hidup, tapi hanya sebagai budak yang patuh.
Tian mengangkat kapsul itu perlahan, sangat hati-hati. Setiap milimeter gerakan terasa seperti mempertaruhkan alam semesta. "Aristha mengendalikan keduanya sekaligus," pikir Tian. "Dia ingin aku tetap di bawah jempolnya, memaksaku melakukan tugas-tugas kotornya dengan ancaman bahwa salah satu dari mereka akan mati jika aku menolak."
"Paman, Jenderal, kita tidak bisa mencabut ini sekarang," ucap Tian, matanya terpaku pada kapsul yang berdenyut seirama dengan detak jantung ibunya. "Alat ini butuh kode penonaktifan dari Aristha, sama seperti bom di bawah ranjang Mega. Dia menanam ini saat ibuku diculik."
Jenderal Yudha menatap layar tabletnya, di mana sinyal dari alat Mega dan alat Ibu Tian bertemu dalam satu titik koordinat di jaringan satelit. "Sial! Dia menggunakan kita untuk mengamankan jaringannya sendiri. Dia licik sekali."
Tiba-tiba, lampu indikator di kapsul itu berubah dari biru menjadi oranye. Suara klik menjadi lebih cepat. Alarm medis di ruangan itu berbunyi nyaring.
"Detak jantung pasien melonjak drastis! Adrenalin menyebar!" teriak seorang suster panik.
"Aristha tahu kita menemukan alatnya!" desis Tian. Ia segera meraih alat komunikasi Yudha. "Aristha! Hentikan! Aku akan melakukan apa pun yang kau mau!"
Hening sejenak. Lalu suara tenang Aristha kembali terdengar. "Tentu saja aku tahu, Tian. Aku melihatmu dari CCTV koridor. Aku memberimu pelajaran kecil tentang siapa yang memegang kendali di sini. Jangan coba-coba mencabutnya tanpa izinku. Baterai alat itu hanya bertahan 24 jam. Jika kau tidak berhasil menangkapku dalam waktu itu, dosis racun akan disuntikkan otomatis ke tubuh ibumu."
Panggilan terputus.
Tian mengepalkan tangannya di udara. Ia dikendalikan, disandera oleh teknologi dan kekuasaan. Di ranjang sebelah, Mega membuka matanya, menatap Tian dengan pandangan penuh ketakutan. Ia telah mendengar semuanya.
"Mas... apa yang terjadi?" bisik Mega lemah.
Tian berjalan ke ranjang Mega, menatap istrinya yang rapuh. "Jangan khawatir, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Mas akan menyelesaikan ini."
Tapi di dalam hatinya, Tian tahu pertempuran ini baru saja dimulai. Ia kini memiliki 24 jam untuk menjatuhkan Aristha, seorang pria yang bersembunyi di balik bayangan kekuasaan global, sambil memastikan dua nyawa terpentingnya tetap berdenyut.
Tian mematikan seluruh lampu di kamar ICU, hanya menyisakan cahaya redup dari monitor. Ia mengambil peta dunia dari meja kerja Yudha. "Paman, Jenderal, Adrian meninggalkan data enkripsi di tasnya sebelum mati. Kita harus mencari tahu di mana markas utama Aristha." Saat Tian menatap peta, sebuah titik kecil berkedip di laptop Yudha koordinat sebuah pulau terpencil di segitiga emas Asia Tenggara. Namun, di saat yang sama, Jenderal Yudha mendapat telepon dari Mabes Polri: "Pak Jenderal, seluruh aset Anda dibekukan! Adrian punya bukti suap Anda ke Aristha! Anda dan tim Anda sekarang dicari sebagai pengkhianat negara!" Wajah Yudha memucat, menyadari bahwa kini mereka semua menjadi buronan, berpacu melawan waktu, tanpa dukungan hukum sedikit pun.