NovelToon NovelToon
Duka Yang Ternoda

Duka Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Janda / Obsesi / Keluarga / Trauma masa lalu / Penyelamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Mobil Rolls-Royce Baskara telah keluar dari gerbang dan tak berselang lama mobil Ratri berhenti di depan rumah Swari yang baru.

Alex dan Alexandria turun dari mobil dan berlari ke arah Swari.

"Mama!!"

Mereka langsung berlari dan memeluk tubuh Swari.

Alex melihat tangan Mamanya yang diperban putih.

"Tangan Mama kenapa?" tanya Alex dengan nada cemas yang sangat dewasa untuk anak seusianya.

Matanya yang tajam mulai menyapu area sekitar halaman rumah, mencari sosok yang mungkin telah menyakiti ibunya.

Alexandria ikut memegang tangan Swari yang satunya, matanya berkaca-kaca. "Mama sakit? Siapa yang nakal sama Mama?"

Swari berlutut agar sejajar dengan mereka, mencoba memberikan senyum terbaiknya meski hatinya masih bergetar.

"Tidak apa-apa, Sayang. Mama hanya tidak sengaja terkena pinggiran meja tadi di kantor. Jangan khawatir, ya?"

Namun, Alex tidak semudah itu percaya. Insting bocah itu sangat kuat.

Ia melihat bekas ban mobil mewah yang baru saja meninggalkan gerbang rumah mereka. Ia kemudian menoleh ke arah Ratri dan Navy yang baru saja turun dari mobil.

"Budhe, siapa yang tadi antar Mama pulang?" tanya Alex dengan suara yang tegas.

Ratri yang melihat perban di tangan Swari langsung mendekat dengan wajah panik.

"Lho, Swari! Kok tanganmu sampai begitu? Tadi Mas Navy bilang kamu dibawa Baskara ke kantornya, terus kenapa sekarang—"

Belum sempat Ratri menyelesaikan kalimatnya, sebuah mobil hitam lain berhenti di depan gerbang. Itu adalah mobil sekretaris Baskara yang datang untuk mengantarkan tas kerja Swari yang tertinggal di kantor.

Begitu kaca mobil terbuka, seorang staf pria turun untuk menyerahkan tas tersebut.

Alex yang mengira pria itu adalah orang yang menyakiti ibunya, langsung berlari kecil dan mencubitnya.

"Aduh!" staf pria itu memekik kaget saat tangan mungil Alex menjepit kulit lengannya dengan sangat kuat.

"Kamu ya yang bikin Mama Alex sakit?!" seru Alex dengan wajah galak, tangannya masih belum mau melepaskan cubitannya yang pedas.

Ratri yang melihat kejadian itu bukannya marah, malah tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya.

"Aduh, ampun! Lihat itu, Mas Navy! Alex benar-benar jagoan pelindung Mamanya. Kecil-kecil cabai rawit!"

Navy juga terkekeh sambil menarik lembut pundak Alex.

"Sudah, Jagoan. Itu cuma om petugas yang antar tas Mama. Bukan dia yang nakal."

Swari hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah putranya.

Ia mengambil tasnya dan berterima kasih pada staf tersebut yang buru-buru pergi karena takut dicubit lagi oleh Alex.

"Ayo masuk, Mbak, Mas. Aku lelah sekali hari ini," ucap Swari pelan.

Mereka masuk ke dalam rumah dan Swari meminta Alex dan Alexandria masuk ke kamarnya.

"Alex, Alexandria. Kalian ganti pakai dulu. Setelah itu kita makan bersama." ucap Ratri yang menyiapkan soto ayam yang ia beli tadi.

Swari masuk ke kamarnya dan mengganti pakaiannya.

Setelah itu ia menuju ke dapur untuk membuat kopi.

"Swari, biar aku yang buat kopi. Tanganmu masih sakit." ucap Navy.

Navy segera mengambil alih teko di tangan Swari dan memintanya duduk di meja makan.

Ratri yang sedang menata mangkuk soto menatap adiknya dengan tatapan menyelidik yang tajam.

"Swa, cerita sama Mbak. Tadi Mas Navy bilang si Baskara itu sampai menarikmu paksa di depan semua orang. Apa yang dia lakukan sampai tanganmu diperban begitu?" tanya Ratri, suaranya sarat akan kecemasan.

Swari terdiam sejenak, menatap uap panas dari soto yang mengepul.

"Dia tidak menyakitiku secara fisik, Mbak. Tadiz aku mengalami panic attack di kantornya. Aku tidak sadar meremas tanganku sendiri sampai berdarah. Dia yang membawaku ke rumah sakit."

Navy yang sedang mengaduk kopi menghentikan gerakannya.

"Dia membawamu ke rumah sakit? Baskara yang dingin itu?"

"Iya, Mas. Tapi dia tetaplah pria yang sombong. Dan dia...."

"Dia kenapa, Swa?" tanya Ratri mendesak, matanya tak lepas dari wajah adiknya yang tampak gelisah.

Swari menarik napas panjang, berusaha menenangkan debar jantungnya.

Ia hampir saja mengatakan soal klaim gila satu miliar itu, namun ia tahu jika ia mengatakannya sekarang, Mas Navy pasti akan nekat menghadapi Baskara, dan itu bisa membahayakan posisi perusahaan properti kakaknya.

"Dia hanya bilang kalau aku tidak boleh mengecewakan investasinya," jawab Swari akhirnya, memilih kalimat yang lebih aman.

"Dia sangat menuntut profesionalisme yang tinggi. Aku hanya merasa tertekan karena harus berkantor di gedungnya mulai besok."

Navy meletakkan cangkir kopi di depan Swari, wajahnya tampak tidak puas.

"Mas tidak suka caranya memperlakukanmu, Swa. Kalau kamu merasa tidak sanggup atau dia mulai macam-macam, katakan pada Mas. Mas tidak peduli soal investasi itu kalau harganya adalah ketenangan batin adikku sendiri."

"Terima kasih, Mas. Aku akan mencoba menghadapinya secara profesional. Aku punya Alex dan Alexandria sekarang, aku tidak selemah dulu."

Tepat saat itu, Alex dan Alexandria berlari masuk ke ruang makan dengan pakaian santai mereka. Alexandria langsung naik ke kursi di samping Swari.

"Mama, nanti kalau Alex sudah besar dan jadi kapten bola, Alex mau beli mobil yang lebih besar dari punya Om tadi," celetuk Alex sambil mulai menyuap sotonya.

"Biar Mama nggak perlu diantar orang asing lagi."

Ratri tertawa kecil sambil mengusap kepala Alex.

"Dengar itu, Swari. Kamu punya pengawal pribadi yang lebih galak dari Baskara."

Setelah kehangatan makan malam keluarga berakhir

Ratri dan Navy memutuskan untuk berpamitan agar Swari bisa beristirahat total.

Ratri sempat memberikan pelukan ekstra lama kepada adiknya, membisikkan kata-kata penyemangat agar Swari tetap kuat menghadapi hari esok.

"Kami pulang dulu ya, Swa. Ingat, kunci semua pintu dan jangan lupa minum vitaminmu," pesan Ratri sebelum akhirnya mobil Navy meluncur meninggalkan halaman rumah Panorama Indah.

Swari menutup pintu rumah dengan helaan napas panjang.

Kesunyian mulai menyelimuti rumah itu, namun ia tak dibiarkan melamun lama. Alex dan Alexandria sudah menarik-narik ujung bajunya dengan mata yang mulai mengantuk namun tetap penuh harap.

"Mama, ayo ke kamar! Mama janji mau cerita tentang kancil yang cerdik!" seru Alexandria sambil mengucek matanya.

"Iya, Mama. Tapi Alex mau cerita tentang ksatria yang punya pedang cahaya," tambah Alex tak mau kalah.

Swari tersenyum, rasa lelahnya seolah menguap saat melihat wajah polos mereka.

Ia membimbing kedua buah hatinya menuju kamar utama yang luas, tempat mereka bertiga tidur bersama agar si kembar merasa lebih aman di lingkungan baru.

Setelah mereka berganti pakaian tidur bermotif dinosaurus untuk Alex dan unicorn untuk Alexandria, Swari merebahkan tubuhnya di tengah-tengah mereka.

Aroma sabun bayi yang segar dari tubuh anak-anaknya memberikan ketenangan yang tak bisa dibeli dengan apa pun.

"Dahulu kala ada seorang ksatria kecil yang sangat berani. Dia memiliki pedang cahaya yang bisa mengusir kegelapan. Tapi, ksatria ini tidak sendirian. Dia ditemani oleh seorang peri bunga yang sangat pintar menanam kedamaian..."

Alexandria mendengarkan sambil memeluk bantal, sementara Alex menatap langit-langit kamar dengan imajinasi yang liar.

"Suatu hari, mereka harus menjaga sebuah menara besar dari seorang raja yang sangat dingin dan sombong," lanjut Swari, pikirannya tanpa sadar sedikit melayang pada sosok Baskara.

"Raja itu tidak jahat, dia hanya lupa bagaimana caranya tersenyum. Tugas ksatria dan peri bunga adalah mengingatkan raja itu bahwa kehangatan keluarga jauh lebih berharga daripada emas satu miliar..."

Suara Swari perlahan-lahan semakin lembut seiring dengan napas Alex dan Alexandria yang mulai teratur dan dalam.

Alexandria tertidur dengan memegang jemari Swari, sementara Alex mendengkur halus di lengan ibunya.

Swari mematikan lampu nakas, menyisakan keremangan yang syahdu.

Ia menatap wajah Alex di bawah temaram cahaya bulan yang masuk dari celah gorden.

"Ksatria kecilku, Mama akan melakukan apa pun agar kamu tidak perlu tumbuh menjadi pria yang dingin seperti raja dalam dongeng tadi."

Swari bangkit dan keluar dari kamar mereka berdua.

Ia masuk ke dalam kamar dan naik ke atas tempat tidur.

Ia mengambil plastik yang berisi kancing baju milik pelaku yang melakukan perbuatan keji kepada Swari.

Swari menggenggam kancing itu dengan erat di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.

Kancing berbahan keramik hitam dengan gurat perak di tepinya dengan tulisan BS.

Dimana sebuah benda mewah yang ia jambret dengan sisa kekuatannya enam tahun lalu.

Benda ini adalah satu-satunya saksi bisu dari malam paling hitam dalam hidupnya.

"Aku akan menemukanmu," bisiknya dengan nada yang sangat dingin, "siapa pun kamu, yang sudah mengotori ranjang suamiku dan menghancurkan harga diriku."

Ia menyimpan kancing itu kembali ke dalam kotak rahasia di dalam brankasnya.

Kelelahan yang luar biasa akhirnya menarik Swari ke dalam tidur

1
Esti 523
lha ko bisa masuk rumah
kymlove...
sebagus ini kenapa sepi



kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor
my name is pho: terima kasih sudah mampir kak🥰
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kaka aku mampir 🤗
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!