Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan mempesona. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Kebaikan dan kejujuran Rion sebagai asistennya, menambah kepercayaan Ethan untuk menerima pertolongannya.
Dia membiarkan tangannya dibersihkan Rion sambil menutup mata. Demi Opahnya, dia menekan rasa frustasi karena tidak berdaya.
Dia membayangkan mereka sedang berada di kantor, supaya bisa mengurangi tekanan batin yang mendorong emosinya. Agar bisa terima dan tidak marah pada kondisinya.
"Sudah, Pak. Selamat makan." Ucap Rion pelan, setelah membersihkan tangan bossnya dengan handuk kecil.
"Kau juga, makan." Ucap Ethan sambil memegang kotak yang sudah dibuka tutupnya.
"Iya, Pak. Terima kasih." Rion merasa lega atas respon bossnya.
'Semangat boss.' Rion membatin. Dia tidak berani menawarkan bantuan lebih, karena khawatir bossnya tersinggung.
"Oh, syukur. Pak Rion sudah beli makan." Ucap Gerry yang baru masuk kamar dan melihat kotak makan dari restoran terkenal dengan kelezatan ayamnya.
"Selamat makan Pak Ken, Pak Ethan." Gerry melanjutkan, seakan tidak melihat Ethan kesulitan makan dengan tangan. Ethan sempat terdiam, lalu lanjutkan makan setelah mengenal suara Gerry.
"Pak Gerry, silahkan makan juga. Itu sudah saya beli." Rion coba mencairkan suasana yang tiba-tiba kaku sambil menunjuk kotak makan di atas meja.
"Terima kasih, Pak Rion." Gerry tidak jadi mengatakan sesuatu lagi, saat melihat Opah Ethan meletakan jari di bibir dan menunjuk ke arah Ethan.
Hal yang sama dilakukan Opah Ethan kepada pengacara Menaya yang baru masuk kamar dan hendak mengatakan sesuatu padanya.
"Mari makan Pak Menaya. Saya sampai lupa, kalau Pak Ken belum makan." Gerry coba bicara santai, tanpa menyinggung Ethan yang kondisinya mulai stabil dan sensitif pada sekitarnya.
"Maaf, Pak. Pak Ethan agak sensitif atas kondisi matanya." Bisik Rion kepada Gerry sambil membuka kotak makan yang diperuntukan buatnya dan pengacara Menaya.
Mereka mengangguk bersamaan, mengerti keadaan Ethan. "Terima kasih, Pak Rion. Saya sudah sangat lapar. Saya bisa habiskan semua ayam ini." Gerry berusaha bercanda untuk memecah kesunyian yang tiba-tiba menyelimuti kamar perawatan.
"Silahkan, Pak. Saya tadi hanya pikirkan itu, setelah bicara dengan dokter Tono..." Rion menjelaskan sambil makan.
Opah Ethan sedih melihat Ethan makan dalam kondisi tidak bisa melihat dan berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Oh, sedang makan. Selamat makan." Sapa dokter Tono yang masuk ke ruangan bersama ahli gizi rumah sakit.
Ethan langsung berhenti makan saat mengetahui ada yang datang. "Terima kasih, dokter." Ucap Opah Ethan cepat, sambil memberikan isyarat kepada perawat yang mendampingi untuk tidak berbicara.
"Pak Ethan, besok mau sarapan apa? Biar disiapkan rumah sakit." Dokter Tono berusaha mencairkan suasana setelah melihat isyarat Opah Ethan.
"Saya ikut Opah." Ucap Ethan lalu kembali meneruskan makan setelah mengenal suara dokter keluarganya.
"Baik. Pak Ken tolong isi daftar menu sarapan ini." Dokter memberikan daftar sambil melarang ahli gizi berbicara, sesuai permintaan Opah Ethan.
"Rion, saya sudah." Ucap Ethan sambil mengangkat tangan. Rion segera mendekati ranjang untuk melayani bossnya.
"Dokter, besok saya sudah bisa pulang?" Ethan bertanya, karena dia merasa tidak nyaman berada di rumah sakit.
Fisiknya tidak bermasalah jadi dia merasa sesak nafas dalam ruangan tidak steril oleh orang yang masuk dan keluar tanpa dia tahu.
Dia seakan dikurung oleh kondisi mata dan tidak bisa berteriak untuk melegakan dadanya.
"Besok kita CT scan untuk pastikan kondisi mata bersama spesialis mata dan saraf ya, Pak Ethan."
"Kalau hanya syok karna benturan dan tidak apa-apa, bisa pulang. Nanti balik kontrol saja sesuai jadwal dokter...." Dokter Tono menjelaskan secara sederhana sambil memberi semangat, seakan kondisi matanya tidak serius.
~••~
Di tempat lain ; Dinginnya lantai kamar membangunkan Athalia. Dia membuka mata perlahan dan menyadari, berada di lantai dan hari telah malam. Hanya sedikit cahaya dari luar kamar yang menerangi kamarnya.
Perlahan dia bangun dan merangkak naik ke atas tempat tidur. Namun rasa lapar, membuatnya bangun untuk mencari sesuatu yang bisa mengisi perutnya.
Setelah makan, dia jadi teringat kejadian yang terjadi di kantor dan kesedihannya. Sambil menarik nafas dan menghembuskan dengan kuat, dia masuk kamar mandi untuk memeriksa kondisinya.
Hatinya seakan diaduk ingat Niel. 'Besok aku harus masuk kerja kalau tidak mau gila di sini.' Athalia membatin dan bertekad.
Melihat wajah dan matanya bengkak, dia mengkompres berulang kali, terutama matanya yang bengkak karena kelamaan menangis.
'Tidak ada salahnya aku masuk kerja untuk melatih diri, karna harus menyelesaikan masa training dibawah pimpinannya.' Athalia membatin lagi sambil menekan kuat pipinya.
Maka ke esokan pagi dia memaksa bangun, walau sekujur tubuhnya terasa sakit dan pegal. Dia menyemangati diri untuk masuk ke kantor seperti biasa.
"Talia, kau kenapa? Kemarin ke mana saja? Aku telpon berkali-kali, gak aktif." Alea protes sambil menepuk lengan Athalia yang sedang ngantri di lobby.
"Lea, maaf. Kemarin kurang sehat, jadi gak sempat pamit lagi." Ucap Athalia tanpa berani melihat wajah Alea.
"Gak pa'pa. Yang penting sekarang sudah baikan." Ucap Alea lega. "Tapi sayang banget, kau gak lihat acara perkenalan CEO kita gak berjalan mulus, berantakan." Ucap Alea santai.
Athalia tidak berkomentar, tapi melihat sekitar. Jantungnya tiba-tiba berdetak kuat dan membatin ragu. 'Apa aku salah memutuskan masuk kerja hari ini?' Athalia jadi khawatir bertemu Niel.
"Eh, yang kemarin menghilang sudah masuk kerja." Ucap Merci yang melihat Athalia masuk ruangan sambil menunduk.
"Iya, Mba Merci. Emang beda yang punya backingan." Sita menimpali, sinis.
Athalia meletakan tas di kursi lalu mengambil cup. "Lea, mau dibikinin kopi?" Tanya Athalia, seakan tidak mendengar sindiran Merci dan Sita.
"Boleh, makasih." Ucap Alea sambil berikan jempol. Athalia mengangguk lalu berjalan ke dispenser.
"Hai semua sudah dengar berita belum?" Tanya Tony yang baru masuk ruangan, kemudian disusul Vicky.
"Katanya dilarang bergosip pagi-pagi." "Eh, sendiri yang mulai." Merci dan Sita menyambar.
"Ada apa Tony. Info A berapa?" Vicky tidak menanggapi Merci dan Sita.
"Entah Info A berapa. Kalian sudah tahu belum?"
"Tahu, apa? Jangan bikin penasaran."
"Boss baru kita, CEO alami kecelakaan mobil di tol bandara."
"Aaaaakkh...." Athalia menjerit sambil mengibaskan tangan yang tersiram air panas karena terkejut mendengar CEO baru kecelakaan. Dia mengibaskan tangan dan mencari tissu dengan tangan gemetar.
"Talia, biarkan itu." Teriak Tony melihat Athalia hendak membersihkan lantai yang basah dengan tissu.
"Alea, bawa Talia ke pentri. Siram tangannya dengan air dingin atau pakai batu es." Teriak Tony lagi, karena melihat tangan Athalia memerah.
"Oh, ok." Alea segera menarik tangan Athalia lalu berlari, karena Athalia gemetar dan menahan tangis. Para karyawan mengira Athalia menahan sakit di tangan.
"Sini, celupkan tanganmu." Alea menyiram air es di wadah dan menekan tangan Athalia yang merah, agar tidak melepuh.
"Kau juga, gak hati-hati. Perhatikan yang dikerjakan. Kalau belum sehat, gak usah sok, bikin kopi." Alea memarahi sambil menambah batu es.
...~•••~...
...~•○♡○•~...
. menyelesaikan solusi masalah