NovelToon NovelToon
Beyond The Sidelines

Beyond The Sidelines

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:708
Nilai: 5
Nama Author: Mega L

Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejujuran di Balik Bayang-Bayang

Latihan sore itu terasa begitu berat bagi Vilov, bukan karena porsi latihan fisiknya, melainkan karena beban pikiran yang menggelayut di hatinya. Di tengah hiruk-pikuk suara peluit dan benturan stik hockey dengan bola, hati Vilov berkecamuk. Ia merasa begitu kecewa dengan tingkah laku Putra yang berubah begitu cepat, seolah-olah semua kedekatan mereka sebelumnya hanyalah angin lalu yang tidak berbekas. Candaan-candaan renyah yang biasanya ia nantikan sebagai bagian dari sumber bahagianya, kini telah sirna, digantikan oleh keheningan yang menyakitkan.

​Namun, di tengah suasana hati yang mendung itu, ada sesuatu yang terasa ganjil. Adinda berkali-kali mencoba mendekatinya. Gerak-gerik gadis itu sangat jelas menunjukkan keinginan untuk menjalin komunikasi dengan Vilov. Vilov sendiri tidak yakin; apakah Adinda benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi antara dirinya dan Putra, atau justru dia sebenarnya tahu dan merasa tidak enak hati sehingga mencoba mencari celah untuk bicara?

​Setiap kali ada kekosongan waktu di sela-sela pergantian sesi latihan, Adinda selalu menyempatkan diri untuk berada di dekat Vilov. Tika dan Tije yang menyadari hal itu hanya bisa melirik sinis. Bagi kedua sahabat Vilov, Adinda adalah sosok "penyusup" yang mengacaukan segalanya, meski mereka belum tahu kebenarannya secara utuh.

​"Vilov, aku boleh ngobrol sebentar sama kamu?" ucap Adinda tiba-tiba saat mereka sedang beristirahat untuk minum.

​Tika dan Tije yang duduk di sebelah Vilov serentak menghentikan aktivitas minum mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa, hanya melirik tajam ke arah Adinda dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat. Vilov menghela napas panjang, ia tahu ia tidak bisa terus-menerus lari dari situasi ini.

​"Boleh, ngomong aja," jawab Vilov dengan nada datar, mencoba tetap bersikap netral di depan sahabat-sahabatnya.

​Adinda melirik ke arah Tika dan Tije sebentar sebelum kembali menatap Vilov. "Tapi... aku mau bicara empat mata sama kamu. Bisa?" pinta Adinda dengan nada yang tulus, hampir seperti memohon.

​Vilov pun berdiri dari duduknya. Ia menepuk bahu Tije pelan. "Guys, gue ke sana dulu ya sebentar," ucap Vilov kepada teman-temannya. Tika hanya mendengus pelan, sementara Tije mengangkat bahu seolah berkata, 'Terserah lu deh'.

​Vilov memimpin jalan menjauh dari kerumunan pemain lain. Ia memilih area di dekat tribune yang lebih sepi agar percakapan mereka tidak terganggu. "Di sini aja," ucap Vilov sambil berbalik menghadap Adinda.

​"Ada apa, Din? Langsung aja," ucap Vilov singkat, mencoba menjaga jarak emosional agar tidak terlihat terlalu lemah atau terlalu marah.

​Adinda menarik napas dalam-dalam, ia tampak sedikit gugup. "Aku nggak tahu ya, apa ini cuma perasaan aku aja atau gimana. Tapi dari kemarin, aku merasa kamu sama teman-teman kamu sinis banget liat aku kalau aku lagi sama Putra," ucap Adinda jujur. Ia kemudian menatap mata Vilov dengan serius. "Sebenarnya... kamu pernah dekat sama dia?"

​Vilov tertawa kecil, sebuah tawa getir yang tidak sampai ke mata. "Lu beneran nggak tahu atau cuma pura-pura nggak tahu?" ucap Vilov ketus.

​Adinda menggeleng cepat. Wajahnya tampak bingung sekaligus cemas. "Aku beneran nggak tahu, makanya sekarang aku memberanikan diri ngomong sama kamu. Kalau memang benar ada sesuatu di antara kalian, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud mengganggu. Dan kalau perlu, aku bakal jauhin dia sekarang juga," ucap Adinda dengan nada tegas.

​Mendengar pengakuan itu, pertahanan Vilov sedikit runtuh. Ia melihat kejujuran di mata Adinda. "Nggak usah, nggak perlu sampai segitunya. Gue juga udah nggak peduli lagi sekarang. Maaf kalau kita bertiga liatin lu sinis," ucap Vilov menjelaskan posisinya. "Jujur aja, pertama, gue emang sempat dekat banget sama Putra. Tapi tiba-tiba kita lost contact. Baru kemarin gue sadar ada yang aneh, karena pesan gue nggak dibalas sama sekali. Dan melihat situasi sekarang, gue rasa itu karena dia lagi gencar-gencarnya ngincer lu."

​Adinda tampak terkejut mendengar penjelasan Vilov. Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya bicara lagi. "Aku juga sebenarnya baru dekat sama dia kemarin, pas aku lagi mau pulang latihan. Dia tiba-tiba samperin aku dan minta nomor WhatsApp aku. Karena aku pikir dia satu tim dan pengen jadi teman baik, ya aku kasih aja nomor aku. Aku nggak ada niatan serius sama sekali sama dia kok. Kalau kamu mau, nanti aku bakal sakitin dia juga, biar dia ngerasain apa yang kamu rasain sekarang," ucap Adinda dengan nada kesal karena merasa dimanfaatkan oleh Putra.

​Vilov segera menggelengkan kepalanya. "Nggak usah, nggak usah sampai begitu. Santai aja. Gue nggak mau lu jadi terlibat drama yang nggak ga jelas ini. Ya udah, kita balik yuk, nggak enak dilihat yang lain kalau kelamaan berdua di sini. Anyway, sori ya kalau gue dan temen-temen gue kemarin-kemarin sinis banget sama lu. Gue sadar, lu nggak salah di sini. Yang salah itu si Putra," ucap Vilov dengan nada yang jauh lebih lembut.

​Mereka berdua pun berjalan kembali ke arah lapangan, dimana di tempat tadi Tika dan Tije masih setia menunggu dengan wajah penasaran. Begitu Adinda pamit untuk kembali ke barisannya, Tije langsung menyambar Vilov.

​"Ngomong apa tadi? Serius banget kelihatannya," tanya Tije penasaran.

​Vilov pun duduk kembali dan mulai menjelaskan seluruh pembicaraannya dengan Adinda kepada kedua temannya. Ia menceritakan bagaimana Putra mendekati Adinda tepat saat mengabaikan dirinya, dan bagaimana Adinda sebenarnya tidak tahu-menahu tentang hubungan mereka.

​Mendengar penjelasan Vilov, Tika dan Tije terdiam sejenak. Mereka mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu. Rasa kesal yang tadinya tertuju pada Adinda kini mulai bergeser sepenuhnya kepada satu orang.

​"Emang yang rese itu si cowoknya ternyata. Taktiknya klasik banget, dekatin yang baru terus buang yang lama," ucap Tije dengan nada kesal. Ia lalu menatap ke arah Adinda di kejauhan dengan perasaan yang berbeda. "Gue jadi nggak enak sendiri sama Adinda. Ternyata dia orangnya asik dan jujur ya."

​Tika pun mengangguk setuju, raut wajahnya yang sinis kini telah hilang. "Iya, bener. Gue juga jadi ngerasa bersalah udah sinisin dia dari kemarin. Ternyata dia juga korban gombalan nggak jelasnya Putra."

​Vilov tersenyum tipis, merasa bebannya sedikit terangkat setelah meluruskan kesalahpahaman ini. "Tenang aja, gue udah minta maaf ke dia tadi atas nama gue dan kalian juga. Jadi kita sudah clear sama dia."

​Kini, meskipun masalah dengan Putra belum benar-benar selesai, setidaknya Vilov tidak lagi harus merasa bermusuhan dengan sesama timnya. Ia menyadari bahwa di dunia atlet yang kompetitif ini, solidaritas antar tim jauh lebih penting daripada memperebutkan perhatian seseorang yang bahkan tidak bisa menghargai komitmen.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!