Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
Langkah kaki itu terdengar berjalan dengan sangat tergesa-gesa seperti pemiliknya tengah diburu oleh seseorang atau sesuatu.
Krak! Krak! Krak!
Terdengar suara patahan ranting saat kakinya menginjak ranting kering di sepanjang jalan setapak yang menjadi jalur pelariannya.
BRUG!
Namun langkahnya seketika terhenti ketika sesosok tubuh jatuh tepat di mata kakinya, rambutnya panjang berwarna coklat, kulitnya putih dan matanya melotot tajam ke langit yang sudah gelap. Lehernya koyak, hanya ada jejak darah setetes disana, selebihnya tak ada jejak apapun.
Ia berjongkok, menatap takut sekaligus penasaran pada sosok wanita itu.
Oh, Tuhan! Dia mati. Wanita ini mati, dibunuh. Lehernya patah.
Dengan wajah pucat, ia mundur menjauhi sosok itu hingga dunia disekitarnya runtuh dan langit-langit kamar mewah Hugo terpampang di atas.
“Mimpi itu lagi,” gumam Karina mengusap keringat yang bercucuran di pelipis. Sebenarnya ia sudah sering mimpi itu, bahkan Karina hafal dengan alur mimpinya. Dimulai dari ia berlari cepat di sepanjang jalan setapak, malam hari dengan cahaya lampu jalan yang redup, berhenti saat mayat wanita jatuh di depan kakinya.
Karina menoleh ke sampingnya, Hugo sedang tertidur pulas dengan sebelah tangan diatas perut Karina.
Perlahan Karina menyibak selimutnya, ia turun dengan hati-hati dari ranjang supaya tidak membangunkan Hugo.
Ia duduk dekat jendela, memperhatikan langit malam yang ditaburi bintang. Entah kenapa ia merasa bahwa ia telah melupakan sesuatu—sesuatu yang penting.
“Siapa Hugo sebenarnya? Kenapa cara dia menyentuhku terasa familiar, seolah pernah terjadi?” Pikir Karina memejamkan matanya sambil bersandar ke kusen jendela.
“Ada apa? Kenapa kamu bangun dan tidak tidur lagi?” Tanya Hugo yang tiba-tiba saja sudah duduk di dekatnya sambil merangkul bahunya membuat kepala Karina bersandar di bahunya.
Karina tersentak kecil, namun tidak menarik kepalanya menjauh. “Aku mimpi buruk,”
“Mimpi apa?” Suara Hugo malam itu lembut sekali, tidak seperti orang mengerikan yang ia lihat di meja makan setiap makan malam.
“Mimpi aneh,” Karina merenung sejenak, lalu melanjutkan sambil tersenyum kecil. “Mimpi yang membawaku ke tempat yang sama, tempat yang tidak pernah kulihat sebelumnya, tapi entah kenapa aku terus memimpikan itu. Berulang kali.”
Karina tidak tahu kenapa ia menceritakan mimpinya pada Hugo, padahal mereka berdua adalah dua orang asing disini dengan posisi yang berbeda. Hugo predator, dan Karina mangsa yang bisa kapan saja dibunuh.
Hugo tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap wajah Karina dari samping.
“Awalnya kupikir itu hanya mimpi karena aku pernah menulis novel horor, tapi kurasa sekarang itu bukan hanya sekedar mimpi.”
“Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Tanya Hugo.
Karina mengangkat bahunya. “Aku tidak tahu,”
“Karina,”
Ia menoleh, Hugo tersenyum tipis namun terasa menenangkan.
“Beberapa mimpi hanyalah bunga tidur, beberapa lagi peringatan dan yang lainnya adalah petunjuk.” Kata Hugo memainkan ujung rambut Karina. “Mimpi yang berulang lebih dari tiga kali adalah petunjuk…”
“Petunjuk apa?” Jantung Karina berdetak kencang, berharap Hugo mengatakan sesuatu yang membuatnya tahu kemana arah pembicaraan ini.
“Forgotten.”
“Forgotten? Aku tidak melupakan apapun, Hugo. Kenapa kamu selalu bilang bahwa aku telah melupakan sesuatu,”
Hugo merapikan rambut Karina yang berantakan, setelah itu ia berdiri dan lagi-lagi tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Karina.
...\=\=\=\=...
Pagi itu hujan turun deras, langit kelabu dan sesekali terdengar suara petir menyambar. Cuaca menjadi sangat buruk untuk beberapa hari ke depan, dari berita yang terdengar dari televisi di ruang tamu akan ada badai selama beberapa hari.
Di rumah besar Fuller, aktivitas sama seperti hari-hari sebelumnya. Para tamu akan sarapan di ruang makan yang ada di dekat dapur, sementara sang Tuan rumah tidak terlihat. Dia hanya bergabung saat makan malam, selain itu saat siang hari dia tidak akan terlihat. Mungkin sibuk bekerja mengurus bisnis dan kekayaannya.
Karina menatap Sam, lehernya baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda jahitan di sana, lalu kenapa lehernya bisa kembali seperti itu jika tanpa operasi? Apa yang Karina lihat semalam tidak nyata? Atau ia hanya mimpi?
“Kenapa kamu ngeliatin Sam kayak gitu?” Tanya Kate, sambil ikut melirik Sam, tangannya tidak lupa menambahkan segala macam jenis sarapan pagi ke dalam piringnya hingga piring itu penuh.
“Nggak,” Karina menggeleng, lalu berpura-pura menyuap serealnya. “Aku hanya penasaran, ternyata orang pendiam kayak dia juga bisa mengerikan, ya. Bisnis human trafficking.”
Kate mengangguk setuju, lalu berkata. “Jangan salah, kebanyakan orang pendiam adalah yang berbahaya. Mereka menyimpan rahasia gelap, dan orang-orang tidak akan curiga. Kamu tahu kenapa?”
Karina refleks menggeleng.
“Karena image pendiam biasanya selalu baik, mereka terlihat seperti orang yang mudah diganggu dan dibully. Tidak akan ada yang tahu apa yang mereka rencanakan dalam sikap diam itu.” Kate mengunyah lebih dulu makanannya, lalu melanjutkan. “Dan biasanya mereka selalu punya rencana-rencana berbahaya yang menunggu waktu untuk diledakkan dan BOM! Saat kesabaran mereka habis, bom itu akan meledak.”
Kata-kata itu terdengar sangat benar dan Karina merinding mendengarnya. Tangannya tanpa sadar mengusap tengkuknya yang dingin.
“Sudahlah, kita harus menyelesaikan sarapan dengan cepat dan kembali melanjutkan mencari informasi agar bisa kabur.” Ujar Karina dengan suara rendah, dengan tergesa-gesa menyuap serealnya.
Sepuluh menit kemudian mereka selesai sarapan, sejak tahu Alam seorang penipu, Karina jadi menjaga jarak dari pria itu.
“Karin, ayo kita ke mini bar yang ada di ujung lorong lantai satu. Disana juga ada bioskop mini,”
Ajakan Alam itu langsung ditolak oleh Karina. Ia sudah tertipu oleh Tasya dan ia tidak mau tertipu juga oleh Alam.
Satu-satunya orang yang membuat Karina merasa sedikit aman adalah Kate, jadi ia memutuskan untuk berteman dengannya di rumah ini. Mereka berdua menuju perpustakaan untuk mendapatkan informasi lagi dan jika beruntung mereka mungkin bisa menemukan jalur untuk kabur.
...***...
...Like, komen dan vote ...
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor