NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.

Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.

Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.

Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.

Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.

Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Setelah pintu tertutup, Alya bersandar di baliknya beberapa detik. Tangannya masih menempel di daun pintu, seolah suara motor Bayu yang menjauh itu bisa tertahan jika ia menunggu sedikit lebih lama. Dadanya naik turun perlahan, bukan karena lelah, tapi karena sesuatu yang tak bisa ia beri nama.

Ia berjalan ke dalam kamar, melepas hijab, lalu duduk di tepi ranjang. Lampu dimatikan, hanya cahaya bulan yang menyusup lewat celah jendela. Biasanya, malam seperti ini diisi oleh kekhawatiran yang berisik. Tapi malam itu berbeda. Ada tenang yang tidak asing, seperti baru pulang dari tempat yang membuat hati merasa aman.

  "Ya Allah, perasaan apa ini?" ucapnya sendiri. "Aku takut untuk memulai hubungan lagi, tapi di sisi lain aku tidak kuat menahan getaranku sendiri."

Di luar, Bayu belum langsung menyalakan motor. Ia berdiri sebentar, menatap pintu rumah Alya yang kini tertutup rapat. Ada dorongan kecil di dadanya, ingin berkata lebih banyak, ingin memastikan satu hal tapi ia menahannya. Tidak semua perasaan harus diucapkan malam itu. Ada yang cukup dijaga agar tetap utuh.

Ia menghela napas, lalu menyalakan motor dan pergi, di perjalanan menuju rumah, sedari tadi bayangan wajah cantik Alya tidak mau pergi begitu saja, pria itu terus saja melaju dengan senyum yang ia rasakan sendiri.

Rasanya seperti remaja yang baru mengenal cinta saja. "Astaga, setelah lima tahun sendiri, aku pikir tidak akan jatuh cinta lagi," gumamnya di tengah-tengah angin jalanan yang berhembus.

☘️☘️☘️

Pagi datang tanpa tergesa. Alya bangun dengan perasaan yang lebih ringan, meski masalah belum ke mana-mana. Ia menyapu halaman, menjemur pakaian, lalu bersiap ke ladang. Langkahnya terasa lebih mantap, meski pikirannya masih sesekali kembali pada semalam.

Di ladang, Bayu sudah lebih dulu datang. Ia berdiri di pematang, topi caping bertengger miring di kepalanya. Saat melihat Alya, ia mengangkat tangan sedikit, bukan melambaikan, lebih seperti sapaan kecil yang hanya untuk mereka.

“Kamu kelihatan lebih segar,” katanya saat Alya mendekat.

Alya tersenyum. “Mungkin karena semalam makan enak.”

Bayu ikut tersenyum, tapi matanya menangkap sesuatu yang lain. “Atau karena semalam kamu nggak sendirian.”

Alya terdiam sebentar, lalu mengangguk. “Mungkin.”

Mereka bekerja berdampingan. Tidak banyak bicara, tapi kehadiran satu sama lain terasa nyata. Sesekali Bayu membantu mengikat batang cabai, Alya menyiram bagian yang kering. Gerakan mereka seperti sudah menemukan ritme sendiri.

“Alya,” ucap Bayu tiba-tiba.

“Hm?”

“Kalau nanti keadaan berubah,” katanya pelan, tidak menatap Alya, “kalau ladang ini benar-benar harus dilepas… kamu kepikiran mau ke mana?”

Alya berhenti bekerja. “Aku belum tahu. Aku bukan orang yang gampang pindah.”

Bayu mengangguk. “Aku juga.”

Ia menoleh, menatap Alya dengan sorot yang lebih dalam dari biasanya. “Makanya aku mikir… beberapa hal layak diperjuangkan, bukan karena tanahnya, tapi karena orang yang ada di atasnya.”

Alya menelan ludah. “Bayu…”

Bayu menghela napas, seolah sadar ia hampir melangkah terlalu jauh. “Maaf. Aku cuma… ngomong apa yang kepikiran.”

Alya tersenyum kecil. “Nggak apa-apa. Aku senang kamu ngomong.”

Mereka kembali diam. Tapi diam kali ini bukan jarak, melainkan ruang aman. Sesuatu di antara mereka semakin jelas, meski belum diberi nama.

Saat matahari mulai meninggi, Bayu berkata pelan, “Nanti sore, kalau kamu nggak capek… aku mau ajak kamu ke tempat yang jarang aku datangi sama orang.”

Alya menatapnya. “Tempat apa?”

Bayu tersenyum samar. “Tempat aku biasa mikir, kalau lagi nggak tahu harus ke mana.”

Alya mengangguk perlahan. “Aku ikut.”

Dan di antara ladang yang masih menyimpan masalah, dua hati itu mulai berjalan ke arah yang sama tanpa janji, tanpa kata cinta, tapi dengan keberanian kecil untuk tidak lagi menjauh.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sore itu, langit Banyuwangi berwarna pucat keemasan. Matahari tidak lagi menyengat, hanya menggantung rendah, memberi cahaya yang lembut pada pematang dan sawah yang mulai mengering. Bayu mengajak Alya berjalan menyusuri jalan setapak kecil di belakang ladang, jalan yang jarang dilewati orang karena berujung pada tanah kosong dan sebuah gubuk tua.

“Aku jarang ke sini sama siapa pun,” kata Bayu sambil berjalan di depan. “Biasanya kalau lagi pengin diam.”

Alya mengangguk, memperlambat langkahnya. Tempat itu sunyi, hanya suara angin yang menyisir daun padi dan serangga sore yang mulai berbunyi.

Mereka berhenti di sebuah tanah lapang kecil, sedikit lebih tinggi dari sawah sekitarnya. Dari sana, hamparan hijau terlihat luas, diselingi genangan air yang memantulkan langit sore. Bayu duduk di balok kayu tua, Alya ikut duduk di sebelahnya, menyisakan jarak tipis—tidak terlalu dekat, tidak juga jauh.

Beberapa saat mereka hanya diam.

“Dulu,” Bayu memulai, suaranya pelan, “aku datang ke Banyuwangi bukan buat mulai hidup baru.”

Alya menoleh, mendengarkan.

“Aku cuma pengin hilang,” lanjutnya. “Nggak ada yang kenal. Nggak ada yang nanya siapa aku, dari mana, atau kenapa aku berhenti di tengah jalan.”

Alya menahan napas. Ia tidak menyela.

“Aku pikir, kalau aku hidup sendiri, semua jadi lebih gampang. Nggak ada yang bisa nyakitin, nggak ada yang perlu dijaga,” Bayu tersenyum miring. “Ternyata hidup juga tetap ribut, cuma suaranya beda.”

Alya menatap ke depan. “Kadang diam itu bukan karena kuat. Tapi karena capek.”

Bayu menoleh padanya. “Kamu ngerti itu.”

Alya mengangguk pelan. “Aku juga pernah mikir begitu.”

Angin berembus lebih kencang. Bayu menggeser duduknya sedikit, tanpa sadar jarak mereka semakin dekat. Bahu mereka hampir bersentuhan.

“Alya,” panggil Bayu, kali ini lebih hati-hati.

“Iya.”

“Aku nggak tahu kapan tepatnya,” katanya pelan, “tapi sejak kamu datang… tempat ini nggak lagi cuma tempat aku sembunyi.”

Alya menatap tangannya sendiri. Jantungnya berdetak lebih cepat, tapi ia memaksa diri tetap tenang.

“Awalnya aku pikir cuma karena ada teman kerja, ada orang buat diajak makan,” Bayu melanjutkan. “Tapi lama-lama aku sadar, aku mulai mikir: kamu lagi capek apa nggak, kamu sudah makan atau belum, kamu takut apa hari ini.”

Ia berhenti. Menelan ludah.

“Aku bukan orang yang gampang ngomong soal perasaan,” katanya lirih. “Dan aku takut kalau aku bilang terlalu banyak, semuanya jadi rusak.”

Alya akhirnya menoleh. “Rusak kenapa?”

Bayu tersenyum tipis, ada getir di sana. “Karena kalau aku jujur, aku nggak bisa pura-pura biasa lagi.”

Kalimat itu menggantung di udara sore. Alya merasa dadanya menghangat, sekaligus sesak. Ia ingin Bayu melanjutkan, tapi juga takut jika kata berikutnya terlalu berat.

“Kamu nggak perlu bilang apa-apa sekarang,” ujar Alya pelan, seolah membaca kebimbangannya. “Aku juga belum tahu harus jawab apa.”

Bayu menghela napas, lega dan kecewa sekaligus. “Makasih… karena nggak maksa.”

Mereka kembali diam. Tapi kali ini, diam itu penuh. Matahari perlahan tenggelam, meninggalkan garis jingga di ujung sawah.

Sebelum berdiri, Bayu berkata pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri, “Kalau suatu hari nanti aku cukup berani… aku pengin bilang semuanya tanpa harus takut kehilangan.”

Alya menatapnya. “Kalau hari itu datang,” katanya lembut, “aku pengin dengar, bukan buat lari.”

Bayu tersenyum. Bukan senyum lebar, tapi senyum yang jujur, seolah beban di dadanya sedikit terangkat.

Mereka berdiri berdampingan, menatap senja yang hampir habis. Tidak ada pengakuan. Tidak ada janji. Tapi di tempat itu, sesuatu telah disepakati dalam diam: perasaan ini nyata, dan untuk sementara, cukup dijaga.

Dan tanah lapang kecil itu, yang dulu hanya menjadi saksi seseorang yang bersembunyi, kini menyimpan rahasia dua hati yang perlahan saling mendekat.

Bersambung…

1
Dew666
💐💐💐💐💐
Dew666
💜💜💜💜💜
Dew666
🏆🏆🏆🏆🏆
ari sachio
makin penasaran dg bayu
PanggilsajaKanjengRatu: Halo kak, kalo berkenan yuk mampi juga ke cerita ku, judulnya “Cinta Yang Tergadai ”🙏
total 1 replies
Wanita Aries
wah bayu sama alya sama2 trluka berrti bsa saling menyembuhkan
ari sachio
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Wanita Aries
semangat trus alya menuju sukses
Wanita Aries
kl sudah tiada baru terasaaa
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
Wanita Aries
penasaran ma khidupan bayu
Sartini 02
ditunggu updatenya kak...😍
Wanita Aries
halimah kocak😁
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
Wanita Aries
sabar yaa al smua akan indah pada wktnya
Dew666
🍎👑
Wanita Aries
kabar keluarga alya gmn thor masa gk nyariin
Ayumarhumah: sabar Kakak ....
total 1 replies
Wanita Aries
wahh apa bayu jodoh alya.

thor novelnya jgn trllu kaku dong
Ayumarhumah: owalah iya kak makasih sarannya
total 3 replies
Wiwik Susilowati
biasa baca bahasa jawa halus tiba2 ada bahasa jawa yg lain msh bingung ngartiinny...lanjut thor💪💪
Ayumarhumah: iya kak, ini bahasa Osing khasnya Banyuwangi. he he
total 1 replies
Dew666
💜💜💜💜💜
Wanita Aries
lanjut thor
Ayumarhumah: OK kakak ...
total 2 replies
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!