NovelToon NovelToon
Ayo Bercerai, Mas!

Ayo Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."

Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Mansion Darwin, Medan. Pukul 21.00 WIB.

Malam di Kota Medan tidak pernah benar-benar sunyi, namun di balik gerbang besi tinggi Mansion Darwin, segalanya seolah membeku. Kediaman mewah yang berdiri megah di kawasan elit itu tampak seperti istana kristal—indah dipandang dari luar, namun dingin dan rapuh di dalam.

Sava berdiri di balkon kamarnya di lantai dua. Angin malam yang berhembus cukup kencang memainkan helai rambut brunette curly-nya yang tergerai bebas. Ia telah menanggalkan topeng "Miss Sava" yang kaku. Syal sutra biru yang tadi sore menutupi lehernya kini tergeletak tak berdaya di lantai kamar, menyingkap jejak-jejak kemerahan yang masih berdenyut di kulit putihnya—tanda klaim dari Garvi yang masih terasa panas.

Sava mengenakan piyama sutra tipis berwarna hitam. Kain halus itu jatuh mengikuti lekuk tubuhnya yang body goals, memberikan kesan sensual sekaligus rapuh. Di tangannya, segelas red wine ia genggam erat, namun tak sedikit pun ia sesap. Matanya tertuju pada gemerlap lampu kota Medan di kejauhan, namun pikirannya mengembara jauh melintasi peristiwa hari ini.

"Arkan..." bisiknya lirih.

Nama itu terasa seperti oase di tengah padang pasir. Pertemuan singkat di Le Jardin tadi siang membangkitkan kenangan masa SMA yang terkubur dalam. Arkan adalah representasi dari hidup yang tenang, tulus, dan penuh rasa hormat—hal yang tidak pernah ia dapatkan dari pria yang kini berstatus suaminya.

Lalu bayangan Garvi muncul, merusak segalanya. Pria itu, dengan ketampanan bak dewa Yunani dan sikap manipulatifnya, telah mengubah hari ini menjadi neraka yang dibalut gairah. Kemarahan Garvi di ruang pribadi kantor, kebrutalannya di atas ranjang yang membuat tubuh Sava lemas, hingga perdebatan sengit di ruang konferensi di mana mereka harus saling menyerang demi profesionalisme.

Sava menghela napas panjang, kepalanya terasa berat. "Sampai kapan kita harus bermain sandiwara seperti ini, Garvi?"

Setelah rapat sore tadi, Garvi pergi bersama Roy. Katanya ada "urusan pekerjaan" yang mendesak dengan beberapa investor dari Jakarta. Sava tidak bertanya lebih lanjut. Bertanya hanya akan memberikan celah bagi Garvi untuk melontarkan sindiran tajam lainnya. Maka, Sava memilih pulang ke rumah, mencari ketenangan yang ternyata juga tidak ia temukan di sini.

Ting!

Suara notifikasi ponsel yang terletak di meja balkon memecah keheningan. Sava sempat ragu untuk meraihnya. Di jam seperti ini, biasanya hanya ada dua kemungkinan: pesan mendesak dari Winata soal pekerjaan, atau... "sampah" rutin yang selalu merusak suasana hatinya.

Sava mengambil ponsel itu. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.

Nomor Tak Dikenal: "Hai, tampan. Aku masih terbayang-bayang wangi parfummu malam ini. Terima kasih ya sudah menemaniku dan memberiku malam yang sangat berkesan. Kamu benar-benar luar biasa, Garvi. Jangan lupa hubungi aku lagi, ya? Cium sayang."

Tangan Sava bergetar. Bukan karena sedih, melainkan karena kemarahan yang meluap hingga ke ubun-ubun. Pesan itu jelas bukan untuknya, tapi dikirim ke nomor pribadinya.

Ini bukan pertama kalinya. Dan Sava tahu persis alasannya. Setiap kali Garvi bertemu dengan wanita di bar, klub, atau pertemuan bisnis informal, ia tidak pernah memberikan nomor ponselnya sendiri. Garvi akan memberikan nomor ponsel Sava dengan dalih itu adalah nomor pribadinya.

"Lagi-lagi..." gumam Sava dengan suara parau. Ia mencengkeram ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih.

Kenapa Garvi melakukan itu?

Sava sudah ribuan kali menanyakan hal itu pada Garvi, dan jawaban pria itu selalu sama: "Agar aku tidak perlu repot memblokir mereka, Ave. Kamu kan asisten terbaikku, urus saja sampah-sampah itu."

Tapi Sava tahu ada alasan yang lebih kejam di balik itu. Garvi ingin Sava melihat setiap jengkal "petualangannya". Garvi ingin Sava tahu bahwa meski dia adalah istri sah, di luar sana ada banyak wanita yang memuja Garvi. Itu adalah bentuk teror psikologis untuk membuat Sava merasa kecil, merasa bahwa dia bisa digantikan kapan saja, meski di saat yang sama Garvi mengurungnya dengan posesifitas yang gila.

Sava menatap layar ponselnya lagi. Foto profil pengirim pesan itu adalah seorang wanita muda yang cantik, mungkin baru berusia awal 20-an, mengenakan pakaian minim dengan pose menggoda.

"Terima kasih sudah menemaniku malam ini..."

Kata-kata itu terngiang di kepala Sava. Jadi, "urusan pekerjaan" yang dikatakan Garvi bersama Roy tadi sore adalah ini? Menemani wanita lain di saat dia baru saja meninggalkan tanda kepemilikan di tubuh istrinya?

"Kamu benar-benar bajingan, Garvi," sentak Sava. Ia melempar ponselnya ke atas ranjang dengan kasar.

Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga. Ia merasa begitu muak. Muak dengan kemewahan mansion ini yang terasa seperti penjara berlapis emas. Muak dengan perhiasan 30 miliar yang ditawarkan sebagai sogokan. Dan muak dengan dirinya sendiri yang masih saja merasa sakit hati setelah empat tahun disakiti dengan cara yang sama.

Sava kembali menatap ke arah luar. Di bawah sana, di halaman mansion, ia melihat lampu sorot mobil memasuki gerbang. Ferrari hitam milik Garvi telah kembali.

Dada Sava bergemuruh. Rasa dingin dan marah menyatu. Ia tidak ingin menangis di depan pria itu. Ia harus kembali menjadi Alsava yang tegas, COO yang tak tersentuh. Namun, tanda di lehernya dan pesan di ponselnya adalah bukti nyata betapa hancurnya dia di bawah kendali Garvi.

Suara langkah kaki yang mantap terdengar di koridor. Begitu berwibawa, begitu penuh percaya diri. Pintu kamar terbuka tanpa ketukan.

Garvi Darwin masuk dengan jas yang sudah tersampir di lengannya. Kemeja putihnya sedikit terbuka di bagian kerah, dan aroma alkohol serta parfum wanita asing—yang sangat mirip dengan deskripsi pesan tadi—tercium samar saat pria itu melangkah mendekat.

Garvi berhenti di ambang pintu balkon, menatap punggung Sava yang tegak namun tampak rapuh di bawah sinar bulan.

"Belum tidur, Ave?" tanya Garvi dengan suara baritonnya yang tenang, seolah tidak terjadi apa pun.

Sava tidak berbalik. Ia mengeratkan jubah piyamanya. "Bagaimana aku bisa tidur kalau ponselku terus berdering karena 'sampah' yang kamu kirim, Mas?"

Garvi terkekeh, suara tawa yang sangat ia benci karena terdengar begitu meremehkan. Garvi berjalan mendekat, berdiri tepat di belakang Sava, hingga Sava bisa merasakan hawa panas dari tubuh suaminya itu.

"Oh, jadi dia sudah mengirim pesan? Cepat sekali," ucap Garvi tanpa beban. Ia meletakkan tangannya di pinggang Sava, menarik tubuh wanita itu untuk bersandar pada dadanya.

Sava menyentak tangan Garvi, namun pria itu justru mempererat pelukannya.

"Lepas, Mas! Kamu bau parfum wanita lain. Itu menjijikkan!" bentak Sava, akhirnya ia berbalik dan mendorong dada Garvi.

Garvi hanya menaikkan sebelah alisnya, wajahnya yang rupawan bak dewa Yunani itu tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun.

"Hanya parfum, Ave. Kamu tahu sendiri bagaimana dunia bisnis. Terkadang aku harus bersikap ramah pada mereka untuk melancarkan kesepakatan."

"Bersikap ramah sampai memberikan nomor ponselku sebagai nomor pribadimu? Bersikap ramah sampai dia berterima kasih karena kamu sudah 'menemaninya' malam ini?!" suara Sava naik satu oktav.

Garvi menyeringai, ia menyentuh dagu Sava, memaksa istrinya itu menatap matanya yang gelap dan manipulatif.

"Aku memberikan nomormu agar mereka tahu siapa yang harus mereka hadapi jika mereka mulai berani bermimpi memilikiku. Aku ingin mereka tahu bahwa 'pemilik' asliku adalah wanita galak sepertimu."

"Bohong! Kamu hanya ingin menyakitiku, Mas!"

"Kalau aku ingin menyakitimu, aku tidak akan pulang ke sini, Ave," bisik Garvi, ia mendekatkan wajahnya, menghirup aroma rambut Sava. "Aku pulang karena meski di luar sana ada ribuan wanita yang memujaku, hanya kamu yang punya tanda dariku di leher ini."

Sava terdiam, bibirnya bergetar. Kata-kata Garvi selalu seperti racun yang manis—menyakitkan namun memabukkan. Inilah sisi Casanova Garvi; ia tahu bagaimana cara membalikkan keadaan, bagaimana cara membuat korbannya merasa istimewa di tengah pengkhianatan.

"Ayo bercerai, Mas. Aku sudah benar-benar lelah," ucap Sava lirih, air matanya jatuh mengenai tangan Garvi.

Rahang Garvi mengeras seketika. Sorot matanya yang tadi menggoda berubah menjadi dingin dan tajam. Posesifitasnya kembali mengambil alih. Ia mencengkeram bahu Sava dengan cukup kuat.

"Sudah kukatakan tadi di kantor, Ave. Jangan pernah sebut kata itu lagi," desis Garvi. "Kamu bisa membenciku, kamu bisa memaki semua wanita yang mengirim pesan itu, tapi kamu tidak akan pernah pergi dariku. Kita akan tetap seperti ini sampai salah satu dari kita berhenti bernapas."

Garvi kemudian menarik Sava masuk ke dalam kamar, membanting pintu balkon, dan mengunci dunianya sekali lagi dalam kemegahan yang menyesakkan. Malam itu, di Mansion Darwin, tangisan Sava kembali tenggelam di balik tembok-tembok marmer yang bisu, sementara Garvi tetap menjadi penguasa tunggal atas raga dan jiwa wanita yang ia klaim sebagai miliknya.

***

1
Umi Kolifah
kamu hebat Sava, semoga garvi sadar perbuatannya menyakitimu sebelum penyesalan datang terlambat
Desi Santiani
semangat thor💪
Desi Santiani
semangat miss sava, semoga gravi segera siuman n dya bisa menunjukan cara mencintaimu dgn lebih nyata
Desi Santiani
semangat thor😍
Desi Santiani
selalu suka dgn karya2nya thor, krna alur cerita nya dkemas apik, tokoh karakter ddlm cerita sgt jelas per partnya, bahasa penulisannya selalu apik.
Desi Santiani
seru thor double up,
Nda
penasaran thor,di tunggu kelanjutanya
Nda
di tunggu double up-nya thor
Murnia Nia
lanjut thor aku kirim vote ni untuk karyamu
Umi Kolifah
buat gavi menyesal Thor , ave pergi sejauh mungkin
Desi Santiani
menarikk alurnya semangat thor
merry
cinta tp menlukai psagann y,,
Nda
selalu mampir thor
Nda
ditunggu double up-nya thor 😍
Nda
ditunggu kelanjutanya thor,ceritanya seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!