Dewasa🌶🌶🌶
"Apa? Pacaran sama Om? Nggak mau, ah! Aku sukanya sama anak Om, bukan bapaknya!"
—Violet Diyanara Shantika—
"Kalau kamu pacaran sama saya, kamu bakalan bisa dapetin anak saya juga, plus semua harta yang saya miliki,"
—William Alexander Grayson—
*
*
Niat hati kasih air jampi-jampi biar anaknya kepelet, eh malah bapaknya yang mepet!
Begitulah nasib Violet, mahasiswi yang jatuh cinta diam-diam pada Evander William Grayson, sang kakak tingkat ganteng nan populer. Setelah bertahun-tahun cintanya tak berbalas, Violet memutuskan mengambil jalan pintas, yaitu dengan membeli air jampi-jampi dari internet!
Sialnya, bukan Evan yang meminum air itu, melainkan malah bapaknya, William, si duda hot yang kaya raya!
Kini William tak hanya tergila-gila pada Violet, tapi juga ngotot menjadikannya pacar!
Violet pun dihadapkan dengan dua pilihan: Tetap berusaha mengejar cinta Evan, atau menyerah pada pesona sang duda hot?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA ADACHI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Makan Bersama Ayah dan Anak
Di dalam restoran, Violet sibuk bercermin, memperbaiki riasannya meski makanan sudah tersaji di atas meja. William hanya bisa menghela napas melihat tingkahnya. Evan belum datang karena masih ada kelas, jadi mereka harus menunggu sebentar.
"Udahlah, Purple... Nggak usah ngaca terus. Wajahmu nggak akan tiba-tiba berubah jadi Demi Moore," ujar William, nada suaranya sedikit kesal. Sejak tadi violet hanya sibuk berdandan tanpa memperhatikan dirinya sama sekali.
Violet mendesah tanpa menoleh. "Demi Moore siapa sih, Om?"
William menatapnya dengan heran. "Kamu nggak kenal demi Moore? Dia aktris Hollywood tercantik di masanya!"
Violet mengerutkan dahi, berpikir sejenak, lalu menggeleng. "Aku aja baru denger namanya. Emang dia terkenal tahun berapa?"
"Hmm, sekitar 90-an?" William menyipitkan mata.
Violet langsung mendengus dan memutar bola matanya. "Yaelah, Om. Tahun segitu aku aja belum lahir!"
William terdiam, lalu tertawa kecil. "Oh iya ya... Bener juga."
Violet menghela napas panjang dan kembali fokus pada makeup-nya. William masih ingin mengomentari, tapi saat itu juga pintu ruangan VIP terbuka. Evan masuk dengan langkah tergesa.
"Sorry, Pa. Tadi macet di jalan," katanya sambil menarik kursi.
Violet yang sedang memegang pensil alis langsung mendongak. Begitu matanya menangkap sosok Evan, ia refleks membeku. Jantungnya berdegup kencang dan tanpa sadar mulutnya terbuka.
"Loh, Violet kan? Kamu kok bisa ada di sini?" tanya Evan sambil menunjuk Violet.
Violet tergagap. Dengan panik, ia buru-buru memasukkan semua alat makeup-nya ke dalam tas.
Astaga violet! Kenapa kamu malah mempermalukan diri kamu sendiri di depan kak Evan, sih?!
"Eh, h-hai Kak," Sapa Violet dengan suara dibuat semanis mungkin. William melirik ke arahnya dengan tatapan tak percaya. Sejak kapan gadis itu bisa bicara dengan begitu lembut?
"Wah, Papa yang undang Violet ke sini?" tanya Evan pada William.
William tergagap. "Ah iya, Papa cuma..." William diam sebentar untuk memikirkan jawaban yang tepat. "Mau berterimakasih sama dia karena waktu itu dia sudah menolong Papa,"
Menolong apanya? Jelas-jelas malah dia yang bikin aku masuk rumah sakit! gerutu William dalam hati.
"Oh gitu... Wah, aku nggak nyangka Papa ternyata seberterima kasih itu. Padahal, aku sempat kepikiran buat ajak Violet makan malam juga, tapi belum sempat."
"Oh ya?" Mata Violet berbinar penuh harapan.
"Iya, cuma aku ada sedikit kesibukan di kampus, dan aku takut itu akan mengganggu kamu nanti,"
"Nggak sama sekali kak!" Violet menggelengkan kepalanya cepat. "Aku nggak merasa terganggu kok!"
"Cih," William yang melihat itu langsung mendengus. Kenapa rasanya jadi kesal ya?
"Kenapa, Pa?" Evan melirik ayahnya.
"Nggak apa-apa," kata William santai. "Cuma, kalian berdua ini mau ngobrol terus sampai nunggu makanannya dingin apa gimana?"
"Astaga! Aku sampai lupa kalau kita ada di restoran! Violet, silakan makan," kata Evan ramah.
"Iya, Kak," jawab Violet sambil tersenyum malu. Lagi-lagi William hanya bisa mengerutkan dahi melihat perubahan sikap gadis itu.
Mereka mulai makan, tapi Violet masih mencuri-curi pandang ke arah Evan. William memperhatikan itu dengan kesal. Sementara itu, Evan tetap santai, tidak menyadari ada yang aneh.
"Violet, kamu suka coklat atau keju?" tanya Evan saat dessert tiba.
"Coklat, Kak."
Evan tersenyum. "Berarti ini buat kamu." Ia menyerahkan parfait coklat pada Violet.
Violet menerimanya dengan senang hati. "Makasih, Kak!" Dengan semangat, ia menyuapkan sesendok ke mulutnya. Matanya lalu terlihat berbinar. "Hm, enak banget!"
"Iya kan? Ini dessert favoritku di sini," ujar Evan bangga.
"Oh ya? Makasih ya Kak karena sudah merekomendasikannya ke aku."
"Sama-sama, Violet."
"Cih, padahal yang bayar makannya aku, kenapa terima kasihnya ke dia?" gerutu William pelan.
Evan menoleh. "Apa, Pa?"
William terbelalak, tidak menyangka gumamannya terdengar oleh Evan. "Nggak apa-apa. Makanannya enak."
Evan dan Violet kembali asyik mengobrol, membuat William semakin kesal. Astaga, apa sih yang aku lakukan di sini? Kok aku malah serasa kayak obat nyamuk di antara mereka berdua ya?
"Jadi, Kak Evan ikut band di kampus?" tanya Violet antusias saat Evan bercerita padanya, meski sebenarnya dia sudah tahu. "Keren banget Kak! Dari dulu aku selalu kagum loh sama orang-orang yang bisa nyanyi sama main alat musik!"
"Benarkah? Wah, aku terharu banget kalau kamu bilang begitu. Soalnya, ada orang yang bilang ngeband itu buang-buang waktu," Kata Evan sambil melirik ke William.
Violet langsung melayangkan tatapan tajam ke William, dan William langsung membela diri. "Apa? Kenapa? Memangnya salah kalau Papa melarang kamu main karena memang membuang-buang waktu? Gara-gara itu kan kamu jadi nggak fokus belajar dan nilai kamu anjlok,"
"Tapi kan itu passion Om," Violet menyeletuk. "Nggak semua orang punya bakat di bidang musik loh, Seharusnya Om bangga punya anak berbakat kayak Kak Evan!"
William dan Evan sama-sama terperangah mendengar ucapan Violet. Evan terperangah karena heran Violet berani sekali dengan papanya yang terkenal galak dan dingin, sementara William terperangah karena tak percaya Violet akan mengomelinya di depan anaknya sendiri.
Violet tak mempedulikan tatapan mereka dan menatap Evan sambil tersenyum. "Nggak papa kak. Walaupun semua orang di dunia ini melarang Kakak, aku akan tetap mendukung Kakak. Kak Evan lanjutkan saja apa yang Kakak suka,"
Evan terdiam sejenak, terpana. Lalu beberapa saat kemudian ia tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun, kamu lucu banget sih, Violet!"
Violet langsung tersipu mendengarnya.
"Aku hanya mendukung seseorang yang punya passion kok Kak," jawab Violet malu-malu.
"Terimakasih ya, aku menghargainya," Kata Evan sambil mengusap-usap kepala gadis itu.
Violet langsung mematung. Otaknya serasa berhenti bekerja.
Apa ini? Kak Evan pegang kepalaku? Aaaaaaaa! Oh my god! Mimpi apa aku semalem? Rasanya aku bisa mati dengan tenang sekarang! Di dalam hati, violet sudah berteriak-teriak heboh.
Sementara itu, William langsung melotot kesal. Tanpa sadar, ia menggebrak meja. Brak!
Violet dan Evan tersentak kaget dan sontak menatap ke arah William. William menelan ludah gugup, karena sekarang dia bingung mau beralasan apa.
"Anu, itu, tadi ada nyamuk," Katanya asal. Evan hanya bisa mengernyitkan dahi dan Violet langsung mendelik kesal.
Dasar om om nyebelin! Ganggu kesenangan orang aja!
Di saat itu, ponsel Evan berdering. Ia mengangkatnya. "Halo, sayang? Oh, aku lagi makan sama Papa. Astaga, kamu belum makan? Maaf ya. Aku jemput sekarang. Mau makan di restoran Jepang atau Prancis?"
Evan bangkit, memberi kode pada Violet dan William sebelum buru-buru pergi.
Violet hanya bisa menatap kepergiannya dengan wajah kecewa.
William yang menyadari itu menyeringai jahil. "Yah, gimana dong? Kayanya Evan udah punya pacar tuh. Kamu nggak mau nyerah aja?"
Violet melirik tajam. "Aku udah tau kok kalau kak Evan punya pacar Om. Orang tiap hari aku liat mereka pacaran di kampus,"
"Hah?" William terbelalak kaget. "Jadi kamu udah tahu? Terus kenapa masih ngejar dia?!"
"Om, ada satu pepatah lama yang aku pegang sampai sekarang," Kata violet dengan nada serius, membuat William sampai memajukan tubuhnya karena penasaran lanjutan ucapan gadis itu.
"Selagi janur kuning belum melengkung, berarti dia masih bisa kita tikung!" ujar Violet mantap.
William langsung menepuk jidat. "Astaga..."
Sebelumnya, author mau ngucapin selamat menunaikan ibadah puasa bagi para pembaca yang muslim 🥰🙏
Terus.. untuk menjaga kekhusyukan para pembaca dalam beribadah, mulai besok bab selanjutnya akan update setelah buka puasa. Jadi tenang aja, meskipun ada adegan plus plusnya, ga akan bikin batal 🤭
Terimakasih atas perhatian nya...
Dukung terus karya ini dengan kasih like, komen, gift, subscribe, dan lain-lain.
Terimakasih! ❤