Karya sudah Tamat.
Ini tentang Seorang yang begitu setia dalam menjalin hubungan, hingga mendapat sebuah penghianatan yang akhirnya merubah cara pandang hidupnya mengenai seorang perempuan di dunia ini.
"Langit tidak akan menikah seumur hidup! Perempuan tidak ada yang setia kecuali Bunda dan Nenek!"
Yah itulah Langit putra Pratama seorang pemuda tampan yang sangat setia pada kekasihnya, namun karena penghianatan dia tidak percaya sama sekali dengan wanita kecuali Bundanya dan Neneknya.
Hingga suatu saat di sebuah Rumah sakit dia bertemu Mentari, Dokter Cantik bersahaja yang merawat Bundanya. Mengubah Kehidupannya dalam sekejap.
Mampukah Mentari mencairkan bekunya kutub Utara pada Hati Langit???
Bisakah Langit mempercayai cinta dan jatuh cinta sekali lagi???
Bagaimana kah kisah cinta diantara mereka???
Yuk lanjut baca sampai selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shakila kanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bumbu rumah tangga
Jam dinding di tembok berdenting menunjukan pukul 12 malam, hanya ada suara katak di luar karena hujan baru saja mengguyur hampir separuh kota malam ini.
Di kediaman Langit sudah tidak ada lagi aktivitas dari manusia, semua tengah bermimpi di dalam tidur malamnya. Namun di salah satu kamar masih ada dua insan yang belum memejamkan mata, sejak hujan mengguyur tadi.
Langit masih berpeluh begitu juga dengan Mentari keduanya masih mengatur nafas setelah aktivitas yang mereka kerjakan. Langit tersenyum memandang Mentari yang masih berkeringat dengan beberapa helai rambut menempel di wajahnya.
"Terimakasih ya Sayang..."Kata Langit memeluk Mentari dalam dekapannya.
Mentari hanya tersenyum sambil mengangguk lalu merasakan debaran jantung dari dadanya dan suaminya. Langit mengecup kepala Mentari berulang-ulang merasa begitu sempurna hidupnya telah memiliki istri seperti Mentari.
"Sayang, Maaf ya, besok pagi Mas tinggal beberapa hari ke Jakarta, kerumah Nenek sama Kakek, ada urusan kantor cabang yang di sana paling 2 mingguan sayang." Kata Langit.
Mentari terkejut mendengar apa yang Langit katakan, lalu memandang Langit sendu, merasa sedih bila harus berpisah belum juga ada 1 Minggu mereka tinggal bersama di rumah.
"Ada Bunda sama Ayah di rumah sayang, Cahaya juga besok di rumah, dia udah libur semester."Jelas Langit.
Mentari masih diam, Dia masih belum menjawab, tapi di matanya sudah menunjukkan tidak rela juga kesedihan. Mentari tidak mau menjawab masih setia dengan diamnya justru memejamkan matanya, menahan diri untuk tidak merajuk seperti anak kecil.
"Sayang... kok diem aja sih?" Langit bingung melihat respont Mentari.
"Iya Mas silahkan..." Sahut Mentari masih memejamkan matanya, suaranya sedikit bergetar, mungkin bila dia membuka matanya sudah ada kaca-kaca di sana.
Jujur Mentari masih merasa asing di rumah ini, memang benar dia dekat dengan orang tua Langit namun kedua orang tua Langit orang yang sibuk, banyak pekerjaan sementara Cahaya dia tidak terlalu dekat, karena anaknya juga jarang tinggal di rumah sering pergi kegiatan kampus atau kadang ikut Bunda Kharisma membantu di restorannya.
Langit Memandang mata Mentari yang terus terpejam namun ada air di sudut matanya. "Sayang kamu nangis?"Tanya Langit khawatir.
Mentari menggeleng lalu merapatkan wajahnya ke dada polos Langit yang masih berkeringat. Langit tau Mentari berbohong padanya, Langit yakin Mentari menangis. Langit menarik nafas lalu mengurai pelukan Mentari dan menyatukan keningnya pada kening Mentari.
"Sayang maunya gimana? Ikut ke Jakarta? tapi jauh loh, nanti kamu capek, di sana juga bakal mas tinggal-tinggal terus ke kantor. Mas ndak mau kalau kamu justru tambah kesepian." Terang Langit.
"Mas Janji kalau udah kelar mas cepet pulang deh, Ok? " Bujuk Langit lagi.
Mentari memikirkan semua perkataan Langit barusan, memang ada benarnya, namun entah tetap ada rasa tidak rela dari hatinya kalau Langit ke Jakarta.
"Sayang..." Panggil Langit sambil .memandangi Mentari yang masih terdiam.
"Ya udah, Mentari pulang ke rumah Umi Abi dulu aja Mas..." Putus Mentari.
"Kok gitu ?" Langit terkejut takut Mentari ngambek.
"Mentari Kangen sama Umi Abi..." Kata Mentari, barang kali dengan bareng Umi Abi dia tidak akan merasa sedih atau kesepian.
"Nanti Abi mikir yang macem-macem gimana?" Tanya Langit takut Abi Rizki berpikir yang tidak-tidak.
"Abi orang yang bijak kok." Jawab Mentari lalu duduk dan mengambil piyamanya untuk di pakai dan berlalu masuk ke kamar mandi.
Langit mengambil nafas dan membuangnya, ternyata sulit juga mengambil hati perempuan yang sudah sedih atau merajuk. Baru aja senang-senang sekarang udah bersedih-sedih aja batin Langit mengusap wajahnya.
Langit bangkit dan meraih pakaiannya, lalu berjalan menuju ruang ganti untuk menyiapkan semua keperluan selama 2 Minggu di jakarta.
Sambil menyiapkan Langit berpikir, apakah ini yang namanya bumbu-bumbu rumah tangga baru, terkadang ada hal-hal sederhana yang menjadikan sedikit masalah atau perbedaan yang menjadikan berbagai rasa di rumah tangga, seperti apa yang barusan dialaminya.
semangat nulis ya...