"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Janji Manis di Balik Masker Bedah
Tulisan di telapak tangan Adrian itu berisi sebuah janji manis yang akan membuat sang dokter tidak bisa tidur dengan tenang sepanjang malam karena terus memikirkan langkah selanjutnya dari sang gadis kompor. Lala menuliskan kalimat bahwa dia akan berhenti mengganggu Adrian jika sang dokter mampu menatap matanya selama satu menit penuh tanpa berkedip di ruang operasi besok. Adrian menatap telapak tangannya dengan sisa kemarahan yang kini bercampur dengan rasa penasaran yang sangat tidak logis bagi seorang pria dewasa.
"Anak ini benar benar mengira hidup saya adalah panggung pertunjukan drama sekolah menengah," gerutu Adrian sambil mencoba menggosok tulisan itu dengan tisu basah.
Keesokan paginya, suasana ruang persiapan operasi sangat sibuk dan penuh dengan aroma cairan pembunuh kuman yang menyengat saraf penciuman. Adrian sedang mencuci tangannya hingga siku saat ia melihat bayangan seseorang yang sangat familiar dari pantulan kaca lemari peralatan medis. Di sana berdiri seorang asisten pembantu baru yang mengenakan penutup kepala dan masker bedah yang menutupi hampir seluruh wajahnya kecuali sepasang mata bulat.
"Siapa yang mengizinkan orang luar masuk ke area steril ini tanpa prosedur yang jelas?" tanya Adrian dengan suara yang teredam masker hijaunya.
"Saya adalah relawan pembawa keberuntungan yang sudah mendapat restu dari kepala perawat, Dokter Adrian," jawab sosok itu dengan suara yang sangat dikenal.
Adrian hampir saja menjatuhkan alat penjepit medis saat menyadari bahwa sosok di balik masker itu adalah Lala yang entah bagaimana caranya bisa menyusup kembali. Gadis itu menatap Adrian dengan binar mata yang penuh dengan tantangan dan sebuah janji yang kemarin ia tulis di telapak tangan sang dokter. Ruangan yang bersuhu rendah itu mendadak terasa sangat panas bagi Adrian karena keberanian Lala yang sudah melampaui batas kewajaran manusia normal.
"Keluar sekarang atau saya sendiri yang akan menyeret kamu ke bagian keamanan rumah sakit ini!" ancam Adrian dengan mata yang melotot tajam.
"Dokter lupa dengan janji di telapak tangan Dokter kemarin? Satu menit saja, dan aku tidak akan pernah muncul lagi di depan mata Dokter," tantang Lala sambil mendekat.
Petugas medis lainnya sedang sibuk mempersiapkan pasien di meja operasi sehingga tidak ada yang memperhatikan ketegangan yang terjadi di sudut ruangan tersebut. Adrian melirik jam dinding digital yang terus berdetak menunjukkan angka tujuh pagi tepat saat operasi besar seharusnya dimulai. Ia merasa terpojok oleh harga dirinya sendiri dan keinginan untuk segera mengakhiri gangguan ugal ugalan yang dilakukan oleh Lala selama ini.
"Baik, satu menit dimulai dari sekarang, dan pastikan kamu menepati kata kata kamu setelah ini," bisik Adrian sambil berdiri tegak di hadapan Lala.
Mereka berdiri sangat dekat hingga ujung sepatu bot khusus ruang operasi mereka saling bersentuhan di atas lantai yang putih bersih. Adrian menatap tajam ke dalam manik mata Lala yang jernih dan dihiasi oleh bulu mata yang bergetar getar karena menahan napas. Detik demi detik berlalu dengan kesunyian yang sangat mencekam hingga hanya suara mesin pemantau detak jantung yang terdengar di latar belakang.
"Sepuluh detik berlalu, Dokter terlihat sangat tampan bahkan hanya dengan melihat matanya saja," puji Lala dalam hati sambil berusaha tidak berkedip.
"Jangan banyak bicara atau saya akan menambah durasinya menjadi satu jam penuh," balas Adrian melalui tatapan matanya yang mulai goyah.
Adrian menyadari bahwa mata Lala tidak menyimpan kebohongan atau kelicikan seperti yang ia duga sebelumnya melainkan sebuah ketulusan yang sangat dalam. Ada pancaran kekaguman yang begitu murni hingga membuat pertahanan mental sang dokter kulkas mulai retak perlahan lahan layaknya es yang tersiram air panas. Ia merasa detak jantungnya sendiri justru yang menjadi tidak beraturan dan lebih kencang daripada mesin pemantau di samping mereka.
"Dokter, kenapa mata Dokter mulai berkaca kaca? Apa Dokter sedang terpesona oleh kecantikanku?" tanya Lala dengan suara lirih yang terdengar menggoda.
"Ini hanya karena efek pendingin ruangan yang terlalu kering, jangan terlalu percaya diri dengan imajinasi liar kamu," sanggah Adrian sambil sekuat tenaga menahan kelopak matanya.
Tepat saat jarum jam menunjukkan menit pertama telah usai, sebuah suara pengumuman dari pengeras suara memanggil nama Dokter Adrian untuk segera memulai tindakan bedah. Adrian segera memutus kontak mata itu dengan perasaan yang sangat lega namun juga ada sedikit kekosongan yang aneh di dalam hatinya. Ia memutar tubuhnya dan berjalan menuju meja operasi tanpa berani menoleh lagi ke arah Lala yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Janji adalah janji, sekarang silakan kamu pergi dan jangan pernah kembali lagi ke sini," ucap Adrian dengan nada yang berusaha kembali dingin.
"Aku akan pergi, tapi Dokter harus tahu bahwa janji manis itu sudah berpindah ke dalam ingatan Dokter selamanya," sahut Lala sambil melepas masker bedahnya perlahan.
Lala melangkah keluar dari ruang persiapan dengan senyum kemenangan yang sangat tipis namun terlihat sangat puas dengan hasil eksperimennya hari ini. Ia meninggalkan Adrian yang kini harus berjuang keras memusatkan fokusnya pada pasien di depan mata sementara bayangan mata bulat Lala terus menghantui pikirannya. Operasi yang seharusnya berjalan rutin kini menjadi ujian konsentrasi yang paling berat bagi karir profesional sang dokter spesialis.
Satu jam kemudian, Adrian keluar dari ruang operasi dengan peluh yang membasahi dahi dan rasa lelah yang luar biasa hebat menyergap seluruh tubuhnya. Ia berjalan menuju loker pribadinya untuk mengambil air minum namun ia menemukan sebuah catatan kecil yang ditempelkan di pintu loker tersebut. Catatan itu ditulis dengan tinta merah yang sangat mencolok dan berisi sebuah pertanyaan yang membuat Adrian kembali merasakan tekanan darahnya naik seketika.
Tekanan darahnya naik seketika saat ia membaca pertanyaan di catatan itu yang menanyakan apakah Adrian sudah siap untuk melakukan konsultasi cinta di jam operasi berikutnya.