Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22 Dukungan terhadap hubungan Kael dan Adelia
"Jadi saat amnesia, cucuku bertemu dengan putrimu yang cantik ini?" tanya Oma Diana lembut setelah keadaan mulai tenang. Dia senang, Kael menemukan gadis yang sesuai dengan keinginannya.
Adelia jadi kikuk karena tatap Oma Kael yang penuh dengan harapan padanya. Sebenarnya hubungannya dengan Kael juga masih abu abu. Dia menangis dan khawatir karena shock mendengar kejadian yang menimpa Kael.
Dia jadi malu, karena kini dia merasa semua orang sudah menganggapnya sebagai kekasih Kael. Tapi mau bagaimana lagi, tangisannya spontan saja. Juga kekhawatirannya terhadap keselamatan Kael. Ditambah dengan buket mawar yang ada noda darahnya ini.
Nidya tersenyum tipis.
"Kael sudah pernah ke rumah, tante. Fathan merasa pernah melihat Kael karena wajahnya mirip dengan seseorang. Baru tadi Fathan bisa mengingat kalo wajah Kael mirip dengan wajah Agra, tante. Tapi terjadi kejadian yang sangat tidak terduga," cerita Nidya panjang lebar.
Oma Diana tersenyum maklum. Demikian Oma Hastuti. Sedangkan kedua opa manggut manggut.
"Memang aneh, ya. Aku sempat berkata pada Dewan, agar mengenalkan sepupu Rihana dari keluarga Airlangga." Jaya Pangestu tersenyum agak lega.
Dalam suasana sedih dan mengkhawatirkan, secercah berita bahagia ini cukup meredam kesedihannya.
"Aku setuju cucuku dinikahkan dengan putri kalian," sambung Adi Nugroho.
"Tapi Kael, kan, amnesia, ma, pa. Kita harus memikirkan kemungkinan terburuknya saat dia sadar setelah operasi ini berhasil," sela Wijaya Agra.
Alexander menghela nafas karena menahan kesal atas perkataan temannya yang tidak tau situasi dan kondisi saat ini.
Wajar Bang Fathan tambah tidak menyukainya.
"Kael pasti akan mengingat Adelia," kecam Oma Diana sambil melirik putranya dengan tatapan tidak suka.
"Cucuku beda dengan kamu," cela Oma Hastuti dengan tatap tajamnya pada Agra.
"Bukan begitu, ma. Aku hanya ingin meluruskan. Adelia juga belum tau, kan, kalo Kael dulu punya calon istri yang akan dia nikahi. Tapi anehnya dia tinggalkan tanpa kabar," sanggah Wijaya Agra membela diri.
Fathan, Nidya, Alexander, dan Adelia sama sekali tidak berucap apa apa.
Opa Jaya Pangestu mendengus dalam amarah yang sekuat tenaga dia tahan.
Cucunya masih belum bisa diprediksi keadaannya. Operasinya saja masih berlangsung. Sementara mantu kurang ajarnya dengan tidak ada rasa simpati malah menjelek jelekkan cucunya yang nota bene adalah putranya juga.
"Diamlah, Agra," sentak papanya-Adi Nugraha dengan lirikan kesalnya.
Wijaya Agra tidak membantah lagi. Tatapan tajam papanya, dan juga mertuanya membuat mulutnya terkunci.
Fathan menarik nafas perlahan, dalam hati bersyukur karena dia tidak perlu menyemprot Agra.
"Itu bunga dari Kael?" tanya Oma Diana dengan air mata mengalir pelan. Kata katanya menbuat tensi yang sempat memanas jadi turun perlahan.
Adelia mengangguk.
"Iya." Hatinya masih sulit menghilangkan rasa kalut dan khawatir dengan keadaan Kael.
Ingat ucapannya yang tidak ingin dikirimkan mawar berwarna kuning lagi. Kael mengabulkannya, menggantikannya dengan mawar berwarna putih.
Kata kata papanya Kael terngiang lagi. Ada ketakutan dalam hatinya. Dia belum siap kalo Kael melupakannya.
'Kael ngga mungkin melupakan kamu," sambung Oma Hastuti dengan mata yang sudah seperti telaga lagi.
"Kamu sangat.cantik," pujinya lagi sambil memegang lengan Adelia.
Adelia berusaha tetap tersenyum lembut walaupun hatinya sangat galau dan bimbang.
Opa Adi menatap Levi. Dia menepuk pelan pundak pemuda itu.
"Di jaman ini ternyata masih ada orang sebaik kamu."
"Kami berhutang budi karena kamu mau menampung Kael dengan baik. Padahal tidak tau siapa dia." Opa Jaya Pangestu tidak bisa menahan keharuannya.
"Kael pintar dan bertanggung jawab, Om. Bisnis saya banyak terbantu karena dia," ucap Levi jujur.
"Tetap saja kamu orang yang paling berjasa. Mau menolong dan peduli dengan orang yang tidak kamu kenal." Opa Adi Nugraha masih mendelikkan matanya pada putranya yang juga sedang menatapnya.
Seorang laki laki berseragam pengawal mendekati Levi . Dia membisikkan sesuatu yang membuat rahang Levi berubah mengeras.
"Maaf, saya pergi dulu. Ada yang harus saya lakukan," pamitnya sambil memberi kode pada Abiyan.
Abiyan yang melihat Adelia sudah aman bersama mami dan papinya, mengikuti langkah Levi.
"Kenapa Kael bisa kecelakaan?" Abiyan merasa heran. Menurutnya rute yang dilewati Kael biasa saja. Tapi yang dia dengar dari pengawalnya yang dia tugaskan ke sana untuk meninjau situasi, mobil Kael melaju tanpa terkendali di jalan menurun.
"Kita akan temukan jawabannya." Levi mempercepat langkahnya ke salah satu sudut parkiran yang cukup sepi.
Begitu tiba di sana, laki laki berseragam itu membuka pintu mobil yang harusnya mengawal Kael dan dirinya tadi.
Ada empat orang yang duduk di jok kursi, dalam keadaan pingsan.
Abiyan menatap Levi
"Pengawalmu?" Dia melihat lambang yang sama.di ujung krah seragam pengawal itu.
Levi mengangguk.
"Ada yang mau membunuh Kael."
Levi menerima ponsel yang diberikan pengawalnya, membuka video rekaman cctv yang berhasil pengawalnya dapatkan.
Jantung Abiyan berdetak cepat ketika ikut menyaksikan apa yang dilihat levi di layar ponselnya. Delapan laki laki bertopi dan bermasker, membekuk pengawal pengawal Levi dengan mudah.
Kemudian orang orang itu mengutak atik mobil Kael.
Setelah mobil Kael pergi, ada cairan berminyak yang tumpah di tempat parkir mobil Kael tadi.
Pengawal Levi bahkan memfotonya beberapa kali untuk memperjelas tangkapan video cctv itu.
Abiyan mengerti kini yang sudah terjadi pada Kael.
Kael sudah diincar. Tapi oleh siapa?
"Ini kriminal. Dia punya musuh?" cetus Abiyan geram.
Levi mengedikkan bahunya.
"Selama ini dia baik baik saja."
"Mungkin, ada yang sudah tau identitasnya dan ingin menyingkirkannya." Abiyan mengungkapkan dugaannya.
"Ngga ada yang mencari identitas Kael selain kita, kan?".Levi balik bertanya.
Abiyan berpikir sejenak.
"Lebih baik pengawal pengawalmu mendapatkan perawatan dokter," ucapnya.
Levi mengangguk.
"Bawa mereka ke dokter," perintahnya.
"Siap, tuan."
Abiyan kemudian membawa Levi agak menjauh dari keberadaan pengawalnya.
"Aku pernah mendengar selintingan buruk tentang keluarga Kael. Papinya selingkuh, maminya meninggal. Istri baru papinya punya anak laki laki juga yang lebih tua dari Kael," ucapnya pelan.
Levi juga pernah mendengarnya desas desus itu. Tapi tidak selengkap yang dikatakan Abiyan.
"Kabarnya Om Agra-papinya Kael lebih menyukai anak selingkuhannya dibandingkan Kael," sambung Abiyan lagi.
Dia cukup banyak tau karena papinya-Daniel, pernah menyinggung hal itu dulu di depannya. Tadi saja papinya Kael datang bersama omnya-Alexander, karena keduanya berteman cukup dekat.
"Benarkah?" Levi tercengang mendengarnya.
"Orang orang yang melakukan ini bukan orang sembarangan. Mereka terkenal dengan kerapihan dan keahliannya menutupi suatu kasus. Aku akan minta Jetro menyelidikinya," sambungnya lagi sambil memberikan pesan pada Jetro. Harusnya Malik bisa membantu, tapi laki laki yang kebucinan sama istrinya itu masih berada di. Dubai. Abiyan tidak ingin mengganggu lagi liburan keluarga kecilnya.
Saat ini Jetro dan Baim dalam perjalanan pulang ke Jakarta, karena tugas mereka untuk mengidentifikasi siapa Kael sudah selesai.
Abiyan yakin bisa cepat mengungkapkan yang terjadi pada Kael. Walaupun Malik tidak membantu mereka.
dijamin rencana nafa nggak bakal terlaksana,, apalagi kael di rawat di rs keluarga adelia
aku malahan nggak sabar menanti aksi mak tirinya kael,, biar cpt masuk penjara