NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit

Malam itu, hujan turun lebih deras dari biasanya, seolah langit sedang menumpahkan seluruh kesedihannya ke atas atap kediaman Vance yang angkuh. Di dalam rumah yang luas itu, keheningan bukan lagi sekadar ketiadaan suara, melainkan sebuah entitas yang mencekik. Alana, yang sejak pagi hanya meminum segelas air putih dan tidak menyentuh makanan apa pun, merasakan dunianya mulai berputar.

Tekanan batin yang ia pikul selama berbulan-bulan—hinaan Brixton, pengabaian yang kejam, dan rasa bersalah yang tidak seharusnya ia tanggung—akhirnya mencapai titik didih. Tubuhnya yang mungil tidak lagi sanggup menopang beban mental yang begitu berat. Saat ia mencoba berdiri dari kursi di ruang makan untuk menuju kamarnya, pandangannya menggelap. Suara hujan di luar sana tiba-tiba terdengar sangat jauh, dan lantai marmer yang dingin seolah naik untuk menjemputnya.

BRUK.

Tubuh Alana terjerembap tak berdaya di atas lantai. Suara jatuhnya tubuh itu menarik perhatian Bibi Martha yang sedang berada di dapur. Dengan langkah tergesa, pelayan tua itu berlari ke ruang makan dan menjerit tertahan saat melihat Nyonya mudanya tergeletak pucat pasi, dengan rambut merah jambunya tersebar berantakan di atas lantai seperti bunga yang layu.

"Nyonya! Nyonya Alana!" teriak Bibi Martha panik. Ia segera merogoh ponselnya dengan tangan gemetar dan menghubungi nomor Brixton.

Di sisi lain kota, di sebuah bar eksklusif yang hanya bisa diakses oleh kalangan elit, Brixton sedang duduk dikelilingi oleh gelas-gelas kristal berisi wiski mahal. Di sana ada Julian, Marcus, dan beberapa kolega bisnis lainnya. Suasana di sana penuh dengan tawa rendah dan asap cerutu yang mahal. Brixton tampak sedang berada di dunianya sendiri, mencoba menenggelamkan bayangan Alana ke dalam cairan emas di gelasnya.

Ponselnya di atas meja bergetar hebat. Nama 'Bibi Martha' muncul di layar. Brixton meliriknya dengan malas, lalu menggeser tombol hijau.

"Ada apa, Martha? Aku sedang sibuk," suaranya dingin, tidak terganggu oleh kebisingan di latar belakang.

"Tuan! Tuan Brixton, tolong pulang segera! Nyonya Alana... dia pingsan di ruang makan! Wajahnya sangat pucat dan badannya dingin sekali. Kami takut terjadi sesuatu yang buruk, Tuan!" suara Bibi Martha terdengar terisak di seberang sana.

Mata Brixton menyipit sesaat. Ada denyutan aneh di jantungnya, sebuah insting yang menyuruhnya untuk bangkit dan berlari pulang. Namun, egonya yang sudah terlanjur membatu segera mengambil kendali. Ia teringat bagaimana Alana "menjebaknya" dalam pernikahan ini. Ia menganggap pingsannya Alana hanyalah taktik lain untuk menarik perhatiannya atau sekadar drama kelelahan yang tidak perlu dilebih-lebihkan.

"Panggil saja dokter keluarga jika dia pingsan," sahut Brixton datar, suaranya terdengar sangat tenang seolah ia sedang membicarakan masalah cuaca. "Jangan ganggu aku dengan hal-hal sepele. Aku punya urusan yang jauh lebih penting di sini. Urus dia seperti biasanya."

Tanpa menunggu balasan, Brixton mematikan sambungan telepon itu. Ia meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan kasar dan meraih gelas wiskinya.

Julian, yang duduk di sampingnya, mengerutkan dahi. "Siapa itu? Ada masalah di rumah?"

"Hanya drama rumah tangga," jawab Brixton sambil meneguk wiskinya hingga tandas. "Wanita itu pingsan. Mungkin hanya kekurangan perhatian."

Julian menatap sahabatnya dengan tatapan tidak percaya. "Brixton, dia istrimu. Bagaimana bisa kau seacuh itu? Pingsan bukan hal sepele."

"Dia bukan istriku, Julian. Kau tahu itu," desis Brixton. Matanya mulai berkaca-kaca, namun bukan karena Alana, melainkan karena rasa sakit lama yang mendadak muncul kembali. "Istriku seharusnya adalah Elena. Wanita yang seharusnya menungguku di rumah dengan senyum lembutnya adalah Elena, bukan wanita berambut pink aneh yang masuk ke hidupku seperti parasit."

Mendengar nama Elena disebutkan, suasana di meja itu sedikit berubah. Mereka semua tahu seberapa besar cinta Brixton pada wanita masa lalunya itu.

"Aku merindukannya, Julian," gumam Brixton, suaranya mulai serak karena alkohol dan emosi yang tumpah. "Setiap kali aku pulang dan melihat wajah Alana, aku merasa seperti sedang dikhianati oleh takdir. Aku merindukan bagaimana Elena menatapku. Dia tidak pernah menatapku dengan mata hijau zamrud yang seolah-olah menginterogasiku seperti yang dilakukan Alana. Elena adalah rumahku, keamananku. Alana? Dia hanyalah pengingat bahwa aku adalah seorang pengecut yang gagal melindungi cintaku sendiri."

Brixton menyalakan rokoknya, menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke langit-langit bar yang gelap. "Tahu tidak apa yang paling aku benci? Kadang-kadang, di tengah malam, aku hampir lupa kalau wanita di rumah itu bukan Elena. Dan saat aku tersadar, rasa benci itu muncul kembali sepuluh kali lebih kuat. Aku benci Alana karena dia bukan Elena. Aku benci dia karena dia hidup, sementara cintaku dengan Elena harus mati."

Marcus mencoba menenangkan. "Tapi Brixton, kau tidak bisa menyalahkan Alana selamanya. Dia juga manusia."

"Dia adalah simbol kegagalanku, Marcus!" Brixton membentak, membuat beberapa orang di meja lain menoleh. "Bagaimana bisa aku peduli padanya jika setiap inci tubuhnya mengingatkanku pada sumpah yang kupatahkan demi uang keluarga? Jika dia pingsan, biarlah dia pingsan. Mungkin dengan begitu dia tahu betapa aku tidak menginginkannya ada di hidupku."

Sementara itu, di kediaman Vance, suasananya sangat kontras. Dokter keluarga telah datang dan memberikan suntikan nutrisi serta cairan infus pada Alana. Wanita itu kini terbaring lemah di kamarnya yang besar namun terasa sunyi. Matanya terpejam, wajahnya seputih kertas, dan napasnya sangat pendek.

Bibi Martha duduk di samping tempat tidurnya, mengompres tangan Alana yang dingin. "Kasihan sekali kau, Nak," bisiknya sambil menangis. "Memiliki suami yang memiliki hati sekeras batu. Apa gunanya kekayaan ini jika kau diperlakukan seperti hantu di rumahmu sendiri?"

Alana sempat sadar sesaat. Hal pertama yang ia cari adalah sosok suaminya. "Brixton... apakah dia sudah pulang?" bisiknya dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Bibi Martha terdiam, tidak sanggup memberikan jawaban yang jujur. Ia hanya bisa mengusap kepala Alana dengan lembut. "Tuan sedang... sedang ada urusan mendesak, Nyonya. Istirahatlah."

Alana tersenyum pahit, setitik air mata jatuh dari sudut matanya. Ia sudah tahu jawabannya. Bahkan dalam kondisi nyaris mati sekalipun, ia tidak akan pernah menjadi prioritas Brixton. Ia kembali memejamkan mata, membiarkan kegelapan membawanya pergi dari rasa sakit fisik dan batin yang menghimpitnya.

Kembali ke bar, Brixton terus minum. Ia menceritakan kenangan-kenangannya dengan Elena kepada teman-temannya—tentang bagaimana mereka dulu berjalan-jalan di taman, tentang janji-janji yang mereka buat, dan tentang betapa indahnya masa depan yang dulu mereka bayangkan.

"Elena tidak punya mata hijau yang menakutkan itu," racun alkohol mulai menguasai lidah Brixton. "Dia punya mata cokelat yang hangat. Rambutnya hitam, bukan warna mencolok seperti hewan eksotis. Dia sempurna. Dan sekarang, aku harus terjebak dengan wanita yang bahkan tidak tahu cara membuatku tersenyum."

Malam semakin larut. Teman-temannya satu per satu mulai pamit pulang, meninggalkan Brixton sendirian dengan gelas kosongnya. Saat ia akhirnya berdiri untuk pulang, langkahnya terhuyung. Pikirannya kacau antara kerinduan pada Elena dan rasa muak pada kenyataan hidupnya.

Saat ia sampai di rumah, ia melihat mobil dokter masih terparkir di depan. Ia berjalan masuk dengan langkah berat, mengabaikan tatapan tajam dan penuh kekecewaan dari para pelayan yang berpapasan dengannya. Ia melewati kamar Alana, berhenti sejenak di depan pintu yang tertutup rapat itu.

Ada dorongan untuk masuk, untuk melihat apakah wanita itu baik-baik saja. Namun, suara di kepalanya kembali berteriak: Jika kau masuk, kau kalah. Jika kau peduli, kau mengkhianati Elena.

Brixton mendengus, membuang muka, dan berjalan menuju kamarnya sendiri. Ia menjatuhkan diri ke tempat tidur tanpa mengganti pakaiannya. Di bawah pengaruh alkohol, ia mulai berhalusinasi. Ia membayangkan Elena sedang duduk di kursi di sudut kamarnya, menatapnya dengan kecewa.

"Kau berubah, Brixton," suara Elena dalam bayangannya berbisik. "Kau bukan pria lembut yang kukenal dulu."

"Aku melakukan ini untukmu, Elena!" teriak Brixton dalam kesunyian kamarnya. "Aku membencinya karena dia mengambil tempatmu!"

Namun, bayangan Elena hanya menggelengkan kepala dan menghilang, meninggalkan Brixton dalam kegelapan yang sesak. Di kamar sebelah, Alana masih berjuang dengan kesadarannya di bawah pantauan peralatan medis, sementara suaminya tenggelam dalam penyesalan masa lalu yang tidak akan pernah bisa kembali.

Malam itu, jurang di antara mereka menjadi semakin dalam. Sumpah di atas luka itu kini telah menjadi kutukan yang perlahan-lahan mulai menghancurkan bukan hanya Alana, tapi juga sisa-sisa kemanusiaan yang masih ada di dalam diri Brixton Alistair Vance. Tidak ada kebahagiaan, hanya ada ego yang terluka dan hati yang telah membatu menjadi es.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!