Terlahir dengan bakat rendah dan tubuh lemah, Ren Tao hanya dianggap sebagai murid sampah di Sekte Awan Hitam. Ia dihina, dimanfaatkan, dan diperas tanpa henti. Di dunia kultivasi yang kejam, orang sepertinya seharusnya mati tanpa meninggalkan nama.
Namun tak ada yang tahu Ren Tao tidak pernah berniat melawan dengan kekuatan semata.
Berbekal kecerdasan dingin, ingatan teknik kuno, dan perhitungan yang jauh melampaui usianya, Ren Tao mulai melangkah pelan dari dasar. Ia menelan hinaan sambil menyusun rencana, membiarkan musuh tertawa… sebelum satu per satu jatuh ke dalam jebakannya.
Di dunia tempat yang kuat memangsa yang lemah, Ren Tao membuktikan satu hal
jika bakat bisa dihancurkan, maka otak adalah senjata paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YeJian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 – Pusat Badai
Pusat lembah berubah menjadi medan kacau.
Qi bertabrakan dari berbagai arah, menciptakan pusaran tekanan yang membuat tanah retak dan udara bergetar. Murid-murid yang tersisa berkumpul tanpa janji, bukan karena kerja sama, tapi karena penyempitan area memaksa mereka saling mendekat.
Ren Tao tiba di tepi zona itu dan langsung berhenti.
Di depannya, enam murid inti berdiri saling berjaga. Tidak ada yang menyerang lebih dulu. Semua tahu siapa pun yang bergerak gegabah akan jadi sasaran bersama.
Ren Tao mengamati cepat.
Satu dengan pedang berat, napas tidak stabil. Dua di belakangnya saling bertukar isyarat, jelas satu kelompok. Sisanya… menunggu kesempatan.
Rapuh, pikir Ren Tao. Tinggal dipicu.
Ia melangkah masuk.
Semua mata langsung tertuju padanya.
“Murid luar?” seseorang mencibir. “Berani masuk ke sini?”
Ren Tao tidak menjawab. Ia hanya berjalan, langkahnya terdengar jelas di tengah keheningan tegang.
Wei Kang melihat dari kejauhan.
Ia tahu apa yang akan terjadi.
Ren Tao berhenti di tengah lingkaran, lalu melempar dua token ke tanah.
“Aku punya ini,” katanya datar. “Kalau mau, ambil.”
Beberapa murid terkejut.
Yang lain tersenyum.
Keserakahan bergerak lebih cepat dari logika.
Satu murid maju setengah langkah.
Ren Tao menoleh ke arahnya. “Kau.”
Tatapan itu tenang.
Terlalu tenang.
Murid itu ragu sepersekian detik.
Dan di saat itulah—
pedang dari sisi lain menebas.
Pertempuran pecah.
Qi meledak dari segala arah. Ren Tao langsung mundur, masuk ke bayangan pusaran. Ia tidak menyerang. Ia bergerak di sela-sela, memotong jarak, mengubah arah serangan.
Satu murid terkena serangan temannya sendiri.
Yang lain terpental ke zona mati qi.
Ren Tao hanya menambahkan dorongan kecil.
Sedikit salah langkah.
Sedikit tekanan tambahan.
Cukup.
Dalam hitungan napas, dua orang tumbang
Yang tersisa mulai panik.
“Dia yang memicu!” teriak seseorang.
Ren Tao tersenyum tipis.
“Itu keputusan kalian,” balasnya.
Seorang murid inti yang lebih kuat akhirnya fokus padanya. “Hentikan dia!”
Ren Tao berlari.
Bukan kabur—menarik.
Ia membawa tiga orang ke jalur sempit yang qi-nya berputar liar. Serangan mereka mulai melenceng, kekuatan mereka saling mengganggu.
Ren Tao menghantam satu orang ke dinding batu.
Yang kedua jatuh karena kehilangan keseimbangan.
Yang ketiga sadar terlalu lambat.
Pisau Ren Tao menekan titik vital bukan mematikan, tapi membuat Qi terhenti sesaat. Tubuh itu ambruk.
Ren Tao mengambil token-token dan segera menjauh.
Di luar lembah, beberapa tetua berdiri.
“Ini sudah bukan ujian biasa,” kata salah satu.
Tetua berjubah abu-abu mengangguk. “Dan kita membiarkannya.”
Wei Kang mengangkat tangan perlahan.
Formasi bergerak.
Zona aman menyempit lebih cepat dari seharusnya.
Itu pelanggaran kecil.
Tapi cukup untuk memaksa Ren Tao ke arah tertentu.
Ren Tao merasakannya.
Ia berhenti, menatap langit yang bergetar.
“Jadi kau mulai mendorong,” gumamnya.
Tekanan Qi dari arah depan berat.
Wei Kang menunggu.
Bukan untuk bertarung.
Untuk melihat pilihan Ren Tao.
Ren Tao menghela napas, lalu mengubah arah bukan ke zona aman, tapi ke tepi penyempitan paling berbahaya.
Tempat semua orang menghindari.
Wei Kang tersenyum tipis.
“Menarik.”
Ren Tao bergerak cepat, tubuhnya menahan rasa sakit, pikirannya tajam. Ia tahu satu hal sekarang.
Ujian ini tidak lagi adil.
Dan itu justru keuntungannya.
Kalau aturan bisa digerakkan, pikirnya, maka aku akan bergerak lebih dulu.
Langit bergemuruh keras.
Jumlah peserta tersisa tinggal sedikit.
Dan Ren Tao—
tidak lagi hanya bertahan.
Ia sedang memaksa semua orang bermain di ritmenya.
semangat terus ya...