"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pagi Pertama sebagai Nyonya Rahasia
Menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu yang sangat besar, seorang siswi yang berdiri di persimpangan jalan membuat jantung Gwenola berdegup kencang. Ia segera menundukkan kepala sedalam mungkin sambil merapatkan kerah seragam sekolah menengah atas yang ia kenakan. Langkah kakinya dipercepat seolah ia sedang dikejar oleh hantu dari masa lalu yang sangat mengerikan.
Bayangan mobil mewah milik Xavier masih membekas jelas di dalam benak Gwenola, kontras dengan suasana gang yang becek ini. Ia merasa separuh jiwanya tertinggal di rumah mewah yang dingin itu, sementara separuh lainnya dipaksa berpura-pura normal. Di dalam saku roknya, cincin berlian itu terasa sangat berat seakan benda itu terbuat dari timah panas yang membakar kulitnya.
"Gwenola, tunggu sebentar!" teriak seorang gadis dari arah belakang dengan suara yang sangat melengking.
Gwenola tersentak dan terpaksa menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang utama sekolah yang mulai ramai. Ia menoleh perlahan dan mendapati sahabat baiknya sedang berlari kecil menuju ke arahnya dengan napas yang terengah-engah. Rasa cemas yang amat sangat mendalam kembali menyelimuti pikiran Gwenola karena takut rahasianya akan terbongkar begitu saja.
"Kenapa kau berjalan sangat cepat sekali pagi ini?" tanya sahabatnya sambil mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan.
Gwenola hanya memberikan senyuman tipis yang nampak sangat dipaksakan agar tidak menimbulkan kecurigaan yang lebih jauh lagi. Ia meremas jemari tangannya di dalam saku, memastikan cincin itu tetap tersembunyi dengan sangat aman di sana. Bau harum dari parfum kayu cendana milik Xavier yang menempel di seragamnya membuat Gwenola merasa sangat tidak nyaman.
"Aku hanya takut terlambat karena semalam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak," jawab Gwenola dengan nada bicara yang sangat lirih.
Mereka berdua berjalan menyusuri koridor sekolah yang dipenuhi oleh hiruk-pikuk para siswa yang sedang bercengkrama satu sama lain. Gwenola merasa seolah setiap pasang mata yang menatapnya sedang menghakimi status barunya yang sangat memalukan ini. Ia adalah seorang istri rahasia dari pimpinan perusahaan yang sangat kejam, namun di sini ia hanyalah siswi miskin yang malang.
"Gwen, kenapa aromamu sangat berbeda pagi ini, kau memakai parfum pria?" tanya sahabatnya sambil mengendus udara di sekitar bahu Gwenola.
Pertanyaan itu membuat tubuh Gwenola seketika menjadi sangat kaku seolah ia baru saja tersengat aliran listrik yang sangat kuat. Ia segera menjauhkan diri dan tertawa canggung untuk menutupi kegugupan yang mulai menguasai seluruh saraf tubuhnya yang lelah. Pikirannya langsung melayang pada sosok Xavier yang semalam memeluknya dengan paksa demi sebuah tuntutan kekuasaan yang gila.
"Mungkin itu hanya aroma sabun cuci yang baru saja dibeli oleh ibuku kemarin sore," kilah Gwenola dengan suara yang sedikit bergetar.
Sahabatnya hanya menganggukkan kepala meski nampak masih ada sedikit keraguan yang terpancar dari balik tatapan matanya yang sangat tajam. Gwenola segera masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya yang terletak di sudut ruangan yang paling gelap. Ia mengeluarkan buku pelajaran matematika, namun pikirannya justru melayang pada kontrak berdarah yang telah ia tandatangani dengan penuh rasa duka.
Sepanjang jam pelajaran berlangsung, Gwenola tidak bisa berkonsentrasi sedikit pun karena bayangan wajah Xavier terus menghantuinya secara terus-menerus. Ia membayangkan apa yang sedang dilakukan oleh pria itu di kantor pusat perusahaannya yang sangat megah dan sangat luas tersebut. Apakah Xavier sedang merencanakan aturan baru yang akan semakin menjerat kebebasan dirinya sebagai seorang manusia merdeka?
"Gwenola, silakan maju ke depan dan kerjakan soal nomor lima ini!" perintah guru matematika dengan nada yang sangat tegas.
Gwenola tersentak dari lamunannya dan berdiri dengan gerakan yang sangat kikuk hingga tas sekolahnya terjatuh ke lantai kayu. Saat ia mencoba mengambil tas itu, tangannya yang masih mengenakan cincin berlian secara tidak sengaja keluar dari saku roknya. Kilauan cahaya dari berlian tersebut terpantul ke arah papan tulis, membuat beberapa siswa di barisan depan mulai berbisik-bisik secara rahasia.