Viona tidak menyangka jika dirinya akan ber transmigrasi menjadi seorang ibu tiri jahat pada tahun sembilan puluhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKIBAT MELAMUN
Vina pulang ke rumahnya dengan agak murung. Pikirannya berkelana kemana-mana. Mulai dari kematiannya yang tiba-tiba kemudian arwahnya masuk kedalam tubuh yang ia tempati saat ini. Dan juga lika liku pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Vina benar-benar larut dalam lamunan. Ia menyusuri jalan tanpa melihat kanan kiri. Saat di pertigaan yang seharusnya ia belok kanan tetapi ia terus jalan lurus. Padahal jalan itu merupakan jalan setapak untuk pergi ke hutan .
Sepanjang perjalanan Vina tidak bertemu siapapun . Jadi tidak ada yang menyapa ataupun menegurnya.
Saat sadar, Vina sudah berada di dalam hutan. Mungkin karena jalan yang dilalui tidak jauh beda dengan jalan yang ada di perkampungan. Rumput dan semaknya telah di bersihkan agar muda untuk dilewati.
Namun begitu masuk wilayah hutan tidak ada lagi jalan setapak seperti sebelumnya. Itulah sebabnya Vina bisa tersadar dari lamunannya.
"Ada dimana ini?" gumamnya sambil memperhatikan sekitarnya. Yang dapat ia lihat hanya hamparan pohon dan juga berbagai tumbuhan yang tumbuh secara liar.
"Bisa-bisanya kesasar sampai hutan," gerutunya dengan kesal.
"Ah.....sekalian saja berkeliling. Sudah lama mau kesini tetapi belum pernah ada kesempatan. Mumpung sekarang sudah ada disini lebih dimanfaatkan saja."
Vina memutuskan untuk berkeliling di hutan. Mungkin dengan begitu ia bisa melupakan masalah yang membebani pikiranya.
Seperti hutan pada umumnya suasananya cukup sunyi. Yang terdengar hanya suara kicauan burung dan serangga hutan.
Vina terus melangkahkan kakinya melewati semak belukar. Tidak ada rasa takut, yang ada semangatnya makin menyala.
Belum lama berjalan, Vina menemukan pohon rambutan yang berukuran besar. Dilihat dari besarnya batang, ditaksir usianya sudah lebih dari puluhan tahun.
Vina mendongak untuk melihat apakah ada buah yang bisa ambil. Untuk urusan panjat memanjat tidak perlu dirisaukan . Meski batangnya besar sebagai seorang atlet panjat tebing hal itu tidak membuat Vina kesulitan.
"Wah....dapat rejeki nomplok nih. Kalau tau gini tadi bawa keranjang saja dari rumah! " serunya dengan semangat. Ia pun segera memposisikan dirinya untuk naik keatas pohon.
Dikehidupan sebelumnya Vina merupakan seorang atlet. Di sela-sela kesibukannya sebagai seorang food blogger, Vina menyempatkan waktunya untuk mengikuti kegiatan panjat tebing. Jadi urusan panjat memanjat tidak diragukan lagi kemampuannya.
Vina memanjat pohon itu dengan lincah. Tak butuh waktu lama sampai ia naik ke atas pohon. Setelah tiba diatas, ia mencari batang yang kuat untuk ia duduki sekaligus banyak buahnya.
Vina sungguh beruntung bisa datang saat musim berbuah. Buahnya sangat lebat namun tidak ada orang yang datang untuk memetiknya. Mungkin karena batangnya yang terlalu besar dan sulit untuk di panjat.
Setelah mendapatkan posisi duduk yang nyaman ia mulai memetik buah yang tidak jauh dari posisinya.
"Wah...buahnya besar-besar sekali. Sayang banget jika dibiarkan disini."
"Hemmm rasanya juga manis dan segar. Kalau dijual pasti laku keras. "
Vina tidak menyadari jika saat ini Jaka dan keluarganya sibuk mencarinya.
"Vina tadi kemana ? Kok nggak keluar-keluar?" tanya Bu Siti saat semua orang pulang ke rumah masing-masing. Hanya tinggal mereka sekeluarga.
"Vina ada di sini?"
"Mbak Vina sudah pulang sedari tadi. Katanya sih ada sesuatu yang harus diurus. Tadi mau izin tapi sungkan sama orang-orang," jawab Ramli dengan jujur. Semua menoleh kearahnya.
"Apa dia tahu kalau Abangmu sudah sadar?" tanya Bu Siti dengan serius. Semua menatap ke arah Ramli.
"Tahu."
"Kok nggak kesini malah pulang? "
"Mana Aku tahu."
"Mungkin saja marah sama Bang Jaka, " celetuk Dewi dengan santai.
"Marah kenapa?" Bu Siti memandang Dewi dengan bingung. Tidak faham dengan ucapan putrinya.
"Siapa yang tidak akan marah jika suaminya tiduran di tengah makam istrinya yang sudah meninggal? Coba Ibu yang ada dalam posisinya , apa tidak akan_"
Brak!!
"Apa-apaan Kamu Jak!" seru Bi Siti sambil memegang dadanya karena terkejut. Siapa yang tidak akan terkejut saat Jaka tiba-tiba meloncat turun dari ranjang hingga menabrak kursi yang ada didekatnya.
Jaka tidak memperdulikan ucapan Ibunya. Apa yang dikatakan Dewi ada benarnya. Meski tubuhnya masih lemah ia memaksakan diri untuk pulang.
"Aku harus pulang."
"Tunggu... tubuhmu masih lemah," kata Bu Siti dengan panik. Ia menahan lengan Jaka agar tidak bisa melangkah.
"Tidak bisa. Vina pasti marah. Aku harus segera membujuknya. "
"Nanti kan juga bisa Lagian Vina juga tidak akan pergi kemana-mana, "
"Tidak bisa . Aku harus pulang sekarang, " kata Jaka dengan keras kepala.
"Baik. Kamu bisa pulang. Tapi biarkan Dewi sama Ramli menemanimu," kata Pak budi dengan tegas. Sebagai orang tuanya Pak Budi tidak bisa bisa lagi memaksanya untuk tinggal.
"Tapi Pak_" Bu Siti nampak tidak setuju dengan keputusan sang suami. Namun belum juga menyelesaikan ucapannya sudah dipotong oleh Jaka.
"Baik. Aku akan pulang bersama Dewi dan Jaka."
"Nanti dulu. Sekarang Kamu makan dulu."
"Nanti saja makan di rumah."
"Ayo Ram!"
Jaka melepaskan tangan yang memegang lenganya dengan lembut. Kemudian dengan langkah pelan a melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Mau tidak mau Dewi sama Ramlih mengikutinya dari belakang.
"Semalam ngapain sih Abang pergi ke makam?" tanya Dewi penasaran.
"...."
Hening tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Jaka.
"Apa Abang ada masalah sama Vina?"
"....."
"Kalau memang ada masalah, seharusnya bicarakan baik-baik."
"Mbak tadi juga begitu. Tadi langsung main asal tuduh saja. Mana banyak orang lagi. Pasti Mbak Vina tidak hanya marah sama Bang Jaka tetapi juga sama Mbak Dewi juga."
Mendengar ucapan Ramlih, Jaka langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap Dewi meminta penjelasan.
"Apa yang terjadi tadi?"
"Abang nggak usah dengerin ucapan Ramlih. Lagi pula kalau Vina beneran marah sama aku, dia tidak mungkin curhat soal Abang."
"Apa saja yang dia katakan?"
"Rahasia. Tanya saja langsung pada Vina," kata Dewi sembari melangkahkan kakinya ke depan.
"Jawab dulu pertanyaanku!"
"Ini masih di jalan Bang. Nggak malu apa kalau di dengar orang-orang."
"Sekarang nggak ada orang."
"Lah...emang Kita ini apa kalau bukan orang...Hantu?"
Mendengar kata hantu tiba-tiba Jaka mengingat hantu semalam. Apa mungkin Lestari menjadi hantu. Tetapi kenapa baru sekarang ia mengetahuinya.
"Apa lagi yang sedang Abang pikirin?" tanya Dewi saat meihat Jaka tetap berdiam diri ditempatnya kayak orang linglung. Ia sampai harus berbalik arah untuk memangilnya.
"Abang tidak papa kan?" tanya Ramlih dengan khawatir.
"Tidak papa. Ayo Kita jalan lagi."
Dengan langkah pelan, ketiganya kembali melanjutkan langkah mereka ke rumah Kakek Darma. Mereka belum tahu jika Vina dan Kakeknya sedang tidak ada di rumah.