Viona tidak menyangka jika dirinya akan ber transmigrasi menjadi seorang ibu tiri jahat pada tahun sembilan puluhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Bruk!
Jaka meletakkan rumput yang dibawanya di samping dapur. Vina yang mendengar langsung keluar.
"Sudah pulang Mas, " sapanya. Jaka menatap Vina dengan tersenyum lembut.
"Hmmm... Adin sama Bian belum pulang? "
"Belum tuh."
"Mungkin sebentar lagi."
Keduanya berjalan ke dapur dengan beriringan. Setibanya di dapur Vina langsung mengambilkan segelas air buat Jaka.
"Minum dulu," katanya. Jaka menerimanya dengan senang hati dan menghabiskan dalam satu tegukan.
"Mau lagi."
"Sudah cukup. Aku lihat banyak selimut yang dijemur. Sepertinya selimut itu belum Kita pakai deh."
"Tadi Aku membantu Ratih lahiran," kata Vina sambil menunggu reaksi Jaka setelah mendengar ucapannya.
"Apa katamu?!" tentu saja Jaka terkejut. Ia hampir saja terjengkang sangking terkejutnya.
"Tadi Aku bertemu Ratih yang pingsan ditengah jalan. Jadi aku bawa pulang ke rumah. Ternyata bayinya tidak sabar untuk keluar. Saat ibunya pingsan bayi itu malah lahir," jawab Vina dengan kebohongan yang sudah ia susun sebelumnya.
"Sekarang bagaimana keadaanya?" tanya Jaka dengan gugup. Tiba-tiba ia teringat mendiang istrinya yang meninggal dikala melahirkan si kembar. Wajah Jaka nampak pucat pasi.
"Baik-baik saja. Dia sedang menyusui bayinya. Mas kenapa sih, kok tiba-tiba pucat?" tanya Vina bingung. Bagaimana bisa suaminya sampai pucat setelah mendengar ucapanya. Bahkan matanya terlihat berkaca-kaca menahan kesedihan .
"Tidak papa. Untunglah baik-baik saja,' jawab Jaka dengan agak gugup. Vina merasa Jaka sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Mas tidak sedang sedang menyembunyikan sesuatu kan?" tanya Vina terang-terangan. Ia tidak suka bertele-tele. Dari pada penasaran lebih baik bertanya terus terang.
Namun Jaka takut jika ucapannya malah membuat Vina salah paham jadi ia memilih untuk tidak menjawab dengan jujur. Justru hal itulah yang nantinya malah membuat Vina slah paham dengannya.
"Tidak. Oh iya tadi Kami bertemu sama suaminya loh. Katanya dia mau ke rumah bidan."
"Waduh...bisa tolong suruh dia kesini nggak?"
"Baik. Aku panggil sekarang," jawab Jaka dengan tergesa-gesa. Ia bergegas keluar dari ruangan itu.
Vina menatap kepergian Jaka dengan tatapan rumit. Ia yakin Jaka menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi ia belum bisa menebaknya.
Cukup lama Vina berdiri di sana. Sampai-sampai tidak menyadari kedatangan Kakek Darma. Kalau saja Kakek Darma tidak menyapanya mungkin sampai yg pulang nanti ia masih berdiri disana.
"Apa yang sedang Kamu lakukan?"
"Oh....Kakek kok baru pulang?"
"Bareng sama suamimu. Tadi berhenti di depan sebentar. Kok suamimu keluar lagi? "
"Memangnya dia tidak bilang sesuatu sama Kakek? "
"Dia sudah kayak orang kesurupan. Jalannya tergesa-gesa. Di panggil juga nggak nggak dengar kayaknya. Kalian ada masalah? "
"Nggak ada. Mungkin dia buru-buru mau memberitahu Bobi kalau istrinya sudah lahiran. "
"Loh... Kamu kok tahu? Dianya ada dimana sekarang? "
"Dikamar."
"Kok bisa? "
"Ceritanya panjang. Aku mau masak. Kakek lebih baik bersih-bersih dulu deh, takutnya sebentar lagi banyak orang yang datang kesini. Nggak enak nanti kalau nggak ada yang nemenin. "
"Baiklah... jangan lupa minumannya buat agak banyak. Sekalian sediakan cemilannya juga. "
"Ok!!! "
"Oka oke oka oke! "
Vina terkekeh geli mendengar Kakek Darma menggerutu. Ia pun melupakan masalah Jaka. Ia kembali fokus dengan masakannya.
Tak lama kemudian Bobi pun tiba, Namun Jaka tidak kelihatan batang hidungnya. Untungnya Kakek Darma sudah selesai membersihkan diri.
"Terima kasih loh Vin, kalau tidak ada Kamu entah bagaimana kondisi cucuku, " kata Ibu Bobi dengan tulus.
"Sama-sama Bu De. Sesama tetangga sudah sepatutnya untuk saling membantu. "
"Apapun itu sekali lagi Terima kasih. "
"..... "
"Sudah ada namanya belum? "
"Panggil saja legi. "
"Ha? kok gitu? "
"Kan sekarang pasaran legi. "
"Aku nggak setuju. Aku sama mas Bimo sudah sepakat untuk memberi nama Raden. "
"Kenapa harus Raden? "
"Siapa tahu kan besarnya nanti bisa jadi seorang bangsawan. "
"Oalah nduk... nduk kok tidak Bima saja kan bagus. Sama kayak bapaknya. Biar nanti bisa kuat kayak Raden Bima. "
"Biar adil sih Raden Bima. "
"Setuju."
Ratih turut pulang bersama keluarganya. Ia tidak menginap di rumah Vina.