NovelToon NovelToon
Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Mau Bahagia Denganku? Sayang?

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Pernikahan Kilat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kontras Takdir / Slice of Life
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: apelcantik

Dijual oleh ayah kandung sendiri adalah luka terdalam Aluna. Namun, saat ia terjebak dalam pernikahan kontrak dengan pria asing, takdir memainkan leluconnya. Aluna mengalami regresi ingatan!
​Ingatan Aluna kembali ke usia 17 tahun—masa di mana dia belum dihancurkan oleh dunia. Baginya, suaminya hanyalah "Paman Mesum". Sanggupkah pria itu menghadapi Aluna versi remaja yang liar, atau justru ini kesempatan kedua bagi mereka untuk memulai segalanya dengan cinta, bukan lagi kontrak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. UH KAGETT

"Gak mau!!!" penolakan sekaligus sentakan yang sangat menyakitkan tersebut cukup membuat jantung cowok itu seketika berdebar sangat kencang, seperti diterbangkan turbin. Kini hampir saja dia terduduk jatuh tak berdaya kalau tekadnya tak terkumpul segera, pasti dia akan disebut cowok paling lemah sedunia. "Tunggu Clarissa, kenapa kau menolakku?!"

"Aku pintar juga aku kaya, kalau kau menikah denganku kupastikan dirimu akan menjadi wanita paling bahagia sedunia, aku pastikan itu terjadi.. kita tunggu saja setelah lulus sekolah, bahkan setelah nanti aku telah menjadi CEO—ah apa yang kukatakan, aku sudah mendapatkannya, tinggal kita saja yang—"

Clarissa langsung memotong igauannya. Sejujurnya gadis kecil itu tak mau mengganggu keyakinan penuh yang cowok itu miliki, dia harus menghormati yang lebih tua seperti apa adanya, tapi hanya terucap kata penolakan dari bibir kecil gadis yang Dirgantara ketahui itu adalah Clarissa namanya. "Kata bibi, aku tidak boleh sembarangan menerima orang gak jelas. Seperti Kak Dirgantara, dari kapan kakak jatuh cinta padaku? Ini seharusnya tak boleh terjadi.. Kakak Dirgantara sudah punya istri kan?" tanya Clarissa dengan raut wajah masam, bahkan poni doranya saja sampai menutupi setengah pandangannya yang terlihat menipis.

Dirgantara geleng kepala, dia mencoba meyakinkan—di depan cincin emas antik yang baru saja dia pasangkan di salah satu jemari perempuan itu dia arahkan ke depan dengan tatapan serius, "Aku tidak mengerti kamu tahu darimana kalau aku punya istri, tapi lihat aku kumohon Clarissa, kembalikan dirimu yang seperti dulu—aku tak mau sikapmu yang egois, dan suka main di belakangku, seolah perasaanku bukan berarti apa-apa bagimu. Aku ingin dirimu yang—"

Ucapannya cepat dipotong, mendengar penuturan Clarissa yang dilayangkan padanya membuat jantung cowok itu mencelos sempurna. "Maksud kakak adalah aku yang di depan kakak ini? Ah ayolah kak, kalau orang-orang melihat kakak aneh bagaimana? Aku tak mungkin membiarkan itu terjadi kan? Kak ingat kalau kakak itu sudah punya istri! Tak berhak kakak mencari nama wanita lain," tutur gadis kecil itu, entah darimana dia bisa berbicara sedewasa itu—sedikit kagum dibuatnya, tapi cowok itu segera menggeleng karena terus melamunkan hal tak penting.

Arkan berdiri, sedikit meregangkan pegangannya. "Dia hanya istri kontrak Clarissa. Setelah ini aku akan menceraikannya, mungkin setelah kakek bisa kubujuk.. atau setelah nanti aku berhasil menemukanmu sayang.. aku mohon jangan berpikir kau masih kecil, dan aku dianggap hanya sebagai kakakmu, tolong lihat aku Clarissa—aku tak mau hanya dielus kepalaku saja, aku rindu dengan gambaran indahmu.."

Gadis itu nampak terdiam, dia menggigit bibir kecilnya—meremas lengannya erat-erat tak memberikan jawaban yang pasti. Gadis itu merangkul ransel Barbienya di belakang punggung, tak memedulikan bagaimana pria itu terus memanggilnya hanya saat Dirgantara hampir berhasil meraih tangan kecil gadis itu tatapan mereka saling bertemu. "Selama ini rupanya aku telah salah besar menilai Kak Dirgantara, aku kira kita hanya bisa berteman dekat—tapi rupanya tak sesimpel itu ya? Bahkan mungkin kalau aku bertemu Kak Dirgantara yang tiba-tiba meninggalkan kota tempat kita bertemu setelah tahun baru itu, Kak Dirgantara dengan gilanya memintaku jadi istri kakak? Coba pikir dulu, mungkin saja.."

"FUCK!! ANJING!!!"

"AH LEPET SANGGALAGALA ASOYY!!!" kaget Erik, dia niatnya akan pergi menyerah dengan tuannya sendiri yang terus sibuk sendiri dengan mabuknya—tanpa aba-aba atau persiapan pria itu sudah bangun dengan sendirinya. "Erik, dari kapan kau di sini?"

"Saya sudah dari tadi Tuan Arkan.. Anda sudah berkali-kali saya coba bangunkan, tapi ah untunglah.."

Arkan berdiri dari pemandian yang dipenuhi dengan es batu tersebut, tak peduli ruam-ruam merah muncul dari kulit brown goldennya. Setelah dia bangun dari rasa mabuk kepayang yang dia ingat adalah penolakan Clarissa—sang pujaan hati yang menolaknya berkali-kali di alam bawah sadar. "Tuan tadi baru saja—" belum saja Erik bicara, pria itu sudah siap-siap memakai pakaian ganti yang sudah disiapkan para pembantu di rak khusus baju. "Sekarang sudah jam berapa Erik?"

Erik melipat lengan kemejanya, setelah melihat jam di pergelangan tangannya barulah pria itu berbicara, "Jam 10 malam Tuan."

"Oh—"

"Tuan, begini tadi Dion menyuruh Anda lekas ke—"

Arkan memotong ucapan pria itu tak peduli Erik sedang akan membahas apa untuk diberitahukan padanya, jelas sifat arogannya tak bisa mengalahkan siapapun di dunia ini. "Kalau soal pekerjaan atau tugas skandal yang dibuat-buat Mahendra untuk meruntuhkan citra harga diri saya, tenang saja sudah saya urus semua itu, tinggal eksekusi saja orang yang telah melukai harga diriku," jawab Arkan sangat cepat tanpa jeda. Erik mendesah berat, melihat desahan tak ikhlas dari pelayannya membuat wajah pria itu sontak memandang ke belakang, menoleh penasaran tentu dengan sebelah alis terangkat ke atas. "Kenapa raut wajahmu begitu? Apa kau protes dengan yang saya lakukan pada perusahaan?"

"Atau Dion menyuruh sesuatu yang aneh-aneh padamu?"

Erik geleng kepala, bagaimana dia bisa menjelaskannya ya? Kalau setiap waktu tak pasti dia memiliki kesempatan untuk membalas atau membuka suara. Tak ada pembicaraan di antara keduanya, barulah Erik mengisi sunyinya pemandian seluas dua ruang kamar mandi besar itu. "Nyonya Aluna malam ini dibawa di rumah sakit, baru saja Tuan. Ah mungkin Anda sudah tahu, dari tadi saya sudah memberitahu Anda berulang-ulang, mungkin—"

"WHAT?! SAY AGAIN!!"

Gluk—keringat Erik hampir saja jatuh kalau tak dia tahan di pelipis dahi segera. "Nyonya—"

"SHIT! Kenapa tak bilang dari tadi hah?! Terus diammu itu dari tadi untuk apa Erik?! Dasar tak berguna, kalau kau sampai mengulangi pekerjaanmu yang mudah ini jadi masalah lihat saja nanti, surat SP akan saya kirim segera ke rumahmu!!"

BRAKKK!!!

Pintu pemandian ditutup kencang, Erik hampir saja terbawa pusaran angin di tengah-tengah badai kekacauan yang ada. Dalam hati dia merasa sesak dada sendiri, bagaimana tidak? Surat SP! Itu saja sudah mengacaukan seluruh perjuangan dan ritme langkah yang sudah dia bangun capek-capek di tempat ini! Dia geleng kepala cepat jelas saja tak mau hal itu terjadi. 'Ya Tuhan, tolong beri hamba kekuatan. Hamba ingin tetap waras..'

........................

Di dalam bagasi sepanjang taman eden, berisi tumpukan mobil yang kadang juga pria itu berganti-gantian memakainya sampai bosan memakai semua itu, tapi yang paling cepat menurut pria itu adalah mobil Phantom, jelas mobil favoritnya selama bersama dengan Aluna. Menyembunyikan klakson mobil Phantom yang terdengar merdu, pria itu lekas masuk ke dalam, pintu bagasi terbuka dengan sendirinya saat mendeteksi akan ada yang lewat. Pria itu di dalam mobilnya sendiri memakai earphone sebelah dan mengeraskan volume telepon yang akan dia hubungkan dengan asistennya—Dion.

Telepon berdering.. belum saja sampai 3 detik sudah diangkat oleh penerima, di sana terlihat wajah gelisah dan panik Dion yang akhirnya lega melihat tuannya sudah berada di dalam mobil—pikir Dion pasti akan segera ke rumah sakit secepatnya. "Tuan, ini Anda? Ya ampun Tuan, kenapa Anda lama sekali?" tanya Dion sedikit tegas. Arkan tak suka bila dia dimarahi selain orang yang sudah merawatnya. Arkan pun balas balik dengan suara tegas, "BACOT! Kenapa wanita itu tiba-tiba masuk rumah sakit hah?! Dasar merepotkan! Kalau tahu begini masukkan saja dia ke rumah sakit jiwa daripada harus capek-capek menyekolahkan dia."

Dion hanya bisa terdiam di seberang sana, saat akan mengarahkan kamera ke kaca UGD, Pharita langsung merebut HP Dion yang membuat alis Arkan berhasil kembali terangkat sebelah. "HEH BAJINGAN! PUNYA HATI NURANI GA SIH KAU ITU HAH?! LIHAT KEADAAN ISTRIMU ITU! DIA SUDAH DICOBA OLEH DOKTER-DOKTER DI DALAM SANA AGAR DETAK JANTUNGNYA STABIL, TAPI KAU MALAH MENGANGGAP ISTRIMU SENDIRI—AKU HERAN KENAPA BISA KALIAN MENIKAH, AH JANGAN-JANGAN—" Dion segera merebut handphonenya, malah dia yang panik. "Sudah Pharita! Kau gila hah??! Berani kau melakukan seperti itu lagi, lihat saja nanti—" wajah Dion tertoleh ke layar handphonenya mencoba membujuk tuannya yang malah menambah buruk suasana hatinya. "Tuan, maafkan wanita jamet ini ya? Nanti saya berjanji akan saya marahi dia setelah ini.." Pharita menatap sinis setelah mendengar dia akan dihukum oleh Dion, jelas wanita itu tak terima. Suara pertengkaran mereka berdengung di telinganya—secepatnya Arkan segera mematikan telepon yang dia sambungkan sungguh tak kuat dengan pertengkaran mereka berdua yang malah mengganggu dirinya menyetir semalam ini.

"Bangsat mereka ini, malah bertengkar!! Sial!!"

Menyadari telepon dimatikan, Dion berkacak pinggang. "Ini semua salahmu! Kalau aku dipecat Tuan Arkan bagaimana?!"

Pharita malah balas meledek, dalam hati wanita itu muncul api yang membara menyalahkan keduanya—Dion yang malah lebih memedulikan soal pekerjaannya sedangkan tuannya sendiri yang egoisnya tidak minta ampun. Di sini Pharita sebagai wanita lumrah pada umumnya mengasihani keadaan Aluna yang masih terkapar tak berdaya di atas ranjang UGD, bukan?

"Cih, kalian berdua memang seperti kapas dibelah kapak sama persis, tak asistennya gak majikannya. Aku melakukan ini semua demi keselamatan Aluna tahu gak?????! Kalau dia masih saja seperti ini selamanya Dion, apa kau mau membuat seorang wanita terus menderita dengan traumanya dan terus takut dengan suaminya sendiri? Aku tahu kalian hidup dalam keluarga bangsawan yang penuh dengan aturan tak masuk akal itu, tapi aku ingatkan sekali lagi padamu Dion—Aluna itu hanyalah gadis biasa—dia perempuan yang tak spesial kalian memiliki dan menempati sebuah kastil atau memiliki koneksi dimana-mana..."

Dion terdiam, seolah suaranya lumpuh bukan berarti dia tak bisa menjawab pernyataan Pharita, tapi dari lubuk hati terdalam sebenarnya Dion sangatlah kesal—capek mendengarnya terus disamakan dengan tuan mudanya, padahal mereka tak sama. "Sudahlah, aku pulang saja. Capek tahu gak berdebat sama orang yang lebih mentingin ego, bikin pusing aja!!" seru Pharita. Wanita tomboi itu akhirnya melenggang pergi dari lorong rumah sakit tak peduli bagaimana keadaan Aluna di dalam rawat darurat. Kini keduanya seolah terpecah belah dan saling tidak mau memahami satu sama lain. Dion jatuh terduduk tak berdaya di kursi tunggu, dia mengelus jidatnya yang berkeringat basah, 'Sudah Dion untuk apa kau memikirkan wanita itu, biarlah dia mengatakan apapun soal diriku, aku sudah lega akhirnya tak ada yang merecoki telingaku ini... huft—' desah Dion, saking lelahnya punggungnya merosot ke bawah seperti ikan kering.

Selang beberapa menit keheningan yang Dion ciptakan runtuh saat timbul suara dering telepon dari balik sakunya, pria itu mendudukkan kembali punggungnya agar tidak jadi keram. Melihat nama Edola si cantik dengan emot love yang tertera di layar panggilan membuat senyum yang awalnya seperti setengah bulan sabit terbalik sekarang jadi matahari yang merekah sinarnya.

"Hello honey?" jawab Dion menerima panggilan, sedikit menggoda wanita pemandu honeymoon tersebut—di seberang Edola malah terkekeh mendengarnya, "Hello juga Dion, maaf ya kalau 3 hari ini aku tidak balas chatmu sama sekali.. kenapa kamu hapus pesannya?" tanya Edola. Suaranya yang lembut bak disapu ombak kecil membuat hati Dion tenang. "Tidak ada Edola, kapan-kapan saja. Hari ini aku di rumah sakit, bagaimana denganmu?"

"Ah aku.. ya aku sih dua hari ini jarang sekali tidur—hoamm, ngantuk banget Dion hehe. Nanti aku mau deh kalau kamu ajak liburan ke Indonesia, ah aku tahu soal Bali, katanya pulau dan resortnya hampir sebelas dua belas sama yang di Maldives ya?"

Dion mengubah posisinya menjadi miring ke samping, dia memperhatikan telepon dengan serius. "Iya memang Edola, pulau di sebelahnya adalah kampung halamanku, kapan-kapan juga aku akan mengenalkanmu ke omaku, mereka baik kok tapi ayahku agak keras sih.."

Terdengar kikikan dari Edola, semakin membuat Dion gemas sendiri. "Wah jangan-jangan kamu ngejek ortu kamu sendiri nih? Eh tapi ibu sama ayahku juga gitu, setiap aku pulang selalu aja ditanya macam-macam, pusing deh.."

Edola mengalihkan pembicaraan ke arah lain, "Dion, nanti tanggal 5 Januari kamu mau gak ke Maldives?"

Dion langsung terbawa suasana, dia kira ini adalah ajakan kencan jadi pria itu begitu semangatnya sampai berdiri tegap. "Li-lima Januari? Oh masih tahun depan yah? Bo-boleh kok, apa sih yang gak aku mau.. cuma aku aja kan?"

"Ajak tuanmu juga lah, masa dirimu aja.."

Dion yang kepedean langsung garuk kepala belakangnya, merasa kepercayaan dirinya malah membuahkan rasa malu yang langsung menyeruak. "Eh oh em. Oke deh."

Edola tersenyum, izin pamit. Setelahnya Dion langsung merasa merinding seketika bulu kuduknya berdiri semua—karena kebahagiaan langka yang dia miliki ini ia mengira berasal dari hatinya yang sedang klepek-klepek bak musim sakura. Rupanya ia salah, di belakang tuannya sudah menguping tingkah laku bahkan gerak-gerik Dion dari tadi tanpa diketahui siapapun. Barulah Arkan sengaja berdehem di belakang punggung Dion—menyadarkannya akan kedatangannya yang harus segera disambut.

Dion pelan-pelan melirik ke belakang, ia meneguk ludah pelan. "Eh Tuan Arkan.. dari kapan Anda da—"

Arkan meminggirkan badan asistennya dan mengganti posisi duduk Dion untuk dia tempati sendiri, "Bagaimana dengannya? Katakan padaku, jangan cuma si wanita Maldives itu saja yang kau tonton."

Tuturan dari tuannya itu seketika menyadarkan Dion untuk segera kembali ke dalam mode awalnya, dia pelan-pelan menghampiri sambil menunduk, "Maafkan atas kelalaian saya ini Tuan, saya berjanji tidak akan saya ulangi lagi... soal Nyonya—saya masih belum tahu keadaan lanjutnya, saya yakin Nyonya Aluna akan baik-baik saja."

Arkan diam tak menjawab, salah satu kakinya yang terus gemericik berisik di atas lantai marmer bersih yang membuat lorong sunyi semakin ramai.

Pintu ruang UGD cepat dibuka, Samuel datang-datang mencopot masker lalu dibuang begitu saja.

Tap! Tap! Tap! Langkah kakinya bergema sampai ujung lorong, cengkraman di kerah kemeja Arkan dipegang erat olehnya, matanya berkilat tajam, "Tuan Arkan. Maaf kalau saya harus melakukan hal sedurhaka ini kepadamu, tapi apakah Anda tahu? Ah—maaf mungkin saya malah membuat Anda bingung, bagaimana bisa ini hanya dikatakan kondisi mentalnya saja yang terguncang, rupanya lebih."

Arkan tak paham, membalas pegangan dokter Samuel keras, "Apa maksudmu hah?!"

"Seharusnya kau menyadari keadaan istrimu! Kau sering melihatnya sesak nafas dan sering jatuh atau tidak!!! Kalau begitu selamat, istrimu telah menderita kanker jantung stadium dua."

Keduanya seketika melotot kaget.

Bersambung...

1
Fanchom
ih kok ngeri gitu ver? 🤣🤣
Fanchom
asik ada gambarnya🤭🤭
Fanchom
lengkap banget ver, biodata karakternya? 🤭
Fanchom
aduh mengerikannya...
Fanchom
wih ada gambarnya😌, langka nih
Fanchom
kak aku sebenarnya suka sama karakter Aluna ini, cuma menurut ku dia ini kek kebanyakan pasrah gitu
Gumobibi Gumob
kok bisa lupa ente😶
Gumobibi Gumob
wah mahal nih mas arkan...
Gumobibi Gumob
yng sbr ya mb Vera 🤭 sllu
verachipuuu
siapa yang berdebar disini gara-gara Arkan 🤣🤣🤣
verachipuuu
oh ya 🤣🤣
Gumobibi Gumob
knp sllu gambrny g muncul? kn jadi penasaran aQ 🤣
Gumobibi Gumob
😄
verachipuuu
guys apakah ada gambar yang tidak muncul di device kalian 🧐
verachipuuu: ya makasih 🙏
total 2 replies
verachipuuu
hallo guys dukung Vera agar cemangat🤭🤭🤭😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!