“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Alisha. Jangan berpikir untuk meninggalkan aku lagi.” Albiru Danzel berkata dengan sangat lembut ketika memohon pada Alisha.
“Bukannya kamu membenciku, Albi?”
“Mungkin dulu aku benci karena ditinggalkan olehmu, tapi sekarang, aku sadar kalau kehadiranmu jauh lebih aku inginkan.” Alisha Malaika menunduk dengan tangan yang masih digenggam oleh Albiru.
Akankah mereka bisa bersama kembali setelah perpisahan di masa lalu yang sempat merebut kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjanaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 20
Albiru berdiri tepat di hadapan Rafi. Jarak mereka tidak sampai satu meter, namun udara di antara keduanya terasa begitu berat, seolah ada sesuatu yang siap meledak kapan saja. Rafi menelan ludah, berusaha mempertahankan sikap tenangnya, meski matanya berkedip terlalu sering.
“Apa yang kamu mau?” tanya Rafi dengan suaranya yang bergetar tipis. Albiru tidak menjawab. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, membuat Rafi refleks mundur hingga betisnya menyentuh tepi ranjang. Tatapan Albiru lurus, dingin, dan nyaris tanpa emosi. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Justru ketenangan itulah yang membuat Rafi merasa lebih terancam.
“Kamu tahu,” ucap Albiru akhirnya, “ada perbedaan besar antara orang yang menyesal dan orang yang cuma takut ketahuan.” Rafi mengerutkan kening. “Aku… aku gak ngerti maksud kamu.”
Albiru tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat sebagai senyum. “Kamu ngerti. Kamu cuma pura-pura, Rafi.”
Ia meraih kursi kecil di sudut kamar dan duduk perlahan, seolah mereka hanya dua orang yang akan berbincang santai. Tapi jari-jari Albiru mengepal di atas pahanya.
“Kamu datang ke rumah kekasihku. Kamu culik istriku. Kamu bikin dia trauma, takut, dan hampir kehilangan nyawanya,” ucap Albiru pelan, satu per satu kata jatuh seperti beban. “Dan sekarang kamu duduk di sini, berharap semua itu bisa selesai dengan pura-pura menghilang.”
Rafi menunduk. “Aku gak bermaksud sejauh itu…”
“Jangan,” potong Albiru. “Jangan bilang kamu gak bermaksud. Kamu tahu persis apa yang kamu lakukan. Kamu melakukan semua atas dasar rasa sayang pada Naya.” Suara Albiru masih tenang, tapi ada getaran halus di sana— karena menahan sesuatu yang jauh lebih gelap.
“Kamu tahu kenapa aku ke sini?” lanjut Albiru. “Bukan buat mukul kamu. Bukan buat teriak. Aku ke sini karena aku mau kamu ngerti satu hal.”
Rafi mengangkat wajahnya perlahan. “Apa?”
“Kalau kamu menyentuh hidup Alisha sekali lagi, aku pastikan hidup kamu gak akan pernah kembali seperti sekarang.” Rafi terdiam mendengarnya. Keringat mulai mengalir di pelipisnya akibat rasa takut yang mendominasi.
“Kamu pikir aku berlebihan?” Albiru berdiri lagi, mendekat, dan kini hanya tinggal satu langkah di depan Rafi. “Kamu gak tahu rasanya melihat orang yang kamu cintai gemetar tiap kali dengar suara pintu. Kamu gak tahu rasanya bangun tengah malam karena dia mimpi buruk dan nyebut nama kamu dengan suara ketakutan.”
Napas Rafi semakin berat. “Aku… aku cuma mau hidup tenang. Aku juga punya keluarga.”
“Keluarga?” Albiru tertawa pelan, hambar. “Kamu ingat keluarga itu saat kamu menyeret istri orang ke tempat gelap dan mengurungnya?”
Rafi tidak menjawab.
“Dengarkan aku baik-baik,” kata Albiru, suaranya kini lebih rendah. “Kamu sudah kehilangan hak buat minta damai.” Albiru mengeluarkan ponselnya. Ia membuka layar dan memutar sebuah rekaman. Suara Alisha terdengar samar, terpotong-potong, namun cukup jelas untuk membuat wajah Rafi memucat. Itu adalah potongan kesaksian Alisha yang direkam saat di rumah sakit—tentang apa yang Rafi lakukan.
“Itu satu dari banyak hal yang aku simpan,” ujar Albiru. “Belum termasuk saksi, jejak digital, dan laporan yang sedang diproses.”
Rafi gemetar. “Kamu mau laporin aku?”
“Bukan mau. Sudah,” jawab Albiru datar. “Masalahnya sekarang cuma satu.” Rafi mengangkat wajahnya, matanya merah. “Apa?”
“Kamu mau memperberat hukuman kamu sendiri, atau mau berhenti sampai di sini.” Rafi terdiam lama. “Kalau aku… kalau aku gak ganggu dia lagi?”
“Bukan cuma gak ganggu,” potong Albiru. “Kamu gak boleh mendekat, gak boleh menghubungi, gak boleh menyebut namanya di hidup kamu. Kamu hilang dari dunianya.” Rafi mengangguk cepat. “Aku janji akan menghilang dari Alisha.” Albiru menatapnya lama, seolah menimbang apakah janji itu punya arti. “Janji kamu gak ada artinya buat aku. Yang aku percaya cuma akibat.” Ia melangkah menuju pintu. Sebelum membuka gagang pintu, Albiru berhenti.
“Satu hal lagi,” katanya tanpa menoleh. “Aku gak pernah lupa wajah orang yang bikin istriku hampir hancur.”
Pintu terbuka. Albiru keluar tanpa menunggu jawaban. Rafi jatuh terduduk di ranjang, napasnya terengah, tangannya gemetar hebat.
...***...
Sore itu, Alisha berdiri di jendela kamarnya. Matahari hampir tenggelam, tapi bayangan Albiru belum juga muncul di halaman. Ponselnya masih sunyi. Jantungnya berdetak semakin cepat. Ketika suara mobil akhirnya terdengar, Alisha hampir berlari menuruni tangga. Ia berhenti di anak tangga terakhir saat melihat Albiru masuk dengan wajah yang sama seperti saat pergi yaitu tenang, tapi lebih gelap.
“Kamu ke mana saja?” tanya Alisha pelan. Albiru menatapnya, lalu meraih tangan Alisha dengan lembut. Sangat lembut. “Aku ke tempat yang perlu aku datangi sayang.” Albiru berkata sambil merapikan rambut Alisha yang jatuh menutupi wajahnya.
“Ke mana?” ulang Alisha.
Albiru mengusap punggung tangan istrinya. “Ke masa lalu yang harus ditutup.” Alisha menelan ludah. “Sudah selesai?”
Albiru mengangguk. “Sudah.”
Alisha ingin bertanya lebih banyak, tapi ia memilih diam. Entah kenapa, ia merasa beberapa jawaban memang tidak perlu ia dengar untuk tahu bahwa sesuatu telah berubah.
Malam itu, saat Alisha tertidur di pelukan Albiru, ia tidak tahu bahwa untuk pertama kalinya, Albiru tidak hanya menjadi pelindung dalam hidupnya. Ia juga telah menjadi batas antara dirinya dan masa lalu yang berusaha merenggutnya.
Albiru sudah memasang chip pelacak di tubuh Rafi saat berbincang dan semua itu tidaklah diketahui oleh Rafi. Albiru mengirimkan titik lokasi Rafi pada polisi agar polisi segera menangkapnya.
Malam berjalan perlahan di rumah itu. Lampu kamar menyala temaram, memantulkan bayangan Albiru yang duduk bersandar di sandaran ranjang, sementara Alisha terlelap di sisinya. Nafas istrinya teratur, wajahnya terlihat lebih tenang dari beberapa hari terakhir. Tapi pikiran Albiru justru semakin penuh.
Ia menunduk, menatap wajah Alisha lama, seolah ingin memastikan perempuan itu benar-benar aman di sisinya. Jemarinya menyentuh rambut Alisha pelan, lalu berhenti. Ada sesuatu yang mengendap di dadanya, campuran lega, marah, dan ketegangan yang belum sepenuhnya reda.
Ponselnya bergetar pelan.
Albiru meraih ponsel itu perlahan agar tak membangunkan Alisha. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia simpan, namun ia sudah tahu itu dari siapa.
Unit bergerak. Lokasi terkonfirmasi. Terima kasih atas koordinatnya.
Albiru menutup mata sesaat. Ia menghela napas panjang, lalu mengirim balasan singkat.
Pastikan dia tidak sempat menghilang lagi.
Albiru meletakkan ponselnya kembali ke meja kecil di samping ranjang. Lalu ia rebahkan tubuhnya, memejamkan mata, dan memeluk Alisha lebih erat. Dia hanya tinggal menunggu kalau Rafi tertangkap, dia sudah berusaha keras mencari keberadaan Rafi selama ini, dia tidak ingin gagal mendapatkan Rafi dan menghukum dia sesuai dengan apa yang telah dia perbuat.
Pagi harinya, saat sarapan, Albiru dan Alisha mendapatkan kabar kalau Rafi ditembak di sebuah penginapan oleh orang tak dikenal sehingga polisi hanya mendapatkan mayatnya saja. Albiru tersenyum karena itu adalah bagian dari rencananya dengan menghabisi Rafi, dia tidak mau kalau Rafi hanya dihukum penjara saja.