Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi istri yang seutuhnya
Lampu kristal di langit-langit kamar utama meredup, menyisakan cahaya kuning hangat yang menyelimuti atmosfer tegang di antara mereka. Evan masih berada dalam posisi yang sangat dekat, mengunci pandangan Kamila yang tampak gelisah di bawah kungkungannya.
"Kamila..." suara Evan merendah, berat dan penuh penyesalan. "Maafkan aku. Maaf karena sudah membuatmu meragukan segalanya."
Tangan kokoh Evan terangkat perlahan, mengusap lembut pipi Kamila yang terasa dingin. Ibu jarinya bergerak perlahan, membelai garis rahang hingga berhenti tepat di atas bibir Kamila yang sedikit terbuka. Napas Evan memburu, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk segera menyatukan bibir mereka, mengakhiri dahaga akan kasih sayang yang sempat terhalang dinding kesalahpahaman.
Namun, tepat saat wajah Evan mendekat, Kamila memalingkan wajahnya ke samping secara mendadak. Ia menolak sentuhan itu.
Evan tertegun sejenak. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak di dadanya. Ia pun beranjak, duduk di tepi ranjang dengan membelakangi Kamila, menyisakan jarak yang terasa sunyi.
"Aku tahu kau masih marah padaku," ucap Evan lirih tanpa menoleh. "Baiklah, akan aku jelaskan semuanya padamu. Siapa sebenarnya Eva."
Evan mulai bercerita. Suaranya terdengar tenang namun tegas saat ia memaparkan seluruh rencananya untuk membalas dendam atas segala kekejian Siska. Puncaknya, saat Evan menyebutkan bahwa Siska adalah dalang di balik peristiwa tragis yang merenggut nyawa Jingga saat melahirkan, tubuh Kamila menegang.
"Jadi... Siska dalang dari semua ini? Ibu dan kakak tiriku juga telah dimanfaatkan olehnya?" tanya Kamila dengan suara gemetar, tak percaya pada kekejaman yang baru saja ia dengar.
Evan membalikkan tubuhnya. Ia kembali menatap Kamila, lalu dengan lembut menyentuh pipinya, kali ini tanpa ada penolakan yang keras.
"Iya Kamila, semua masalah ini disebabkan oleh Siska. Nah, sekarang kau sudah tahu semuanya, kan? Aku dan Eva hanya bekerja sama untuk membeberkan semua kejahatannya selama ini. Maaf karena aku tidak memberi tahu kamu sebelumnya, aku tidak ingin kau terlibat dalam masalah besar ini. Biarlah aku yang mengatasinya sendiri."
Mendengar kejujuran itu, beban di dada Kamila seolah luruh. Senyum kecil yang tulus akhirnya tersungging di bibirnya. Melihat senyum itu, rasa bahagia menyeruak di hati Evan. Ia merasa kepercayaan itu perlahan kembali.
"Aku mau tanya padamu, Kamila?" goda Evan tiba-tiba, nada suaranya berubah sedikit lebih santai.
"Mas mau tanya apa?"
"Kenapa kau marah saat aku dekat dengan Eva? Bukankah pernikahan kita hanya sebatas menikah di atas kertas?"
Pertanyaan itu membuat Kamila tersentak. Wajahnya mendadak merona merah, ia menjadi sangat gugup. "Marah... Siapa yang marah? Aku biasa saja!" sangkalnya sambil membuang muka.
Evan tersenyum geli melihat tingkah istrinya. "Kalau suka sama aku tuh bilang. Buktinya sampai cemburu seperti tadi."
Merasa terpojok dan malu, Kamila mencoba bangkit dan kabur dari kamar. Namun, Evan jauh lebih cepat. Dengan satu tarikan lembut namun bertenaga, ia menarik tangan Kamila hingga wanita itu jatuh tepat ke dalam pelukannya. Evan mengunci tubuh Kamila dengan lengannya, membuat Kamila tak berkutik.
"Lepaskan aku, Mas! Bukankah kau sudah berjanji tidak akan menyentuhku? Tapi kenapa kau berani menciumku, bukan hanya sekali tapi dua kali!" protes Kamila dengan napas terengah.
Evan justru terkekeh gemas. "Memang salah ya, cium istri yang sudah halal? Meskipun pernikahan kita di atas kertas, tapi kau tetaplah istri sah ku di mata hukum dan agama."
Jantung Kamila berdegup kencang hingga terasa ke kerongkongan. Ia menelan ludah dengan susah payah saat Evan menatapnya dengan intensitas yang lebih dalam dari sebelumnya.
"Jika seandainya aku melanggar perjanjian itu, bagaimana?" bisik Evan di dekat telinganya.
Kamila mengerutkan dahi, bingung sekaligus takut. "Maksudnya?"
"Jika aku meminta hak suami padamu bagaimana, Kamila? Apakah kau mau melayaniku sebagai seorang istri yang seutuhnya?"
Tubuh Kamila seketika gemetar. Pelukan Evan semakin erat, seolah tak membiarkan ada celah udara di antara mereka. Namun, rasa rendah diri tiba-tiba menyusup ke hati Kamila. Ia menunduk sedih.
"Tapi, aku bukanlah wanita yang sempurna untukmu, Mas. Aku... aku wanita yang sudah tidak memiliki rahim. Aku tidak pantas untukmu!"
Melihat duka di mata Kamila, Evan segera menaikkan dagu istrinya itu agar kembali menatapnya. Matanya memancarkan ketulusan yang luar biasa.
"Aku tidak akan pernah menuntut apa pun padamu, Kamila. Apalagi soal anak. Bukankah kita sudah memiliki Baby Zevan?"
Kalimat itu menjadi kunci terakhir yang membuka pintu hati Kamila sepenuhnya. Ia tersenyum haru, menyadari bahwa pria di depannya ini benar-benar menerimanya apa adanya.
Tanpa kata-kata lagi, bibir mereka saling bertemu dan berpagut*n. Kali ini, tak ada penolakan. Evan sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya yang menggebu. Malam ini, ia ingin memiliki Kamila seutuhnya, wanita yang diam-diam telah menguasai seluruh hatinya. Kamila pun membalas dengan kelembutan yang sama, menyadari bahwa bayang-bayang mantan suaminya telah sirna, digantikan sepenuhnya oleh kehadiran Evan.
Di luar, hujan turun dengan derasnya, menyamarkan suara des*h napas dan pergulatan emosi di dalam kamar. Di bawah hangatnya selimut, keduanya menyatu dalam ikatan yang paling suci. Malam itu, Kamila benar-benar dibuat kewalahan oleh Evan yang begitu agresif, seolah ingin menunjukkan betapa besarnya cinta dan keinginan yang selama ini ia pendam.
Fajar menyingsing dengan lembut, menembus celah gorden kamar yang masih tertutup rapat. Evan membuka matanya, merasakan kepuasan dan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Di sampingnya, Kamila masih terlelap dengan napas yang teratur.
Kenangan semalam berputar kembali di benak Evan seperti potongan film yang indah. Bagaimana Kamila akhirnya menyerahkan seluruh hatinya, dan bagaimana bibir wanita itu terus membisikkan kata cinta di sela-sela pergumulan mereka yang penuh gair*h. Evan tersenyum tipis, merasa menjadi pria paling beruntung di dunia.
Ia bergeser mendekat, memeluk erat tubuh Kamila dari belakang. Dikecupnya punggung mulus istrinya yang seputih susu itu berkali-kali, lalu ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Kamila, menghirup aroma rambut yang begitu menenangkan.
Sentuhan itu membuat Kamila menggeliat. Matanya terbuka perlahan, dan kesadaran segera menyergapnya. Mengingat apa yang terjadi semalam, wajahnya langsung merona merah. Dengan gerakan cepat dan canggung, ia menarik selimut tebal hingga menutupi seluruh tubuh polosnya.
Evan yang melihat tingkah malu-malu itu justru merasa semakin gemas. Ia membisikkan kalimat yang membuat jantung Kamila seolah berhenti berdetak sesaat.
"I love you, Sayang..." bisik Evan tepat di telinganya.
Kamila menyembunyikan wajahnya di balik bantal, suaranya terdengar lirih namun penuh perasaan. "I love you too, Mas..."
Evan tidak bisa menahan diri. Ia mengeratkan pelukannya hingga tubuh mereka tak menyisakan jarak. Di balik selimut, Kamila bisa merasakan sesuatu yang menegang dari tubuh suaminya. Ia membelalakkan mata, menyadari bahwa 'gairah' pria itu telah kembali bangkit.
"Yuk!" ajak Evan singkat dengan nada menggoda.
Kamila menoleh sedikit, berpura-pura polos. "Ayuk apa, Mas?"
"Jangan pura-pura tidak tahu, Kamila. Kau tahu persis apa yang kuinginkan," Evan mengendus lehernya lagi, membuat Kamila bergidik.
"Tapi... punyaku masih sakit, Mas!" jawab Kamila dengan suara tercekat karena malu. Tubuhnya memang masih terasa lemas setelah 'pertempuran' hebat semalam yang menguras energi.
"Tenang saja, kali ini aku akan lebih pelan... aku janji," bisik Evan meyakinkan, matanya menatap Kamila dengan penuh permohonan yang sulit ditolak.
Akhirnya, di bawah cahaya pagi yang mulai terang, kejadian semalam terulang kembali. Kelembutan dan cinta menyatu dalam harmoni yang baru. Beruntung, Baby Zevan sangat pengertian, bayi itu tenang sepanjang malam dalam penjagaan Suster Zara, apalagi Kamila sudah menyiapkan stok ASI yang cukup di lemari pendingin.
Beberapa jam kemudian, aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruang makan. Evan tampak santai dengan kemeja yang kancing atasnya masih terbuka, sementara Kamila terlihat segar meski ada gurat kelelahan yang bahagia di wajahnya.
"Aku malas ke kantor hari ini," keluh Evan sambil menatap Kamila yang sedang menyiapkan piring. "Rasanya ingin di rumah saja seharian bersamamu."
Kamila tersenyum, lalu meletakkan tangannya di bahu Evan. "Ayo semangat, Mas. Jangan malas pergi ke kantor. Pekerjaanmu pasti menumpuk."
"Aku ini bosnya, Kamila. Wajar saja kalau bos ingin sesekali malas-malasan," sahut Evan dengan nada manja yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.
Kamila menggelengkan kepala pelan. "Justru karena Mas adalah bosnya, Mas harus memberikan contoh yang baik untuk karyawan lainnya. Kalau bosnya saja telat, bagaimana dengan yang lain?"
"Betul sekali apa yang dikatakan oleh istrimu itu, Evan!"
Suara bariton itu mengejutkan mereka. Tuan Chen berjalan masuk ke ruang makan dengan langkah tegap, wajahnya terlihat jauh lebih segar melihat keharmonisan di depannya.
"Papa?" Evan sedikit salah tingkah.
"Jangan membantah istrimu. Kamila benar. Seorang pemimpin dinilai dari kedisiplinannya," Tuan Chen duduk di kursi utama, tersenyum lebar menatap menantunya.
Seolah tak mau kalah, Baby Zevan yang berada di kereta bayinya tiba-tiba berteriak ceria, "Ba-ba-ba! Aa-guuu!"
Kamila tertawa kecil melihat tingkah putranya. "Tuh, dengar. Zevan saja bilang kalau Papa Evan harus kerja supaya bisa beli susu dan mainan yang banyak."
Evan mendesah pasrah, namun ada binar bahagia di matanya. "Tiga lawan satu, ya? Baiklah, aku menyerah. Aku akan berangkat."
Setelah menyelesaikan sarapan yang penuh tawa, Evan berpamitan. Ia sempat mencuri kecupan di kening Kamila dan pipi gembul Zevan sebelum melangkah menuju mobilnya. Tuan Chen memperhatikan kepergian putranya dengan perasaan lega yang luar biasa.
Konflik tentang Siska memang belum sepenuhnya usai, namun melihat kekuatan cinta Evan dan Kamila, Tuan Chen yakin bahwa badai apa pun yang datang tidak akan mampu merobohkan pondasi keluarga yang baru saja terbangun dengan kokoh ini.
Bersambung...
rani kevin jadian wah seru kynya
bagus ceritanya gak belibet.... pertahankan thor
💪💪💪♥️♥️♥️