Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.
Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.
Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IMPIAN YANG BERBENTUK DAN JALANAN YANG LEBIH PANJANG
Mentari pagi menyinari Sekolah Hadian yang sekarang sudah berdiri kokoh di pinggiran Jakarta. Sudah setahun sejak Qinara berbicara di Istana Merdeka, dan dia sekarang berusia empat belas tahun. Hari ini, mereka akan membuka cabang kedua Sekolah Hadian—di Yogyakarta, daerah yang terkenal dengan budaya dan pendidikan, tapi juga memiliki banyak anak-anak miskin yang tidak bisa sekolah.
Qinara berdiri di tengah ladang yang akan menjadi lokasi sekolah baru, bersama Pak Rio, Pak Santoso, Pak Joko, dan anak-anak dari Sekolah Hadian Jakarta. Di sekelilingnya, ada ratusan warga sekitar yang datang membantu, beserta pejabat lokal dan wartawan. Tangan dia tidak lagi gemetar seperti dulu—dia telah tumbuh menjadi gadis yang percaya diri dan penuh tekad.
"Qinara, lihat apa yang kita capai," kata Pak Rio, menunjukkan papan tanda yang menulis "SEKOLAH HADIAN YOGYAKARTA - CABANG KEDUA". "Hanya dalam satu tahun, kita sudah bisa membangun sekolah kedua. Ini semua karena semangatmu dan pesan ayahmu."
Qinara mengangguk, mata penuh air mata. Dia melihat ke arah gunung Merapi yang terlihat jelas di kejauhan—gunung yang menjadi simbol kekuatan dan kehidupan di Yogyakarta. Dia merasa bahwa ayahnya sedang melihatnya dari surga, senang melihat bahwa impiannya semakin berkembang.
Pak Santoso mendekatinya dengan tongkat kayu kedua yang dia buat—sama seperti yang pertama, tapi dengan ukiran bunga melati, bunga khas Yogyakarta. "Ini untukmu, Nak. Untuk membimbingmu di jalanan baru ini. Ayahmu pasti bangga melihat seberapa jauh kamu telah datang."
Qinara menerima tongkat itu dengan hati-hati. Dia meraba ukirannya dan merasa kehadiran ayahnya semakin dekat. "Terima kasih, Pak Santoso. Kita akan membangun sekolah ini dengan cinta, seperti yang kita lakukan di Jakarta."
Selama hari itu, mereka bekerja bersama-sama—menggali fondasi, membawa bahan bangunan, dan membangun papan tanda. Anak-anak dari Sekolah Hadian Jakarta membantu membersihkan tempat dan melukis gambar tentang impian mereka di papan kayu. Siti, yang sekarang sudah berusia tujuh belas tahun dan akan lulus dari sekolah hukum, membantu mengatur pekerjaan tukang.
"Kak Qinara, aku sudah mengajukan pendaftaran untuk magang di lembaga hukum yang membantu anak-anak yatim di Yogyakarta," kata Siti dengan senyum. "Aku ingin membantu membangun sekolah ini dan melindungi hak anak-anak di sini, seperti yang kamu lakukan padaku."
Qinara memeluk Siti dengan erat. "Aku bangga padamu, Siti. Kamu adalah bukti bahwa pendidikan bisa merubah hidup. Kita akan bekerja bersama-sama untuk membantu lebih banyak orang."
Sore hari, wartawan dari media nasional dan lokal datang meliput acara itu. Mereka bertanya kepada Qinara tentang rencana membangun lebih banyak sekolah. "Qinara, berapa banyak sekolah yang kamu rencanakan bangun?" tanya salah satu wartawan.
"Aku ingin membangun sekolah di setiap provinsi di Indonesia," jawab Qinara dengan suara tegas. "Setiap anak di Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang baik, tidak peduli di mana mereka tinggal. Ini adalah impian ayahku, dan aku akan melanjutkannya sampai semua impian itu terwujud."
Berita tentang pembangunan sekolah kedua itu segera menyebar. Banyak orang dari seluruh negeri menawarkan bantuan—seorang pengusaha dari Makassar memberikan uang untuk membangun sekolah ketiga di Sulawesi, seorang arsitek dari Bandung menawarkan desain sekolah secara cuma-cuma, dan lebih dari 500 orang mendaftar menjadi sukarelawan untuk membantu pembangunan.
Keesokan harinya, Qinara kembali ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya di Sekolah Hukum UI. Dia adalah siswa termuda di kelasnya, tapi dia juga yang paling berpengalaman dan dihormati. Teman-temannya selalu mencari nasihatnya tentang proyek sosial dan pekerjaan sukarelawan.
"Qinara, aku ingin membantu membangun sekolah di Sumatra. Bagaimana cara memulainya?" tanya Rudi, teman sekelasnya yang juga berasal dari panti asuhan.
"Kita bisa mulai dengan mengumpulkan dana dan mencari lokasi yang cocok," jawab Qinara. "Aku akan bantu kamu membuat rencana. Yang penting adalah memiliki tekad dan kasih sayang."
Selama bulan-bulan berikutnya, pembangunan Sekolah Hadian Yogyakarta berjalan lancar. Qinara menghabiskan semua waktu luangnya di sana—setiap akhir pekan dan liburan sekolah. Dia membantu mengawasi pekerjaan, berbicara dengan orang tua anak-anak yang akan bersekolah, dan mencari guru yang bersedia mengajar.
Dia juga bekerja sama dengan pemerintah untuk mendapatkan dukungan tambahan. Berkat janji presiden, pemerintah memberikan lahan dan bantuan keuangan untuk membangun sekolah ketiga di Medan. Ini adalah langkah besar yang membuat Qinara semakin percaya bahwa impian ayahnya akan terwujud.
Setelah sembilan bulan bekerja keras, Sekolah Hadian Yogyakarta selesai dibangun. Ini adalah bangunan yang indah, dengan empat kelas, satu perpustakaan yang penuh dengan buku tentang budaya Indonesia, satu ruang seni, dan satu lapangan olahraga yang luas. Dinding-dindingnya dicat dengan warna-warni, dan dinding kelas dipenuhi lukisan anak-anak dari Yogyakarta yang menggambarkan budaya dan tradisi mereka.
Hari pembukaan sekolah diadakan pada hari ulang tahun ayahnya yang ke-50. Lebih dari 300 orang datang ke acara itu—200 anak yang akan bersekolah, orang tua mereka, guru, pejabat lokal, dan teman-temannya dari Jakarta.
Qinara berdiri di panggung, mengenakan baju batik Yogyakarta yang cantik. Dia memegang tongkat yang diberikan Pak Santoso dan kotak pemberian ayahnya. "Hari ini, kita merayakan ulang tahun ayahku yang ke-50 dan pembukaan Sekolah Hadian Yogyakarta. Ini adalah hari yang spesial, karena kita telah mewujudkan impian ayahku yang semakin besar."
Dia melihat ke arah anak-anak yang berdiri di depan panggung. "Untuk anak-anak di sini—jangan pernah melupakan impianmu. Kamu semua memiliki potensi untuk menjadi orang yang hebat. Pendidikan akan membantumu mencapai itu, dan kita semua akan ada di sini untuk membantumu."
Suara tepuk tangan yang meriah terdengar. Kemudian, gubernur Yogyakarta berdiri dan memberikan pidato. "Qinara adalah contoh bagi semua warga Yogyakarta dan Indonesia. Dia telah membangun sekolah yang tidak hanya memberikan pendidikan, tapi juga kasih sayang dan harapan. Kita bangga padanya."
Setelah pidato, mereka melakukan upacara pemotongan pita. Qinara memotong pita dengan tongkatnya, dan semua orang bersorak kegembiraan: "Hidup Qinara! Hidup Sekolah Hadian!" Anak-anak kemudian memasuki kelas untuk pertama kalinya, dengan wajah yang penuh harapan.
Sore hari, Qinara mengunjungi penjara untuk melihat Laras. Dia membawa foto Sekolah Hadian Yogyakarta dan berita tentang rencana membangun sekolah ketiga. "Ibu, kita sudah membangun sekolah kedua. Dan pemerintah akan membantu kita membangun yang ketiga di Medan. Ayahmu pasti bangga."
Laras melihat foto itu dengan mata yang penuh air mata. Dia telah mendapatkan pengurangan hukuman karena perilaku yang baik, dan wajahnya terlihat lebih tenang. "Qinara... aku tidak bisa membayangkan seberapa jauh kamu telah datang. Aku bangga padamu, meskipun aku tahu aku telah melakukan kesalahan yang besar. Aku berdoa untukmu setiap hari, agar impianmu terwujud."
"Terima kasih, Ibu," jawab Qinara dengan nada lembut. Dia masih tidak bisa memaafkan ibunya sepenuhnya, tapi dia merasa hubungan mereka semakin baik. "Aku akan selalu memberitahu kamu tentang perkembangannya."
Malam itu, Qinara berdiri di teras Sekolah Hadian Yogyakarta, memandang gunung Merapi yang disinari bulan. Dia memegang kotak pemberian ayahnya, yang sekarang sudah penuh dengan surat, foto, medali, dan bukti-bukti pencapaiannya. Dia membaca surat ayahnya sekali lagi:
"Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah. Semua hartaku adalah milikmu, tapi warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan kasih sayang untuk membantu orang lain."
Dia menyenyum. Dia tahu bahwa dia telah melewati jalanan yang panjang, tapi masih ada banyak lagi yang harus dilakukan. Impian ayahnya semakin besar, dan dia siap untuk mengejarnya.
Pak Rio mendekatinya dengan surat baru. "Qinara, ini dari Organisasi Bangsa-Bangsa Bersatu. Mereka mengundangmu untuk berbicara di New York pada konferensi tentang pendidikan anak-anak di negara berkembang. Mereka ingin kamu berbicara tentang pengalamanmu dan pesan ayahmu."
Qinara membaca surat itu dan merasa hati dia penuh kegembiraan. Ini adalah kesempatan untuk menyebarkan pesan ayahnya ke seluruh dunia. "Aku akan pergi, Pak Rio. Aku ingin memberitahu dunia bahwa anak-anak Indonesia memiliki harapan, dan bahwa setiap orang bisa membuat perbedaan."
Mentari esok akan muncul, dan dengan itu, jalanan yang lebih panjang dan impian yang lebih besar. Qinara siap untuk menghadapinya—dengan keberanian dari ayahnya, dukungan dari orang-orang yang mencintainya, dan tekad yang kuat untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.
Ayahnya selalu menyertainya, dan warisan ayahnya akan hidup selamanya di semua yang dia bangun.