Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Tangan yang Berlumuran Dosa
Darah itu terasa hangat, jauh lebih hangat daripada air hujan yang mengguyur hutan. Saat tulang tajam yang digunakan Jiangzhu menembus jakun murid Sekte Awan Biru itu, tidak ada suara ledakan besar. Hanya ada suara 'slurph' yang menjijikkan, diikuti oleh desis udara yang keluar dari tenggorokan yang bocor.
Jiangzhu membeku sesaat. Matanya menatap lurus ke mata murid itu yang mulai meredup, membelalak kaget, dan akhirnya kosong. Ini bukan serigala. Ini adalah manusia. Seseorang yang mungkin punya ibu, atau seseorang yang kemarin masih tertawa di kedai kopi desa.
"Jangan melamun, bodoh! Yang lain datang!" Suara Penatua Mo menyentak kesadarannya seperti sengatan listrik.
"Di sana! Si keparat itu ada di sana!" teriak pria berkumis, pemimpin regu itu.
Jiangzhu menarik tulang tajam itu dengan sentakan kasar. Crat! Darah memercik ke wajahnya, terasa lengket dan berbau besi yang kuat. Ia tidak sempat merasa mual. Adrenalin telah mengambil alih kewarasannya. Ia berbalik dan melesat ke dalam semak berduri, mengabaikan goresan di kulitnya.
"Kepung dia! Jangan biarkan dia masuk ke area kabut!" perintah pria berkumis itu.
Jiangzhu berlari, paru-parunya terasa seperti diisi oleh pasir panas. Meskipun tubuhnya sudah diperkuat, ia belum terbiasa dengan intensitas pertarungan hidup-mati. Ia bisa mendengar derap langkah sepatu bot yang berat mengejarnya. Ada tiga orang tersisa. Satu di tingkat Pemurnian Tubuh tahap tujuh si kumis, dan dua lainnya di tahap empat.
Secara logika, Jiangzhu kalah jumlah dan kalah pengalaman.
"Penatua Mo, beri aku sesuatu! Aku tidak bisa melawan mereka sekaligus!" batin Jiangzhu sambil melompati akar pohon raksasa.
"Kau punya energi Iblis dan Dewa di tubuhmu, tapi kau menggunakannya seperti kuli panggul!" gerutu Penatua Mo dari dalam gulungan. "Gunakan esensi hitammu. Alirkan ke tanah melalui kakimu. Rasakan denyut nadi hutan ini. Jadilah bagian dari bayangan, bukan pelari dari bayangan!"
Jiangzhu mencoba melakukan apa yang dikatakan roh tua itu. Sambil terus berlari, ia memfokuskan pikirannya ke telapak kakinya. Ia membayangkan energi hitam di Dantian-nya bocor keluar, merembes ke tanah yang lembap.
Seketika, dunia di matanya berubah warna. Semuanya menjadi kelabu, kecuali jejak panas yang ditinggalkan oleh para pengejarnya. Ia bisa merasakan akar-akar pohon di sekitarnya seolah-olah adalah perpanjangan dari sarafnya sendiri.
"Dapat kau!"
Pria berkumis itu tiba-tiba muncul dari samping, pedang lebarnya menebas secara horizontal. Wush! Angin tebasan pedang itu hampir membelah dada Jiangzhu.
Jiangzhu melakukan gerakan refleks yang bahkan tidak ia sadari. Tubuhnya meliuk ke bawah dengan sudut yang mustahil bagi manusia biasa, lalu tangannya yang dipenuhi energi hitam mencengkeram tanah.
"Taring Bumi!" teriak Jiangzhu tanpa sadar.
KRAKK!
Akar-akar pohon yang besar di bawah kaki pria berkumis itu tiba-tiba mencuat ke atas seperti tombak kayu. Pria itu terkejut, mencoba melompat mundur, namun salah satu akar runcing berhasil menusuk paha kanannya.
"AAAGH! Sialan! Teknik macam apa ini?!" pria itu terjatuh, darah segar membasahi celana birunya.
Dua murid lainnya sampai dan ragu-ragu sejenak melihat pemimpin mereka terluka oleh "hutan" itu sendiri. Ketakutan mulai merayap di wajah mereka. Di mata mereka, Jiangzhu yang berdiri di bawah bayangan pohon besar dengan wajah berlumuran darah tidak lagi terlihat seperti pemuda yatim piatu yang lemah. Ia terlihat seperti hantu hutan.
"Dia... dia penyihir hitam! Dia memuja iblis!" teriak salah satu murid yang lebih muda, tangannya gemetar memegang pedang.
Jiangzhu menarik napas dalam. Rasa mual yang tadi ia rasakan telah hilang, digantikan oleh rasa dingin yang sangat tenang. Ia merasa seolah-olah hatinya telah dibungkus oleh es.
"Kalian datang untuk membunuhku demi hadiah, bukan?" suara Jiangzhu terdengar rendah, hampir seperti geraman binatang. "Maka jangan mengeluh jika kalian yang berakhir di dalam tanah."
Jiangzhu bergerak. Kali ini ia yang menyerang. Ia menggunakan teknik "Langkah Bayangan" yang belum sempurna, tapi cukup untuk membuatnya tampak seperti kilatan hitam di antara pepohonan.
Plak!
Ia menghantam pergelangan tangan murid yang gemetar tadi, membuat pedangnya terlepas. Sebelum murid itu bisa berteriak, Jiangzhu menghantamkan sikunya ke ulu hati lawan, lalu memutar tubuhnya untuk menendang murid satunya lagi tepat di pelipis.
Suara tulang retak terdengar jelas di kesunyian hutan.
Dalam waktu kurang dari satu menit, dua murid itu terkapar. Satu pingsan dengan leher miring, satu lagi memegangi perutnya sambil memuntahkan cairan empedu.
Jiangzhu berbalik ke arah pria berkumis yang masih mencoba mencabut akar dari pahanya. Pria itu menatap Jiangzhu dengan mata penuh kebencian sekaligus horor.
"Sekte Awan Biru tidak akan melepaskanmu... Penatua akan memburumu sampai ke ujung dunia..." ancam pria itu dengan suara serak.
Jiangzhu berjalan mendekat perlahan. Ia mengambil pedang lebar milik pria itu yang terjatuh di tanah. Pedang itu berat, terbuat dari besi hitam yang cukup bagus.
"Biarkan mereka datang," kata Jiangzhu datar. "Tapi kau tidak akan ada di sana untuk melihatnya."
Sret!
Satu tebasan bersih.
Hutan kembali sunyi, hanya menyisakan suara tetesan darah yang jatuh ke daun talas besar. Jiangzhu berdiri diam selama beberapa menit. Tangannya masih memegang pedang yang kini menjadi miliknya. Ia merasa kosong. Tidak ada kemenangan yang terasa manis, hanya ada kenyataan bahwa dunia ini memang sekejam yang ia bayangkan.
"Bagus. Kau belajar dengan cepat," Penatua Mo muncul kembali, menatap mayat-mayat itu dengan tatapan apatis. "Sekarang, geledah mereka. Mereka pasti membawa kantong penyimpanan atau setidaknya beberapa batu energi. Jangan jadi pembunuh yang miskin, itu sangat memalukan."
Jiangzhu menghela napas panjang, mencoba menyingkirkan bayangan wajah orang-orang itu dari pikirannya. Ia mulai menggeledah pakaian mereka. Benar saja, ia menemukan beberapa keping perak, beberapa botol kecil berisi pil pemulihan luka, dan sebuah peta wilayah pinggiran Hutan Kematian.
Namun, di dalam saku pria berkumis, ia menemukan sesuatu yang lebih penting: Sebuah lencana logam dengan simbol matahari terbenam.
"Lencana Bounty Hunters?" gumam Jiangzhu. "Jadi mereka bukan sekadar murid sekte. Mereka adalah pemburu hadiah yang disewa secara khusus."
"Artinya, kepalamu sudah punya harga yang mahal, Bocah," Penatua Mo terkekeh. "Dan lencana itu memiliki pelacak spiritual. Jika kau tidak segera menghancurkannya atau menyembunyikannya di dalam ruang dimensi, teman-teman mereka akan menemukannmu dalam hitungan jam."
Jiangzhu segera meremas lencana itu dengan energi hitamnya hingga hancur menjadi serpihan tak berbentuk.
"Kita tidak bisa terus berlari tanpa tujuan," kata Jiangzhu sambil menatap peta di tangannya. "Pak Tua, kau bilang ada tempat di dalam hutan ini yang bisa menyembunyikan auraku sepenuhnya?"
"Ada. Sebuah tempat yang disebut Lembah Kabut Jiwa. Tapi di sana adalah tempat di mana mayat hidup dan binatang arwah berkumpul. Jika kau masuk ke sana, kau mungkin tidak akan pernah keluar sebagai manusia lagi."
Jiangzhu menatap tangannya yang merah karena darah orang-orang yang ia bunuh. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan kepahitan.
"Aku sudah kehilangan kemanusiaanku sejak semalam, Pak Tua. Apa bedanya?"
Dengan pedang baru di punggungnya dan hati yang semakin membatu, Jiangzhu melangkah lebih dalam ke arah utara, menuju wilayah yang bahkan para pemburu hadiah paling berani pun tidak berani menginjakkan kaki.