Bhadrika Anneta Fabian memilih bersembunyi dari keluarganya karena belum siap menerima pernikahannya dengan seorang pria yang tak ia cintai.
Sementara Pangeran Aditama meski sudah tiga tahun berlalu masih terus mencari Istri sirinya yang kabur, hingga pada akhirnya ia menemukan titik terang tentang keberadaannya
" Jika kamu tak ingin aku menjadi Tuan Pemaksa, maka patuhi dan cintai aku sebagai suamimu."
" Tapi aku tetap tidak bisa mencintaimu karena di hati ini hanya ada dia. Jadi lepaskan saja aku!"
" Anne dia sudah pergi, jadi lupakanalah! Lagipula aku tidak akan pernah melepaskanmu karena kamu akan tetap menjadi istriku sampai nanti. "
Di kala Pangeran masih berjuang untuk mendapatkan cinta istri, tiba-tiba muncul seseorang yang sangat mirip dengan almarhum pria yang sangat Anne cintai.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan mereka selanjutnya?
Follow ig Author : Novi_Rahajeng08
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi rahajeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 : Aku bukan boneka
Hari ini, Anne sudah mulai bersikap normal layaknya seorang istri. Dan hal itu membuat Pangeran semakin ingin segera meresmikan pernikahan mereka sekaligus membuat sebuah pesta agar tak ada lagi berita miring tentang pernikahan mereka.
" Sayang," panggil Pangeran pada Anne yang masih duduk di meja rias tengah menggunakan skincare malam sebelum tidur.
" Ada apa?"
Pangeran beringsut turun dari ranjang, lalu berjalan menghampiri sang istri. Seperti biasa, Pangeran sangat suka sekali meletakkan kepalanya di pundak sang istri sambil melingkarkan tangannya di perut Anne.
" Ayo menikah," ucap Pangeran to the point.
Dahi Anne berkerut, lalu menatap Pangeran dengan tatapan tak mengerti. " Bukankah kita sudah menikah?"
" Aku tahu, maksudnya menikah secara hukum biar tidak ada gunjingan atau ___"
" Aku belum siap!" potong Anne.
Pangeran bangun dari posisi sebelumnya, kemudian beralih berjongkok dan memutar kursi Anne agar istrinya bisa menghadap ke dirinya.
" Kamu belum siap kenapa lagi? Bukankah biasanya seorang wanita akan lebih bahagia jika dia akan di nikahi secara resmi bukan hanya siri?"
" Ya ... itu 'kan wanita lain tapi bukan aku!" jawab Anne ambigu.
Pangeran semakin di buat bingung oleh jalan pikiran Anne. Apalagi coba yang membuatnya belum siap untuk menikah secara hukum? Bukankah kemarin dia sudah mau menerima pernikahan ini? Pernikahan siri memang sah di mata agama dan juga Tuhan yang maha esa. Akan tetapi, dalam hukum status mereka bukanlah sepasang suami istri. Bahkan, status di ktp juga masih sama-sama lajang karena belum mempunyai akta nikah.
Bagi laki-laki yang tak bisa hidup bersama satu wanita, mungkin mereka akan lebih senang menikah secara agama karena bisa dengan mudahnya menikah lagi. Tapi bagi Pangeran, dia ingin menikah secara hukum agar pernikahan ini di lindungi.
" Anne ... Memangnya kamu tak takut jika suamimu dengan mudahnya bisa menikah lagi dengan wanita lain?" Pangeran mencoba memancing Anne. Siapa tahu setelah ini dia akan mau untuk menikah secara hukum agar bisa mengikat suaminya.
" Kalau kamu mau, bukankah sudah sejak dulu kamu menikah lagi! "
Skak mat.
" Ya aku kan___"
" Oh, ya," sela Anne.
" Kenapa sayang?" tanya Pangeran yang masih berharap kalau Anne akan berbicara sesuatu yang baik.
Apa aku harus menanyakan sekarang ya? Mumpung membahas soal menikah kan!
" Sayang ...." Pangeran kembali memanggil tatkala melihat Anne yang hanya diam saja.
" Apa Kamu sebelumnya sudah pernah menikah?" Akhirnya Anne menanyakan hal ini juga.
Pangeran justru terlihat tertawa tatkala mendengar Anne yang tiba-tiba menanyakan apakah dia sudah menikah.
" Kamu kenapa ketawa? Apakah ada yang lucu?"
Pangeran mengangguk, lalu menggenggam tangan Anne dengan tatapan begitu dalam.
" Aku belum pernah menikah dengan seorang wanita selain kamu Bhadrika Anneta Fabian. Jadi, kamu adalah istri pertamaku dan semoga bisa menjadi yang terakhir juga."
" Kalau anak?" Anne masih saja penasaran karena bukannya tak mungkin seseorang memiliki anak di luar pernikahan.
Dan, raut wajah Pangeran tiba-tiba berubah seakan ada sesuatu yang ia sembunyikan.
" Kita tidur yuk, sudah malam, " ajak Pangeran yang tiba-tiba tak mau membahas soal ini lagi.
" Pangeran ... Jadi apa benar, kalau kamu sudah memiliki anak?" Anne kembali bertanya untuk memastikan. Pasalnya, gerak gerik Pangeran tiba-tiba berubah menjadi aneh tatkala Anne menanyakan soal anak.
" Anne bukankah aku tadi sudah mengatakan kalau belum pernah menikah. Jadi, bagaimana mungkin aku sudah mempunyai anak," terang Pangeran yang berharap bahwa Anne tak akan membahas soal ini lagi.
Anne memicingkan matanya, Ia seakan yakin bahwa ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Pangeran.
Sebenarnya, seperti apa masa lalu suamiku?
...***...
Keesokan paginya, saat sedang sarapan pagi bersama tiba-tiba Papa Ken membahas soal pernikahan.
" Oh, ya Ran, Anne. Kemarin papa tanya ke teman yang dulu juga mengurus pernikahan kedua kakak kamu. Katanya kalian harus mengulang akad lagi karena pernikahan itu sudah terjadi cukup lama. Jadi, gimana? Kalian mau kapan meresmikan pernikahan?"
Meresmikan pernikahan? Bukankah semalam aku sudah menolak?.
" Pa Anne___"
" Secepatnya, Pa," sela Pangeran sebelum Anne menjawab.
Anne terlihat melirik ke arah Pangeran dengan tatapan tak mengerti. Bukankah semalam ia sudah jelas mengatakan kalau belum siap? Tapi kenapa sekarang.
" Ran bukan___"
" Hari ini Pangeran dan Anne akan mengurus semua dokumen yang di butuhkan." Lagi-lagi Pangeran memotong ucapan Anne.
" Baguslah kalau begitu, kalau butuh bantuan bilang saja sama Papa."
" Apa resepsinya akan di lakukan dalam waktu dekat juga?" Mama Dira ikut bertanya.
" Tentu saja, Ma. Karena Pangeran tidak mau terus-menerus menyembunyikan pernikahan siri ini," terang Pangeran yang membuat Anne semakin kesal mendengarnya.
Sepertinya, sikap egois dan semena-mena Pangeran tidak berubah. Masih sama seperti dulu.
" Ma, Pa Anne___"
" Aku ingin bicara." belum saja Anne selesai mengatakan apa yang ingin ia sampaikan. Pangeran sudah lebih dulu menarik tangannya untuk pergi dari meja makan.
Ketika sudah berada di tempat yang sepi dan jauh dari meja makan. Anne langsung menghempaskan secara kasar tangan Pangeran yang mencekalnya.
" Pangeran kamu apa-apaan? Bukankah semalam sudah aku katakan kalau belum siap? Tapi kenapa sekarang kamu justru membuat sebuah rencana tanpa berunding terlebih dahulu?" tukas Anne dengan darah yang sudah mendidih siap untuk meluap.
" Kamu tidak menyukainya? "Pangeran justru kembali bertanya dengan santainya.
" Tentu saja, aku ini istri kamu Pangeran bukan boneka! Jadi, bisakah tidak memutuskan sesuatu tanpa bertanya lebih dulu? " tukas Anne yang terlihat sangat marah.
Pangeran melangkahkan kakinya mendekat, lalu meletakkan tangannya di tembok seakan mengunci Anne agar tak bisa kemana-mana.
" Aku tak pernah menganggapmu sebagai boneka, karena kamu___" Pangeran menyentuh lembut pipi Anne dan berhenti dengan memegang dagunya.
" Kamu adalah istri yang sangat aku cintai Anne. Maka dari itu aku ingin memberimu status yang legal, bukan hanya sebagai istri siri. Jadi, menurutlah sayang ...," ucap Pangeran dengan tersenyum smirk.
" Tapi aku belum siap Pangeran," jawab Anne.
" Kenapa Kamu belum siap? "
" Awalnya, aku belum siap hanya karena belum bisa mencintaimu. Tapi sekarang, sepertinya aku juga kurang yakin apakah bisa mencintai dan hidup bersama dengan pria Pemaksa seperti dirimu! "sarkas Anne dengan tatapan tajam.
" Jika kamu tak ingin aku menjadi Tuan Pemaksa, maka patuhi dan cintai aku sebagai suamimu."
" Tapi aku tetap tidak bisa karena ternyata, orang yang bisa mengerti dan mencintaiku hanya dia. Jadi lepaskan saja aku! "
Dada Pangeran terasa sangat sesak bagai tertindih batu besar, hatinya sakit seakan tertusuk tombok yang begitu tajam tatkala mendengar Anne yang masih saja belum bisa melupakan Brian. Mata Pangeran memerah, tanganya pun ikut mengepal erat sampai memukul tembok.
" Anne dia sudah pergi, jadi lupakanalah! Lagipula aku tidak akan pernah melepaskanmu karena kamu akan tetap menjadi istriku sampai nanti!"pungkas Pangeran dengan penuh penegasan bahwa ia tak akan pernah melepaskan Anne sampai kapanpun.
" Kamu egois! "cibir Anne.
" Kamu lebih egois Anne! "bentak Pangeran yang membuat Anne menjadi takut.
...****************...
penasaran sama lnjtn nya