Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak bisa menahan diri
Setelah menyelesaikan salat Isya, Kamila memastikan Baby Zevan sudah terlelap di boks bayinya. Aroma lavender di kamar itu biasanya menenangkan, namun jantung Kamila tetap saja berpacu cepat saat ia melangkah menuju ruang makan.
Di sana, Evan sudah duduk dengan kemeja santai, tampak jauh lebih rapi dibanding saat insiden handuk tadi sore. Namun, bayangan dada bidang dan aroma sabun suaminya itu masih tertinggal jelas di benak Kamila. Ia duduk di samping Evan dengan gerakan kaku.
Tuan Chen yang duduk di kepala meja, menyesap tehnya perlahan. Ia menyadari gerak-gerik canggung menantunya dan tatapan Evan yang sesekali mencuri pandang ke arah Kamila. Sebuah senyum tipis terukir di wajah pria tua itu.
'Sepertinya rencana pertamaku berhasil," gumam Tuan Chen dalam hati. "Semoga saja putraku bisa menerima Kamila di hatinya dan tidak terus-menerus larut dalam kepahitan karena wanita yang sangat dicintainya telah tiada.'
"Mari makan. Jangan sampai makanannya dingin," ujar Tuan Chen memecah keheningan.
Suasana makan malam yang semula tenang berubah menjadi serius saat Evan meletakkan sendoknya. Wajahnya mengeras.
"Papa, ada perkembangan mengenai Jaka," ucap Evan. Kamila mendongak, rasa ingin tahunya muncul. "Dia sudah ditemukan. Namun kondisinya sangat mengenaskan... Jaka saat ini koma."
Tuan Chen tersentak, "Koma? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Dia disekap di desa terpencil di luar pulau Jawa. Sepertinya ini adalah pesan peringatan dari pihak lawan," jawab Evan dingin. "Lakukan penjagaan super ketat di Rumah Sakit. Kita tidak bisa menganggap remeh Siska Rahadian. Dia benar-benar sudah sinting dan tidak waras."
Mendengar nama Siska, darah Kamila bergejolak. Rasa ngeri sekaligus marah bercampur menjadi satu. Ia tak habis pikir bagaimana seorang wanita, hanya karena obsesi ingin memiliki Evan, tega melakukan hal sekeji itu.
Malam semakin larut. Di dalam kamar utama, suasana kembali menjadi sunyi yang menyesakkan. Evan sudah berbaring terlentang, sementara Kamila memilih posisi memunggunginya, meringkuk di tepi ranjang.
Evan melirik punggung istrinya. Ada keinginan kuat dalam dirinya untuk meminta Kamila berbalik, menatapnya seperti tadi sore.
"Kamila, eh... Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, apakah kamu sudah tidur?" tanya Evan memecah kesunyian.
Kamila, yang sebenarnya sedang berjuang menenangkan detak jantungnya, menjawab dengan suara pelan. "B.. belum Mas, saya belum tidur."
Kamila berbalik posisi, miring ke arah suaminya. Mata mereka bertemu. Ingatan tentang hidung yang hampir bersentuhan tadi sore membuat wajah Kamila kembali memanas. Evan segera bangkit, duduk di tepi ranjang dan mengambil sesuatu dari laci nakas. Kamila pun ikut bangkit dan duduk bersila menghadapnya.
"Ambillah ini!" Evan menyodorkan sebuah kartu berwarna hitam legam dengan aksen emas.
"Apa itu Mas?"
"Ini adalah kartu debit tanpa batas. Kau bisa membeli semua keperluanmu, apa pun itu, pakailah kartu ini."
Kamila terkejut dan refleks menarik tangannya. "Anda tidak perlu repot-repot seperti ini, Mas."
Evan mengernyitkan kening. "Repot apanya, Kamila? Sekarang kau adalah istriku dan aku wajib menafkahi mu lahir dan batin. Maksudku... Bukan nafkah batin, maaf...!" Evan berdehem salah tingkah, menyadari kata-katanya barusan terdengar ambigu.
"Tidak apa-apa Mas. Pernikahan ini terjadi demi Baby Zevan dan demi Mas yang ingin melindungi ku dari Siska," sahut Kamila lembut namun terasa seperti pengingat bagi mereka berdua tentang status hubungan ini.
Evan tak menyerah. Ia meraih tangan Kamila, memaksa jemari wanita itu menggenggam kartu tersebut. Sentuhan itu kembali menyetrum saraf Kamila. Evan sedikit mencondongkan tubuhnya, menatap dalam ke netra Kamila.
"Kau tidak usah takut menggunakan kartu ini. Aku sudah pernah mengatakan padamu kalau aku tidak akan menuntut mu untuk melakukan hubungan suami istri, terkecuali..." Evan menggantung kalimatnya.
"Terkecuali apa, Mas?" tanya Kamila penasaran.
"Terkecuali kita saling mencintai dan ingin memiliki satu sama lainnya. Dan mungkin semua itu tidak akan pernah terjadi, iya kan?"
Kalimat terakhir Evan terasa seperti hantaman telak bagi Kamila. Ia diam mematung, menatap kartu hitam di tangannya dengan pandangan kosong.
'Cinta? Apakah aku pantas mencintai ataupun dicintai pria sepertimu, Mas Evan?" batin Kamila perih. "Aku hanyalah wanita cacat yang sudah tidak memiliki rahim. Aku wanita yang tidak sempurna." batinnya lirih
Tanpa sadar, setitik air mata menggenang di sudut mata Kamila, namun ia segera menunduk agar Evan tidak melihatnya
Keheningan kamar yang tadinya canggung mendadak berubah menjadi menyesakkan. Evan tertegun saat melihat pantulan cahaya lampu di sudut mata Kamila. Kristal bening itu akhirnya luruh, jatuh melewati pipinya yang pucat.
"Kamila? Kenapa menangis?" tanya Evan dengan nada yang seketika berubah lembut. Ada rasa panik yang terselip dalam suaranya.
Tanpa sadar, Evan mengulurkan tangan. Ibu jarinya menghapus jejak air mata itu dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah Kamila adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja. Melihat bahu Kamila yang sedikit bergetar, pertahanan diri Evan runtuh. Ia menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
Ini adalah kedua kalinya Evan memeluk Kamila. Namun kali ini terasa berbeda, lebih erat, lebih protektif. Kamila yang awalnya kaku, perlahan menyandarkan kepalanya di dada bidang Evan. Aroma sabun maskulin yang bercampur dengan kehangatan tubuh suaminya itu memberikan rasa nyaman yang anehnya sangat ia rindukan.
"Maaf jika kata-kataku telah menyinggung perasaanmu," bisik Evan tepat di telinga Kamila, suaranya parau karena rasa bersalah.
Kamila menggeleng pelan dalam pelukan itu, mencoba mengatur napasnya yang sesak oleh emosi. "Tidak Mas, sayanya saja yang terlalu dibawa perasaan."
Evan perlahan melonggarkan pelukannya, namun tangannya tetap berada di bahu Kamila. Ia menatap wajah istrinya dari jarak yang sangat dekat. Dalam temaram lampu kamar, mata Kamila yang masih basah terlihat begitu indah. Kamila pun seolah terhipnotis, ia menatap dalam ke bola mata Evan, mencari sisa-sisa kemarahan atau kepahitan, namun yang ia temukan hanyalah kedamaian yang menghanyutkan.
Tangan Evan naik, mengusap lembut pipi Kamila. Ibu jarinya kemudian bergerak turun, menyentuh permukaan bibir Kamila yang sedikit terbuka. Gerakan itu membuat Evan tak sengaja menelan ludah. Fokusnya kini sepenuhnya teralih pada bibir yang merekah di depannya.
Logika Evan berteriak untuk berhenti, namun hasrat yang sudah tertahan sejak sore tadi jauh lebih kuat. Secara perlahan, ia mencondongkan wajahnya hingga napas mereka bertemu. Detik berikutnya, ia menyatukan bibir mereka.
Kamila tersentak, namun tidak ada perlawanan. Alih-alih menghindar, ia justru seolah menikmati ciuman hangat itu. Ada rasa haus yang selama ini terpendam yang tiba-tiba meluap. Namun, ciuman yang semula lembut itu lambat laun berubah menjadi panas dan menuntut. Evan seolah ingin menumpahkan seluruh beban dan keraguannya lewat sentuhan itu.
Pagutan itu semakin dalam dan intens hingga Kamila mulai merasa paru-parunya kekurangan oksigen. Ia mencoba melepaskan diri, namun Evan yang seolah kehilangan kendali terus menyes*pnya dengan penuh gair*h. Dalam desakan rasa sesak, Kamila akhirnya memukul dada bidang Evan dengan sisa kekuatannya.
"L... lepas... Hosh... Hosh!"
Kamila berhasil terlepas. Ia menghirup udara sebanyak-banyaknya dengan napas tersengal. Wajahnya merah padam. Dengan tangan gemetar, ia menutup bibirnya yang terasa panas seperti disengat lebah. Tanpa sepatah kata pun, ia segera berbalik dan berlari keluar kamar menuju kamar Baby Zevan, meninggalkan Evan dalam kesunyian yang membeku.
Di dalam kamar utama, Evan terpaku di tepi ranjang. Jemarinya menyentuh bibirnya sendiri yang masih menyisakan rasa manis dari Kamila. Jantungnya berdegup kencang, seolah baru saja berlari maraton.
"Apa yang baru saja kulakukan?" gumamnya tak percaya.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa pernikahan ini hanyalah status. Ia sudah berjanji tidak akan menyentuh Kamila. Namun barusan, ia benar-benar kehilangan kendali. Rasa sesal tiba-tiba menghantam dadanya saat bayangan mendiang istrinya melintas di benak.
"Maafkan aku Jingga, aku tidak bermaksud mengkhianatimu, maaf!" batinnya lirih dengan kepala tertunduk dalam.
Sementara itu, di balik pintu kamar Baby Zevan, Kamila berdiri mematung. Ia menyandarkan punggungnya di daun pintu, menyentuh bibirnya dengan jari-jari lentiknya yang masih gemetar.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi barusan? Mas Evan mencium ku... dan begitu bodohnya aku malah membalas ciuman itu," bisiknya pada kegelapan.
Ia merasakan dadanya bergemuruh hebat. Ada ketakutan yang merayap di hatinya, tapi bukan takut pada Evan, melainkan takut pada perasaannya sendiri.
'Tidak... Aku tidak boleh jatuh cinta dengan Mas Evan. Aku tidak boleh mencintai siapapun. Aku wanita tidak sempurna yang tidak bisa memberinya apa-apa,' batin Kamila perih, sambil menatap boks bayi Zevan yang tenang dalam lelapnya.
Bersambung...
kopi untuk mu👍