NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: ANCAMAN MAUT

#

Hari Senin sore.

Aku, Vanya, Adrian, Nareswari, sama Arjuna berkumpul di warnet yang sama. Warnet tempat kami pertama kali liat bukti di flashdisk Nareswari.

Kami duduk di komputer paling pojok. Berdesakan berlima.

Nareswari buka laptop pinjaman dari guru favorit kami, Bu Ratna. Dia masukin memori kamera. Dia buka semua foto dokumen yang kemarin kami ambil.

Ratusan foto. Jelas semua. Gak ada yang blur.

"Oke. Sekarang kita susun laporan. Kita tulis kronologi lengkap. Dari awal sampe akhir. Terus kita lampirin semua bukti ini."

Aku mulai ngetik. Jari-jariku gemetar di keyboard.

**LAPORAN PENGADUAN TINDAK PIDANA KORUPSI**

**DANA BEASISWA PRESTASI KEDOKTERAN**

**SMA NEGERI 3 JAKARTA**

Kami menulis dengan detail. Siapa yang terlibat. Berapa uang yang dikorupsi. Bagaimana sistemnya. Siapa yang jadi korban.

Kami lampirin foto-foto dokumen. Rekaman audio. Semua bukti yang Nareswari kumpulin selama setahun, ditambah dokumen yang kami foto kemarin malam.

Tiga jam kemudian, laporan selesai. Dua puluh halaman. Lengkap. Rapi. Jelas.

"Sekarang kita kirim ke mana?" tanya Vanya.

Nareswari buka browser. "Kita kirim ke semua media. Kompas. Detik. Tempo. Metro TV. Semua. Biar gak bisa ditutup-tutupi. Terus kita kirim juga ke KPK. Ke Ombudsman. Ke Kemendikbud. Ke semua lembaga yang bisa nindaklanjutin."

Adrian ngangguk. "Kirim sekarang?"

Aku geleng. "Belum. Besok pagi. Jam enam. Kita kirim bareng-bareng. Biar semua media dapet di waktu yang sama. Biar langsung heboh."

Arjuna senyum. "Besok pagi... hidup kita bakal berubah. Entah jadi lebih baik... atau lebih buruk."

Kami diem. Tau resikonya. Tapi udah gak ada jalan balik.

"Oke. Kita save semua di flashdisk. Kita bikin backup di beberapa flashdisk. Biar gak ilang."

Nareswari copy semua file ke tiga flashdisk. Satu dia pegang. Satu aku pegang. Satu Arjuna pegang.

"Oke. Selesai. Besok pagi kita laksanakan."

Kami keluar dari warnet jam setengah enam sore.

Langit udah mulai gelap. Orange kemerahan.

Kami jalan bareng ke arah gerbang sekolah. Mau ambil tas yang ketinggalan di loker.

Tapi waktu sampai di parkiran sekolah...

Ada yang aneh.

Parkiran sepi. Gak ada orang.

Biasanya masih ada anak-anak yang lagi ekstrakurikuler. Tapi sekarang kosong.

"Ada yang aneh..." bisik Adrian.

Tiba-tiba dari balik mobil parkir, muncul orang-orang.

Banyak. Sekitar sepuluh orang.

Preman semua. Badan gede. Bertato. Bawa tongkat baseball. Bawa pisau.

Di depan mereka, ada satu orang yang paling gede. Kulitnya gelap. Mukanya jelek. Kayak kodok.

Indra.

Indra "Si Kodok".

Preman bayaran Pak Bambang.

Jantungku langsung berdetak cepat banget.

"Lari!" teriak aku.

Tapi terlambat.

Mereka udah ngerubungin kami dari semua arah. Gak ada jalan keluar.

Indra jalan pelan ke arah kami. Dia senyum. Senyum yang menyeramkan.

"Kalian... kalian anak-anak yang berani ya? Berani nyuri dokumen Bos Bambang?"

Suaranya berat. Serak. Menakutkan.

Kami berlima berdiri saling membelakangi. Arjuna di depan. Aku di sebelahnya. Adrian, Vanya, Nareswari di belakang.

"Kami gak nyuri. Kami cuma... cuma ambil bukti kejahatan kalian," kata Arjuna. Suaranya gemetar tapi tetep berani.

Indra ketawa. Keras. "Bukti? Kalian pikir kalian pahlawan? Kalian pikir kalian bisa ngelawan kami?"

Dia keluarin pisau dari pinggangnya. Pisau besar. Tajam. Mengkilat kena cahaya sore.

"Serahkan semua bukti yang kalian punya. Sekarang. Atau kalian mati semua di sini."

Vanya gemetar di belakang aku. Nareswari nangis. Adrian pegang pundak aku. "Sat... kita harus gimana...?"

Aku gak tau. Aku bingung. Takut.

Tapi aku gak bisa nyerah. Gak sekarang. Gak setelah semua yang kami laluin.

"Kami gak akan kasih bukti itu. Kalian boleh bunuh kami. Tapi bukti itu udah kami sebarkan. Udah terlambat buat kalian."

Bohong. Kami belum kirim ke mana-mana. Tapi aku coba nakut-nakutin mereka.

Indra menyipit. "Bohong. Gue tau kalian belum kirim apa-apa. Gue tau kalian masih nyusun laporan. Serahkan flashdisk kalian. Sekarang!"

Sial. Dia tau semua.

Arjuna melangkah maju. "Kalian mau flashdisk? Ambil sendiri kalau bisa!"

Dia lari ke arah Indra. Mau mukul.

Tapi preman-preman langsung gebukin Arjuna.

BUK! BUK! BUK!

Arjuna jatuh. Dipukul berkali-kali. Di perut. Di punggung. Di muka.

"ARJUNA!" teriak Vanya.

Adrian langsung lari bantuin Arjuna. Tapi dia juga dipukul.

BUK!

Adrian jatuh.

Aku mau bantuin mereka. Tapi Indra pegang kerah bajuku. Dia angkat aku.

"Lu yang paling berisik. Lu yang mulai semua ini kan? Satria Bumi Aksara?"

Dia lempar aku ke tanah.

BRAK!

Punggungku sakit kena aspal.

Indra injak dada aku pake sepatu boots. Keras. Aku gak bisa napas.

"Serahkan flashdisk lu. Sekarang."

Aku gak bisa ngomong. Napas sesak.

Vanya teriak. "TOLONG! TOLONG! ADA PERAMPOKAN! TOLONG!"

Suaranya keras. Kenceng banget.

Beberapa orang dari jalan mulai noleh. Mulai mendekat.

"Ada apa di sana?!"

"Ada orang dipukulin!"

Indra ngelepas injakan di dada aku. Dia liat orang-orang yang mulai dateng.

"Sial. Kita pergi. Tapi ini belum selesai."

Dia jongkok di sebelah aku. Dia bisik di telinga aku.

"Ini belum selesai, Bocah. Keluarga kalian juga kami incar. Ayah ibumu yang lumpuh itu... bakal kami kunjungi malam ini."

Mataku melebar.

Ayah. Ibu.

"JANGAN! JANGAN SENTUH MEREKA!"

Indra senyum kejam. "Tergantung lu. Serahkan bukti. Atau keluarga lu mati."

Dia berdiri. Dia jalan pergi sama preman-premannya. Cepat. Sebelum orang-orang datang.

Orang-orang akhirnya sampe. Mereka bantuin kami berdiri.

"Kalian gak apa-apa? Siapa yang mukul kalian?"

Aku gak jawab. Aku langsung bantu Arjuna berdiri. Mukanya babak belur. Bibir pecah. Mata bengkak.

Adrian juga terluka. Hidungnya berdarah.

Vanya sama Nareswari nangis. Mereka peluk kami.

"Kalian... kalian gak papa kan...?" tanya Vanya sambil nangis.

Aku geleng. "Gak papa. Tapi... tapi kita harus cepet. Mereka ancam keluarga kita."

Arjuna liat aku. Meskipun mukanya babak belur, matanya masih penuh tekad. "Kita... kita harus lindungin keluarga kita. Sekarang."

***

Aku lari pulang secepat-cepatnya.

Lima kilometer. Aku lari gak berhenti. Napas tersengal-sengal. Badan sakit semua. Tapi aku terus lari.

Sampai di rumah, aku langsung masuk.

"IBU! AYAH!"

Ibu keluar dari belakang. Mukanya kaget. "Satria? Kenapa mukamu babak belur? Siapa yang pukul kamu?"

"Gak ada waktu jelasin, Bu. Kita harus pindah. Sekarang. Ada orang jahat yang mau nyerang rumah kita."

Ibu pucat. "Apa?!"

Ayah dari kasur teriak. "Satria! Apa maksudmu?!"

Aku masuk kamar. Aku ambil selimut. Bantal. Baju-baju penting. Aku masukin ke tas.

"Aku akan jelasin nanti, Bu, Yah. Tapi sekarang kita harus pergi. Kumohon percaya sama aku."

Ibu nangis. Tapi dia bantuin aku. Dia ambil barang-barang penting.

Aku gendong ayah dari kasur. Tubuhnya enteng. Kurus kering.

"Sat... apa yang terjadi...?" tanya ayah sambil gemetar.

"Aku lagi perang, Yah. Dan musuh aku... musuh aku gak main-main."

Aku bawa ayah keluar. Ibu ikut di belakang bawa tas.

Kami jalan cepat ke warung Pak Hadi. Gak jauh dari rumah. Cuma dua ratus meter.

Sampai di warung, Pak Hadi lagi beres-beres.

"Satria? Kenapa... kenapa ayahmu di sini?"

"Pak Hadi... kumohon. Kami butuh tempat tinggal. Sementara. Rumah kami gak aman. Ada orang jahat yang mau nyerang."

Pak Hadi liat muka aku yang babak belur. Dia langsung ngerti.

"Oke. Kalian tinggal di kamar belakang. Ayo."

Pak Hadi bantuin aku bawa ayah ke kamar belakang warung. Kamar kecil. Tapi cukup buat kami bertiga.

Aku baringkan ayah di kasur. Ibu duduk di sebelahnya sambil nangis.

"Terima kasih, Pak Hadi. Ini... ini hutang budi yang gak akan pernah bisa aku balikin."

Pak Hadi tepuk pundak aku. "Gak usah dibalas, Nak. Yang penting kalian selamat."

***

Jam sembilan malam.

Aku duduk di luar warung. Natap arah rumah kontrakan kami.

Gelap. Sepi.

Tiba-tiba...

Cahaya orange.

Api.

Rumah kontrakan kami terbakar.

Api besar. Mengamuk. Membakar atap. Membakar dinding kayu. Membakar semua yang ada di dalam.

Aku berdiri. Tangan gemetar.

"Rumah kami... rumah kami dibakar..."

Ibu keluar dari kamar. Dia liat api itu. Dia teriak. "YA ALLAH! RUMAH KITA!"

Ibu jatuh berlutut. Nangis keras.

Ayah dari dalam kamar juga nangis. Meskipun dia gak bisa liat, dia denger suara ibu.

Aku peluk ibu. "Gak papa, Bu. Rumah bisa dibangun lagi. Yang penting kita selamat. Kita... kita masih hidup."

Tapi dalem hati aku nangis. Rumah itu meskipun sempit, meskipun bocor, meskipun nyaris roboh... itu rumah kami. Rumah tempat aku dibesarkan. Rumah tempat ayah terbaring. Rumah tempat ibu pulang capek nyuci baju.

Sekarang habis. Jadi abu.

Gara-gara aku.

Gara-gara aku lawan mereka.

Pak Hadi keluar. Dia liat api itu. Dia tutup mulut.

"Satria... ini... ini sudah perang sungguhan. Mereka... mereka gak main-main."

Aku lap air mata. Aku liat Pak Hadi.

"Makanya besok pagi... kami akan ngabisin mereka. Kami akan kirim semua bukti. Ke semua media. Ke semua lembaga. Biar mereka gak bisa lari. Biar mereka masuk penjara. Biar mereka... biar mereka dapet balasan."

Pak Hadi liat aku. Dia senyum sedih. "Kamu anak yang berani, Satria. Tapi kamu juga harus hati-hati. Jangan sampai keberanian itu jadi kematianmu."

Aku ngangguk.

Api di rumah kontrakan kami makin besar.

Tetangga-tetangga mulai keluar. Mereka coba padamin api pake ember. Tapi gak cukup. Api terlalu besar.

Aku cuma bisa liat. Gak bisa berbuat apa-apa.

Rumah kami... rumah kami habis.

Tapi aku gak akan berhenti.

Ini malah bikin aku makin kuat. Makin yakin.

Besok pagi... kami akan bongkar semuanya.

Dan mereka... mereka akan tau... bahwa anak-anak miskin yang mereka injak selama ini... bukan anak-anak yang gampang menyerah.

***

*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!