Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Suara letusan pistol bergema sangat nyaring di sepanjang tepian sungai yang gelap itu. Arlan merasakan hembusan angin yang sangat tipis melewati telinga kanannya. Peluru itu melesat hanya beberapa sentimeter dari kepalanya karena Kapten Bramanto mendadak kehilangan keseimbangan.
{Sistem, aktifkan distorsi gelombang ultrasonik pada earpiece subjek!}
[Sistem: Perintah diterima. Mengirimkan frekuensi tinggi sebesar 25 kHz.]
Kapten Bramanto berteriak sangat keras sambil menjatuhkan senjatanya ke lumpur. Ia memegangi kedua telinganya yang kini mengeluarkan darah segar karena serangan frekuensi suara yang sangat tajam itu. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Arlan yang langsung melompat maju.
"Sekarang, Tegar! Selamatkan Ibu Sari!" teriak Arlan dengan suara yang sangat lantang.
Tegar bergerak secepat kilat dan langsung menerjang tubuh Kapten Bramanto yang masih merintih kesakitan. Arlan segera menarik tangan Ibu Sari yang gemetar hebat untuk menjauh dari tepian air. Siska yang berada di atas perahu motor segera mengulurkan tangannya untuk membantu wanita paruh baya itu naik.
"Cepat naik, Mbak Siska! Bawa perahunya menjauh dari sini sekarang juga!" perintah Arlan sambil menoleh ke arah hutan bambu di belakang mereka.
"Lalu bagaimana dengan kamu dan Tegar, Arlan?" tanya Siska dengan nada suara yang penuh dengan kekhawatiran yang luar biasa.
"Kami akan menyusul melalui jalur darat! Titik pertemuan kita ada di dermaga nelayan utara!" jawab Arlan sambil memberikan tendangan telak ke arah dada Kapten Bramanto yang mencoba bangkit kembali.
Perahu motor itu melesat membelah air sungai yang tenang, meninggalkan kepulan asap putih di belakangnya. Arlan segera memberi isyarat kepada Tegar untuk berhenti menyerang Kapten Bramanto yang sudah tidak berdaya di tanah.
"Kita tidak punya banyak waktu sebelum tim taktis Megantara sampai ke lokasi ini, Gar!" kata Arlan sambil mengambil tas taktisnya yang sempat terjatuh.
"Siap, Mas Arlan! Saya sudah menyiapkan motor di balik semak-semak itu!" jawab Tegar sambil menunjuk ke arah rimbunnya pepohonan bambu.
Mereka berdua berlari menembus hutan yang sangat gelap dengan kecepatan yang sangat tinggi. Di belakang mereka, api yang membakar laboratorium bawah tanah mulai padam berganti dengan asap hitam yang sangat pekat. Arlan tahu bahwa seluruh data penting sudah tersimpan aman di dalam sistem sarafnya berkat Isogen-9.
Sesampainya di pinggir jalan raya yang sepi, sebuah motor trail besar sudah menunggu mereka dengan mesin yang menyala. Arlan segera naik ke kursi penumpang sementara Tegar mengambil posisi di depan kemudi.
"Ke mana tujuan kita sekarang, Mas?" tanya Tegar sambil memacu motornya menembus dinginnya angin malam.
"Ke bandara kargo pribadi di pinggiran kota. Kita harus sampai di Singapura sebelum bursa saham dibuka pagi ini," jawab Arlan dengan nada suara yang sangat dingin dan tegas.
Arlan membuka ponselnya dan melihat notifikasi dari Maya yang sedang memantau pergerakan pasar dari lokasi rahasia. Grafik saham Megantara Global terlihat terjun bebas hingga mencapai dasar perdagangan karena skandal penyuapan pangkalan maritim yang baru saja bocor ke publik.
[Status Kekayaan: 2,5 Miliar Rupiah (Estimasi Nilai Likuiditas Baru)]
"Mas Arlan, ada satu panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal," ucap Tegar melalui alat komunikasi di dalam helm mereka.
Arlan segera mengangkat panggilan tersebut dan mendekatkan ponselnya ke telinga dengan penuh rasa waspada. Suara seorang pria paruh baya dengan nada bicara yang sangat berwibawa terdengar dari seberang sana.
"Selamat atas pelarianmu, Arlan Dirgantara. Tapi jangan pernah berpikir bahwa Megantara Global akan melepaskan Isogen-9 itu begitu saja," kata pria itu dengan suara yang sangat tenang namun penuh dengan ancaman.
"Siapa Anda sebenarnya?" tanya Arlan dengan dahi yang berkerut karena rasa penasaran yang sangat besar.
"Aku adalah orang yang selama ini memberikan instruksi kepada Pak Yudha dan Kapten Bramanto. Sampai jumpa di Singapura, Arlan," jawab pria itu sebelum akhirnya memutuskan sambungan secara sepihak.
Arlan terdiam sejenak sambil menatap layar ponselnya yang kini sudah kembali gelap. Ia menyadari bahwa musuh yang ia hadapi sekarang memiliki kekuatan yang jauh melampaui apa yang ia bayangkan sebelumnya.
"Siapa yang menelepon tadi, Mas?" tanya Tegar dengan nada suara yang sedikit cemas.
"Pemilik asli dari bidak-bidak catur yang baru saja kita tumbangkan, Gar," jawab Arlan sambil menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku.
Motor trail itu melaju sangat cepat menuju hanggar pesawat pribadi yang sudah disiapkan oleh Federasi Logistik Terbuka. Arlan melihat sebuah pesawat jet kecil sudah bersiap untuk lepas landas di ujung landasan pacu yang sunyi.
Saat mereka baru saja hendak memasuki area hanggar, sebuah mobil sedan hitam mendadak memotong jalur perjalanan mereka. Arlan segera menyiapkan posisi bertahan saat melihat pintu mobil tersebut terbuka secara perlahan.
Seorang wanita dengan pakaian kantor yang sangat rapi keluar dari mobil tersebut sambil membawa sebuah koper perak kecil. Wajahnya tampak sangat familiar di mata Arlan, namun ia sulit untuk mengingat di mana mereka pernah bertemu sebelumnya.
"Arlan, bawa koper ini jika kamu ingin selamat saat mendarat di Singapura nanti," ucap wanita itu dengan nada suara yang sangat mendesak.
"Apa isi di dalam koper itu?" tanya Arlan sambil turun dari motor dengan langkah yang sangat hati-hati.
"Kunci untuk membuka pintu gerbang Megantara Global yang sesungguhnya," jawab wanita itu sambil meletakkan koper di atas kap mobilnya.
Tiba-tiba, suara deru helikopter tempur terdengar sangat dekat di atas kepala mereka, menyinari seluruh area hanggar dengan lampu sorot yang sangat silau. Arlan menyadari bahwa musuh barunya tidak ingin membuang waktu sedetik pun untuk menghentikan langkahnya menuju puncak dunia bisnis.
"Cepat ambil koper itu dan masuk ke pesawat sekarang juga, Arlan!" teriak wanita itu sambil berlari kembali masuk ke dalam mobilnya.
Arlan segera menyambar koper perak itu dan berlari bersama Tegar menuju jet pribadi yang mesinnya sudah menderu keras. Namun, tepat saat pintu pesawat akan tertutup, Arlan melihat sebuah bayangan seseorang sedang berdiri di dalam kabin gelap pesawat tersebut sambil menodongkan senjata ke arahnya.
"Selamat datang di jet pribadimu sendiri, Arlan," ucap suara asing itu dari balik kegelapan.