NovelToon NovelToon
Bukan Mantan Pacar

Bukan Mantan Pacar

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:6.7M
Nilai: 4.8
Nama Author: Bareta

Bianca menyukai Devano sejak kelas 8 dan akhirnya menyatakan perasaannya saat mereka di kelas 11 lewat surat cinta.
Meski menerima surat cinta Bianca, Devano tidak pernah memberikan jawaban yang pasti tentang perasaannya.

Bianca di-bully habis-habisan oleh Nindi, fans berat Devano di SMA Dharma Bangsa. Apalagi saat Nindi menemukan surat cinta Bianca untuk Devano.

Devano tidak memberikan tanggapan apapun saat Bianca mengalami pembullyan sebelum kelulusan mereka. Ketidakperdulian Devano menciptakan rasa benci di hati Bianca yang membuatnya belajar melupakan Devano.

Tapi seolah alam menolak keinginan Bianca untuk melupakan Devano. Mereka dipertemukan kembali setelah 4 tahun dan Bianca harus menjadi anak magang di perusahaan milik keluarga Devano. Sikap Devano tidak berubah bahkan menjadi-jadi di mata Bianca. Dan setelah 3 bulan berlalu, Bianca memutuskan untuk melepaskan Devano dan menghapus semua tentang Devano dalam hidupnya.

Apakah Bianca dan Devano benar-benar tidak berjodoh ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Devano vs Bianca

Waktu hampir pukul 3 sore. Devano membawa Bianca ke daerah pantai dan memarkirkan mobilnya di sana. Keduanya masih terdiam meski mesin mobil sudah dimatikan dan Devano membuka jendela-jendela mobil.

20 menit berlalu tanpa ada yang memulai percakapan. Bianca mulai tidak nyaman dengan kondisi yang ada. Duduknya mulai tidak tenang, beberapa kali merubah posisi, membuat Devano akhirnya menoleh menatapnya.

Bianca yang merasa sedang diperhatikan menoleh juga ke arah Devano. Cowok di sebelahnya itu sedang memandangnya dengan tatapan datar. Namun rekor karena Devano memandangnya bahkan sudah lebih dari 3 menit.

“Ada yang aneh ?” Bianca mengangkat alisnya sebelah.

Devano hanya diam saja dan kembali membuang pandangan ke samping jendela.

“Kalau cuma untuk adu kuat berdiam diri, gue pulang.” Bianca meraih pegangan pintu dan mencoba membukanya tapi masih terkunci

Niatnya mau membuka langsung bagian kunci di pegangan pintunya, tapi agak sedikit khawatir kalau tindakannya akan membuat pintu mobil rusak. Bisa gawat kalau disuruh ganti atau bayar perbaikan. Bianca sadar mobil yang mereka tumpangi bukan mobil sejuta umat.

“Tolong buka pintunya Devan. Gue mau keluar.”

“Mau kemana ?” Devano menoleh menatap Bianca kembali.

“Pulang !” Bianca mendengus kesal. “Nyokap elo suruh kita bicara bukan belajar meditasi.”

Devano masih menatapnya tanpa memperdulikan permintaan Bianca.

“Devano Putra Wijaya !” suara Bianca mulai meninggi.

“Gue bilang tolong buka pintu. Gue…”

“Apa elo benar-benar membenci gue ?” Devano memotong ucapan Bianca.

“Bisa ngomong juga,” cibir Bianca sambil menoleh ke arah lain.

“Apa elo benar-benar membenci gue ?” Devano mengulang kembali pertanyaannya.

“Apa omongan gue kurang jelas waktu itu ? Apa bisikan gue terlalu halus ?” Bianca masih dalam mode ketus dan kesal.

“Lalu kenapa mau aja disuruh pergi sama gue sekarang ?”

Bianca menarik nafas panjang. Ingin rasanya membalikkan badan membalas tatapan Devano, tapi ada aura dingin yang membuatnya enggan menatap balik ke Devano.

“Apa gue ada pilihan ? Nyokap elo udah langsung bawa gue ke dalam mobil ini.”

“Elo kan biasanya jago nolak.”

“Memang bisa kali ini ?” Bianca memberanikan diri memutar posisi badannya berhadapan dengan Devano.

Gantian Devano menarik nafas panjang. Namun tatapannya tidak lepas memandang Bianca yang kini juga tengah menatapnya.

“Apa elo akan selamanya membenci gue ?” Devano kembali mengajukan pertanyaan yang mirip-mirip.

“Ya ampun Devano !” Seru Bianca sambil menepuk jidatnya sendiri.

Tidak lama handphone Bianca berbunyi dan muncul nama Arya di layarnya.

Tiba-tiba Devano merebut benda itu dari tangan Bianca dan langsung menggeser icon hijau yang muncul di layar.

“Gue belum selesai sama Bianca !” Devano langsung berkata tanpa memberikan sapaan apapun.

Arya yang ada di seberang telepon sempat melongo kebingungan. Dia tidak menyangka Devano yang mengangkat handphine Bianca.

“Elo denger kan Arya ? Gue masih berdua sama Bianca !” Nada ketus terdengar dari mulut Devano.

“Sorry. Gue…”

Belum selesai Arya bicara, Devano memutuskan pembicaraan sepihak. Dengan perasaan kesal dilemparnya handphone Bianca ke atas dashboard

“Devan, itu handphone gue !” Pekik Bianca. “Kalau sampai rusak, elo harus ganti !” Tangan Bianca langsung meraih handphonenya.

Posisi handphone yang lebih dekat di depan Devano membuat Bianca mencondongkan badannya mendekat ke arah Devano supaya bisa mengambil handphonenya. Setelah mencoba berbagai posisi ternyata tangannya tidak cukup panjang untuk meraihnya.

“Tolong ambilin !” Bianca yang masih kesal menoleh dengan nada suara yang masih ketus.

Devano memajukan posisi duduknya untuk membantu mengambilkan handphone Bianca, bersamaan dengan posisi Bianca yang dekat dengannya sedang menoleh dan…

Cup

Tabrakan bibir keduanya tidak bisa dihindari. Reflek keduanya sama-sama membelalakan mata sambil saling menatap namun bibir keduanya masih saling menempel.

Keduanya mendadak merasakan tegang di seluruh tubuh mereka. Tidak menyangka akan ada kejadian ciuman bibir sore ini.

Bianca yang sadar pertama kali langsung menarik tubuhnya dan kembali ke posisi semula. Dia bersungut-sungut sambil menoleh ke samping jendela.

“Brengsek ! Kenapa juga sih dia harus cium gue di saat gue mulai bisa membencinya ! Nggak bisa dibiarinin.” Gerutu Bianca dalam hati.

“Bianca.”

“Devano.”

Keduanya memanggil bersamaan dan saling menatap. Devano memberi kode supaya Bianca bicara duluan.

“Elo sengaja kan ?” Geram Bianca kesal.

“Siapa yang sengaja !” Balas Devano dengan emosi.

“Elo sengaja ambil ciuman pertama gue pada saat gue udah mulai benci sama elo kan !” Bianca menunjuk Devano dengan tatapan tajam.

“Ciihh kepedean banget !” Devano mencebik. “Apa elo nggak sadar posisi elo kayak orang minta dicium ?”

“What ?” Pekik Bianca kesal. Mukanya semakin memerah menahan kesal.

“Elo bilang gue sengaja biar elo cium ?” Bianca memukul bahu Devano.

“Jadi segitu rendahnya elo memandang gue ? Elo pikir gue segitu tergila-gilanya sama elo sampai rela kasih ciuman pertama gue buat orang yang sangat gue benci ?” Bianca meninggikan suaranya.

Tanpa mampu dicegah, air mata mulai keluar dari kedua matanya. Perasaan marah dan kesal mendengar perkataan Devano membuatnya tidak mampu lagi menahan emosi yang membuatnya menangis.

“Ambilin handphone gue !” Bianca menunjuk posisi handphonenya yang dekat dengan posisi setir.

Devano hanya diam dan membuang muka ke arah lain. Dia masih mendengar suara tarikan nafas Bianca yang menggebu karena emosi.

Bianca langsung membuka pintu mobilnya membuat Devano terkejut dan menoleh. Tanpa sempat mencegahnya, Bianca sudah turun dari mobil. Devano masih duduk di tempatnya saat melihat Bianca memutar mobil dan menghampiri pintu bagian Devano. Bianca membungkukkan badannya dan tanpa bicara apa-apa langsung mengambil handphonenya dari jendela di samping Devano yang terbuka.

Bianca membalikkan badan dan setengah berlari menjauhi mobil Devano.

“Shit !” Devano memukul setirnya. Dia menyalakan mobil hanya untuk menaikkan jendela yang terbuka kemudian mencabut kunci dan berlari menyusul Bianca yang hampir mencapai sisi jalan raya.

“Bianca !” Devano meraih tangan Bianca dan mencekalnya erat.

“Lepasin !” Bianca berusaha menepis tangan Devano namun kalah tenaga.

“Balik ke mobil !” Tanpa minta persetujuan, Devano menarik tangan Bianca.

Bianca terus berusaha melepaskan tangan Devano dengan tangannya yang tidak dipegang oleh Devano, tapi lagi-lagi sulit karena cengkraman Devano begitu kuat.

“Devano, sakit ! Lepasin !” Bianca memekik kesal.

Devano menghentikan langkahnya dan melepas cengkramannya. Dilihatnya lengan Bianca yang mulai memerah.

“Balik ke mobil sendiri atau gue seret !” Devano menatapnya tajam membuat Bianca bergidik.

“Gue mau pulang ! Dan nggak usah sok baik mau antar gue !”

Baru saja Bianca membalikkan badannya hendak kembali ke jalan raya, Devano langsung mendekat dan mengangkat Bianca seperti karung beras.

“Devano turunin !” Bianca memukul-mukul punggung Devano tapi cowok itu tidak perduli.

Devano menurunkan Bianca di samping pintu penumpang dan membukakan pintu.

“Masuk !”

“Nggak mau !”

“Masuk atau gue melakukan lebih dari ciuman tadi !” Ancam Devano dengan tatapan seperti ingin membunuh.

Bianca masih berdiam di posisinya dan membalas tatapan Devano dengan tidak kalah tajamnya.

“Gue mau pulang sendiri !” Bianca masih bersikukuh.

Perasaan marahnya belum hilang. Perkataan Devano membuatnya sakit hati dan perasaan benci yang diucapkannya 2 hari yang lalu muncul kembali dan semakin kuat. Bianca tidak mau lagi jatuh terpesona dengan sosok Devano.

Tanpa aba-aba, Devano yang posisinya mengurung Bianca langsung menarik pinggang gadis itu dan sebelah tangannya memegang wajah Bianca lalu tanpa permisi mencium kembali bibir Bianca. Kali ini bukan hanya tabrakan bibir tapi Devano benar-benar menciumnya !

Bianca yang terkejut melihat perlakuan Devano langsung berusaha melepaskan diri dan memukul-mukul bahu Devano. Namun semakin dia memberontak, semakin Devano mempererat pelukannya di pinggang Bianca.

Bianca terus memberontak sampai akhirnya Devano melepaskan ciumannya. Air mata semakin mengalir deras di pipinya.

Devano menghapus air mata Bianca dengan kedua ibu jarinya. Lalu dipeluknya gadis itu yang semakin sesunggukan dalam tangisnya.

“Apa gue bener-bener serendah itu di mata elo sampai elo melakukan semuanya sama gue ?” Bianca bicara dalam dekapan Devano sambil sesunggukan.

Devano hanya diam tanpa bicara apa-apa. Dia semakin mempererat pelukannya meski Bianca tidak membalas pelukannya. Namun gadis itu juga tidsk menolak dan menangis dalam dekapan Devano.

Dan sekarang setelah Bianca sudah bisa menenangkan diri, Devano kembali mengendarai mobilnya keluar dari area pantai dan mengantar Bianca pulang.

Sepanjang jalan hanya ada keheningan tanpa alunan musik apapun. Devano fokus menyetir sementara Bianca bersender ke bangku dengan pandangan ke samping.

Sampai mobil berhenti di depan rumah Bianca keduanya masih sama-sama membisu. Bianca bertambah kesal karena Devano tidak memberikan tanggapan apa-apa atas kekesalannya.

Dengan wajah memberenggut, Bianca melepaskan seatbeltnya dan menoleh ke Devano untuk memberi kode agar membuka kunci mobil.

Bianca sudah menapakkan kakinya sebelah di aspal dan berhenti saat Devano menahan lengannya.

“Teruslah membenci gue dalam hati elo. Kalo perlu tambahkan rasa benci elo dengan kelakukan gue tadi !”

Ucapan Devano dengan nada datar dan dingin membuat Bianca memejamkan mata sejenak menahan emosi. Dengan kasar dia melepaskan tangannya dari cengkraman Devano.

Tanpa berkata apapun, Bianca turun dengan membanting pintu mobil. Dia bergegas ke gerbang dan menutupnya kembali dengan kasar. Dibukanya pintu rumah dengan kunci yang diambil dari tasnya. Tadi mama Lisa sempat mengirim pesan kalau mama Lisa dan Bernard ke rumah sakit duluan karena ingin bertemu dokter.

Bianca tidak mendengar suara deru mobil saat membuka pintu rumah. Setelah menutupnya, Bianca segera ke jendela dan mengintip dari sana. Ternyata mobil Devano baru saja bergerak pelan meninggalkan rumahnya.

“Gue benci sama elo Devano ! Gimana gue bisa gampang melupakan elo sementara ciuman pertama gue justru gue dapat dari elo.” Bianca bergumam sendiri sambil melihat mobil Devano yang semakin menjauh.

1
Eliana Siswanto
suka,gaya bahasanya enak jd merasa ikut didlm cerita,,👍👍💪
Baretta: Terima kasih kak Eliana Siswanto😊🙏🙏
total 1 replies
tutut wahyuningsih
bagus banget ceritanya 👍❤️
Baretta: Terima kasih kak Tutut Wahyuningsih 😊🙏🙏😍
total 1 replies
Ditha Maherani
Duka banget deh kak 🥰
Baretta: Terima kasih banyak Kak Ditha 😘🙏🙏
total 1 replies
Ranum Laraswati
sumpah paling gak enak tu kalo nagis di malam hati rasa nya tu kayak pengen teriak tapi gak bisa nyesek😭
Ranum Laraswati
plis kok lagu"nya mendukung banget ya
Ranum Laraswati
lagu yang pertama yang judul nya selamat jqlam kekasih gak nyangka bagus banget
Ranum Laraswati
agak kesel juga sih sama bianca kenapa dia masih bisa baper dan suka sama devan minimal jual mahal dikit bianca😭😭kan lo dari malu gara gara si devan
Ranum Laraswati
bi mending sama arya udah ganteng tajir pulak emang sih alur nya sama devan tapi kan devan gak suka bianca mending sama yqng pasti pasti aja
Riki DuaTujuh
semoga desta botuna yg menang 🤣🤣
Riki DuaTujuh
semangat botuna
Puji Astuti
kalo Arya yang nyuruh kenapa waktu di cafe Arya seakan2 gak suka sama tindakan Revan yang kadih bunga
Ira
keren
nana supriyatna
Luar biasa
Endah Setyati
😭😭😭😭😭
Herman Lim
kyk Revan tuh mata2 devano
Nacita
anjrit parah 🤣
Nacita
dua2nya pengen gue ulek jd sambel
Nacita
dah pada tua juga masih kekanakan sih mereka ini, kalah sm bocah dahhh s sella sm s andre 😌
Baretta
Terima kasih sudah mampir di novel saya Kak 😊😊🙏🙏
Nacita
dasar sableng 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!