Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: RENCANA BUNUH DIRI
#
Tempat persembunyian Bagas ternyata adalah kapal kargo tua yang ditinggalkan di dermaga paling ujung. Kapal berkarat dengan nama yang sudah tidak terbaca lagi, setengah tenggelam di air keruh, tapi bagian dalamnya masih bisa dipakai untuk berlindung.
"Tidak ada yang datang ke sini," kata Bagas sambil membuka pintu ruang mesin yang sudah dikunci dengan gembok besar. "Kapal ini sudah dinyatakan tidak layak. Polisi tidak cek. Preman tidak ganggu. Ini tempat paling aman di kota ini."
Mereka masuk. Di dalam gelap, lembab, bau minyak dan karat menyengat. Tapi ada kasur tipis, ada kompor kecil, ada kardus berisi makanan kaleng. Bagas sudah tinggal di sini cukup lama.
"Bagus sekali," gumam Pixel sarkastik sambil lihat langit-langit yang bocor. "Dari gubuk ke kapal rusak. Hidup kami terus naik kelas."
"Berhenti mengeluh," Bagas nyalakan lampu minyak. Cahayanya redup, cuma menerangi wajah mereka yang lelah. "Kalian mau aman atau mau nyaman? Tidak bisa dua-duanya."
Mereka duduk melingkar. Bagas buka tas besar, keluarkan peta yang sudah lusuh, beberapa foto, dan diagram bangunan.
"Ini peta markas The Black Serpent," ia bentangkan peta di lantai. "Terletak di Kota Pesisir Senja, lima jam perjalanan dari sini. Dari luar terlihat seperti gudang penyimpanan ikan. Tapi di bawah tanah ada tiga lantai. Lantai pertama untuk penyimpanan senjata. Lantai kedua untuk 'barang-barang manusia' yang mereka perdagangkan. Lantai ketiga untuk tahanan khusus. Maya ada di lantai ketiga."
Arjuna menatap peta itu, mencoba memahami setiap detailnya. Tapi terlalu rumit. Terlalu banyak lorong, terlalu banyak ruangan.
"Berapa banyak penjaga?" tanya Sari.
"Normalnya dua puluh orang. Tapi setiap malam Jumat, ada pergantian shift. Dari pukul delapan sampai sembilan malam, cuma ada sepuluh orang. Itulah celah kita."
"Sepuluh orang tetap terlalu banyak untuk kita berempat," Pixel menggeleng. "Apalagi kami bertiga tidak punya pengalaman bertarung. Aku cuma hacker. Arjuna cuma bocah desa. Sari cuma guru."
"Maka kalian akan belajar," Bagas menatap mereka satu per satu. "Tiga hari bukan waktu cukup untuk bikin kalian jadi tentara. Tapi cukup untuk ajari kalian cara tidak langsung mati begitu ketemu musuh."
"Bagaimana cara kita masuk?" tanya Arjuna.
"Lewat jalur pembuangan. Ada terowongan di belakang gedung yang langsung masuk ke lantai pertama. Biasanya tidak dijaga karena terlalu sempit untuk orang dewasa. Tapi kalian..." Bagas tatap mereka. "Kalian cukup kecil untuk masuk. Terutama kau, Sari."
Sari mengangguk. "Aku tidak masalah dengan tempat sempit."
"Setelah masuk, Pixel akan hack sistem keamanan mereka. Matikan kamera, buka pintu elektronik. Aku dan Arjuna akan maju ke depan, clearing the way. Sari, kau ikut kami sambil jaga Pixel. Kalau ada yang coba serang Pixel saat dia lagi hack, kau yang tangani."
"Aku?" Sari menatapnya tidak percaya. "Aku tidak bisa bertarung."
"Maka kau akan belajar. Mulai besok pagi." Bagas lipat peta. "Sekarang tidur. Besok akan jadi hari yang sangat panjang."
Tidak ada yang bisa tidur nyenyak malam itu. Arjuna terbaring di kasur tipis, menatap langit-langit berkarat, mendengar suara air laut yang memukul lambung kapal. Pikirannya tidak bisa berhenti. Tiga hari lagi ia akan menyerang markas mafia. Tiga hari lagi ia mungkin mati.
"Arjuna," bisik Sari dari kasur sebelahnya. "Kau tidur?"
"Tidak bisa."
"Aku juga."
Hening sebentar. Cuma suara ombak dan dengkuran pelan Pixel yang sudah tertidur kelelahan.
"Kau takut?" tanya Sari.
"Sangat," jawab Arjuna jujur. "Aku tidak pernah bertarung seumur hidupku. Tidak pernah pegang senjata. Dan sekarang aku harus menyerang mafia? Aku... aku tidak yakin bisa."
"Tapi kau tetap akan melakukannya."
"Karena aku tidak punya pilihan lain."
Sari diam lagi. Lalu ia turun dari kasurnya, duduk di samping Arjuna. Di cahaya lampu minyak yang redup, wajahnya terlihat rapuh. Terlihat ketakutan.
"Aku juga takut," bisiknya. "Takut mati. Takut gagal. Takut... takut tidak bisa balas dendam untuk ibu ku. Tapi yang paling aku takutkan adalah..." Suaranya bergetar. "Adalah kehilangan kau. Kehilangan Pixel. Kehilangan orang-orang yang sudah jadi keluargaku."
Arjuna duduk, tatap matanya. "Kau tidak akan kehilangan kami."
"Kau tidak bisa janji itu."
"Kau benar. Aku tidak bisa." Arjuna menggenggam tangannya. "Tapi aku bisa janji kalau aku akan berjuang sekuat tenaga untuk bertahan hidup. Untuk pulang. Untuk... untuk tetap bersamamu."
Mata Sari berkaca-kaca. "Kenapa kau baik sekali ke aku? Aku cuma... cuma gadis yang tidak berguna. Aku tidak kuat seperti Bagas. Tidak pintar seperti Pixel. Aku cuma beban."
"Kau bukan beban," kata Arjuna, tangannya menyentuh pipi gadis itu, lap air mata yang mulai jatuh. "Kau alasan aku masih bisa tersenyum di tengah semua kekacauan ini. Kau... kau cahaya di kegelapanku, Sari."
Sari menatapnya lama. Lalu ia memeluknya. Memeluk erat, seperti takut kalau ia lepas, Arjuna akan menghilang.
"Janji ke aku," bisiknya di dada Arjuna. "Janji kalau kau akan bertahan hidup. Janji kalau kita... kita akan bertemu lagi setelah semua ini selesai."
"Aku janji," bisik balik Arjuna, memeluk gadis itu lebih erat. "Aku janji kita akan bertemu lagi. Dan saat itu... saat itu kita akan hidup tenang. Tidak ada yang kejar kita. Tidak ada yang mau bunuh kita. Cuma kita berdua dan kehidupan yang normal."
Mereka tetap berpelukan sampai akhirnya lelah mengalahkan takut, dan mereka tertidur di pelukan satu sama lain.
***
Tiga hari terasa seperti tiga tahun. Setiap pagi Bagas bangunkan mereka pukul lima, suruh lari keliling dermaga, push up sampai tangan gemetar, sit up sampai perut kram. Arjuna muntah di hari pertama, tidak terbiasa dengan latihan sekeras ini. Tapi Bagas tidak kasih ampun.
"Musuh tidak akan kasihan karena kau lelah," katanya dingin. "Mereka akan bunuh kau saat kau lemah. Jadi jangan lemah."
Siang hari untuk latihan combat. Bagas ajari mereka cara memukul yang benar, cara menghindar, cara mengunci lawan. Sari yang paling susah belajar, tubuhnya kecil dan tidak punya kekuatan. Tapi ia paling gigih. Setiap kali jatuh, ia bangun lagi. Setiap kali Bagas lempar ke lantai, ia berdiri lagi.
"Bagus," Bagas akhirnya bilang di hari ketiga. "Kau punya mental petarung. Tubuh bisa dilatih, tapi mental? Itu bawaan."
Sore untuk Pixel dan Sari belajar hacking. Pixel ajari Sari cara bobol sistem keamanan dasar, cara matikan kamera, cara buka kunci elektronik. Sari belajar cepat, jarinya mulai terbiasa dengan keyboard, matanya mulai bisa baca kode-kode yang tadinya terlihat seperti bahasa alien.
"Kau jenius," puji Pixel. "Kalau kita selamat dari ini, aku ajak kau jadi partner. Kita bisa jadi duo hacker terbaik di kota ini."
"Kalau kita selamat," koreksi Sari. "Itu 'kalau' yang sangat besar."
Malam hari untuk perencanaan. Mereka duduk melingkar di lantai kapal, menatap peta, hafal setiap detail, setiap lorong, setiap pintu keluar darurat.
"Kalian harus hafal di luar kepala," kata Bagas. "Kalau situasi jadi chaos, kalian tidak punya waktu untuk lihat peta. Kalian harus tahu kemana harus lari tanpa berpikir."
Mereka hafal. Hafal sampai mimpi mereka dipenuhi gambar lorong gelap dan pintu besi.
Dan akhirnya, malam itu tiba.
Malam Jumat. Pukul tujuh sore. Mereka berdiri di dermaga, sudah pakai baju gelap, sudah siapkan tas berisi laptop, senter, pisau kecil untuk jaga-jaga.
"Ini terakhir kalinya untuk mundur," kata Bagas. "Kalau ada yang mau keluar, keluar sekarang. Aku tidak akan salahkan kalian."
Tidak ada yang bergerak. Mereka semua diam, menatap laut di kejauhan yang mulai gelap.
"Oke," Bagas mengangguk. "Kita berangkat."
Perjalanan ke Kota Pesisir Senja terasa paling panjang di hidup Arjuna. Mereka naik bis malam, duduk terpisah supaya tidak mencurigakan. Arjuna duduk di belakang sendirian, menatap keluar jendela ke jalan yang gelap. Lampu-lampu kota perlahan menghilang, digantikan oleh kegelapan desa dan hutan.
Ia pikir tentang ayahnya. Tentang desa yang terbakar. Tentang semua orang yang sudah ia kehilangan. Dan ia berdoa. Untuk pertama kalinya sejak lama, ia berdoa.
"Ayah, kalau kau bisa dengar aku dari manapun kau sekarang, tolong lindungi kami. Tolong buat kami selamat. Karena aku... aku belum siap mati. Masih banyak yang harus aku lakukan. Masih banyak yang harus aku selamatkan."
Mereka sampai di Kota Pesisir Senja pukul sebelas malam. Kota pelabuhan yang ramai bahkan di malam hari, penuh dengan kapal-kapal besar, buruh yang bekerja shift malam, pelacur yang berkeliaran di sudut jalan.
Bagas membawa mereka menyusuri gang belakang, hindari jalan utama. Gudang The Black Serpent terlihat dari kejauhan, besar, gelap, dengan satu lampu redup di depan pintu.
"Kita masuk dari belakang," bisik Bagas. "Ingat rencana. Tidak ada suara. Tidak ada kesalahan. Kita masuk, ambil Maya, keluar. Tidak lebih."
Mereka bergerak seperti bayangan. Melewati pagar berkarat, merangkak di tanah basah, sampai di belakang gudang dimana ada lubang pembuangan kecil. Sangat kecil, sepertinya cuma untuk buang sampah.
"Sari duluan," kata Bagas. "Kau paling kecil."
Sari menarik napas dalam, lalu merangkak masuk. Tubuhnya hampir tidak muat, harus menyamping, tangan duluan, lalu kepala, lalu badan. Arjuna ikuti di belakangnya, bau busuk dari lubang itu bikin ia mau muntah tapi ia tahan. Pixel di belakang Arjuna, lalu Bagas paling belakang.
Mereka merangkak di kegelapan total, cuma pakai senter kecil, napas tersengal karena udara pengap. Sepuluh meter. Dua puluh meter. Rasanya tidak akan pernah berakhir.
Tapi akhirnya mereka sampai di ujung. Ada kisi besi tipis. Bagas buka dengan mudah, sudah dia longgarkan dari dalam dulu.
Mereka keluar di ruangan gelap yang penuh kardus. Gudang penyimpanan lantai pertama. Bau ikan busuk menyengat, tapi setidaknya mereka sudah masuk.
Pixel langsung buka laptopnya, sambungkan kabel ke panel kontrol di dinding. Jarinya menari di keyboard, layarnya penuh kode.
"Aku masuk ke sistem mereka," bisiknya. "Mematikan kamera satu per satu. Tiga... dua... satu... done. Kamera mati. Tapi kita cuma punya dua puluh menit sebelum mereka sadar ada yang salah."
"Cukup," kata Bagas. Ia keluarkan pistol dari balik jaket, pasang peredam. "Arjuna, Sari, di belakangku. Pixel, kau di tengah. Jangan ada yang terpisah."
Mereka bergerak pelan, keluar dari ruang penyimpanan ke lorong. Dindingnya beton basah, lampunya redup, ada bau aneh yang bikin perut Arjuna mual. Bau darah dan sesuatu yang lebih busuk.
Mereka turun tangga besi ke lantai kedua. Di sini lebih sepi. Lebih gelap. Tapi ada suara. Suara... suara orang menangis?
Arjuna berhenti. Bagas juga berhenti, menatapnya dengan alis naik.
"Ada apa?"
"Kau dengar itu?"
Mereka semua diam. Dan ya, ada suara menangis. Suara anak-anak.
"Kontainer penyimpanan," bisik Bagas. "Mereka simpan 'barang dagangan' di sana sebelum dikirim. Jangan... jangan lihat, Arjuna. Kita tidak bisa bantu mereka sekarang."
Tapi Arjuna tidak bisa. Tidak bisa abaikan suara itu. Ia berjalan ke arah suara, Bagas mencoba menahannya tapi ia lepaskan diri.
Ia sampai di ruangan besar. Di sana ada kontainer-kontainer logam dengan pintu berlubang kecil. Ia dekati salah satu, lihat lewat lubang.
Dan apa yang ia lihat membuat dadanya terasa dicabik.
Di dalam ada puluhan anak. Usia lima sampai sepuluh tahun. Mereka duduk di lantai logam dingin, sebagian menangis, sebagian sudah diam dengan tatapan kosong. Baju mereka kotor, wajah mereka pucat, beberapa punya luka lebam.
"Tidak..." bisik Arjuna. Tangannya gemetar menyentuh pintu kontainer. "Tidak, tidak, tidak..."
Ini yang ayahnya coba hentikan. Ini yang Adrian lakukan. Anak-anak ini akan dijual. Akan dijadikan budak. Atau lebih buruk.
"Arjuna, kita harus pergi," kata Sari, suaranya juga bergetar. Ia juga lihat. Ia juga tidak bisa percaya. "Kita... kita tidak bisa selamatkan mereka sekarang. Kalau kita coba, kita semua mati."
"Tapi mereka..."
"Kita akan kembali!" Sari menggenggam tangannya kuat. "Kita akan kembali dengan bantuan. Dengan polisi. Dengan siapapun yang bisa bantu. Tapi sekarang kita harus fokus selamatkan Maya dulu. Tolong, Arjuna. Tolong jangan buat ini jadi lebih sulit."
Arjuna menatap mata Sari. Mata yang juga basah. Mata yang juga hancur melihat ini.
Ia mengangguk pelan. "Kita akan kembali. Aku janji."
Mereka lanjutkan perjalanan, turun ke lantai ketiga. Tapi gambar anak-anak di kontainer itu tidak akan pernah hilang dari pikiran Arjuna.
Tidak akan pernah.
Dan saat itu, di dalam hatinya yang sudah penuh dendam, ada sesuatu yang tumbuh.
Sesuatu yang lebih panas dari dendam.
Kebencian murni terhadap Adrian Mahendra.
Kebencian yang akan membakar segalanya.