NovelToon NovelToon
Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Wa'Alaikumsalam Mantan Imam

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pernikahan Kilat / Konflik etika
Popularitas:96.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.

Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.

Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.

Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.

Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Datang Tanpa Diminta

Reza menutup mata sejenak. Harga dirinya memberontak. Tapi rasa sakit menang.

Ia menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar.

Di rumah

Ayza baru saja menutup buku sketsanya ketika ponselnya bergetar di meja. Satu nama muncul di layar.

Reza.

Ia tak langsung mengangkatnya. Tatapannya jatuh berpindah ke jam di dinding yang menunjuk angka sebelas.

"Dia gak pernah menghubungiku kecuali soal gak makan di rumah. Kenapa menghubungi aku larut malam gini?"

Ayza akhirnya mengangkat panggilan itu.

“Assalamu'alaikum?” suara Ayza terdengar tenang, terjaga.

Reza terdiam sepersekian detik. Dadanya terasa sesak. “…Ayza,” suaranya serak. “Aku… aku di rumah sakit.”

“Kamu kenapa?” tanya Ayza, nada suaranya berubah.

“Kecelakaan,” jawabnya pelan. “Tanganku… patah.”

Ada jeda napas. Reza membayangkan wajah Ayza sekarang. Terkejut? Panik? Atau tetap tenang seperti biasa?

Ayza terdiam sejenak. Jemarinya mencengkeram ponsel, tapi matanya kosong.

Tak ada permintaan. Tapi Ayza tahu, Reza bukan tipe yang menghubungi tanpa alasan. Tapi bayangan itu muncul begitu saja. Pria itu keras, angkuh, selalu ingin tampak baik-baik saja. Jika sampai meneleponnya malam-malam begini, berarti kondisinya tak sesederhana luka.

Ayza menutup mata. “Di rumah sakit mana?” tanyanya akhirnya.

Reza menyebutkan nama rumah sakit.

“Aku ke sana sekarang,” kata Ayza singkat.

Panggilan terputus.

Reza menurunkan ponselnya perlahan. Menatap langit-langit putih rumah sakit.

Malam ini… perempuan yang ia kejar tak mendengar panggilannya. Dan perempuan yang ia abaikan… datang tanpa diminta.

Reza tertawa pendek. Pahit. "Ini bukan sekedar kecelakaan. Ini awal dari sesuatu yang akan membuatku tak berdaya. Secara fisik, dan kuharap… tak secara batin."

Di rumah

Ayza menarik napas panjang, menahan getaran di dada.

“Aku datang bukan karena cinta,” ucapnya pelan, seolah bersumpah pada diri sendiri. “Aku datang karena aku masih istrinya. Karena ini tanggung jawab. Tidak lebih.”

Ayza mengambil tasnya. Mengenakan kerudung dengan gerakan rapi, tenang, seperti sedang bersiap menghadapi ujian, bukan suami yang mengabaikannya sejak hari pertama menikah.

Saat pintu ditutup, ia berbisik lirih:

“Setelah ini… aku tak tahu.”

\*

Lobby rumah sakit hampir sepi ketika Ayza tiba. Lampu putih menyilaukan, aroma antiseptik menusuk hidung.

Ia langsung menghampiri meja resepsionis.

"Kak, saya keluarga pasien Reza Pratama. Dia masuk malam ini karena kecelakaan. Tangannya patah."

"Tunggu sebentar," ucap resepsionis langsung mengetik nama Reza. Matanya fokus menatap layar. "Pasien Reza ada di ruang anggrek, lantai sembilan, Bu. Anda bisa naik lift di sebelah kiri."

Ayza mengangguk. "Terima kasih," ucapnya, lalu bergegas menuju lift.

Saat keluar dari lift, langkah Ayza melambat. Ada sesuatu di dadanya yang menekan, tapi ia tetap maju.

Ia membuka pintu.

Reza terbaring di ranjang, wajahnya pucat, lengan kiri tergips tebal dan digantung dengan kain penyangga. Infus terpasang di tangan kanan.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ayza melihat Reza… tak berdaya.

Reza menoleh. Matanya melebar sejenak. “Ayza…”

Suaranya serak. Terkejut. Seolah tak menyangka perempuan itu benar-benar datang.

Ayza berdiri beberapa langkah dari ranjang. Tidak mendekat, tidak juga menjauh.

“Apa yang terjadi?” tanyanya datar. Bukan dingin, lebih seperti menahan diri.

“Kecelakaan,” jawab Reza pelan. “Di lampu merah.”

Ayza mengangguk. Tatapannya jatuh pada gips putih itu.

“Dokter bilang enam minggu,” lanjut Reza, seolah takut keheningan. “Aku… butuh bantuan.”

Kata butuh itu terasa asing keluar dari mulut Reza. Dan Ayza mendengarnya dengan jantung berdebar. Bukan bangga, bukan senang. Hanya sadar betapa keadaan telah berbalik.

Ayza menarik kursi. Bukan di sisi ranjang, tapi cukup dekat untuk menunjukkan ia ada.

"Katakan," ucap Ayza singkat..

“Aku…” suara Reza tertahan.

Ia menatap Ayza beberapa detik terlalu lama, lalu memalingkan wajah.

“Aku mau ke toilet,” ucapnya lirih.

Permintaan itu terasa memalukan bahkan sebelum benar-benar terucap. Ia sudah menahannya terlalu lama. Tak ada pilihan lain.

Ayza terdiam sejenak. Pandangannya menyapu wajah Reza yang menegang, tangan yang terinfus menekan perut, keringat tipis di dahinya meski ruangan dingin. Tanpa bertanya, ia meraih tiang infus.

“Ayo,” katanya singkat, datar.

Mereka berjalan pelan menuju toilet. Langkah Reza kaku, napasnya tak teratur. Ayza tetap di sisinya, menjaga laju infus agar tak tersangkut.

Sesampainya di dalam, Reza berhenti.

“Kamu… keluar dulu,” pintanya, nyaris seperti perintah yang gugup.

Ayza mengangguk tanpa komentar. Ia berbalik, menutup pintu pelan dari luar.

Di dalam, Reza bergerak terburu-buru. Satu tangan membuat semuanya terasa lebih sulit dari seharusnya. Rasa lega datang beberapa menit kemudian, disusul keheningan yang menyesakkan.

Ia menatap pintu. Menelan ludah.

“Memalukan sekali,” gumamnya hampir tak terdengar. Wajahnya memanas.

Reza memejamkan mata sejenak, lalu memanggil, tanpa berani menoleh,

“Ayza.”

Pintu terbuka. Ayza berdiri di ambang, menatap Reza yang masih duduk, kepala tertunduk.

“Sudah?” tanyanya ringan.

Nada itu terlalu tenang untuk situasi yang membuat Reza ingin menghilang.

Ia hanya mengangguk.

Ayza mendekat tanpa ragu. Gerakannya cepat, terukur, seolah menjalankan prosedur yang tak perlu dibicarakan. Tak ada perubahan ekspresi di wajahnya.

Dada Reza terasa sesak.

Ia selalu mengabaikan perempuan itu. Selalu menyingkirkan Ayza dari hidupnya, dari pilihannya, dari hatinya. Tapi di saat paling rendah ini, justru Ayza yang berdiri di hadapannya. Tanpa jijik, tanpa keluhan, tanpa menuntut apa pun.

Rasa bersalah merambat pelan, menekan dadanya lebih keras dari nyeri di lengannya.

Ia tak pernah menganggap Ayza sebagai istrinya.

Namun perempuan itu tetap menjalankan perannya, bahkan ketika ia sendiri tak pernah benar-benar hadir sebagai suami.

Tak lama Reza sudah kembali ke ranjang pasien. Ayza membantunya berbaring dengan gerakan tenang.

"Kau.." Reza akhirnya membuka suara, ragu. "tak marah? Selama ini aku selalu mengabaikanmu."

Ayza menghentikan gerakannya, menatapnya sejenak, lalu menggeleng perlahan. “Marah itu butuh tenaga. Aku sudah terlalu lama lelah, Reza.”

Kalimat itu lebih menusuk daripada teriakan. Reza memejamkan mata. Napasnya berat. “Aku… minta maaf.”

Ayza merapikan selimut Reza dengan gerakan profesional, dingin tapi penuh kontrol.

“Kita fokus sembuh dulu,” ucapnya pelan. “Penyesalan bisa menyusul nanti.”

Ia melangkah ke pintu, berhenti sejenak.

“Dan satu hal,” katanya tanpa menoleh. “Aku di sini bukan karena kamu memanggil. Tapi karena aku memilih datang.”

Reza menatap punggung itu. Dan entah mengapa dadanya terasa lebih sakit daripada lengannya.

Malam itu Ayza tidur di sofa yang ada di ruangan rawat Reza. Sesekali terbangun memastikan keadaan Reza baik-baik saja.

 

Keesokan harinya, setelah menunaikan shalat subuh, Ayza pamit pulang.

"Aku akan kembali setelah membereskan rumah," ucapnya sebelum keluar. "dan mengambil beberapa keperluan selama kamu di rawat di sini."

Reza menelan ludah pelan. "Kamu... gak lama 'kan pulangnya?"

Ayza menggeleng. "Aku akan kembali secepatnya," katanya lalu keluar.

Beberapa detik setelah pintu itu tertutup, ponsel Reza di atas nakas bergetar. Reza menoleh cepat.

 

...***🔸🔸🔸***...

...“***Kadang, yang paling menyakitkan bukan kehilangan seseorang***—...

...***melainkan disadarkan bahwa ia tak pernah benar-benar pergi***.”...

...“***Allah tak selalu menghukum dengan meninggalkan***....

...***Kadang Dia menghukum dengan tetap menghadirkan***.”...

...“***Ia datang bukan karena cinta***....

...***Ia datang karena ia masih memilih bertanggung jawab***.”...

..."***Nana 17 Oktober***"...

...***🌸❤️🌸***...

.

To be continued

1
Wardi's
harus curiga rez., gk mungkin ayza punya musuh... pst org disekitar kamu rez..
Dek Sri
lanjut
abimasta
reza kanapa tidak menyelidikinya ya,ceo apa yg ga punya konrksi?
partini
wah si Zahra like queen dia bisa ini itu dengan gampang nya
Hanima
tunggu bentar lagi Zahrooong
Mundri Astuti
kita lihat next nya 🤭
mery harwati
Fahri, aq kasih kopi agar kau bisa bantu Kaysaf & Ridho untuk mencari tokoh dibalik pelecehan Ayza, meski sedikit petunjuk yang akan Fahri temukan, tetep bisa membantu Kaysaf & Ridho
Pulang lah Fahri, cari bukti² itu di rumah Reza meski mustahil tapi tetep kemungkinan bukti tertinggal tetep ada karena kebenaran gak akan bisa ditutupi meski oleh uang & kekuasaan & karma itu nyata 💪 semangat Fahri
mery harwati
Aq siap menunggu up selanjutnya terutama Reza & Zahra + karmanya selalu kunantikan 😀
Ma Em
Semangat Ayza kebenaran pasti akan menang dan untukmu Reza selamat menyesal seumur hdp mu karena sdh membuang berlian hanya untuk memilih batu kerikil , semoga kebenarannya terungkap dan Zahra bisa ditangkap dijebloskan ke penjara akibat perbuatan jahatnya .
Anonim
Zahra tidak mau namanya terseret. Si penghubung memastikan Zahra tidak terlibat.

Zahra meyakinkan diri - tidak akan pernah duduk di kursi terdakwa.
Wait and see.

Ayza sudah duduk di ruang tunggu pengadilan.

Ayza mengenali langkah kaki yang mendekat - Reza.

Ketika Reza sudah duduk - dia bicara tentang kesalahannya saat ketika melihat kejadian.

Sudah tidak ngaruh bagi kelangsungan rumah tangga mereka. Tetap selesai.
love_me🧡
kenapa tidak ada yg curiga ya kalau mereka itu suruhan seseorang karna kalau misi adalah perampokan kenapa tidak ada barang yg hilang satupun & mereka semua ada di 1 kamar sedangkan ber4 harusnya kan menyebar, Reza please kamu harusnya curiga sih kejanggalan ini jangan mau dibutakan oleh cinta terus
Juriah Juriah
dasarnya?.... akhirnya kamu menyesal kan telah melepaskan Ayza.. nikmati penyesalan mu Reza ..kamu berharap Ayza mo balikan.. jangan mimpi
Dek Sri
Zahra pasti tertangkap, tinggal menunggu waktu aja
Mawar
memang dr awal km tdk menginginkan ayza makanya km tdk pernah peduli, coba nnti klw kebongkar siapa dalang dr semua yg dialamia ayza pasti km tdk akan percaya krn zahra wanita yg km inginkan km psti akn membela dn melindunginya,
Puji Hastuti
Reza... Reza, dulu kamu sibuk dg Zahra, sekarang sibuklah dg penyesalan
Cicih Sophiana
percuma kamu panjang lebar Reza sekarang sdh ceraikan Ayza... dari awal kamu tdk baik baik saja sama Ayza krn hati kamu punya wanita lain...
Cicih Sophiana
semoga aja si pelakor nya di sebut penjahat nya dia yg menyuruh... klo gak di sebut penjahat bodoh melindungi biangkerok nya...
Felycia R. Fernandez
bener banget,saat Reza butuh Ayza sebagai istri dia selalu ada.saat Ayza butuh perlindungan suami malah Reza lagi indehoy dengan Zahra
Felycia R. Fernandez
Terbiasa berkhianat ya gtu, menganggap orang sama seperti mu
Sugiharti Rusli
dan pangkal dari masalah ini yah sebenar nya sikap si Reza sang mantan suami yang mendua tanpa berpikir dan sekarang merasa bersalah karena hanya bisa menghakimi mantan istrinya tanpa berpikir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!