Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-10
Mobil SUV mewah itu meluncur halus membelah jalanan protokol Jakarta yang mulai padat oleh kendaraan pulang kantor. Di dalam kabin yang kedap suara, keheningan terasa begitu kontras dengan keriuhan di luar. Aris sudah tertidur pulas di kursi belakang, kelelahan setelah seharian membantu mengepak barang-barang kecil yang diizinkan untuk dibawa.
Elisa menatap ke luar jendela, melihat deretan gedung pencakar langit yang berkilau tertimpa cahaya senja. Ia merasa seperti sedang berada di dalam mimpi, namun mimpi yang penuh dengan ketidakpastian. Di sampingnya, Kalandra fokus menyetir. Sesekali pria itu melonggarkan kerah kemejanya, wajahnya tampak sedikit tegang.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Kalandra memecah keheningan. Suaranya rendah, seolah takut mengusik tidur Aris.
Elisa tidak menoleh. "Saya hanya... saya hanya merasa aneh. Pagi tadi saya masih mencuci baju tetangga, sekarang saya duduk di mobil ini menuju tempat yang bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya."
"Ini akan menjadi tempat tinggalmu sekarang. Anggap saja ini awal yang baru," sahut Kalandra.
"Awal yang baru atau pelarian?" Elisa akhirnya menoleh, menatap pria itu dengan tatapan bertanya.
Kalandra terdiam sejenak. "Keduanya. Pelarian dari lingkungan yang mungkin akan menghakimi kamu, dan awal yang baru untuk masa depan Aris."
Mobil akhirnya memasuki area parkir sebuah gedung apartemen kelas atas di kawasan SCBD. Begitu pintu mobil dibuka, udara dingin dari pendingin ruangan lobi langsung menyambut mereka. Beberapa petugas keamanan berseragam rapi segera menghampiri dan membungkuk hormat pada Kalandra.
"Selamat datang kembali, Tuan Kalandra," ucap salah satu petugas.
Elisa menunduk, ia merasa canggung dengan perlakuan tersebut. Ia menggendong tas kecilnya dengan erat. Kalandra kemudian menggendong Aris yang masih terlelap. Pemandangan itu membuat hati Elisa berdesir aneh. Sosok Kalandra yang kaku dan dingin tampak begitu berbeda saat mendekap adiknya dengan hati-hati.
Mereka naik menuju lantai 35 menggunakan lift pribadi. Begitu pintu lift terbuka, mereka langsung berada di dalam unit penthouse yang sangat luas. Lantainya berlapis marmer putih, dengan jendela-jendela besar yang menampilkan pemandangan kota 180 derajat.
Kalandra membawa Aris ke kamar yang sudah didekorasi khusus untuk anak laki-laki. Ada tempat tidur berbentuk mobil balap dan rak buku yang sudah terisi penuh. Setelah menyelimuti Aris, Kalandra keluar dan mendapati Elisa berdiri mematung di tengah ruang tamu yang megah.
"Kenapa tidak duduk?" tanya Kalandra.
"Tempat ini terlalu besar, Tuan Kalandra. Rasanya... saya takut menyentuh apa pun. Takut merusaknya," ujar Elisa jujur.
Kalandra mendekat, namun tetap menjaga jarak aman. "Jangan panggil saya Tuan. Panggil saja Mas, atau Landra. Terutama di depan Aris."
Elisa menelan ludah. "Mas... Landra." Rasanya kaku di lidahnya.
Tiba-tiba, perut Elisa bergejolak. Aroma pengharum ruangan otomatis yang berbau vanilla manis di apartemen itu mendadak terasa begitu menyengat dan memuakkan baginya. Elisa menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya membelalak.
"Ada apa?" Kalandra bertanya cemas.
"Baunya... bau ruangannya..." Elisa tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia berlari mencari kamar mandi terdekat.
Kalandra tertegun. Detik berikutnya, ia merasakan hal yang sama. Lambungnya seolah diperas. Bau vanilla yang biasanya ia sukai kini terasa seperti aroma zat kimia yang sangat busuk.
"Ugh... sial," gerutu Kalandra. Ia ikut berlari menuju wastafel di dapur bersih.
Malam itu, di apartemen mewah seharga puluhan miliar rupiah tersebut, dua orang pemiliknya justru sibuk muntah di tempat yang berbeda. Sebuah pemandangan tragis sekaligus komedi yang ironis.
...----------------...
Setelah sekitar lima belas menit berjuang dengan rasa mual, Elisa keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat dan lemas. Ia menemukan Kalandra sedang duduk di kursi bar dapur sambil meneguk air putih dengan tangan gemetar.
"Kamu ikut merasakannya juga?" tanya Elisa lirih.
Kalandra mengangguk lemah. "Saya sudah minta pelayan untuk mencopot semua pengharum ruangan besok pagi. Ternyata apa kata Gery benar, gejala ini... benar-benar merepotkan."
Elisa duduk di salah satu kursi, jaraknya dua kursi dari Kalandra. "Maafkan saya. Seharusnya anda tidak perlu merasakan ini."
Kalandra menatap Elisa. Untuk pertama kalinya, ia melihat gurat kelelahan yang luar biasa di wajah gadis itu. Bukan hanya lelah fisik, tapi lelah batin. "Jangan minta maaf. Ini konsekuensi dari apa yang sudah saya perbuat."
Suasana kembali hening. Kalandra kemudian berdiri dan membuka kulkas besar di belakangnya. "Kamu belum makan malam. Saya tadi pesan makanan lewat layanan khusus, harusnya sebentar lagi sampai. Tapi... apa ada sesuatu yang spesifik yang ingin kamu makan?"
Elisa terdiam. Tiba-tiba, sebuah bayangan makanan muncul di benaknya. Sesuatu yang sangat sederhana namun terasa sangat mendesak untuk didapatkan.
"Saya... saya ingin nasi putih hangat, tapi harus ada ikan asin goreng dan sambal terasi," ucap Elisa ragu-ragu. "Tapi... baunya pasti menyengat. Saya takut nanti kita mual lagi."
Kalandra mengerutkan kening. "Ikan asin? Terasi?"
Pikiran Kalandra langsung membayangkan bau terasi yang tajam. Perutnya kembali bergejolak, namun anehnya, ada bagian dari dirinya yang justru merasa lapar saat membayangkan menu itu.
"Saya akan coba cari," ujar Kalandra.
"Mana ada menu seperti itu di apartemen mewah seperti ini, Mas?" Elisa sedikit tersenyum tipis, hampir tak terlihat.
"Apapun untuk membuatmu dan anak itu tenang," jawab Kalandra serius. Ia segera mengambil ponselnya dan menelepon Bimo.
"Bim, cari restoran atau warung yang masih buka. Saya butuh nasi panas, ikan asin, dan sambal terasi. Sekarang. Kirim ke apartemen saya," perintah Kalandra.
Di seberang telepon, Bimo terdengar bingung. "Bos, ini sudah jam sepuluh malam. Anda mau makan ikan asin? Bukannya Anda benci bau menyengat?"
"Jangan banyak tanya. Kirim saja secepatnya!" Kalandra menutup telepon dengan kesal.
Satu jam kemudian, pesanan itu sampai. Bimo sendiri yang mengantarkannya karena ia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Begitu pintu apartemen terbuka, aroma ikan asin yang digoreng garing langsung menyeruak.
Bimo masuk membawa bungkusan kertas cokelat. "Ini pesanannya, Bos. Saya harus muter-muter ke daerah belakang kantor buat nyari warung nasi yang masih goreng ikan asin jam segini."
Kalandra menerima bungkusan itu. Anehnya, saat aroma itu masuk ke hidungnya, rasa mual yang tadi ia rasakan justru hilang, berganti dengan air liur yang mulai terkumpul.
"Terima kasih, Bim. Kamu boleh pulang," ujar Kalandra singkat.
"Tunggu, Bos. Anda beneran mau makan itu? Wajah Anda pucat banget tadi," tanya Bimo penasaran.
"Sudah, pulang sana!" Kalandra mengusir sahabatnya itu dengan halus.
Kalandra membawa makanan itu ke meja makan. Elisa sudah menunggu di sana. Saat bungkusan itu dibuka, uap panas dari nasi putih mengepul indah. Ikan asin jambal roti yang digoreng garing bersanding dengan sambal terasi merah merona dan lalapan segar.
"Silakan," Kalandra menyodorkan piring ke arah Elisa.
Elisa mulai menyuap nasi itu. Matanya terpejam. "Enak... ini enak sekali."
Kalandra yang awalnya hanya ingin melihat, tanpa sadar ikut mengambil sendok. Ia mencicipi sedikit ikan asin itu dengan nasi. Matanya membelalak. Rasa asin dan gurih itu seolah menjadi penawar bagi rasa pahit di lidahnya sejak tadi sore.
"Kenapa... kenapa rasanya sangat nikmat?" gumam Kalandra sambil terus menyuap.
Elisa menatap Kalandra dengan heran. Seorang konglomerat yang biasanya makan di restoran berbintang, kini sedang lahap memakan nasi ikan asin di meja makan mewahnya. Pemandangan itu membuat Elisa merasa pria di depannya ini mulai terasa seperti manusia, bukan lagi sekadar monster dingin yang ia takuti.
"Pelan-pelan, Mas. Nanti anda tersedak," tegur Elisa lembut.
Kalandra tersentak. Ia meletakkan sendoknya, merasa sedikit malu karena kehilangan kendali di depan Elisa. "Maaf. Sepertinya bayi ini benar-benar menyukai menu sederhana."
Setelah makan, suasana menjadi lebih cair. Mereka duduk di ruang tamu, melihat kerlap-kerlip lampu kota dari balik kaca.
"Besok, asisten saya akan mengantar kamu untuk cek kesehatan secara menyeluruh di rumah sakit pusat. Aris juga akan didaftarkan ke sekolah barunya. Kamu tidak perlu khawatir tentang apa pun," ujar Kalandra.
"Terima kasih," sahut Elisa pelan. "Tapi Mas... soal pernikahan itu..."
"Bimo sudah mengatur semuanya. Pernikahan siri secara agama akan dilakukan lusa di sini. Hanya ada saya, kamu, Aris, Bimo, dan Gery sebagai saksi. Penghulunya juga sudah saya siapkan. Setelah itu, saya akan mengurus legalitas negaranya secara diam-diam agar tidak memicu keributan di keluarga besar saya."
Elisa mengangguk. "Apakah... orang tua Mas benar-benar tidak akan tahu?"
Kalandra terdiam sejenak. "Untuk sekarang, iya. Saya harus mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Mereka orang baik, Elisa. Hanya saja... situasinya sekarang sangat rumit."
"Saya mengerti."
Kalandra berdiri. "Kamarmu di sebelah sana, tepat di depan kamar Aris. Di dalamnya sudah ada semua kebutuhanmu. Jika butuh sesuatu, kamar saya ada di ujung lorong ini. Kamu bisa panggil saya kapan saja."
Elisa berdiri juga. "Selamat malam, Mas Landra."
"Selamat malam, Elisa. Istirahatlah."
Saat Elisa berjalan menuju kamarnya, ia sempat menoleh ke belakang. Kalandra masih berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah, ada tanggung jawab, tapi Elisa belum melihat ada cinta di sana. Dan itu tidak masalah baginya. Untuk saat ini, rasa aman adalah segalanya.
...----------------...
Kalandra masuk ke kamarnya sendiri. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang king size yang terasa terlalu luas itu. Ia menatap langit-langit kamar, pikirannya berkelana.
Tanggung jawab ini ternyata jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan. Ia harus melindungi Elisa dari Pak Danu yang mungkin masih mengintai, ia harus menjaga rahasia ini dari orang tuanya, dan ia harus menekan perasaannya sendiri yang mulai merasa tertarik pada ketabahan gadis itu.
"Ini awal kehidupan yang berubah," bisik Kalandra pada kegelapan. "Masih ada sisa hidup yang harus dipertanggungjawabkan."
Ia memegang perutnya yang terasa sedikit kembung setelah makan ikan asin tadi. Tanpa sadar, ia tersenyum tipis. Ternyata, menjadi seorang ayah meski dengan cara yang salah memberikan warna baru yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Di kamar seberang, Elisa mengunci pintu kamarnya. Ia memeluk guling, menghirup aroma sprei baru yang bersih. Air mata kembali jatuh, namun kali ini bukan air mata keputusasaan.
"Ibu, Ayah... Elisa tidak tahu ini benar atau salah. Tapi tolong jagalah kami," bisiknya sebelum akhirnya jatuh terlelap.
Di luar, angin malam Jakarta berhembus kencang, membawa serta benih-benih takdir yang mulai tumbuh perlahan di dalam rahim Elisa, dan juga mulai merambat ke dalam hati Kalandra yang beku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selamat Membaca☺️🥰
Jangab lupa like, comment, vote dan ratenya ya Manteman🙏🏻🙌🏾❤️