Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dalam lingkarannya.
Pagi datang tanpa alarm.
Aku terbangun oleh cahaya yang menyusup dari celah tirai. Tidak terlalu terang, cukup untuk membuat mataku menyipit. Beberapa detik pertama, aku lupa di mana aku berada. Lalu aroma yang samar dari kopi, membuatku kembali sadar.
Aku duduk perlahan. Tubuhku masih terasa berat, tapi tidak terasa menyakitkan. Lebih seperti pegal setelah tidur terlalu lama.
Dari luar kamar terdengar suara air, lalu bunyi piring disentuh meja.
Aku keluar kamar.
Arven berdiri di dapur kecil, mengenakan kaus polos dan celana rumah. Rambutnya masih sedikit berantakan, seolah baru disisir seadanya. Ia menoleh begitu melihatku.
"Baru bangun?"
"Iya," jawabku singkat dengan suara serak.
Ia tersenyum. Senyum pagi hari yang tidak dibuat-buat.
"Aku bikinin roti sama telur. Nggak begitu berat untuk kamu."
Aku duduk di kursi, memperhatikan punggungnya bergerak ringan. Mata ku berkeliling di dalam dapur itu. Ada mug favorit yang warnanya sedikit pudar. Ada sendok yang gagangnya sudah tergores.
"Aku telat bangun?" tanyaku.
"Nggak," katanya. "Aku juga baru bangun."
Sarapan kami sederhana. Roti hangat, telur setengah matang, kopi untuknya, teh untukku. Aku menyadari ia ingat detail kecil itu tanpa harus bertanya.
Setelah makan, aku duduk di sofa, memeluk bantal kecil. Arven membereskan dapur, lalu duduk di seberangku.
"Kepalamu gimana hari ini?"
"Lebih enak."
Ia mengangguk puas.
Hari terasa berjalan pelan. Kami tidak punya rencana besar. Aku berdiri di dekat jendela, memperhatikan kota dari atas. Kendaraan terlihat kecil, bergerak seperti aliran yang tidak pernah berhenti.
Arven menyalakan televisi, tapi volumenya rendah. Aku tidak benar-benar menonton. Aku hanya menikmati keberadaan seseorang yang ada di ruangan yang sama,
"Arven," panggilku.
"Iya?"
"Kamu…. nggak kerja hari ini?"
Ia menoleh, tampak berpikir sebentar. "Nggak."
Aku mengerutkan dahi. "Karena aku?"
"Iya," jawabnya sederhana.
Ada rasa tidak enak yang muncul di dadaku. "Tapi nggak apa-apa? Maksudku, kerjaan kamu-"
"Tenang," potongnya lembut. "Aku sudah atur."
Aku menggigit bibir. "Aku nggak mau jadi beban."
Ia tersenyum kecil, bukan senyum yang menenangkan berlebihan.
"Kamu bukan beban," katanya. "Ini pilihan aku."
Aku mengangguk pelan, meski rasa khawatir itu tidak langsung hilang.
Di siang hari, kami keluar sebentar. Bukan untuk pergi jauh hanya ke minimarket di bawah apartemen. Arven berjalan di sampingku, menyesuaikan langkah. Ia membiarkanku memilih camilan, air minum, hal-hal kecil yang membuatku merasa punya kendali atas diriku sendiri.
Aku berhenti lama di depan rak minuman, bingung memilih.
"Kamu biasanya suka yang mana?" tanyaku.
Ia mengangkat bahu. "Terserah kamu sekarang."
Jawaban itu membuatku tersenyum.
Di kasir, ia yang membayar tanpa banyak bicara. Aku memperhatikan cara ia berdiri, caranya menunggu dengan sabar. Aku tersenyum kecil tanpa sadar.
Kembali ke apartemen, aku mulai merasa lelah. Bukan lelah fisik, tapi lelah karena terlalu banyak merasakan hal-hal baru.
Aku duduk di sofa lagi. Arven mengambilkan selimut tipis, meletakkannya di pundakku tanpa berkata apa-apa.
"Kamu mau tidur?"
"Sedikit sepertinya."
Ia duduk di kursi dekat jendela, membuka laptop. Aku memperhatikannya sebentar.
"Kamu beneran nggak apa-apa nemenin aku seharian gini?" tanyaku pelan.
Ia menoleh. "Iya."
"Kamu nggak bosan?"
Ia tersenyum tipis. "Aku sudah lama nunggu kamu bangun. Mana mungkin aku bosan."
Kalimat itu membuat dadaku menghangat dengan cara yang aneh. Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku hanya menarik selimut lebih rapat.
Aku memejamkan mata.
Aku masih tidak tahu banyak hal tentang hidupku. Aku tidak tahu pekerjaanku, rutinitasku, atau siapa saja orang-orang yang pernah dekat denganku.
Waktu berlalu, saat aku bangun aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Lalu, aku mulai berkeliling apartemen saat Arven masih di dapur. Suaranya terdengar samar, seperti sedang mengobrol singkat lewat telepon. Aku tidak mendengarkan. Aku hanya ingin melihat-lihat mengenal tempat yang katanya rumahku.
Langkahku pelan. Ada rasa canggung berjalan di ruang yang seharusnya akrab untukku . Aku membuka pintu kamar mandi kecil, lalu kamar kerja di sudut lorong. Semuanya rapi. Seperti dirawat dengan baik.
Di ujung lorong, aku berhenti.
Ada satu pintu yang belum kubuka.
Pintunya sama seperti yang lain, tapi entah kenapa terasa berbeda. Pegangannya bersih, seolah jarang disentuh. Aku berdiri di depannya beberapa detik, menimbang rasa penasaran yang muncul tiba-tiba.
Aku meraih gagangnya.
Terkunci.
Aku memutar lagi, sedikit lebih kuat. Tetap tidak bergerak.
"Seren."
Aku menoleh.
Arven sudah berdiri di lorong, beberapa langkah dariku. Untuk sepersekian detik, wajahnya berubah. Matanya melebar sedikit, napasnya tertahan seperti orang yang baru menyadari sesuatu hampir terjadi.
Lalu ia menarik napas, dan ekspresinya kembali tenang.
"Yang itu nggak usah dibuka," katanya, nadanya ringan tapi tegas.
Aku segera melepaskan gagang pintu. "Oh maaf. Aku cuma lihat-lihat."
Ia mendekat.
"Itu bukan apa-apa," katanya. "Cuma ruang lama. Isinya barang-barang yang udah nggak kepakai."
"Oh." Aku mengangguk. "Kirain kamar."
"Bukan," jawabnya singkat. "Aku sengaja ngunci."
Aku menatapnya sebentar. "Kenapa?"
Ia tidak langsung menjawab. Bukan ragu, lebih seperti memilih kata apa yang harus dia ucapkan.
"Banyak barang lama," katanya akhirnya. "Aku nggak mau kamu kebawa capek atau kepikiran hal-hal yang belum perlu kamu hadapi sekarang."
Nada suaranya tenang, membuat ku tidak ragu untuk percaya padanya.
"Kamu baru bangun dari koma," lanjutnya. "Dokter juga bilang jangan kebanyakan stimulasi."
Aku mengangguk pelan. Penjelasan itu terasa cukup.
Ia mengangkat tangannya dan mengelus kepalaku, pelan. Gerakannya lembut, seperti kebiasaan yang sudah lama ada. Sentuhan itu membuat bahuku mengendur tanpa kusadari.
"Kamu aman di sini," katanya pelan. "Nggak perlu maksa diri buat tahu semuanya sekarang."
Aku menghela napas kecil. "Iya, aku cuma penasaran."
"Aku tahu." Senyumnya tipis. "Tapi percaya aku, nggak semua hal perlu dibuka."
Ia menurunkan tangannya, lalu bergeser sedikit, secara halus menempatkan dirinya di antara aku diantara pintu itu
"Laper nggak?" tanyanya, kembali santai.
"Sedikit."
"Aku masakin sesuatu ya."
Ia berbalik menuju dapur. Langkahnya terdengar normal,
Aku berdiri sebentar di lorong, lalu ikut kembali ke ruang tamu. Pintu itu tetap tertutup di belakangku.
Sejak saat itu, aku mulai menyadari perubahan itu bukan dari satu kejadian besar, tapi dari hal-hal kecil yang berulang.
Arven jadi lebih sering ada di dekatku.
Bukan dengan cara yang membuatku merasa terkekang. Justru sebaliknya, semuanya terasa lembut, penuh alasan yang masuk akal, dibungkus perhatian yang sulit aku tolak.
Pagi-pagi, ia selalu sudah bangun lebih dulu. Menyiapkan sarapan sederhana, memastikan aku minum obat tepat waktu. Kalau aku berdiri terlalu lama, ia akan menoleh dan berkata dengan nada ringan, seolah bercanda, "Duduk dulu. Jangan sok kuat."
Aku menurut begitu saja entah kenapa.
Hari-hari kami mulai membentuk pola sederhana. Pagi diisi dengan hal-hal kecil aku membaca, menulis sedikit di buku kosong yang ia belikan, atau hanya duduk di dekat jendela. Siang kami makan bersama. Sore, ia menutup tirai sedikit kalau matahari terlalu terik, atau memintaku berbaring kalau wajahku terlihat pucat.
Aku mulai merasa nyaman tinggal berdua.
Apartemen itu tidak lagi terasa asing. Aku hafal suara lantai ketika diinjak, tahu sudut mana yang paling hangat saat sore, tahu di mana Arven biasanya meletakkan kunci. Bahkan bau ruangan campuran kopi, sabun, dan sesuatu yang khas Arven mulai terasa seperti rumah.
Suatu siang, saat kami duduk di sofa, aku memperhatikan Arven membuka laptopnya. Ia mengetik sebentar, lalu menutupnya lagi. Tidak lama. Seperti hanya memastikan sesuatu.
"Kamu kerja apa, Ven?" tanyaku tiba-tiba.
Ia menoleh, terlihat sedikit terkejut, lalu tersenyum. "Kok nanya?"
Aku mengangkat bahu. "Aku cuma....kepikiran. Kamu di rumah terus karena aku."
Ia meletakkan laptop di meja, lalu bersandar. "Aku kerja freelance."
"Oh." Aku mengangguk. "Dari rumah?"
"Iya. Lebih fleksibel."
Aku memperhatikan wajahnya. Aku tidak merasakan kebohongan sedikitpun, dia juga santai saat kutanya. Semua mengalir begitu saja.
"Kalau aku?" tanyaku lagi. "Aku kerja apa?"
Ia diam sebentar. Lalu ia berkata, "Kamu dulu kerja. Tapi sekarang nggak perlu mikirin itu."
Aku mengerutkan dahi sedikit. "Maksudnya?"
"Kamu baru bangun, Seren," katanya lembut. "Tubuh sama pikiran kamu masih adaptasi. Fokus istirahat dulu."
"Aku nggak boleh kerja lagi?" tanyaku, setengah bercanda.
Ia tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Bukan nggak boleh. Tapi belum perlu."
Aku menunggu lanjutannya.
"Aku bisa urus semuanya," katanya. "Kamu nggak perlu capek. Tinggal di rumah aja dulu. Aku aja yang kerja."
Kalimat itu seharusnya membuatku merasa tidak enak. Tapi anehnya, yang kurasakan justru lega. Seolah ada beban yang tidak kusadari sedang kupikul,
"Tapi....." aku ragu. "Aku nggak mau nyusahin kamu."
Ia mendekat, duduk lebih dekat dari sebelumnya. Tangannya terangkat, mengelus rambutku pelan.
"Kamu enggak pernah nyusahin," katanya.
Sentuhannya menenangkan. Aku tidak menarik diri. Aku membiarkannya.
"Dunia luar bisa nunggu," lanjutnya. "Nggak ada yang mendesak kamu ke mana-mana."
Aku menatapnya. "Teman-temanku...?"
"Kamu nggak perlu mikirin mereka sekarang," katanya cepat, lalu melunak. "Kalau nanti kamu sudah siap, baru kita atur."
Kita.
Kata itu kembali muncul, kata yang membuatku tidak nyaman namun perlahan membuat dadaku hangat.
Aku mengangguk. "Iya...mungkin aku memang butuh waktu."
Ia tersenyum. Senyum puas untuk sekejap.
Arven makin sering memastikan aku tidak sendirian terlalu lama. Kalau aku berdiri di dekat pintu terlalu lama, ia akan bertanya ke mana aku mau pergi.
Kalau aku membuka ponsel dan menatap layar kosong terlalu lama, ia akan duduk di sampingku, mengalihkan perhatianku.
"Ada yang kamu cari?"
"Nggak," jawabku
"Ya udah. Nonton aja," dia membalas.
Ia tidak melarangku keluar. Ia hanya selalu punya alasan kenapa lebih baik aku tetap di dalam.
Dan aku....tidak keberatan.
Aku mulai menikmati ritme ini. Hidup yang tidak menuntut apa pun dariku. Tidak ada dunia luar yang harus kuhadapi sendirian.
Aku merasa dirawat olehnya.
Malam hari, saat kami duduk berdampingan menonton acara yang tidak benar-benar kuperhatikan, kepalaku bersandar di bahunya tanpa kusadari.
"Kamu nyaman?" tanyanya pelan.
"Iya," jawabku jujur.
Ia tidak berkata apa-apa lagi. Tangannya hanya naik sedikit, menahan pundakku agar tidak tergelincir. Aku berharap hal nyaman seperti ini tidak berlalu dengan cepat.