apa jadinya jika seorang santri pondok pesantren diharuskan bersekolah disekolah umum. annasya semenjak ayahnya meninggal dia harus menikah muda kemudian pindah sekolah ke sekolah umum.
araf abinaya diusianya yg masih 18 tahun dia harus menikah dengan seorang gadis anak dari sahabat ayahnya. akankah cinta berpihak pada mereka? akankah annasya merasakan kebahagiaan yang tidak pernah ia dapatkan selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rulinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Karen berjalan menyusuri koridor sekolah, dilihatnya araf yang berjalan kearahnya namun melewati karen tanpa bicara. Karen tertunduk kemudian berbalik, "raf,,," panggil karen. Araf berbalik, "apa?" sahutnya jutek. Memang sedari dulu araf ga pernah lembut pada karen maupun cewe-cewe lain. Bahkan saat karen menginginkan araf atau sebaliknya. Karen mendekat, "raf maafin gue" karen mengulurkan tangannya. Araf terlalu malas untuk meladeni karen. Dia pun beranjak meninggalkan karen. Karen termangu diam ditempat.
Setelah kelulusan ini vince akan membawa karen ke luar negeri membuat karen merasa sedih karena harus berpisah dari araf. Entah sejak kapan setelah kepergian vince 5 tahun lalu karen menutup hatinya dan hanya memlermainkan laki-laki yang ingin dekat dengannya. Namun berbeda dengan araf dia sendiri tidak tau sejak kapan sudah mulai menyukai araf.
Karen melewati kelas nasya, terlihat nasya sedang membaca buku pelajarannya. "Dia sangat cantik" batin karen. Ada sedikit rasa sesal karena sudah merencanakan hal jahat bersama vano waktu itu. Saat bel berbunyi karen terhenyak dia pun langsung beranjak. Dia berjalan ke arah taman belakang mengambil hp-nya dan menelepon vano.
Tidak sampai 1 menit langsung diangkat oleh vano, "hallo" suara berat diseberang sana menjawab telepon karen.
"van gue harap kita bisa damai" ucap karen tanpa basa basi lagi.
"maksud lo?"
"jangan lakuin rencana yang udah gue usulin waktu itu. Gue...."
"ga bisa!" tegas vano
"kenapa?" tanya karen mengernyitkan keningnya
"gue mau araf hancur!"
"gue mohon" karen lemas dia pun terduduk
"ga masalah asal lo mau nemenin gue 2 hari"
"gila lo!" bentak karen
"terserah lo. pilihan ada ditangan lo. Lo sendiri tau kan dari dulu gue suka sama lo apalagi liat body lo. Gue tunggu jawaban lo sampe selesai ulangan umum" Vano langsung mematikan hp-nya tanpa peduli jawaban karen
Karen menghela nafas berat, mengusap wajahnya yang menangis karena menyesal. Dia berpikir apa yang harus dilakukannya. Dia melangkah berat ke arah kelas. dilihatnya araf dan yang lain sedang bermain basket. kelas sangat sepi. Karen duduk sendiri dia kemudian melipat tangannya dan menundukkan kepalanya di lengannya tiba-tiba dia menangis.
Dia bahagia melihat vince datang kembali, tapi dia merasa sangat tidak pantas untuk vince. Dia merasa sangat kotor dan tidak pantas. Walaupun vince yang pertama namun karena vince pergi meninggalkan dirinya untuk kuliah diluar negeri karen merasa vince tidak mencintainya karena meninggalkan dirinya saat dia sudah menyerahkan dirinya oada vince.
Sekarang setelah karen merasa sudah bisa melupakan vince, orang itu datang kembali dan dengan seenaknya berkata dia milik vince.
Ada rasa sakit tapi juga rasa senang dihatinya. Namun rasa sakit lebih mendominasi. Karena tidak ada jam pelajaran setelah ujian karen memutuskan untuk pergi keluar. Entah kemana yang pasti dia sangat ingin menenangkan diri.
Setelah pamit dengan guru-guru karen pergi dengan ayla hitamnya ke arah pantai. Dia duduk sendiri termenung dengan sebotol air mineral disisinya. Dia terus memikirkan 5 tahun belakangan ini setelah ditinggal vince betapa kacau hidupnya dengan terus berganti pria hingga dia memantapkan dirinya hanya dengan araf. Namun saat dia sudah memberikan hatinya pada araf lelaki itu malah menikah dengan wanita lain.
"Apa aku emang ga pantas untuk dicintai? apa aku ga boleh bahagia?" pikir karen yang tiba-tiba dia menitikkan air mata. Saat dia memejamkan matanya dia merasa ada yang mengelap pipinya dengan jari. Saat dia membuka matanya dilihatnya vince sudah ada dihadapannya.
"ada apa?" tanya vince setelah duduk didepan karen
Karen menatap intens pada vince, "apa kamu yakin untuk nikahin aku?" tanya karen
Vince menatap pada karen lekat ditatapnya mata indah karen, "untuk apa kamu tanyakan lagi, 5 tahun aku berjuang untuk mempercepat segalanya disana supaya aku bisa lekas pulang dan membawa kamu"
"aku... aku...." karen berucap ragu sambil menunduk
"ada apa? apa kamu meragukan aku?" tanya vince yang memegang kedua bahu karen
"bukan"
"lalu?"
"aku hanya merasa ga pantes untuk kamu, 5 tahun ini aku lalui dengn banyak kekacauan yang aku buat. Aku...."
"aku udah tau semuanya, nevermind" ucap vince pada karen
Karen menatap tajam ke arah vince sorot matanya seperti meminta penjelasan, "mommy-mu yang menceritakan semua. Maafkan aku yang meninggalkan banyak luka untuk kamu. Tapi kepergianku 5 tahun ini agar aku bisa bersama kamu. Sekarang aku udah kembali ga peduli apapun yang kamu lalui yang pasti aku mau kamu jadi masa depanku"
"hmmhhh..." karen menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan. Vince memeluknya erat, "maaf sudah menghancurkan hidupmu" ucap vince penih penyesalan.
"btw dari mana kamu tau aku disini?" tanya karen heran kemudian melepas pelukan vince
"maaf... aku meminta pengawal untuk terus mengikuti kamu diam-diam. Aku hanya mau kamu aman" ucap vince pelan. Karen mengangguk mengerti, "ok lebih baik kita pulang aku ngerasa capek banget" ucap karen kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan vince.
.
.
.
"kapan waktunya periksa kehamilan lagi sayang?" tanya mami yang duduk di ruang tengah sambil mengelus kepala nasya. Nasya yang duduk sambil memeluk mami menjawab, "besok mi"
"besok mami antar ya sepulang sekolah mami jemput" ucap mami
"kita ketemu di rumah sakit aja mi, kebetulan mas araf kan udah ga sekolah karena ujian udah selesai jadi mas araf besok bisa anter aku mi"
"ok tapi kabari ya sayang"
"iya mi"
"oiya mi pertunangan hana sama abang udah siap?"
"udah sayang, pakaian juga udah. Hana orang yang simple ga banyak permintaan." jawab mami senang
"kalau nanti mami dapet menantu lagi mami masih sayang aku kan?" tanya nasya sambil mendongak pada maminya.
"ya tentu dong sayang mami akan perlakukan kalian sama karena kalian juga anak mami" ucap mami sambil memeluk kepala nasya didekatkan pada dadanya.
"Hana memang irang yang simple mi dia baik juga dewasa walaupaun terkadang bersikap konyol namun di sangat care dengan temannya. Nasya seneng kalau hana jadi kakak ipar nasya"
Mami tersenyum mendengar penuturan nasya tentang hana. Hanya saja mami sangat takut jika hana nanti akan terluka karena dia tau zaki belum sepenuhnya melupakan nabila. Apalagi dia mendengar jika nabila sudah kembali ke indonesia. Mami melamun untuk beberapa detik namun dia dikejutkan oleh zaki yang menepuk pundaknya.
"mami.. pertunangannya minggu depan dihotel temen mami itu nanti kita sekalian aja mi liburan di bali" ujar zaki
"iya" jawab mami singkat
"sya... kamu harus ikut ya nanti abang siapin kursi roda biar kamu ga capek" nasya hanya tersenyum mengangguk
mau belikan rumah utk kamu.
tapi kama Erika masih merayu2 Araf.
dasar perempuan nga punya harga diri