NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.

Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.

Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.

Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.

Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.

Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Setelah kejadian itu membuat Bayu mengerti satu hal yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya: kehilangan tidak selalu datang dalam bentuk kepergian. Kadang, kehilangan hanya berupa seseorang yang tetap ada tapi tidak lagi menunggu.

Bayu masih datang ke ladang. Masih menanyakan kabar tanaman Masih duduk di warung yang sama, minum kopi yang sama.

Secara fisik, hidupnya tidak berubah banyak. Tapi Alya tidak lagi berada di pusat hari-harinya.

Ia melihat Alya dari jauh. Dari balik topi caping, dari balik motor yang ia parkir agak jauh, dari sudut pandang orang yang tidak lagi punya hak untuk mendekat tanpa alasan.

Alya kini bekerja lebih cepat. Lebih rapi dan mandiri. Ia jarang menoleh ke arah jalan. Jarang berhenti hanya untuk menghela napas.

Bayu tahu, itu bukan karena Alya kuat sejak awal. Itu karena Alya belajar. Dan Bayu terlambat menyadarinya.

Suatu sore, Bayu berdiri di ujung ladang, menatap patok-patok kecil yang menandai batas baru lahan Alya. Tanah itu tampak sama. Tidak ada yang berubah secara kasat mata. Tapi Bayu tahu, setiap garis baru selalu menghapus kebiasaan lama.

Ia teringat wajah Alya saat berkata: aku cuma nggak mau berdiri di tempat yang sama terlalu lama.

Kalimat itu tidak terdengar seperti ancaman. tidak juga seperti ultimatum. Justru terlalu tenang untuk diabaikan.

“Aku bodoh,” gumam Bayu pada dirinya sendiri.

Ia tidak pernah benar-benar menjauh. Tapi ia juga tidak pernah benar-benar memilih. Dan di antara dua sikap itu, Alya memilih dirinya sendiri.

☘️☘️☘️☘️

Malam itu, Bayu tidak langsung pulang. Ia duduk di teras rumahnya yang sempit, menatap jalan desa yang lengang. Suara jangkrik terdengar lebih jelas dari biasanya. Ponselnya ada di tangan, layar menyala, nama Alya tertera di sana belum pernah ia hapus, belum juga ia sentuh.

“Apa yang sebenarnya aku takuti?” tanyanya pelan.

Ia tahu jawabannya.

Bukan Alya. Bukan juga masa depan. Yang ia takuti adalah dirinya sendiri

dirinya yang pernah gagal, yang pernah meninggalkan seseorang demi bertahan hidup, dan yang kini takut mengulang luka dengan versi berbeda.

Dulu, Bayu lari karena merasa tidak cukup baik. Sekarang, ia diam karena merasa terlalu rusak. Dan dua-duanya menyakiti orang yang tidak seharusnya ikut menanggung.

Bayu menutup mata, menarik napas panjang.

“Kalau aku terus begini,” katanya pada malam, “aku akan kehilangan dia. Bukan karena dia pergi. Tapi karena aku membiarkannya berjalan sendiri.”

☘️☘️☘️☘️

Keesokan harinya, Bayu datang ke ladang lebih pagi dari biasanya. Alya sudah ada di sana.

Ia sedang mengukur jarak tanam baru dengan tali rafia. Rambutnya terikat rapi. Wajahnya fokus. Tidak ada raut menunggu.

Bayu berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Alya,” panggilnya akhirnya.

Alya menoleh. Tidak terkejut. Tidak juga tersenyum berlebihan.

“Hm?”

“Aku mau bicara.”

Alya mengikat ujung tali itu, lalu berdiri. “Sekarang?”

“Iya.”

Alya mengangguk. “Lima menit.”

Kalimat itu sederhana. Tapi Bayu merasakannya seperti batas yang jelas—waktu Alya kini punya nilai, dan ia harus menghargainya.

Bayu menarik napas. “Aku selama ini salah.”

Alya tidak menyela.

“Aku pikir dengan diam, aku melindungi. Padahal aku cuma menunda keberanian.”

Alya menatapnya. “Dan sekarang?”

Bayu menelan ludah. “Sekarang aku sadar, keberanian yang datang terlambat… bisa jadi tidak ada gunanya.”

Alya tersenyum kecil. Bukan senyum senang. Bukan juga sinis.

“Hidup memang nggak selalu nunggu kita siap, Bayu.”

Bayu mengangguk. “Aku tahu.”

Ia ingin mengatakan lebih. Ingin meminta waktu. Ingin berharap Alya masih membuka pintu yang sama.

Tapi ia juga tahu beberapa pintu tidak tertutup. Hanya saja, kita tidak lagi menjadi tujuan.

“Aku cuma mau bilang,” ujar Bayu pelan, “kalau suatu hari aku berani sepenuhnya… perasaan itu masih ada.”

Alya terdiam sejenak. Lalu berkata, tenang, jujur, dan dewasa:

“Perasaan tidak pernah salah. Tapi waktu dan pilihan menentukan ke mana perasaan itu tumbuh.”

Bayu menunduk.

“Aku nggak marah,” lanjut Alya. “Aku cuma nggak bisa berhenti hidup karena menunggu seseorang memutuskan.”

Bayu mengangguk. Kali ini tidak membela. Tidak menyangkal.

“Aku ngerti.”

☘️☘️☘️☘️

Mereka berdiri di ladang yang sama. Di tanah yang mulai berubah. Di jarak yang kini lebih jujur, semuanya terlintas tanpa diminta dam terencana. Hanya dua orang yang akhirnya mengerti: cinta yang tidak dipilih tepat waktu bisa berubah menjadi pelajaran dan pelajaran tidak selalu diberi kesempatan kedua.

Bayu melangkah pergi lebih dulu. Alya kembali bekerja. Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, tidak ada yang berharap diam-diam.

☘️☘️☘️☘️☘️

Hari-hari setelah percakapan itu berjalan dengan sunyi yang berbeda. Bukan sunyi yang canggung. Bukan juga sunyi yang penuh luka terbuka. Tapi sunyi yang lahir dari penerimaan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipaksa bertemu di waktu yang sama.

Alya tetap datang ke ladang setiap pagi. Jalur tanamnya sudah berubah. Beberapa cabai harus dipindahkan. Beberapa harus dilepas. Ia mengerjakannya tanpa keluhan. Tangannya cekatan, pikirannya tenang. Ada kehilangan kecil di sana, tapi juga ruang baru yang pelan-pelan ia pahami.

Bayu melihat semua itu dari jauh.

Ia tidak lagi mendekat tanpa alasan. Tidak lagi duduk terlalu lama di ujung ladang. Ia belajar menghormati jarak yang bukan dinding, tapi pilihan.

Suatu sore, Alya menemukan sebuah kantong kecil di dekat patok batas lahan. Isinya paku, tali rafia baru, dan sarung tangan kerja—ukuran tangannya. Tidak ada nama. Tidak ada pesan.

Alya tahu itu dari siapa.

Ia menggenggam sarung tangan itu sejenak, lalu memakainya. Tidak ada air mata. Tidak ada senyum berlebihan. Hanya satu tarikan napas panjang.

“Terima kasih,” gumamnya, entah pada siapa.

Malamnya, Bayu duduk sendiri di teras rumahnya. Ia tidak lagi memegang ponsel berharap ada pesan masuk. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan perasaan itu ada tanpa harus dituntaskan.

Ia mengerti sekarang: mencintai tidak selalu berarti memiliki. Kadang, mencintai berarti berhenti mengganggu proses tumbuh seseorang.

Dan Alya… telah tumbuh. Di ladang yang jalurnya berubah. Di hidup yang tidak lagi menunggu.

Jika suatu hari mereka bertemu lagi di titik yang sama, itu bukan karena masa lalu menarik mereka kembali melainkan karena pilihan yang akhirnya searah.

Dan jika tidak, Bayu tahu satu hal pasti: Alya pernah hadir sebagai rumah yang hangat. Bahkan ia sendiri yang terlalu lama berdiri di depan pintu, tanpa berani mengetuk.

Bersambung ....

1
Dew666
💐💐💐💐💐
Dew666
💜💜💜💜💜
Dew666
🏆🏆🏆🏆🏆
ari sachio
makin penasaran dg bayu
PanggilsajaKanjengRatu: Halo kak, kalo berkenan yuk mampi juga ke cerita ku, judulnya “Cinta Yang Tergadai ”🙏
total 1 replies
Wanita Aries
wah bayu sama alya sama2 trluka berrti bsa saling menyembuhkan
ari sachio
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Wanita Aries
semangat trus alya menuju sukses
Wanita Aries
kl sudah tiada baru terasaaa
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
Wanita Aries
penasaran ma khidupan bayu
Sartini 02
ditunggu updatenya kak...😍
Wanita Aries
halimah kocak😁
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
Wanita Aries
sabar yaa al smua akan indah pada wktnya
Dew666
🍎👑
Wanita Aries
kabar keluarga alya gmn thor masa gk nyariin
Ayumarhumah: sabar Kakak ....
total 1 replies
Wanita Aries
wahh apa bayu jodoh alya.

thor novelnya jgn trllu kaku dong
Ayumarhumah: owalah iya kak makasih sarannya
total 3 replies
Wiwik Susilowati
biasa baca bahasa jawa halus tiba2 ada bahasa jawa yg lain msh bingung ngartiinny...lanjut thor💪💪
Ayumarhumah: iya kak, ini bahasa Osing khasnya Banyuwangi. he he
total 1 replies
Dew666
💜💜💜💜💜
Wanita Aries
lanjut thor
Ayumarhumah: OK kakak ...
total 2 replies
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!