Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.
Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.
Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Isu yang disiapkan
Di perusahaan Anderson Group Internasional, para karyawan dan beberapa staf tampak sibuk menghias setiap sudut ruangan.
Dekorasi mewah memenuhi kantor, seolah mereka tengah bersiap menyambut perayaan besar untuk CEO baru mereka.
"Nona Elina serius buat acara seramai ini?" ucap salah satu karyawan sambil menatap sekeliling ruangan yang penuh ornamen dan bunga segar.
"Sepertinya iya. Tapi ini seperti acara ulang tahun perusahaan deh," sahut karyawan lain dengan suara pelan.
Beberapa bisik-bisik terdengar di sana-sini. Namun, tak satu pun dari mereka berani memprotes. Semua memilih diam dan fokus menjalankan tugas masing-masing.
Ares yang baru saja tiba mengerutkan keningnya saat melihat kantor yang dipenuhi dekorasi semewah itu. Langkahnya melambat, sorot matanya menyapu ruangan dengan penuh tanda tanya.
Tepat pada saat yang sama, Elina baru turun dari mobilnya.
"Elina?" panggil Ares, lalu melangkah mendekat.
Elina menoleh. Senyum manis langsung terbit di wajahnya saat menatap sang suami. "Hai, Mas. Kamu baru sampai?" tanya Elina dengan nada hangat.
Ares kembali mengerutkan kening, heran melihat sikap Elina yang begitu manis. Apa Elina sudah kembali seperti dulu? Batinnya, perempuan yang mudah ia kendalikan.
"Iya, Mas baru sampai. Oh ya, Bunda dan Ayah mana? Mas ingin bertemu," ucap Ares, berusaha membalas keramahan Elina.
"Bunda dan Ayah ada di mansion mereka. Nanti mereka ingin makan malam di rumah Mas," balas Elina tetap ramah.
"Serius?" wajah Ares tampak berbinar. "Mas senang dengarnya. Ayah dan Bunda sudah kembali," ucap Ares, lalu merangkul Elina.
Elina membalas dengan memeluk pinggang suaminya. Keduanya berjalan berdampingan memasuki gedung, tampak serasi seolah tak pernah ada masalah di antara mereka.
"Oh ya, El. Kenapa dekorasinya semeriah ini? Bukankah cuma acara pengangkatan CEO?" tanya Ares sambil melirik sekitar.
"Terus kenapa kalau cuma pengangkatan CEO?" balas Elina sambil tersenyum. "Kita harus menyambut CEO baru kita dengan wow dong."
Ares mengangguk pelan. "CEO-nya..."
"Tenang saja, Mas. Aku tahu apa isi hati kamu," potong Elina, menatap Ares dengan senyum jahil.
Ares langsung mengangguk paham. Dalam benaknya, Elina benar-benar sudah kembali seperti dulu.
Mereka melangkah santai, masih saling merangkul pinggang sambil mengobrol ringan. Beberapa karyawan yang berpapasan langsung menunduk hormat. Elina membalas dengan anggukan anggun, bahkan sesekali merapikan dasi Ares dengan penuh perhatian.
"Elina, hari ini Mas ada meeting di luar," ucap Ares.
"Iya, Mas. Aku sudah tahu itu. Ingat ya, kamu jangan capek-capek. Besok kita butuh banyak tenaga," ucap Elina perhatian.
Ares tersenyum puas. Elina benar-benar kembali seperti dulu. "Iya, Sayang. Mas tahu. Kamu juga ya, biarkan semua diurus sama yang lain saja. Kamu cukup memantau," ucapnya tak kalah lembut.
Elina mengangguk sebagai jawaban.
"Mas ke ruangan dulu," ucap Ares.
"Iya, Mas," balas Elina, yang dibalas anggukan olah Ares sebelum ia masuk ke lift.
Begitu pintu lift menutup, senyum Elina perlahan memudar, berubah datar, nyaris miring penuh arti.
"Mas Ares, tinggal selangkah lagi," gumamnya pelan.
Elina kembali menatap para tukang dekorasi yang masih sibuk bekerja. Ia memperhatikan setiap detail, sesekali memberi arahan jika ada yang tidak sesuai dengan keinginannya.
"Mas, di sini saya ingin bunga-bunga yang segar," perintah Elina tegas.
"Baik, Nona," patuh tukang dekorasi itu.
Elina mengangguk puas. Tanpa sengaja, pandangannya tertuju pada Dewa yang berdiri di dekat pintu lobi. Pria itu memberi kode singkat padanya.
Elina membalas dengan anggukan kecil, tanda ia mengerti.
Perlu diketahui, Dewa bukan karyawan Anderson Group Internasional. Namun, ia memegang peran yang sangat penting, seseorang yang membantu Elina dari balik layar, dan keberadaannya hanya diketahui oleh orang-orang pilihan yang benar-benar Elina percaya.
♡♡
Di salah satu kafe yang lokasinya cukup jauh dari perusahaan Anderson Group Internasional, Elina dan Dewa duduk berhadapan di sebuah ruang privat. Suasana ruangan itu tenang, teredam dari hiruk-pikuk pengunjung lain, hanya terdengar alunan musik lembut dan aroma kopi yang samar memenuhi udara.
“Laporan tentang Tuan Ares, Nona,” ucap Dewa sambil memperlihatkan sebuah map cokelat pada Elina.
Elina langsung menerima map itu dan segera membukanya. Sorot matanya menajam saat membaca setiap lembar laporan di dalamnya.
“Dana salah satu proyek kita yang ada di kota Berlin ditarik oleh Tuan Ares, Nona, untuk membiayai rencananya bersama Dirga dan Bayu,” lanjut Dewa menjelaskan dengan nada profesional.
Elina menggelengkan kepala perlahan, tatapannya dingin dan sarat penilaian terhadap Ares yang menurutnya semakin tamak.
“Proyek itu harus terus berjalan, Dewa,” ucap Elina tegas.
“Iya, Nona. Bayu dan Dirga telah mengirimkan kembali dana ke rekening perusahaan,” jelas Dewa, memastikan.
Mereka berdua pun terus membahas berbagai rencana, mulai dari kelanjutan proyek hingga persiapan acara pengangkatan CEO yang semakin dekat.
“Bagaimana undangannya, Dewa? Apa banyak yang komplain soal pengundurannya?” tanya Elina sambil meneguk tehnya yang sudah mulai dingin.
“Malahan mereka senang, Nona. Kebanyakan tamu kita dua minggu yang lalu memang punya acara penting,” jawab Dewa, lalu ikut meneguk kopinya.
Elina mengembuskan napas lega. Setidaknya, urusan perusahaan berjalan sesuai dengan skenario yang telah ia susun rapi.
“Saya lihat Nona terlihat romantis dengan Tuan Ares,” ucap Dewa dengan nada terkekeh, jelas menyelipkan godaan.
Elina menatap malas ke arahnya. “Kamu tahu drama, kan?”
Dewa hanya mengangguk paham, masih dengan kekehan kecil, sementara Elina kembali memasang ekspresi tenang—wajah yang sama yang selalu ia gunakan untuk menutupi rencana besarnya.
♡♡
Di salah satu salon eksklusif yang berada di mal ternama, Maya dan Amelia tampak sibuk memanjakan diri. Rambut mereka sedang ditangani beberapa stylist profesional, sementara aroma perawatan mahal memenuhi ruangan, menciptakan suasana mewah dan nyaman.
Amelia bersandar santai di kursinya, menatap pantulan dirinya di cermin dengan sorot mata puas. "Mama harus tampil memukau, May," ucapnya penuh percaya diri.
Maya yang duduk di seberangnya mengangguk pelan. "Iya, Mah. Aku harap Mas Ares yang akan jadi CEO," ucap Maya, suaranya terdengar berharap.
"Pasti, May. Ares pasti jadi CEO dan sebentar lagi akan jadi pemilik perusahaan," ucap Amelia penuh antusias. "Menyingkirkan Elina dan keluarganya."
"Maya sudah nggak sabar melihat kemenangan untuk kita," ucap Maya, bibirnya tersenyum penuh bayangan masa depan yang ia inginkan.
"Iya, May. Sebentar lagi, roda akan berputar," sahut Amelia, nada suaranya terdengar yakin.
"Aku nggak sabar, Mah. Lihat Elina yang bermohon-mohon pada Mas Ares, memohon ampun," ucap Maya disertai tawa kecil yang terdengar puas.
"Iya, May. Mama juga nggak sabar membalas perbuatan dia yang sudah membuat mama malu," balas Amelia, sorot matanya mengeras.
Mereka berdua terus larut membicarakan hari kemenangan versi mereka sendiri, tenggelam dalam ambisi dan kepuasan semu. Tanpa mereka sadari, di sudut lain salon yang sama, Lusi dan Luna—dua asisten Elina, juga sedang menjalani perawatan.
Pandangan Luna dan Lusi saling bertemu. Keduanya tersenyum miring, seolah tanpa kata sudah memahami satu hal yang sama.