Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Alea mengangguk sambil mengambil tissu dari tangan Athalia. "Aku berharap bukan dia yang membuat kita dipindahkan ke administrasi."
"Amin." Athalia mengaminkan. Dia jadi memikirkan karyawan yang bernama Hendry. "Aku juga berharap begitu."
"Tapi sepertinya bukan, karena dia tidak senang, saat aku tidak mau ditraktir. Kalau diingat lagi, aku makin ragu." Athalia jadi ingat tatapan marah Hendry saat dia tidak bersedia pergi makan siang dengannya.
"Apa dia sudah buat keputusan dulu, sebelum mau mengajakmu lunch?" Ucap Alea setelah mengeringkan air mata di pipi dan berpikir.
"Maksudmu, dia yang buat keputusan? Apa dia semuda itu sudah jadi pe ...." Athalia tidak meneruskan, karena tetap ragu, Hendry telah jadi pejabat yang berkuasa.
"Pikirku seperti itu, mungkin dia sengaja ajak lunch, sekalian mau kasih tahu itu padamu." Alea jadi melihat Athalia.
"Mengapa dia tiba-tiba mau mengajakmu lunch, kalau bukan mau pamer? Supaya langkah berikutnya, mulus. Kau bisa terima tintanya?" Alea mengatakan yang terpikirkan sambil tersenyum.
"Semoga tidak berkaitan dengannya. Aku tidak mau berhutang budi dan terbelenggu oleh sesuatu yang dikira baik, padahal lagi modus tinta."
"Apa kita kurang kompeten, hingga harus dipromosi melalui cara itu?" Athalia menggeleng, tidak terima yang dipikirkan.
"Tidak usah dipikirkan. Kadang ada orang bersiasat untuk peroleh yang diinginkan. Apa lagi sudah berhubungan dengan tinta. Dukun saja bisa dilibatkan untuk memuluskan tinta." Alea makin tersenyum ingat kiasan. Cinta ditolak, dukun bertindak.
"Tapi untuk promosi pekerjaan lebih baik dengan cara profesional, berdasarkan kinerja. Bisa kacau, kalau yang dipromosikan, isi kepalanya stengah. Perusahaan bisa bangkrut." Athalia jadi serius.
"Iya, ya. Kita pikirkan yang dikatakan Pak Super saja. Persiapkan diri untuk bekerja di bagian yang baru, supaya tidak mengecewakan." Alea mengakui.
"Setuju. Aku tidak mau praduga Hendry yang lakukan ini. Supaya kalau bertemu dengannya, bersikap biasa saja, profesional. Lagian kita juga belum tahu dia kerja di bagian mana." Ucap Athalia perlahan, karena dia ragu akan sikap Hendry.
Alea mengangguk, setuju. "Iya, Talia. Seperti yang kau bilang, apa pun alasan dipindahkan, kita harus bersyukur." Ucap Alea sambil menggerakan tangannya sebagai rasa syukur.
"Iya, apa lagi aku yang mau habis masa training, sangat bersyukur. Masa trainingku telah diperpanjang dan dipindahkan ke bagian administrasi. Sesuatu yang tidak pernah aku duga." Mata Athalia jadi basah.
"Nanti kalau sudah kerja di sana, kita saling bantu, ya. Mungkin ada kerjaan yang kita kurang paham." Athalia kembali memeluk Alea.
Alea bersyukur, karena sejak kehadiran Athalia sebagai karyawan training hampir tiga bulan menggantikan karyawan sebelumnya yang hamil, terjadi banyak perubahan. Mereka lebih mendapat perhatian dari pihak perusahaan.
Bukan saja dari perusahaan, tapi juga para karyawan wanita yang perhatikan mereka dengan pandangan tidak suka, karena melihat para pria yang sengaja berdiri lama di lobby untuk menggoda mereka.
"Iya. Nanti pulang, kita pelajari yang dikasih tadi, supaya tahu apa pekerjaan kita di administrasi. Aku dengar, di sana banyakan karyawan wanita. Kalau pria bisa dihitung dengan jari."
"Oh, iya. Tadi waktu lewat, kelihatan banyak wanita. Semoga kita aman di sana. Maklum, kadang kadang, kadang...." Athalia tidak meneruskan, tapi tersenyum tipis.
"Jangan kita bicarakan itu dulu. Nanti mengurangi rasa sukacita hari ini." Athalia melanjutkan, agar tidak merusak suasana hatinya yang sedang gembira. Masa trainingnya diperpanjang tambah bonus.
"Iya. Tidak usah dipikirkan yang belum tentu terjadi. Supaya kita bisa pulang dengan hati senang." Ucap Alea sambil merapikan barang pribadinya.
Alea mengerti, mereka sama-sama sedang berusaha berpikir positif untuk menekan keraguan saat melihat tatapan karyawan wanita kepada mereka. "Setuju. Jangan campur prasangka buruk ke hati yang sedang happy."
"Oh iya, Lea. Apa semua ini harus dibawa pulang? Karena hari senin sudah tidak di sini lagi." Athalia menunjuk barang pribadi mereka.
"Iya. Nanti aku cari kotak." Alea setuju, karena melihat barang pribadi mereka di dalam laci cukup banyak.
"Lea, bagaimana kalau kita titip saja? Ini semua akan kita gunakan lagi di tempat yang baru."
"Oh, iya, ya. Nanti aku minta titip sama security." Alea mengangkat jempol kepada Athalia, karena usulannya bisa mempermudah mereka saat pulang. Tidak keluar dari gedung sambil memeluk kotak seperti karyawan yang tidak akan bekerja lagi.
"Kau yang ambil kotak atau aku?" Tanya Athalia sambil merapikan barang pribadinya.
Alea mengangkat tangan. "Aku saja yang ambil. Punyaku sudah beres." Athalia mengangguk. Alea segera mengambil kotak untuk menyimpan barang pribadi mereka.
Beberapa saat kemudian, mereka bekerja cepat merapikan barang pribadi ke dalam kotak. "Kalian sudah rapi-rapi?" Sebuah pertanyaan tiba-tiba membuat mereka tidak jadi mengangkat kotak.
"Oh, iya, Pak Ferdy. Kami mau titip kotak di pos security." Jawab Alea. Tapi Athalia hanya diam sambil berpikir, siapa yang datang menyapa mereka.
"Mengapa titip di pos security? Langsung saja ke ruangan administrasi." Ucapan Ferdy membuat Alea terdiam dan melihat Athalia.
"Titip di sana saja. Nanti bapak kasih tahu supervisor." Ucapnya lagi.
"Terima kasih, Pak." Ucap Alea. Sedangkan Athalia tetap diam.
Setelah Ferdy meninggalkan mereka, Alea kembali melihat Athalia. "Apa yang sedang terjadi? Mengapa manager itu berbicara baik dengan kita?" Alea tidak bisa menyembunyikan rasa herannya dengan bertanya kepada Athalia.
"Emang yang tadi siapa?" Tanya Athalia, penasaran.
"Itu manager pengembangan yang istrinya julit samamu..." Alea menjelaskan.
"Oh, pantesan tadi aku merasa pernah dengar suaranya. Tapi mengapa sekarang jadi baik sama kita?" Athalia jadi bingung, karena pernah dibentak dan tutup telpon dengan tidak sopan.
"Sepertinya sedang terjadi sesuatu di atas." Ucap Alea sambil jarinya menunjuk ke atas.
"Pantesan Pak Super tanya kita ada kenal orang di atas. Apa ada gosip tentang kita dengan orang atas?" Tanya Athalia.
"Tidak usah dipikirkan. Kita ikut saja maunya." Alea menggoyang tangan dan menunjuk kotak.
Namun yang dikatakan Alea membuka pikiran Athalia. 'Kalau sampai manager yang tadinya galak dan arogan bisa menemui mereka dan bicara baik, pasti ada orang yang lebih tinggi dari dia yang memindahkan mereka.'
"Mari kita pergi titip di administrasi." Athalia mengajak Alea pergi. Walau dia tidak suka dengan apa yang dilakukan manager pengembangan. Pasti akan berdampak dan terjadi pembicaraan miring di antara karyawan administrasi.
Sambil berjalan, Athalia tidak mau bicarakan dengan Alea. Supaya tidak mengganggu suasana hati. "Simpan di ruangan saya saja." Ucap supervisor yang sudah menunggu mereka. Nada suara supervisor tidak seperti sebelumnya. Hal itu bisa dirasakan Athalia.
Setelah pamit kepada supervisor, mereka cepat keluar dari administrasi. "Mari kita pulang Lea. Manager itu sepertinya berlaku baik kepada kita, karna ada apa-apanya. Kasihan, Pak Super jadi serba salah." Athalia bisa merasakan perubahan sikap supervisor kepada mereka.
"Mungkin manager merasa bersalah telah bersikap kasar pada kita. Jadi mendadak taubat." Ucap Alea.
...~•••~...
...~•○♡○•~...