Note : Alur lambat dan episode panjang. Karena begitu banyak tokoh di dalamnya. Semua punya cerita, dan tidak asal lewat.
Hidup terlihat begitu sempurna bagi seorang Darren Mahendra. Memiliki istri yang cantik, dan juga anak-anak yang hebat.
Tapi siapa sangka, semakin bertambah usia pernikahannya, semakin banyak kejadian-kejadian yang menguji kebahagiaan keluarganya.
Keluarga, sejatinya adalah tempat ternyaman untuk pulang dan berbagi kehangatan setelah penat mendera.
Sebuah ikatan kuat saling mengasihi satu sama lain, selalu dikedepankan untuk menyelesaikan setiap ujian bersama.
Tidak ada yang mutlak sempurna, masing-masing memiliki peran dalam mengatasi dan menghadirkan masalah. Namun tentu saja kendali tetap berada di tangan seorang Darren Mahendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perundungan di sekolah
"Di antara mereka hanya terjadi kesalah pahaman pak ... bu ...." ucap Kepala Sekolah, terdengar begitu berat.
"Salah paham seperti apa? hingga membuat dua orang anak berprestasi di sekolah ini bisa babak belur." Senja terlihat mulai terpancing emosinya.
"Begini kronologi yang bisa kami sampaikan. Menurut informasi yang kami dapat dari beberapa siswa lain, putra Bapak dan Ibu berkelahi karena ingin melindungi siswi yang merasa diganggu oleh Adam, Arnold dan Gerald." Kepala sekolah bernama Aslan itu menunjuk ketiga anak itu, satu per satu sesuai nama.
"Derya, apa benar yang diceritakan Pak Aslan?" senja berdiri dan mendekati putranya.
"Iya, Ma," jawab Derya sembari menunduk karena takut menatap wajah Senja yang pastinya sedang khawatir dan kecewa.
"Maafkan, Derya, Ma. Tidak mengapa kalau Daddy dan Mama memarahi dan menghukum, Der. Tapi Derya tidak akan meminta maaf pada mereka?!" Saudara kembar Beyza itu menunjuk pada ketiga anak di seberangnya dengan tajam.
"Siapa yang kamu bela? hingga Genta juga ikut berkelahi? Apa yang mereka ganggu adalah Beyza?" tebak Rangga.
Belum sampai dijawab, seketika rahang Darren terlihat mengeras. Wajahnya benar-benar memerah dan sorot matanya benar-benar sudah bersiap untuk menerkam.
Genta dan Derya kompak mengangguk meski pelan.
"Di mana, Beyza sekarang? kalian dengar baik-baik. Saya tidak peduli siapapun kalian. Kalau apa yang kalian lakukan ternyata bukan kesalah pahaman, saya pastikan kalian akan semua tidak akan bisa setenang sekarang," Senja dengan terang-terangan mengancam tiga anak yang memang tampak tidak merasa bersalah itu.
Senja langsung ke luar ruangan kepala sekolah begitu mendengar Beyza ada di UKS. Sedangkan Darren tetap berada di ruangan, dia ingin memastikan kejelasan dan kelanjutan cerita yang sebenar-benarnya.
"Ceritakan, yang lengkap Der. Jelas dari awal hingga akhir. Daddy percaya sama kamu." Darren menepuk bahu Dasen, tapi anak itu seperti menahan sakit.
Rangga yang melihat langsung menyuruh Derya membuka seragam atasannya. Benar saja memar kemerahan, terlihat jelas di kulit putih Derya. Darren mengabadikan itu dengan aplikasi video di ponselnya.
Setelah Derya, Rangga pun menyuruh Genta melakukan hal yang sama. Di Genta, memarnya lebih parah lagi.
"Ini bukan kesalah pahaman. Tolong suruh ketiga anak ini keluar dari ruangan ini, atau mereka akan lebih remuk dari anak-anak kami. Pastikan ketiga orangtua mereka segera datang. Tiga puluh menit, tidak datang. Kami akan lanjutkan kasus ini ke KPAI." Darren mengepalkan tangannya, untuk menahan emosi.
Seumur anak-anaknya, jangankan memukul, mencubit saja tidak pernah mereka lakukan. Digigit nyamuk saja, Darren bisa memarahi baby sister dengan luar biasa.
Kepala sekolah dengan segera, langsung menyuruh ketiga anak itu pergi ke ruangan tata usaha terlebih dahulu.
"Apa sekolah ini sudah biasa membiarkan aksi perundungan yang terjadi antar siswa? Kenapa bisa hal semacam ini terjadi di sekolah yang katanya memiliki kedisiplinan terbaik?" Rangga pun sudah seperti kehilangan kesabaran.
Senja masuk ke ruangan bersama Beyza yang menutupi pipinya. Satu tangan Beyza terus mengamit lengan mamanya.
"Ini bukan kasus kesalah pahaman. Saya tidak mau kasus ini berakhir dengan jalan damai. Kenapa Bapak bisa menganggap kasus percobaan pelecehan, hanya sebagai kesalah pahaman biasa?!" Senja sudah menanggalkan rasa hormatnya pada Aslan.
"Dadd ..." Beyza seketika memeluk Darren.
"Its oke, apa yang mereka lakukan?" tanya Darren mencoba tenang agar Beyza juga nyaman.
"Mereka mau mencium, Bey, Dadd. Saat Bey, meludahi mereka, Arnold malah menampar, Bey. Untung saja Der dan Genta lewat. Tapi mereka malah di hajar. Bukan hanya Bey, tapi juga Erika yang mereka perlakukan tidak sopan. Mereka menghadang kami di lorong menuju toilet." jelas Beyza, meski sedikit gugup tapi cukup jelas.
"Bapak dengar sendiri bukan? Saya pastikan, kasus ini tidak akan berakhir dengan damai. Satu hal lagi, kejadian itu terjadi di lorong menuju toilet. Seharusnya ada CCTV bukan? kami tidak akan memintanya sekarang. Pastikan saja CCTV itu aman, kalau sampai pihak sekolah berani menghilangkan barang bukti. Saya pastikan, siapapun pemilik sekolah ini. Sekolah ini hanya akan tinggal nama?!" Senja dengan berani menatap tajam pada Kepala Sekolah.
Darren hanya diam, istrinya sudah cukup mewakili apa yang ingin diucapkan. Begitu pun Rangga, yang sama sekali tidak menduga sosok yang terkesan lembut dan menggoda itu, ternyata begitu tegas.
"Kita ke rumah sakit, kita langsung melakukan visum. Setelah itu kita langsung ke kantor KPAI. Kalian bertiga jangan takut dan jangan malu, biar kasus ini jadi pelajaran bagi yang lain," tegas Senja.
Beyza berjalan lebih dulu bersama Darren. Diikuti di belakang mereka Derya dan Genta. Lalu Rangga. Tentu saja yang terakhir adalah Senja.
Sebelum benar-benar melewati pintu, Senja kembali menoleh pada Aslan. "Kami pastikan, hari ini adalah hari terakhir anak kami menginjak sekolah ini," ucap Senja dengan sinis dan tegas.
Apapun alasan Kepala sekolah menutupi perundungan yang terjadi di sekolah yang di pimpinnya adalah kesalahan besar.
Jelas pula ketidakadilan sedang berjalan. Jika orangtua Derya dan Genta sebagai korban saja langsung dipanggil. Kenapa orangtua dari ketiga anak itu malah tidak dipanggil ke sekolah.
Beyza terus berjalan dengan tangan mengamit lengan Daddynya dengan sangat posesif.
"Sakit?" tanya Darren sembari melihat pipi Beyza yang merah dan ada bekas jemari di sana.
"Terimakasih sudah membela, Beyza. Maaf kamu jadi harus terbawa masalah." Senja menatap lembut wajah Genta.
Kini mereka sedang menunggu driver mereka masing-masing yang sedang memundurkan mobil agar tepat berada di depan mereka.
"Tidak mengapa, tante. Ini sudah tanggung jawab Genta."
Mereka lalu masuk ke dalam mobil masing-masing menuju Rumah Sakit tempat Zain praktek.
Sementara itu, di ruangan Kepala Sekolah, Wali kelas dan guru kepala kesiswaan yang tadi sepanjang pertemuan hanya diam dan memang seperti tidak dianggap, sekarang baru mengeluarkan suaranya.
"Pak bagaimana ini sepertinya kasus ini tidak bisa dianggap remeh. Jelas mereka tidak main-main dengan ucapannya." Wali kelas Derya idak bisa menutupi kekhawatirannya.
"Kalau sampai kasus ini muncul di publik habislah kita, sia-sia saja kita membangun nama baik sekolah kita selama ini. Seharusnya kita terbuka dari awal, mungkin akan lebih mudah," sesal Aslan.
"Bukan hanya nasib kita bertiga yang dipertaruhkan, tapi semua guru di sini pun sekarang sedang diambang-ambang. Kita di posisi sulit. Jelas pak Dito sudah memandatkan, untuk melindungi Arnold apapun yang terjadi, tapi ketika melawan Darren Mahendra, kita harusnya mebgabaikan pak Dito." Wali kelas itu benar-benar terlihat putus asa.
"Kita tunggu keputusan kepala yayasan menyikapi masalah ini. Satu hal yang pasti, Darren Mahendra bukan lawan yang lemah," tukas Aslan. Wajahnya sudah semakin pucat.
di lanjut nyook bisa nyoook 🤗🤗🤗🤗
percuma kuliah jauh2 keluar negeri 😅😅😅😅
kira2 senja merestui hubungan dasen Denok g ya😅😅😅😅