“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
"Aduh! Pelan-pelan, Bibi Martha! Rasanya tulang ekorku mau pindah ke leher!"
Cahaya memekik tertahan saat Martha membantunya duduk di pinggiran tempat tidur kamar tamu. Wajahnya meringis menahan nyeri yang berdenyut setiap kali kakinya digerakkan.
Jatuh terjerembap di atas lantai gara-gara dilepaskan secara mendadak oleh Jeremy benar-benar bukan lelucon.
"Sabar, Non Cahaya. Biar Bibi oleskan salepnya dulu ya?" Martha membuka sebuah tube salep berlogo farmasi mahal. "Untung tadi tuan Jeremy langsung memberikan ini. Sepertinya Tuan merasa bersalah sudah membuat anda jatuh."
Cahaya mendengus sinis, tawa hambar lolos dari bibirnya yang pucat.
"Merasa bersalah? Memangnya orang seperti dia punya perasaan? Bibi jangan bercanda. Dia itu tidak punya hati. Salep ini pasti cuma supaya aku tidak menuntutnya atau supaya aku bisa cepat kerja lagi mengurus anaknya. Dia cuma tidak mau repot!"
Di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Jeremy berdiri membeku. Ia baru saja ingin memastikan apakah gadis itu baik-baik saja setelah aksi lepas tangan-nya tadi.
Namun, langkahnya terhenti tepat saat suara pedas Cahaya menggema.
"Bibi tahu tidak?" Cahaya melanjutkan, suaranya naik satu oktaf karena emosi. "Di Indonesia, pria yang membiarkan wanita jatuh begitu saja itu disebut pengecut. Apalagi dia melakukannya dengan sengaja! Dia pikir dia keren dengan gaya cool dan jas mahalnya itu? Di mataku, dia cuma pria dewasa yang jiwanya cacat!"
"Non, jangan bicara begitu." Martha mencoba menenangkan.
"Kenapa tidak boleh? Itu kenyataan!" Cahaya menyambar bantal dan memeluknya gemas. "Dia itu monster. Pria paling egois yang pernah aku temui. Elio yang sekecil itu, yang butuh kasih sayang setelah kehilangan ibunya, malah dicampakkan begitu saja. Dia menyalahkan anak kecil atas takdir Tuhan? Benar-benar gila! Kalau aku jadi istrinya, aku pasti sedih sekali melihat anakku diperlakukan seperti sampah oleh ayahnya sendiri."
Jeremy mengepalkan tinjunya di balik pintu. Rahangnya mengeras hingga terasa sakit. Setiap kata yang keluar dari mulut Cahaya terasa seperti tamparan fisik yang menghantam harga dirinya.
"Pria itu tidak pantas dipanggil ayah. Dia cuma donor sperma yang kebetulan kaya raya," umpat Cahaya lagi, makin menjadi-jadi. "Lihat saja, jangankan salep, kalau dia sujud di kakiku pun aku tidak akan sudi memaafkan kelakuannya pada Elio. Dia pikir uang bisa mengobati trauma anak itu? Dasar kanebo kering sombong! Kuharap besok mobilnya masuk parit lagi!"
Cukup!
Jeremy tidak sanggup lagi mendengar satu kata pun. Amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun. Bukan hanya karena ia dihina, tapi karena setiap hinaan Cahaya mengandung kebenaran yang tidak berani ia akui. Ia merasa telanjang dan kecil di depan kata-kata gadis itu.
Tanpa suara, Jeremy berbalik. Langkah kakinya yang berat berderap menuju pintu depan. Ia menyambar kunci mobilnya di meja dengan kasar.
"Tuan? Anda mau ke mana malam-malam begini?" tanya seorang penjaga di depan pintu.
Jeremy tidak menjawab. Ia masuk ke mobilnya, menghidupkan mesin dengan raungan yang membelah kesunyian malam di Milan.
Jeremy menginjak gas sedalam-dalamnya, melesat keluar dari gerbang mansion.
Darahnya mendidih. Ia butuh pelampiasan. Ia butuh sesuatu untuk dihancurkan agar rasa sesak di dadanya menghilang.
Pikirannya kacau antara bayangan Stella, tangisan Elio, dan mulut pedas Cahaya yang terus-menerus menguliti dosanya.
"Dasar mulut pedas! Tau apa bocah itu soal keluargaku! Dia hanya orang luar!"
Malam itu, Jeremy memacu kendaraannya seperti orang gila menuju sebuah sasana tinju pribadi miliknya di pinggiran kota. Ia butuh memukul sesuatu, atau seseorang sebelum ia benar-benar kehilangan kewarasannya gara-gara seorang mahasiswi Indonesia yang baru dikenalnya satu hari.
Sementara itu di kamar, Cahaya masih terus mengomel, sama sekali tidak sadar bahwa orang yang ia maki baru saja pergi dengan amarah di dalam dadanya.
*
*
"Brengsek! Gadis kurang ajar itu benar-benar minta dijahit mulutnya!"
Jeremy menghantam samsak di hadapannya dengan membabi buta. Lalu memukul dinding di sampingnya hingga buku jarinya memerah dan lecet.
"Wow, santai, Macan Milan! Dinding itu tidak punya salah apa-apa padamu," celetuk Edgar yang baru saja masuk sambil membawa botol air mineral. Ia menatap Jeremy dengan dahi berkerut heran.
"Sejak kapan seorang Jeremy Sebastian emosional gara-gara omongan orang? Biasanya kau lebih masa bodoh daripada batu nisan," ejek Edgar.
"Dia bilang aku pria yang jiwanya cacat, Ed! Dia bilang aku hanya donor sperma!" teriak Jeremy dengan nafas tersengal.
Edgar terdiam sesaat, lalu tawa kerasnya pecah.
"Siapa? Siapa yang cukup gila dan berani mengatakan itu tepat di wajahmu? Aku ingin mengiriminya bunga sebagai tanda terima kasih!"
"Jangan tertawa! Ini tidak lucu!" Jeremy menunjuk Edgar dengan sarung tinjunya. "Dia hanya mahasiswi kecil, tapi ucapannya... ucapannya terus saja menyentil ginjal dan paru-paruku! Dia pikir dia siapa berani menghakimiku tentang cara memperlakukan Elio?"
Edgar menghentikan tawanya, wajahnya berubah sedikit lebih serius namun masih ada nada ejekan di sana.
"Oh, jadi gadis tikus itu lagi? Kalau kau tidak peduli, kau tidak akan marah seperti ini. Biasanya kau akan langsung memusnahkan siapa pun yang menghinamu. Tapi sekarang? Kau malah lari ke sini dan menyiksa dinding karena merasa ucapan gadis itu... benar?"
"Diam kau! Aku hanya butuh pelampiasan!"
"Pelampiasan atau pengakuan?" Edgar mengangkat bahu. "Sepertinya kanebo kering sepertimu akhirnya bertemu dengan api yang benar-benar bisa membakar mu."
Jeremy hanya mendengus, kembali menghajar samsak itu dengan amarah yang kini bercampur dengan rasa malu aneh di hatinya.
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭