NovelToon NovelToon
Luka Dalam Hidupku

Luka Dalam Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

alia, gadis malang. kehidupannya yang menyakitkan setelah ibu tiri menjualnya, hamil tanpa suami di sisinya, kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tiga puluh empat

Bara melangkah gontai menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempat ia dan alia tadi bicara.

Benaknya sangat berisik, permintaan alia tadi sungguh benar-benar di luar nalar dan logikanya. Bagaimana bisa ia akan berpura-pura tidak tahu tentang semua hal yang mereka bicarakan tadi. Bagaimana bisa ia akan biasa saja jika bertemu dengan langit nanti.

Bara memukul setirnya kesal, ia sangat marah saat ini. Mulutnya ingin memaki langit, ingin rasanya ia melayangkan tinjunya saat ini ke wajah menyebalkan langit.

Derai rintik hujan yang jatuh, deras membasahi kaca mobil bara, pria itu menyalakan wiper dengan kesal. Saat ini tujuannya hanya satu, apartemen langit. Ia harus mendengar langsung dari pria brengsek itu.

Bara berdiri kaku di depan pintu apartemen langit, berulangkali sudah tangannya menekan bel, namun pintu tak kunjung terbuka, suara gemeletuk gerahamnya yang saling beradu semakin menambah suasana di sekitarnya terasa memanas.

"Click.."

Pintu itu terbuka perlahan, wajah tampan langit menyembul dari pintu dengan wajah bantalnya, kelihatannya langit baru bangun dari tidur, rambutnya yang acak-acakkan menambah kesan malasnya.

Mata langit memutar malas, tanpa mempersilahkan bara masuk, ia membalikkan tubuhnya dan membiarkan pintu tetap terbuka.

Bara meraih pintu itu dengan cepat, agar tidak menutup, langkahnya yang tegap terasa semakin terasa berwibawa ketika ia melangkah tenang mengikuti langit yang sudah duduk di sofa, langit terlihat menguap malas.

"Ngapain hujan-hujan kemari?"

Tanya langit terlihat tak perduli, namun matanya menatap penuh selidik, apartemen bara berjarak 2 pintu dari apartemennya, untuk apa pria ini menyambanginya kemari. Bara tak menjawab, ia hanya memandangi langit yang mulai salah tingkah.

"Ada apa bara?"

Langit memperbaiki posisi duduknya, mata abu-abu itu terlihat penasaran, melihat wajah bara yang tegang dan kelam.

"Apa yang kamu lakukan pada alia?"

Suara beratnya terdengar dingin, matanya menatap tajam langit yang terlihat kebingungan, langit mengernyitkan keningnya tak paham,

"Apa maksudmu? Ada apa dengan alia?"

Rahang bara terlihat mengeras, pertanyaannya yang dijawab dengan pertanyaan juga oleh langit membuatnya kesal.

"Ada apa denganmu bara, mengapa kamu terlihat sangat kesal?"

Langit juga mulai gusar, karena bara hanya diam dengan wajah marahnya, bola matanya yang berwarna abu-abu itu tak henti mengamati bara yang mendengus kasar. Langit keheranan, apa penyebab pria di hadapannya ini terlihat marah.

Bara melengos jengah, hatinya sangat panas. Saat ini rasanya ingin sekali ia meninju muka langit yang terlihat kebingungan itu. Permintaan alia terngiang-ngiang di kepalanya, untuk tidak menyakiti langit. Namun jika ingin menuruti hatinya, saat ini ingin rasanya ia meninju wajah langit dan memberikan pelajaran untuknya.

Mereka saling bertatapan cukup lama, mata langit memicing penuh tanya dan keheranan, tiba-tiba bara berdiri ingin melangkah pergi,

"Hei...ada apa dengan dirimu?"

Langit berdiri dan tangannya menarik bahu bara kasar, tubuh besar bara berbalik menghadap langit yang juga sudah terlihat marah.

"Jangan pancing aku untuk berbuat kasar padamu, aku hampir tak sanggup menahan amarahku saat ini"

Suara dingin bara terdengar bergetar, otot tangannya terlihat mengeras, bara mengepalkan jemari tangannya. Langit menyadari ada yang terjadi dengan bara, bara tidak pernah seperti ini, semarah-marahnya bara padanya, pria di hadapannya ini tak pernah sampai mengepalkan tinjunya.

Namun langit yang sudah terpancing emosinya, tak kuasa menahan rasa penasaran yang semakin menggelayuti pikirannya.

"Makanya aku tanya, ada apa dengan dirimu?, datang tiba-tiba mengganggu tidurku, terus seenak perutmu mau pergi begitu saja"

"Bisa-bisanya kau tidur nyenyak, setelah apa yang kau lakukan pada alia" cecar bara dengan penuh penekanan.

Langit semakin bingung, marah dan juga penasaran, tangannya sudah mencengkeram krah baju bara yang hanya diam.

"Apa yang kulakukan pada alia?sedari tadi mulutmu meracau tak jelas, dan apa urusannya denganmu?" mata nyalang langit terlihat berapi-api.

"Urusannya denganku?hhhhh" dengus bara kasar, tangannya menepis tangan langit yang mencengkeram krah bajunya.

"Tidak ada memang, tapi sebagai sesama manusia aku simpati padanya, tapi yah aku lupa kaukan bukan manusia.." dengusan bara terdengar lagi, kali ini diiringi tawa sinisnya.

Wajah langit memerah, rahangnya menegang marah.

"Jaga mulutmu bara, jangan buat aku kurang ajar padamu"

"Hahahha..." tawa sarkas bara terdengar sumbang,

"Dari dulu kau memang kurang ajar, hanya aku terlambat menyadarinya. Dan kini aku menyadari selain kurang ajar ternyata kau pria brengsek, kurang ajar tak tahu di—"

"Bughhhhh..." tinju langit melayang ke wajah bara, wajah tampan pria itu sampai miring ke samping. Bara mengusap bibirnya, ada rasa asin di sana, ternyata bibirnya berdarah.

"Hhhhhhh.." senyum sinis di wajahnya terlihat menakutkan, matanya memerah marah.

"Aku menunggumu dari tadi melakukan ini, syukurlah aku tidak melanggar janjiku pada alia..."

Bara langsung melayangkan tinjunya ke wajah langit yang sudah bersiap, mereka saling tinju, saling terjang. Perkelahian 2 orang pria dewasa, yang sedang di balut rasa marah dan emosi yang kuat, cukup membuat membuat ruang tamu itu berantakan.

Beberapa kali tubuh langit terbanting ke lantai, perkelahian terlihat tidak seimbang, walaupun langit adalah pria besar dan kuat, namun di hadapan bara, itu sama sekali tak berarti.

Bara penyandang sabuk hitam dalam karate, dan itu juga diketahui oleh langit. Jika saja bara tidak sadar diri dan menghajar langit habis-habisan, dapat di pastikan langit akan berakhir di rumah sakit.

Wajah langit sudah terlihat babak belur, begitu juga wajah bara terlihat memar di beberapa bagian, walau tidak separah langit, namun ternyata langit memberikan perlawanan sengit.

Nafas mereka memburu tak beraturan, darah segar keluar dari pelipis mata langit, mereka berdua telah jatuh terduduk kelelahan dan kesakitan.

"Aku tidak menyangka sama sekali ternyata kau sebrengsek itu" ucap bara dengan nafas yang masih ngos-ngosan.

Langit yang matanya sudah menyipit sebelah akibat tinju dari bara tadi menatap tak mengerti.

"Dari tadi mulutmu meracau nggak jelas, sebenarnya ada apa?"

Langit meringis menyentuh ujung bibirnya yang pecah, ia meludahkan ke lantai air ludahnya yang bercampur dengan darah.

"Bagaimana bisa kau setega itu kepada alia? 6 tahun lalu tentu dia masih hanya seorang gadis kecil" keluh bara dengan raut wajahnya yang sudah melunak. Langit terhenyak, matanya terlihat sangat terkejut.

"A..apa..apa..maksudmu?"

"Rasanya tidak perlu kujelaskan, dari raut wajahmu dan kegugupanmu, aku tahu, kamu tahu apa yang kumaksud"

Bara menatap langit yang menunduk, bara melihat ada penyesalan di wajah tampan langit yang semakin menunduk dalam.

"A..aku...aku tahu, aku memang manusia brengsek" suara langit terdengar lirih

"Dan aku tahu, apa yang kulakukan pada alia, sungguh sangat tidak termaafkan, tapi bara aku..aku..sangat ingin berubah, aku ingin menjadi ayah yang baik untuk luka, aku ingin alia mengampuni aku"

Bara diam tak menyahut, ia hanya menatap adik tirinya itu dalam. Bara melihat rasa bersalah begitu besar menyelimuti langit, walau jujur bara cemburu namun sesuatu di sudut hatinya ada rasa bahagia menyeruak, wajah langit yang seperti ini, belum pernah bara lihat. Hatinya menghangat, ternyata langit masih memiliki hati yang baik.

"Kamu hanya perlu menunjukkan bahwa kamu menyesal dan berubah, tidak perlu terburu-buru, kamu juga harus memahami alia, tentu dia memiliki traumanya sendiri"

Langit mengangkat wajahnya, matanya yang sembab semakin terlihat menyipit, kata-kata bara barusan yang begitu tenang dan mengayomi membuat hati langit menghangat, bara memang pria baik, sangat baik malah.

"Bukankah kamu menyukai alia?" Tak tahan langit bertanya, menatap kakak tirinya itu penasaran.

"Ya..." angguk bara cepat dan yakin,

"Tapi aku tahu kamu mencintainya, dan..juga. aku lebih bahagia, karena ternyata adikku masih ada, pria baik yang kukenal 20 tahun lalu ternyata masih ada"

Langit terperangah, tanpa ia sadari ucapan bara membuat hatinya menghangat bahagia, mata abu-abunya berkabut, ada air mata yang susah payah ia tahan.

"Bara..." suara langit tercekat di tenggorokannya, rasa haru menyelimuti hatinya saat ini.

"Berubahlah langit, jadilah lebih baik dan lebih pantas untuk alia dan luka, dan kembalilah menjadi langit yang kukenal, kami merindukanmu di rumah"

Suara berat bara terdengar semakin melow, namun wajah lembutnya terlihat sangat menenangkan.

Langit tak kuasa lagi menahan air mata itu, namun sebelum bara menyadari dengan cepat ia mengusapnya. Ia tidak menduga, bara begitu baik dan sangat pemaaf.

"Terima kasih bara..terima kasih" ucapan itu terdengar sangat tulus, dan benar -benar sampai ke hati bara yang tersenyum hangat menganggukan kepalanya,

"Terima kasih juga langit, telah kembali menjadi adikku yang baik"

Bersambung...

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
laki najis
Wang Feixi
alasan modus buat deketin alia cihh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!