Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Pagi itu, matahari bahkan belum sepenuhnya ramah ketika Zane sudah duduk di balik meja kerjanya, jas mahal melekat sempurna di tubuhnya, sorot matanya yang tajam dan dingin. Bagi Zane, ketepatan waktu adalah segalanya...dan bagi Nadia, lima menit keterlambatan berubah menjadi dosa besar yang tak terampuni.
“Aku pesan nasi goreng dan air mineral. Jangan lama,” ucap Zane tanpa menoleh, suaranya datar namun mengandung perintah.
Nadia mengangguk cepat. Ia bergegas keluar gedung, napasnya terengah ketika kembali beberapa menit kemudian. Namun begitu langkahnya memasuki ruangan, Zane melirik jam tangannya dengan senyum sinis.
“Lima menit,” katanya pelan, tapi menusuk. “Kau tahu arti profesional?”
Maaf bahkan belum sepenuhnya meluncur dari bibir Nadia ketika Zane sudah berdiri.
“Sudahlah. Aku tidak jadi makan itu. Buang saja. Sekarang belikan aku hamburger. Yang dagingnya tebal. Cepat.”
Nadia menelan ludah. Ia kembali melangkah, panas matahari mulai menyengat, kaki terasa berat, tapi ia tak berani membantah. Saat akhirnya ia kembali dengan sekantong hamburger, wajahnya pucat dan keringat membasahi pelipisnya.
Zane hanya melirik sekilas, lalu mendorong bungkusan itu menjauh.
“Entah kenapa aku jadi tidak berselera,” ujarnya santai. “Bau minyaknya membuatku mual.”
Nadia terdiam. Tangannya menahan kantong itu, ada perasaan dongkol di hatinya tapi ia tetap berdiri tegak.
“Baik, Pak,” katanya dengan emosi yang ditahan.
Namun belum sempat ia bernapas lega, Zane kembali bersuara.
“Kalau begitu, belikan salad. Yang segar. Jangan salah pilih.”
Begitulah pagi itu berjalan---perintah demi perintah, alasan demi alasan. Nasi goreng, hamburger, salad, air mineral dingin lalu hangat. Zane seolah menikmati kekuasaannya, mengkritik setiap gerakan Nadia, setiap pilihan kecil yang ia buat.
“Kau benar-benar lamban,” sindirnya. “Atau memang tidak becus jadi asisten?”
Nadia hanya menunduk. Kakinya mulai pegal, perutnya kosong, tenggorokan kering. Namun ia bertahan, memaksa dirinya tetap melangkah meski kelelahan.
Zane belum juga puas. Setelah rangkaian perintah tak masuk akal itu, ia menyandarkan punggung ke kursi dan mengetukkan jarinya ke meja, seolah sedang memikirkan cara baru untuk menguji kesabaran seseorang.
“Nadia,” panggilnya malas. “Buatkan aku kopi.”
Nadia mengangguk. Ia menuju dapur kecil di sudut ruangan, tangannya sudah gemetar karena lelah. Ia menakar gula dengan hati-hati, menyeduh kopi sebaik mungkin, lalu membawanya ke hadapan Zane dengan dua tangan.
Zane menyeruput sedikit, lalu langsung meletakkan cangkir itu kembali. Wajahnya mengernyit.“Kemanisan,” katanya singkat. “Aku tidak minum kopi seperti ini.”
Nadia menarik napas dalam-dalam. “Maaf, saya akan buatkan yang baru.”
Ia kembali ke dapur. Kali ini gulanya dikurangi. Ia mencoba setenang mungkin, meski hatinya mulai berisik. Setelah selesai, kopi kedua ia sajikan.
Zane kembali mencicipi.“Masih kemanisan,” ucapnya dingin, bahkan tanpa menatap Nadia. “Apa kau tidak bisa membedakan rasa?”
Jari Nadia mengepal di balik punggungnya. Senyum profesionalnya nyaris runtuh. Tanpa berkata apa-apa, ia berbalik lagi ke dapur. Kali ini, hampir tak ada gula yang ia masukkan. Saat kopi ketiga tersaji, wajah Nadia sudah pucat, matanya menyimpan lelah yang dalam.
Zane meneguk sedikit, lalu terkekeh kecil---entah sengaja atau tidak.
“Sekarang kepahitan,” katanya santai. “Kau benar-benar tidak konsisten.”
Begitu kembali ke dapur, kesabaran Nadia akhirnya retak. Ia meletakkan cangkir dengan sedikit hentakan.“Manusia atau iblis sih dia…” gerutunya pelan.“Kopi manis salah, pahit salah. Maunya apa, minum angin!”
Ia menghela napas panjang, menutup mata sejenak sambil mengumpati Zane dalam hati dengan segala kata yang tak mungkin terucap di depannya. Sikap angkuh, mulut pedas, dan perlakuannya yang seenaknya benar-benar membuat Nadia berada di ambang batas.
Di luar dapur, Zane menyandarkan dagu di tangan, senyum tipis terukir di bibirnya. Ia tahu betul, sikapnya menyebalkan---dan entah kenapa, melihat Nadia berusaha tetap bertahan justru membuatnya semakin ingin menguji gadis itu, tanpa peduli bahwa kesabarannya perlahan habis terkikis.
Dengan tangan yang sudah nyaris mati rasa, Nadia kembali membuat kopi untuk kesekian kalinya. Kali ini ia tak lagi berpikir. Tak menakar, tak menimbang. Ia hanya mengandalkan insting, seolah menyerahkan nasib kopi itu pada takdir. Setelah selesai, ia membawa cangkir tersebut dan meletakkannya perlahan di hadapan Zane.
Zane menyesapnya. Hening beberapa detik terasa begitu panjang. Lalu---
“Hmm,” gumamnya. “Sudah pas. Harusnya dari tadi seperti ini.”
Ucapan itu membuat Nadia bernapas lega. “Kalau begitu, saya izin kembali ke tempat saya, Pak,” ucapnya pelan.
Zane tidak menahan. Nadia berbalik, melangkah pergi dengan sisa tenaga yang ia punya. Namun baru beberapa langkah menjauh---
“Nadia.”
Nama itu dipanggil lagi.
Kesabaran yang sejak pagi ditahan rapat akhirnya mendidih. Tanpa sempat berpikir, Nadia refleks menoleh dan menjawab,“APA LAGI?!”Suaranya meninggi, tajam, penuh kelelahan yang tak sempat ia sembunyikan.
Begitu kata itu meluncur, Nadia membeku. Wajahnya langsung pucat. Ia menunduk cepat, jantungnya berdegup kencang.
“M-maaf, Pak. Saya tidak bermaksud… saya—”
Zane menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Nadia dengan sorot mata yang sulit dibaca. Tak ada amarah, justru ketenangan yang menekan.
“Kenapa?” tanyanya datar.“Kau marah karena aku menyuruh-nyuruh?” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada menusuk, “Atau sebenarnya kau tidak ikhlas?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, menghantam tepat ke dada Nadia. Ia mengepalkan tangannya di sisi tubuh, berusaha menahan getar emosi yang bercampur antara lelah, kesal, dan terhina. Ia tak berani menatap Zane, takut jika satu detik saja tatapan mereka bertemu, semua perasaan yang ia pendam sejak pagi akan tumpah tanpa bisa ditarik kembali.
“Bukan begitu, Pak,” jawabnya akhirnya, suaranya lebih pelan, nyaris bergetar. “Saya hanya… kelelahan.”
Zane mengangkat alis, seolah jawaban itu menghiburnya. Ia berdiri dari kursinya, melangkah mendekat dengan langkah tenang namun penuh tekanan. Jarak mereka kini terlalu dekat untuk disebut nyaman.
“Kelelahan?” ulangnya pelan. “Pekerjaanmu hanya itu. Disuruh-suruh. Bukankah itu memang tugasmu?”
Nadia menelan ludah. Kata-kata itu menghantam harga dirinya lebih keras dari yang ia duga.“Iya,” katanya lirih. “Itu tugas saya.”
Zane menatapnya beberapa detik, seakan mencari sesuatu di wajah gadis itu---retakan kecil yang membuktikan bahwa permainannya berhasil. Namun yang ia temukan justru ketegaran yang rapuh, namun masih berdiri.
“Kalau begitu,” ucap Zane dingin, “lain kali kendalikan nada bicaramu. Aku tidak suka dibentak.”
Nadia mengangguk cepat. “Saya minta maaf sekali lagi, Pak.”
Ia berbalik hendak pergi, kali ini dengan langkah lebih hati-hati. Tapi sebelum benar-benar menjauh, suara Zane terdengar lagi, lebih rendah dari sebelumnya.
“Kau tahu,” katanya, “tidak semua orang mau bertahan diperlakukan seperti ini.”
Nadia berhenti sejenak, punggungnya menegang.“Saya tahu,” jawabnya tanpa menoleh. “Tapi saya tidak punya banyak pilihan.”
Ucapan itu membuat Zane terdiam. Untuk sesaat, ada sesuatu yang berkelebat di matanya---sesuatu yang bukan ejekan, bukan pula kemarahan. Namun detik berikutnya, wajahnya kembali dingin seperti semula.
“Pergilah,” katanya singkat.
Nadia pun melangkah pergi, meninggalkan ruangan itu dengan kaki gemetar namun kepala tetap tegak. Di balik pintu yang menutup perlahan, Zane berdiri mematung, menatap cangkir kopi di mejanya. Kopi yang “pas” itu kini terasa pahit di lidahnya---entah karena rasanya, atau karena kata-kata Nadia yang tanpa sengaja telah meninggalkan jejak yang tak ia duga.
bersambung....