cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 28 — YANG BERTAHAN
Rombongan mereka terpaksa berhenti, ketika hutan tak lagi memberi jalan. Pohon-pohon merapat
Tidak ada api unggun yang dinyalakan. Sepi tanpa suara. Bahkan sekedar untuk batukpun mereka tahan. Malam gelep turun seperti kain basah yang menutup mulut semua orang.
Raka duduk memeluk lututnya erat-erat. Tangannya gemetar. Bukan dingin karena dinginnya malam tapi rasa lelah yang terlalu dalam. Bau amis darah masih menempel di kulitnya, meski ia sudah membasuh dengan air yang dicampur tanah dan daun.
Satu orang tergeletak beberapa langkah dari mereka. Nafasnya naik turun tak teratur, terasa pendek-pendek. Setiap tarikan terdengar seperti menyeret karung basah.
“Kalau dia sudah mati, segera kuburkan dia sekarang,” kata seseorang dengan pelan, tanpa emosi.
Tidak ada yang membantah.
Raka menoleh. Ia ingin marah. Ingin berteriak. Tapi suaranya seperti terkunci di dada. Kata-kata terasa sia-sia. Semua orang yang ia lihat hari ini satu demi satu mati tanpa sempat berkata apa pun.
Nenek duduk bersandar di batang pohon. Luka di bahunya dibalut seadanya. Kainnya merah gelap. Ia tidak mengeluh. Bahkan tidak meringis.
Raka memperhatikannya lama.
Dulu ia berpikir perempuan itu keras, tegas karena usia. Sekarang ia baru mengetahui bahwa itu bukan hanya karena keras dan tegas. Itu pengalaman antara hidup dan mati yang telah menempa hidup si nenek.
“Minumlah Raka,” kata nenek, menyodorkan kantong air.
Raka ragu. Ia menerimanya, kemudian minum sedikit. Tertahan disana, sambil melihat isi kantung. Air terasa pahit.
“Kenapa Raka pahit?”
“Itu ramuan daun penahan bau,” jawab nenek singkat. “Berguna untuk mengaburkan bau yang dicium anjing, minum bila tidak ingin dilacak anjing.”
Raka mengangguk. Tidak bertanya lagi.
Angin malam membawa suara-suara menjauh—seperti langkah yang bukan milik mereka. Semua menegang. Tangan meraih senjata. Mata menyisir gelap.
Tidak ada apa-apa. Sepi. Senyap.
Ketegangan tidak turun. Ia mengendap, tinggal dinaubari masing-masing orang.
Satu demi satu, mereka menyadari bahwa jumlah mereka terus berkurang.
Awalnya tidak terasa. Baru ketika seseorang menghitung ulang—pelan, dengan jari—barulah keheningan menjadi berat.
“Kurang satu orang,” bisiknya.
Raka menoleh cepat. “Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Nama itu tidak disebut. Seolah menyebutnya akan membuatnya benar-benar hilang.
Raka berdiri. Matanya menyapu wajah-wajah yang tersisa. Semua menghindar. Ada yang menunduk. Ada yang pura-pura memeriksa senjata.
“Dia ke mana?” Raka mendesak.
“Diamlah Le,” kata seseorang ketus. “Kalau kamu mau hidup.”
Raka menoleh ke nenek. Perempuan itu menatap tanah. Rahangnya mengeras. Ia tidak terlihat terkejut—lebih seperti kecewa pada sesuatu yang sudah ia duga.
“Dia telah pergi,” kata nenek akhirnya.
“Pergi?” suara Raka naik. “Pergi ke mana? Sendirian? Di malam seperti ini?”
Nenek mengangkat mata. Tatapannya membuat Raka terdiam.
“Dia pergi untuk hidup,” katanya pelan. “Atau mati cepat. Itu adalah pilihannya.”
Raka menggeleng. Dadanya sesak. “Kita tidak boleh membiarkan dia pergi sendirian.”
“Kita tidak meninggalkannya Raka,” nenek membalas. “Dia yang memilih meninggalkan kita.”
Kata itu menghantam lebih keras dari tamparan.
Memilih.
Raka duduk kembali. Kepalanya berdenyut pelan. Setiap langkah sejak hutan pertama sampai sungai terasa seperti dorongan ke jurang yang sama.
Ia memandang tangannya sendiri. Sudah bersih sekarang, bau amis darah sudah hilang. Tapi ia tahu, itu hanya sementara.
Malam berjalan lambat.
Seseorang tertidur sambil duduk. Yang lain berjaga bergantian. Setiap suara kecil membuat mereka terbangun dengan sigak sedikit panik.
Raka tidak bisa tidur.
Ia menatap bayangannya di tanah. Bayangan itu bergerak seperti orang yang mengintai.
“Kalau aku pergi sekarang,” Raka berbisik tanpa menoleh, “apakah aku juga disebut memilih?”
Nenek menjawab tanpa melihatnya. “Percayalah kau tidak akan bisa melangkah lebih dari sepuluh langkah.”
“Apa ini ancaman Nek?”
“Lakukan bila tak percaya.”
Raka menelan ludah. “Kalau aku tetap di sini?”
“Darah akan menempel ditubuhmu lebih lama, lebih amis.”
Hening.
“Kenapa kau tetap di sini?” Raka bertanya.
Pertanyaan itu melayang lama, tidak ada jawaban. Semua diam dan membisu.
“Karena ada yang harus bertahan,” jawab nenek akhirnya. “Kalau semua pergi, tidak ada yang tersisa selain pemburu.”
Raka ingin bertanya: bertahan untuk siapa? Untuk apa?
Tapi ia takut pada jawabannya.
Menjelang dini hari, kabut turun tipis. Dunia terasa lebih sempit. Setiap langkah terdengar dua kali.
Mereka bersiap bergerak.
Saat itulah Raka melihatnya.
Jejak.
Di tanah basah, ada bekas langkah asing yang bukan dari rombongan mereka. Mengarah ke tempat mereka beristirahat semalam—lalu menjauh. Dan entah mengapa tidak ada sergapan ke rombongan.
Wajah nenek berubah. Ia berlutut, menyentuh tanah, mengendus singkat.
“Memang bukan dari rombongan kita,” katanya.
“Artinya?”
“Artinya kita sudah diintai dan diawasi.”
Seseorang mengumpat pelan.
Mereka bergerak cepat. Formasi rapat. Tidak ada suara sia-sia. Nafas ditahan saat melewati celah sempit.
Raka berjalan di tengah. Setiap punggung di depannya terasa seperti dinding rapuh. Ia tidak percaya siapa pun sepenuhnya—bahkan dirinya sendiri.
Matahari belum naik ketika mereka berhenti lagi.
Satu orang di belakang tidak ada.
Bukan yang tadi mengumpat.
Tetapi yang lain.
Raka berbalik cepat. Jantungnya jatuh.
“Nek... ber.. ber...kurang satu lagi..,” katanya gemetar. Kali ini suaranya hampir hilang.
Tidak ada yang terkejut.
Hanya lelah.
“Dia yang berjalan paling akhir,” kata seseorang.
Nenek menatap gelap di belakang mereka. Wajahnya kosong. “Dia tidak pergi.”
“Lalu?”
“Dia dihabisi.”
Kata itu dingin. Tidak ada emosi. Seperti menyebut cuaca.
Raka merasa lututnya lemas. “Kita harus kembali.”
Nenek menggeleng pelan. “Kalau kembali, kita habis.”
“Kalau tidak—”
“Kalau tidak, mungkin satu dari kita masih hidup besok.”
Raka tertawa kecil. Suara itu pecah, tidak wajar. “Itukah cara berpikir orang-orang dewasa?”
“Itu cara berpikir orang yang ingin kau tetap hidup,” nenek menjawab cepat.
Raka berhenti tertawa.
Mereka melanjutkan. Tapi sesuatu sudah berubah.
Setiap orang kini menjaga jarak. Tidak ada lagi bahu bersentuhan. Tidak ada bisik penenang. Mata semakin mewaspai situasi sekitarnya.
Raka merasa sendirian meski dikelilingi orang.
Saat senja turun, mereka menemukan tanda.
Di batang pohon, terukir simbol-simbol kecil—tidak dalam, tapi jelas terlihat.
Raka tidak mengenalnya.
Nenek membeku.
Tangannya menggenggam tongkat lebih erat.
“Jangan sentuh,” katanya cepat.
“Simbol apa itu?” Raka bertanya.
Nenek tidak menjawab. Ia menatapnya lama, seolah menimbang sesuatu yang berat.
“Kita tidak aman di sini,” katanya akhirnya. “Kita harus bergerak dalam senyap malam ini.”
“Ke mana?”
“Ke mana pun asal menjauh dari simbol-simbol itu.”
Raka memandang ukiran itu sekali lagi. Ada perasaan aneh—bukan takut, tapi seperti dipanggil.
Malam kembali turun lagi. Dingin dan terasa semakin dingin.
Dan saat mereka bersiap-siap untuk pergi, Raka menoleh—
satu orang seperti menghilang.
Bukan karena pergi.
Tapi karena terlihat tidak pernah ada tanda-tanda perlawanan.
Raka menelan ludah.
Ia sadar satu hal dengan jelas:
Bertahan bukan berarti selamat.
Kadang, itu hanya berarti seperti menunggu giliran ”dijemput”.